Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Bermanja.


__ADS_3

"Kak Ira kenapa masih berdiri di situ? Apa kakak belum sholat?" Tanya Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Ira yang masih berdiri tegak diatas sajadahnya.


Bara yang baru siap wudhu dan keluar dengan wajah yang masih sesekali meneteskan air, perlahan langkahnya mendekati Ira sambil mengambil sarung yang tadinya Ira letakkan diatas tempat tidur.


"Loh, kenapa gelar sajadah lagi? Aku pakek punya kakak aja." Jelas Bara setelah selesai memakai sarung dengan rapi, hingga penampilannya terlihat bak seorang santri.


"Kakak juga belum sholat." Jawab Ira lalu kembali berdiri tegak setelah membentangkan sajadah yang satunya lagi tepat di hadapannya.


"Jangan bilang kalau kakak nungguin aku?" Tanya Bara yang mulai khawatir dengan tingkah Ira.


"Iyap! Benar banget, monggo, silahkan pak imam ku." Jelas Ira dengan senyuman.


Bara masih berdiri kaku dengan tatapan membingungkan saat melihat Ira yang bahkan mempersilahkannya untuk maju ke depan dengan kedua tangan yang terulur kearah sajadah.


"Kak, aku....?lain kali aja, aku harus belajar dulu, untuk saat ini masih belum bisa berdiri di depan kakak!" Jelas Bara.


"Nggak akan pernah bisa kalau nggak dicoba. Bar, kakak tau meski kamu keliatan liar tapi kata bunda kamu rajin sholat yah mesti ada bolong sana sini, tapi setidaknya kamu nggak absen mulu." Jelas Ira.


"Tapi, bacaan kakak pasti jauh lebih pasih dari aku!" Ujar Bara.


"Cuman perasaan kamu aja, kakak juga masih harus belajar banyak lagi, ayo kita sholat insya berjamaah." Jelas Ira.


"Hmmmm!" Ujar Bara lalu mengambil posisi ke depan.


Setelah berdiri dengan keadaan yang begitu siap, tiba-tiba ia kembali menoleh ke belakang membuat Ira menatapnya lalu tersenyum manis.


"Fhaiting! Imam ku pasti bisa." Seru Ira bahkan dengan menggerakkan gepal tinju memberi semangat penuh.


Bara kembali berdiri dengan menghadap kiblat lalu sesaat kemudian suara takbir terdengar meski dengan suara yang agak pelan, Ira pun segera sholat mengikuti sang imam.


Suara merdu Bara senyap-senyap perlahan mulai terdengar membaca surah Al-Fatihah diikuti dengan bacaan surah Al-Mulk pada rakaat pertama sedangkan di rakaat kedua ia memilih membacakan surah Al-Ikhlas, hingga rakaat keempat pun berjalan dengan lancar dan kini suara Bara mulai membaca salam lalu diikuti oleh Ira.


Setelah selesai bukannya membaca doa Bara justru buru-buru menoleh kearah Ira.


"Gimana?" Tanya Bara dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


"Gimana apanya?" Tanya Ira.


"Apa bacaan aku ada yang salah? Atau mungkin gerakan aku yang salah? Kak, jujur tadi itu aku gemetar banget, aku gugup aku..." Keluh Bara panjang lebar.


"Kita doa dulu, bisa?" Pertanyaan Ira langsung membuat Bara berhenti mengeluhkan ketakutannya.


"Hmmmm, kakak yang baca doa, aku belum hafal doa apapun!" Jelas Bara dengan kepala tertunduk.


"Nanti kita belajar sama-sama, malam ini biar kakak yang bacakan!" Jelas Ira lalu mengangkat kedua tangannya.


Bara pun mengangkat kedua tangannya saat Ira mulai membacakan doa. Ira membacanya dengan irama yang begitu meneduhkan jiwa. Yah, persis seperti yang Rival bacakan saat sholat magrib berjamaah dengan semua anggota keluarga tadi.

__ADS_1


Setelah baca doa dan selawatan, perlahan Ira sedikit bergeser mendekati Bara lalu mengulurkan tangannya kearah Bara.


"Salam!" Ujar Ira.


"Kak...." Ujar Bara sambil menyambut tangan Ira lalu mengecupnya.


Ira tersenyum lalu kini giliran Ira yang mencium tangan Bara dengan penuh takzim. Bara langsung merebahkan kepalanya di dalam pangkuan Ira, matanya terus menatap mata Ira yang tepat berada di hadapannya.


"Bantu aku jadi suami yang baik untuk kakak!" Jelas Bara.


"Kita belajar sama-sama, kakak juga ingin jadi istri yang baik untuk kamu." Jelas Ira.


"Beneran kakak pengen jadi istri yang baik buat aku? Aku punya caranya loh!" Jelas Bara.


"Gimana caranya!" Tanya Ira.


"Hmmmm turuti aja semua permintaan aku, maka kakak sudah menjadi istri paling baik buat aku! Di mulai dari mengubah panggilan buat aku misalnya, Bara diganti jadi sayang atau cinta ku, juga bisa." Jelas Bara.


"Kamu kira kakak masih ABG? Labil, pakek sayang sayangan gituh, nggak banget deh!" Cetus Ira.


"Tapi suami kakak ini masih labil, pengen dimanja, di sayang-sayang, dielus, dibelai." Jelas Bara dengan tangan kanan yang perlahan bergerak menyentuh wajah Ira.


"Isssh jangan ngada-ngada! Mendengarnya aja kakak udah merinding." Cetus Ira.


"Tapi aku benaran pengen dimanjakan sama my sunshine."


"Terus kakak mau di panggil apa? Masak iya aku harus terus manggil kakak dengan panggilan kak Ira, nggak romantis banget sih!"


"Ya panggil aja kak Ira, apa salahnya?"


"Waaaaah! Tapi sekali-kali romantis boleh dong, kan panggilan saat kita berduaan, hmmmm!" Rengek Bara yang kini mulai menenggelamkan wajahnya di pangkuan Ira.


"Terserah kamu aja deh, kakak pusing mikir kelakuan bocah seperti mu."


"Beneran nih terserah aku?"


"Iya, terserah."


"My sunshine, terus kakak juga harus panggil aku dengan panggilan My Sky."


"Apaaaaa? Nggak nggak!"


"Tuh kan! Tadi katanya terserah, lah giliran udah aku pilihkan kakak malah nolak, gimana sih konsep terserahnya? Kak, please!" Rengek Bara yang mulai memasang mood manja.


"Nggak! Lidah kakak benar-benar nggak bisa mengatakannya!"


"Sekali aja, please!"

__ADS_1


"My, haisssh! Serius lidah kakak kaku, nggak bisa!"


"Terserah kakak deh!" Cetus Bara yang bahkan langsung bangun.


Bara melepaskan sarung dan baju koko lalu melemparkannya begitu saja keatas sajadah dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan lalu berlari dan menghempaskan kasar tubuhnya keatas tempat tidur. Perlahan Ira bangun bahkan dalam kondisi yang masih mengenakan mukenah ia berjalan menghampiri sang suami.


"Bara..." Panggil Ira pelan sambil duduk disamping Bara.


"Aku capek, mau tidur besok ada latihan jadi jangan ganggu aku!" Tegas Bara yang langsung membuang muka kearah lain.


"My Sky!" Ujar Ira pelan dengan tangan yang menyentuh lembut bahu lebar milik Bara.


Perlakuan Ira seketika membuat Bara kembali menatap pada Ira bahkan dengan wajah yang begitu berseri-seri. Bara buru-buru bangun dan langsung memeluk erat tubuh Ira.


"My lovely sunshine!" Ujar Bara lalu mengecup kening Ira.


"Bara...." Ujar Ira pelan.


"Boleh minta lebih?"


"Apa lagi?" Tanya Ira.


"Hmmmmmmm" ujar Bara tertahan.


"Minta apa? Jangan aneh-aneh deh!" Ujar Ira mengingatkan.


"Kalau minta ini boleh kan?" Tanya Bara yang perlahan jari telunjuknya bergerak menyentuh bibir Ira.


"Bara..." Ujar Ira pelan dengan wajah yang telah merah merona.


"Sekali aja, boleh kan?" Rayu Bara.


"Bara..." Ujar Ira lagi.


"Aku janji cuman sekali, setelah ini aku bakal tunggu sampai aku lulus nanti dengan peringkat pertama." Jelas Bara.


"Apa...."


"Serius! Beneran!" Tegas Bara dengan gagahnya.


"Padahal kakak belum ngomong apa-apa loh, setidaknya biarkan kakak bicara dulu baru kamu jawab." Jelas Ira.


"Baiklah, apa? Katakan?"


"Bar, kakak adalah istri mu, maka lakukan apapun yang kamu inginkan tapi selain yang itu, perjanjian tetap perjanjian dan...." Penjelasan Ira langsung terhenti saat Bara meluncurkan aksinya.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2