
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir sekolah, Ira buru-buru keluar dan bergegas menuju ke ruangan kepala sekolah. Dengan nafas yang ngos-ngosan Ira tiba tepat di depan pintu ruangan kepala sekolah.
"Assalamualaikum." Ucap Ira sambil mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Silahkan masuk!" Suara tegas dari dalam ruangan.
Perlahan Ira membukakan pintu dan melangkah masuk. Di dalam ruangan sana sudah ada sang kepala sekolah, Rival, Bara, Faisal sang guru olah raga mereka, dan juga ada satu siswa lainnya yang duduk di dampingi oleh wali kelas dan juga papanya.
"Silahkan duduk, Ra!" Ujar Faisal yang mempersilahkan Ira duduk di sebelahnya Rival.
"Coba lihat perbuatan adik mu itu, lihat wajah anak saya lebam di sana-sini, belum lagi luka memar di bagian perut dan punggungnya. Mereka berdua bukan lagi siswa, mereka itu preman yang cuma bisa melakukan kekerasan." Jelas Pak Herman yang tak lain adalah papa dari anak yang bernama Arman yang sejak tadi duduk disampingnya.
"Bu Ira, lihatlah, lagi-lagi mareka berdua bikin ulah dan hari ini murid saya yang jadi korbannya.". Tegas Bu Inggrit yang tak lain adalah wali kelasnya Arman.
"Tenanglah kita bicarakan baik-baik!" Jelas Pak Bahar sang kepala sekolah.
"Kak..." Ujar Rival dengan tatapan sendu.
"Apa kalian semua sudah mendengar penjelasan dari kedua belah pihak?" Tanya Ira.
"Untuk apa? Mereka hanya akan membenarkan diri mereka sendiri, ini kekerasan, bukankah luka di sekujur tubuh anak saya sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka melakukan tindakan penganiayaan." Jelas pak Herman.
"Ira ada benarnya, sebaiknya kita tidak hanya mendengarkan penjelasan Arman sepihak, Rival dan Bara juga punya hak untuk bicara." Jelas Faisal.
"Baiklah, kita beri waktu untuk mereka berdua bicara, Bara, Rival silahkan bicara!" Pinta pak Bahar.
"Aku tidak ingin bicara apapun, kita langsung ke kantor polisi aja." Jelas Bara.
"Biar aku yang bicara!" Usul Rival.
"Percuma Val, pada akhirnya kita tetap yang salah!" Jelas Bara.
"Bara, bagaimana kakak bisa membela jika kakak tidak dengar cerita kalian berdua." Jelas Ira.
"Rival, ayo cerita!" Pinta Faisal.
"Kami sedang latihan lalu tiba-tiba Arman datang bersama komplotannya dan mulai cari gara-gara dengan Bara, jadi Arman yang memulainya bukan kami." Jelas Rival.
"Tetap saja kalian tidak punya hak untuk menyerang Arman secara brutal seperti ini." Tegas pak Herman.
"Hasssssh!" Gumam Bara kesal.
"Barusan kamu ngomong apa? Hasssh, dasar tidak punya sopan santun!" Cela Herman.
"Bara bangun!" Pinta Ira.
"Apa -apaan ini?" Tanya Herman dan Inggrit hampir barengan.
__ADS_1
"Kak Ira..." Ujar Rival.
"Kakak bilang bangun!" Pinta Ira lagi yang langsung dituruti oleh Bara.
Dengan cepat tangan Ira langsung menggulung celana Bara ke atas hingga terlihat dengan jelas ada luka parah di sana yang sejak tadi terus di tahan oleh Bara. Sekanjutnya Ira bahkan membuka kancing baju Rival lalu memperlihatkan bahu kanan Rival yang memar.
"Ayo ke kantor polisi!" Jelas Faisal setelah melihat tubuh kedua murid kesayangan terluka.
"Bagaimana bisa? Pak Herman, ini bukan penyerangan tapi mereka memang bertengkar jadi kedua belah pihak sama-sama salah! Dan saya rasa luka di kaki Bara jauh lebih berbahaya dari pada lebam di wajah Arman." Jelas Pak Bahar yang terus melihat pada kaki Bara yang masih meneteskan darah.
"Arman lebih dulu menyerang kaki Bara, bahkan mereka melakukannya dengan menggoroyok Bara." Jelas Rival.
"Udah jelaskan siapa yang salah?" Tanya Bara dengan tatapan sinis pada Herman yang kini telah mematung karena tidak lagi bisa melakukan pembelaan terhadap perlakuan anaknya.
Tiba-tiba ada yang perlahan masuk ke ruangan tersebut, langkah kokohnya terus menuju kearah Bara dan di menit selanjutnya tangannya langsung melayang mengenai pipi kanan Bara membuat semua orang kaget dengan kejadian tersebut.
"Dasar preman!" Cela Samudra dengan penuh amarah.
"Hahhhhh!!" Cetus Bara dengan tatapan tajamnya.
"Pak Sam, ini tidak yang seperti bapak pikirkan, Bara sama sekali tidak bersalah!" Jelas Bahar yang memang sudah begitu kenal dengan sosok Samudra.
"Jangan bedakan dia dengan murid bapak yang lainnya. Sekalipun dia anak dari orang yang berperan penting di sekolah ini, kalau salah ya tetap salah!" Tegas Samudra.
"Pak Sam, anda salah!" Penjelasan Faisal langsung diselip oleh Samudra.
"Bawa saja ke kantor polisi, jika terus dibiarkan dia bakal semakin ngelunjak!" Tegas Samudra.
"Ra, tahan emosi mu!" Pinta Faisal pelan.
"Pak Samudra, kami setuju untuk berdamai, perkara ini sudah selesai, tidak ada lagi yang harus di bawa ke kantor polisi. Kalau begitu kami permisi pak Samudra, pak Bahar." Jelas Herman yang langsung menyeret Arman ikut keluar bersamanya.
"Ayo kak kita pulang!" Ajak Ira yang membawa Bara dan Rival untuk ikut bersamanya.
"Jangan terlalu membenci Bara, dia tidak seburuk yang abang Sam pikirkan!" Jelas Rival dan Ikut keluar.
"Maaf pak, kalau begitu saya juga permisi." Jelas Faisal dan juga ikut keluar.
"Pak Sam....!" Ujar Bahar.
"Saya permisi." Jelas Samudra dan lekas keluar.
____________________
"Jangan katakan apapun lagi, diam dan masuk ke mobil!" Tegas Ira yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Sejenak saling memandang satu sama lain, lalu keduanya langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kak, kita..." Ujar Rival yang langsung di potong oleh Ira.
"Jangan bicara apapun lagi! Duduk, diam." Tegas Ira.
"Mau makan?" Tanya Rival sambil memamerkan dua coklat di tangannya.
"Pas kali, laper banget soalnya!" Jelas Bara yang langsung membuka bungkus coklat dan langsung melahapnya.
"Tolong buka punya aku!" Pinta Rival.
"Nih!" Ujar Bara setelah membukanya.
"Waaah benar-benar lezat, ini pemberian fans kita loh!" Jelas Rival.
"Serius? Wah pantesan enak banget!" Jelas Bara sambil terus mengunyah coklatnya.
"Kalian masih bisa makan dengan tenang setelah apa yang kalian lakukan, benar-benar!" Gumam Ira kesal dan mulai menjalankan mobilnya.
"Apa masih ada lagi, soalnya aku masih lapar banget!" Jelas Bara.
"Habis, ya udah ntar kita beli lagi, yang sabar ya!" Ujar Rival.
"Apa kalian pikir kakak ini sopir pribadi kalian? Kalian berdua benar-benar membuat kakak ilfil." Cetus Ira yang terus fokus nyetir.
"Loh, ini bukan jalan pulang ke rumah kita loh kak!" Jelas Rival.
"Bukan juga ke rumah kita!" Ujar Bara.
"Ini jalan ke rumah sakit!" Jelas Ira.
"Rumah sakit?" Tanya Bara dan Rival bersamaan.
"Iya, rumah sakit." Tegas Ira.
"Buat apa?" Tanya Rival.
"Periksa otak kalian berdua." Tegas Ira yang perlahan mobilnya mulai masuk area rumah sakit.
"Turun!" Tegas Ira yang langsung membuka pintu mobil belakang dimana Bara dan Rival berada.
"Kami baik-baik saja!" Tegas Rival.
"Ini yang kamu bilang baik?" Tanya Ira dengan tangan yang langsung menyentuh luka keduanya secara bergantian.
"Awwwww!" Jerit keduanya.
"Mau kakak yang seret paksa keluar atau keluar sendiri dengan suka rela?" Tanya Ira dengan tatapan seakan siap menyantap mereka hidup-hidup.
__ADS_1
"Baiklah!" Ujar Rival dan Bara dan segera keluar lalu ketiganya bergegas masuk ke rumah sakit.
🦋🦋🦋🦋🦋