
Ira masih di aja duduk di dekat Rival, keduanya hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, mata Ira terus saja menatap kearah siku Rival yang mendapatkan perban, Rival yang sadar akan arah pandangan Ira, pelan-pelan menutup perbannya dengan selimut yang ada di sampingnya.
"Berhenti mengkhawatirkan aku! Udah balik gih sana ke kamar kakak." Jelas Rival.
"Beneran nih sikunya nggak nyeri, perih atau mungkin...." Jelas Ira khawatir.
"Aku okay kak! Coba lihat nih, nggak kenapa-napa kan? Perhatian jangan berlebihan deh, kasian ntar suaminya nggak kebagian perhatian dari kakak." Jelas Rival lalu sekilas memperlihatkan perban yang menempel di sikunya.
"Ya udah, tidur gih!" Ujar Ira lalu bangun dan mencoba membantu Rival untuk rebahan.
Pelan-pelan Ira memandu Rival hingga ia terbaring sempurna, lalu tangan Ira perlahan menarik selimut untuk menutupi tubuh Rival, sejenak menatap wajah sang adik dengan tatapan yang begitu penuh dengan kasih sayang, lalu perlahan tangan kanan Ira bergerak menyentuh dahi Rival.
"Selamat malam adik kakak tersayang." Ujar Ira dengan senyuman.
"Hmmmmm, selamat malam." Ujar Rival dan langsung memejamkan matanya.
Ira pun beranjak lalu keluar dari kamar Rival, langkah Ira langsung menuju ke arah kamarnya yang memang berada tepat di berhadapan dengan kamar Rival.
Menyadari bahwa pintu dibuka dari luar membuat Bara yang sedang mengecek lukanya seketika langsung menutupi kembali dengan kaosnya.
"Apa lukanya nyeri?" Tanya Ira yang langsung mendekati Bara.
Tangan Ira bahkan langsung kembali mengangkat bagian bawah kaos Bara hingga setinggi bagian dada.
"Kak!" Ujar Bara yang berusaha menghentikan aksi tangan Ira.
"Buka kaos mu!" Pinta Ira yang bahkan langsung mencoba untuk melepaskan kaos yang Bara kenakan.
"Kak!" Ujar Bara yang tiba-tiba langsung salah tingkah dengan perlakuan Ira.
"Sepertinya iritasi, lebamnya tambah parah! Buruan lepas kaos mu sekarang juga." Jelas Ira.
"Hmmmmm!" Ujar Bara nurut dan langsung melepaskan kaosnya.
"Auwwww!" Bara tampak meringis kesakitan saat tangan Ira menyentuh bagian perut Bara yang lebam.
"Maaf, kakak nggak sengaja. Sebentar kakak ambilkan salep dulu." Ujar Ira yang langsung beranjak untuk mengambil plastik obat yang tadi ia letakkan diatas meja.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja, Ira sudah kembali mendekati Bara, tanpa aba-aba Ira langsung mengoleskan salep pada bagian lebam yang terdapat pada bagian perut Bara.
"Kak..." Panggil Bara dengan tangan yang awalnya ia gerakkan perlahan untuk menyentuh rambut Ira, namun seketika terhenti begitu saja.
"Hmmm, kenapa?" Tanya Ira yang masih saja fokus mengoleskan salep.
__ADS_1
"Bisa kakak peluk aku sebentar?" Tanya Bara yang sontak membuat Ira menatap wajah Bara.
Keduanya saling menatap, lalu Ira sedikit bergeser lalu mencoba memeluk tubuh Bara secara perlahan, ia berusaha untuk tidak menyentuh bagian perut Bara yang lebam.
"Maafkan aku, maafkan aku kak!" Pinta Bara dengan tangan yang mengusap lembut rambut Ira.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku datang dengan membawa segudang masalah dalam hidup kakak, aku mengusik ketenangan kakak, dan aku juga yang membuat kakak harus hidup seperti ini."
"Hidup seperti ini? Apa maksud mu?"
"Menderita karena ulah ku!"
"Menderita? Coba tatap mata kakak, lihat! Apa wajah kakak terlihat seperti orang yang hidup menderita? Hah? Lihat apa kakak terlihat begitu prihatin?'
"Kak....!"
"Apa kamu tau kapan hari terbahagia dalam hidup kakak? Itu adalah hari dimana kamu menghalalkan kakak." Jelas Ira yang langsung menyembunyikan wajahnya di curuk leher Bara.
"Aku bahagia bersama mu, Bar." Lanjut Bara lalu semakin mengeratkan kedua tangannya di bahu lebar Bara.
"Aku mencintaimu, Khamaira, my sunshine!" Ujar Bara lalu mengecup pucuk kepala Ira dengan penuh perasaan.
"Barusan papa nelpon, katanya bunda khwatir karena tadi siang kakak bilang kalau malam ini kita bakal pulang kesana, tadi kita justru tidak pulang, bunda kira kita marah soal abang Sam." Jelas Bara.
"Terus?" Tanya Ira.
"Nabrak dong!" Ujar Bara.
"Nabrak?"
"Terus, terus, terus, akhrinya nabrak dong, mau maju atau mundur kalau terus terus yang ujung-ujungnya pasti nabrak!"
"Orang lagi serius, malah di becandain, nggak lucu!" Cerus Ira kesal.
"Hmmm, aku udah bilang kalau kita bakal pulang besok pagi soalnya Rival terluka makanya kita pulang kesini."
"Rival terluka? Lalu kamu?"
"Udah, lebam ini nggak seberapa dibanding dengan luka di siku Rival dan juga luka bahu Gibran. Padahal ini salah aku, tapi mereka justru yang terluka." Penjelasan Bara sukses membuat Ira tertawa girang.
"Loh, kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
__ADS_1
"Kalian sadar kalau kalian bertiga seperti pasangan suami-istri? Kamu begitu khawatir dengan keadaan Rival dan Gibran sebaliknya, Gibran begitu panik saat kamu dan Rival terluka sedangkan Rival justru takut kalau kamu dan Gibran kenapa-napa, aneh bukan? Hubungan kalian bahkan membuat kakak iri dan cemburu, padahal Rival tidak begitu pada kakak, padahal kakak ini kakaknya."
"Bukankah kakak adalah orang yang lebih beruntung? Kami bertiga justru begitu mengkhawatirkan kakak."
"Benarkah?"
"Hmmmm!" Ujar Bara lalu kembali mengecup ubun-ubun sang istri.
"Bar...." Ujar Ira pelan dengan tangan yang bergerak pelan menyentuh dada bidang Bara yang masih belum mengenakan kembali kaosnya.
"Hmmmm, kenapa?" Tanya Bara lalu mata keduanya saling beradu.
Keduanya terus menatap satu sama lain dalam keheningan, hingga perlahan Ira memberanikan dirinya untuk mencium pipi kiri sang suami. Mendapat perlakuan manis dari Ira bak mendapatkan kode akses bagi Bara, hanya seling beberapa detik saja Bara langsung mencium lembut sang Istri.
Keduanya larut dalam buaian asmara hingga tanpa sengaja jemari Ira malah menyentuh perut Bara.
"Awwww!" Jerit Bara secara spontan.
"Ahhh maaf, maafkan kakak!" Pinta Ira yang bahkan langsung bergeser agak menjauh dari Bara.
"Nggak apa-apa!" Tegas Bara.
"Hmmmm, ayo tidur! Selamat malam." Jelas Ira yang bahkan langsung tiduran lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Hmmmm, selamat malam!" Balas Bara dengan senyuman penuh rasa kecewa namun perlahan ia juga ikut tidur.
(Huuuf! Kenapa teriak nggak jelas sih? Dasar mulut, padahal... haisshhhhh! Gagal deh!) Gumam hati Bara yang begitu kesal dengan dirinya sendiri.
________
Karena hari ini adalah hari minggu, jadi pagi-pagi sekali Ira dan Bara sudah pulang dan berkumpul dengan yang lainnya yang sejak tadi memang menunggu kedatangan mereka. Tepatnya di ruang kekuarga sana, semua anggota keluarga Pradipta sudah berkumpul termasuk Siti, orang yang memang sudah berkerja lama di keluarga Pradipta.
Di sofa sebelah utara ada Bima dan Samudra sedangkan disofa sebelah timur diisi oleh Ira dan Dewi lalu disebelahnya ada Siti dan juga Bara yang duduk dalam jarak yang begitu dekat, karena memang sejak dulu Bara begitu dekat dengan Siti, karena Siti adalah orang yang selalu ada dan juga begitu peduli pada dirinya.
"Papa akan mulai dari awal, supaya tidak ada lagi rahasia di dalam keluarga kita." Jelas Bima.
"Sebelumnya papa dan bunda minta maaf karena selama ini tidak menceritakan semuanya kepada kalian." Jelas Dewi.
"Ceritakn semuanya, semua yang buna dan papa sembunyikan dari kami semua." Jelas Bara.
"Baiklah, akan papa ceritakan semuanya, saat itu usia pernikahan papa dan bunda kalian sudah menginjak usia enam tahun, namun kami belum juga mendapatkan keturunan sedangkan sahabat papa yang tak lain adalah papanya Ira justru sudah memiliki putri yang begitu cantik yaitu Ira, meski Syakil harus kehilangan wanita yang begitu ia cintai. Lalu pada suatu hari............"
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1