Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Kedatangan Resi.


__ADS_3

Rival segera duduk pada tembok pembatas antara taman bunga dengan perkiran, perlahan Alea menyusul dan duduk disamping Rival.


"Apa ini tentang pernyataan cinta ku?" Tanya Alea.


"Hmmm, sebelumnya...." Jelas Rival terhenti karena langsung diselip oleh Alea.


"Cukup! Jangan dilanjutkan lagi, aku....!" Tegas Alea.


"Tapi aku harus jelaskan, biar tidak ada lagi yang janggal diantara kita berdua, biar semuanya jelas, kita masih bisa berteman kan?" Tanya Rival dengan perlahan manatap dalam mata Alea.


"Kamu gila? meski tidak bisa menjadi pasangan kekasih, bukankah sejak awal kita memang sahabatan! lantas kenapa harus berubah menjadi musuh?" Jelas Alea yang terlihat begitu santai dan welcome.


"Maafkan aku!" Pinta Rival.


"Kenapa minta maaf? aku suka sama kamu itu tidak berarti kamu juga harus membalas perasaan ku kan? ayo berteman! aku tau bahwa di hati kamu sudah ada wanita lain, dan aku akan belajar untuk menerima kenyataan ini, iya kan?" Jelas Alea.


"Hmmmm, Resi namanya dan aku sangat mencintainya!" Tegas Rival.


"Aku tau, semoga kamu bahagia selalu cinta pertama ku." Jelas Alea dengan senyuman lebar lalu menyodorkan tangannya kearah Rival.


Rival menyambut uluran tangan Alea dan membalasnya dengan senyuman hangat.


"Sampai jumpa besok, aku duluan, bye!" Jelas Alea dan lekas pergi.


"Semoga kamu juga bahagia selalu, aku tau kamu adalah gadis baik tapi maaf aku tidak bisa memaksakan hati aku. Maafkan aku Alea." Ujar Rival dengan penuh ketulusan.


___________


"Haaaaaaaaah!" Gumam Bara lalu melempar tasnya begitu saja lalu menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur.


Sejenak menatap langit-langit kamar lalu bermain dengan ponselnya hingga dimenit berikutnya ia langsung tertidur nyenyak bahkan ponsel yang ada ditangan kirinya langsung terjatuh begitu saja, Bara terlihat begitu kelelahan hingga membuatnya tertidur pulas dengan seragam yang masih menepel pada tubuhnya.


"Bara...!" Panggil Ira yang perlahan membuka pintu kamar lalu masuk mencari keberadaan sang suami.


"Bara..." Ujar Ira lalu perlahan mendekati tempat tidur dimana Bara.


Perlahan ia duduk disebelah Bara yang begitu terlelap dalam tidurnya, tangan Ira bergerak menyentuh lembut rambut Bara lalu manatap wajahnya dalam-dalam. Ira yang larut dalam tatapannya yang penuh dengan rasa kagum membuat ia tak sadar bahwa sejak tadi Bara ternyata menyadari kedatangannya.


"Apa masih belum puas?" Ujar Bara yang masih belum membuka matanya dan masih betah tiduran.


Ucapan Bara sukses membuat Ira seketika menarik tangannya menjauh dari Bara, perlahan Bara membuka matanya dan pandangannya langsung tertuju pada Ira yang justru telah bergeser agak menjauh dari Bara.


"Lanjut aja, aku suka!" Tegas Bara dan langsung mendekat pada Ira.


"Lanjutkan!" Pinta Bara dengan tangan yang perlahan menyentuh tangan kanan Ira lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana ujiannya tadi?" Tanya Ira.


"Aman." Jawab Bara singkat lalu mengangkat kepalanya agar berbantalkan pada pangkuan Ira.


"Ayo makan, mama dan Rival nungguin kamu di meja makan."

__ADS_1


"Sebentar lagi saja, aku masih betah seperti ini." Pinta Bara yang justru melingkarkan tangannya di pinggang Ira.


"Tapi nggak enak loh buat mama nungguin kita terlalu lama di meja makan sana." Jelas Ira lalu perlahan mengusap pelan kepala Bara.


"Lima menit aja! Aku masih sangat rindu sama kalian berdua." Rengek Bara lalu kembali mengeratkan pelukannya.


Keduanya terdiam dalam posisi seperti itu hingga sepuluh menit lamanya.


"Ayo!" Ajak Ira.


"Hmmmmmm!" Ujar Bara lalu segera bangun.


"Ayo ganti baju dulu!" Ajak Ira yang langsung bergegas ke ruang ganti dengan disusul oleh Bara.


"Bantuin!" Pinta Bara setelah melepas bajunya.


"Ciiih! Pakai aja sendiri!" Cetus Ira setelah menyerahkan kaos pada Bara.


"Buruan, jangan lama-lama!" Tegas Ira yang segera berlari keluar dari ruang ganti.


"Padahal lagi pengen dimanja! Tapi ya mau gimana lagi, punya istri modelnya kayak Ira ya harus ekstra sabar, sedikit-sedikit merona, baru juga digoda sedikit langsung menghilang entah kemana, padahal kan suami istri! Huffff, kayaknya aku harus cari cara terefektif untuk bisa bermesraan dengannya, harus belajar banyak supaya Ira klepek-klepek dan nggak bisa jauh-jauh dari aku, semangat Bara, kamu pasti bisa" Tegas Bara pada dirinya sendiri.


setelah selesai mengganti pakaian, Bara segera menemui Ira lalu keduanya bergegas bergabung ke meja makan.


"Lama benar! Keburu busung lapar nungguin kamu gabung, habis tidur atau gimana sih?" Cetus Rival kesal sambil menatap tajam Bara dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Rival..." Tegur Luna.


"Ayo Bar, kita makan!" Ajak Luna.


"Iya ma." Ujar Bara.


"Gimana ujiannya hari pertama, lancar?" Tanya Luna dengan tatapan tajam pada Rival.


"Aman ma, adek jawab kok semua soal." Jelas Rival sambil terus menikmati makan siangnya.


"Iya, semua adek jawab, masalahnya benar atau ngasal. Adek kan gitu asal ngejawab aja." Cetus Ira.


"Sok tau, suami kakak juga gitu, asal ngejawab aja." Cetus Rival.


"Bara...." Ujar Ira yang langsung beralih pada Bara.


"Kakak nggak usah percaya sama mulut dia, orang aku jawab benar semua." Jelas Bara.


"Mama percaya kok sama menantu mama." Jelas Luna dengan senyuman.


"Mama...." Seru Rival kesal.


"Udah-udah, buruan habiskan makannya." Jelas Luna dengan diakhir gelak tawa karena berhasil membuat Rival kesal.


"Assalamualaikum!" Suara Resi memberi salam dengan perlahan masuk kedalam rumah setelah pak satpam mempersilahkan dia masuk.

__ADS_1


"Waalaikum salam!" Jawab semuanya hampir bersamaan.


"Re, ayo sini nak, kita makan siang sama-sama." Ajak Luna.


"Iya tante..." Jawab Resi lalu bergabung ke meja makan.


"Kenapa Re? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Ira.


"Biasa, nih!" Jelas Resi sambil menyerahkan sebuah file pada Ira.


"Apaan? File apa ini?" Tanya Ira setelah membukanya.


"Nggak tau, tanya aja sama bos kamu." Cetus Resi yang memang terlihat kesal saat membahas file tersebut.


"Sini!" Pinta Bara yang bahkan langsung mengambil paksa file tersebut.


"Bar..." Ujar Ira.


"Biar aku yang urus." Tegas Bara.


"Benar Bar, kamu aja yang urus, tadi aku udah protes tapi ya gitu..." Jelas Resi.


"Udah, biarkan aja, nanti aja dibahas soal file itu, sekarang ayo makan." Jelas Luna.


"Iya tante." Ujar Resi lalu ikut menikmati maka siang.


"Loh dek kenapa tiba-tiba kalem gitu? Kok diam aja?" Tanya Luna saat menyadari bahwa semenjak kedatangan Resi seketika membuat Rival jadi diam tak bersuara sama sekali.


"Kan lagi makan ma." Jawab Rival pelan.


"Lagi makan, atau karena...." Goda Bara.


"Bara...." Gumam Rival dengan suara tertahan.


"Kenapa? Emang ada hal yang tidak mama tau? Cerita dong!" Pinta Luna penuh semangat.


"Kak Re kan...." Penjelasan Bara seketika langsung terhenti saat tangan Rival dengan kasar membungkam mulut Bara.


"Kami permisi ma, harus belajar buat persiapan ujian besok!" Jelas Rival bersamaan dengan menyeret Bara ikut bersamanya.


"Ada apa Re?" Kini Luna balik bertanya pada Resi.


"Mama kepo benar! Ntar kalau udah jelas bakal kakak ceritain kok." Jelas Ira.


"Mama jadi penasaran nih, ada apa sih?" Tanya Luna lagi.


"Nggak ada apa-apa kok tante, masakan tante lezat Banget, Aku boleh nambah kan tante?" Tanya Resi mencoba mengalihkan pembicaraan Luna.


"Ah, tentu saja, ayo makan yang banyak." Ujar Luna.


"Terima kasih tante." Jawab Resi dengan senyuman lalu ketiganya melanjutkan makan siang mereka.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2