
Semenjak pulang dari melabrak Samudra di kantor tadi sore, Bara tidak lagi keluar dari kamarnya, bahkan setelah sholat magrib Bara masih saja betah rebahan diatas kasur sambil terus bermain game di ponselnya. Bara begitu rileks dengan kaki kiri yang ia letakkan ke atas guling karena menghindari hal-hal yang bisa membahayakan jahitan yang belum kering dan kaki kanan yang terus menggerakkan telapak kakinya ke kiri dan ke kanan, mulutnya sibuk beriul memainkan melodi lagu milik bandnya sendiri.
Ira yang baru saja kembali dari ruang makan dengan kedua tangan yang memegang sisi nampan yang membawa sepiring nasi penuh dengan bermacam lauk pauk serta segelas air putih. Perlahan Ira masuk lalu meletakkan bawaannya ke atas meja di dekat tempat tidur.
"Makanlah!" Pinta Ira.
"Taruh aja di situ, aku belum pengen makan!" Jelas Bara dengan mata yang sama sekali tidak beranjak dari layar ponselnya.
"Atau mau kakak gantikan perbannya lebih dulu?"
"Ntar aja, lagi seru nih!" Jelas Bara yang kini malah berbalik arah membelakangi Ira.
"Terserah kamu aja, kakak mau selesaikan kerjaan kantor sedikit lagi!" Jelas Ira lalu beralih ke sofa dimana laptopnya masih menyala.
Ira kembali berkutat dengan laptop dan beberapa berkas yang berserakan di atas sofa. Ira yang langsung on ke mood fokus, seakan tidak lagi peduli pada sekitar di tambah suara lagu yang menggema di earphone yang terpasaang rapi pada kedua telinganya.
Jemari yang menari trampil diatas keyboard dengan mulut yang seakan ikut menyanyikan lagu Stroberry cake yang memang sedang sangat viral saat ini.
"Kak Ira..." Panggil Bara yang bahkan tidak di respon sama sekali oleh Ira.
"Kak Ira..." Bara kembali memanggil dengan volume suara yang ia naikkan, namun lagi-lagi tidak ada respon sama sekali.
Tangan Bara mencoba melempar bantal, namun tidak mengenai sasaran, bantal justru jatuh sebelum sampai di sofa, hingga akhirnya mau tidak mau Bara terpaksa turun dari tempat tidur lalu melangkah pelan mendekati Ira.
"Kak..." Panggil Bara dengan tangan yang langsung menarik ujung jilbab bagian belakang.
"Bara..." Ujar Ira saat melihat sosok Bara yang berdiri tepat di belakangnya.
Tangan Ira segera menarik earphone dari balik jilbabnya, lalu tangan Ira mencoba memindahkan berkas yang ada di pangkuannya.
"Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Ira yang langsung fokus pada sosok Bara.
"Kaki aku gantal banget, tolong gantikan perbannya." Pinta Bara sambil duduk di samping Ira.
"Sebentar, kakak ambilkan kotak p3k dulu." Jelas Ira yang segera bangun untuk mengambil kotak p3k.
"Siang malam kerja terus, nggak bosan apa? Kerja kerja dan kerja, sekali-kali manjain diri napa? Santai, main game sambil rebahan atau mungkin nonton, apa kek yang penting otak di kasih asupan selain kerja. Dasar maniak kerja nih orang, ishhh ngeri!" Cetus Bara saat melihat tumpukan kerjaan milik Ira.
"Kakak butuh uang ya harus kerja, beda sama kamu, nggak kerja pun tetap punya uang bahkan tidak akan habis hingga tujuh turunan." Jelas Ira lalu meletakkan kotak p3k diatas meja.
"Nah kakak tau kalau harta aku nggak bakal habis hingga tujuh turunan lalu apa lagi yang mau kakak cari, bukankah sekarang kakak juga udah kaya?"
"Kaya? Bara itu bukan uang kamu, semua itu milik orang tua mu dan kakak? Kakak sama sekali nggak punya hak." Jelas Ira yang mulai membuka perban di kaki Bara.
"Kakak kan istri aku, harta aku harta kakak juga berarti!"
"Sampai kamu bisa menghasilkan uang dengan kerja keras kamu sendiri, maka selama itu kakak tidak akan meminta uang dari kamu. Dan, Bara..."
"Hmmmm, kenapa?"
"Sekarang, kalau butuh sesuatu mintalah sama kakak, apapun itu." Pinta Ira yang kini mulai memasangkan perban baru di kaki Bara.
__ADS_1
"Yakin????"
"Iya, apapun itu!"
"Okay, fine!" Ujar Bara lalu perlahan mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pinggang ramping Ira.
"Ngapain?" Tanya Ira yang seketika langsung panik.
"Tadi kak Ira sendiri yang ngomong kan? Apapun!" Jelas Bara yang mulai semakin menarik tubuh Ira kearahnya.
"Jangan becanda!" Tegas Ira dengan tangan yang sedikit menekan bagian jahitan di kaki Bara.
"Awwwwww sakit kak! Pelan-pelan dong!" Gumam Bara dengan suara lantang.
"Makanya jangan becanda!" Tegas Ira menyelesaikan pekerjaannya.
"Awwwwww sakit!" Teriakan Bara seakan menggema di seluruh kamar.
"Dimana yang sakit? Kakak sama sekali tidak lagi menyentuh luka mu!" Jelas Ira.
"Aduuuh duhhhh, sakit kak!" Rengek Bara.
"Dimana yang sakit?" Tanya Ira Panik dan langsung mengecek ke seluruh tubuh Bara.
"Emang enak di kerjain!" Cetus Bara lalu tertawa puas.
"Dasar bocah bar bar!"
"Ambilkan makan malam ku, aku lapar!" Pinta Bara
"Makanlah, kakak harus lanjut kerja, soalnya besok ada rapat!" Jelas Ira setelah menyerahkan piring tersebut pada Bara, lalu ia kembali fokus dengan perkerjaannya.
"Haus!" Ujar Bara bahkan saat Ira baru hendak kembali mengetik.
"Huuuuuf, sabar Ra, sabarrrrr." Bisik Ira pada dirinya sendiri lalu kembali bangun dan mengambil minum untuk Bara.
"Ada lagi tuan muda?" Tanya Ira setelah meletakkan gelas yang berisi air tepat diatas meja didepan Bara.
"Untuk saat ini nggak ada!" Jelas Bara yang kembali menyantap makan malamnya.
Baru saja beberapa menit Ira kembali fokus pada laptopnya kini Bara kembali berulah.
"Kak ponsel ku, tolong ambilkan sebentar!"
"Benar-benar!" Gumam Ira yang tidak lagi bisa menahan emosinya.
Namun sebelum Ira bangun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar dari luar sana.
"Siapa?" Tanya Bara dengan suara lantang.
"Ini bi Siti, tuan muda." Jawab Siti dari balik pintu sana.
__ADS_1
"Kenapa bi?" Tanya Bara.
"Tuan muda dan Non Ira di minta untuk bergabung ke ruang keluarga sekarang juga, tuan dan nyonya menunggu kalian di sana." Jelas Siti.
"Iya bi, kami turun sekarang, terima kasih." Jelas Bara.
"Ada apa ya?" Tanya Ira yang mulai penasaran.
"Paling juga papa bakal marah-marah karena ulah aku tadi sore!" Jelas Bara.
"Maksud kamu papa tau tentang kejadian tadi sore di kantor?" Tanya Ira.
"Lalu kak Ira pikir berita sebesar itu papa nggak bakal tau. Udah kak Ira lanjut kerja aja, biar aku yang mengatasinya toh ini kan masalah aku tidak ada hubungannya dengan kak Ira." Jelas Bara yang segera bangkit dari sofa.
"Kakak ikut, ayo!" Jelas Ira yang langsung membantu Bara untuk berjalan.
Keduanya tiba di ruangan keluarga dimana yang lainnya sudah berkumpul, siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya dan juga Samudra. Suasana begitu hening mencengkam, tidak ada yang bicara sama sekali.
"Apa yang ingin papa bicarakan? Bukannya abang Sam udah lebih dulu menceritakan semuanya? Yah, meski dengan versinya sendiri." Jelas Bara lalu duduk tepat di hadapan sang papa.
"Bara..." Ujar Dewi mencoba menenangkan si bungsu yang memang selalu saja emosi setiap ada hal yang akan dibahas bersama.
"Ada masalah apa kamu sama abang mu? sampai kamu datang ke kantor untuk menyerangnya?" Tanya Bima.
"Menyerang? Ah rupanya alur cerita yang papa dengar seperti itu?" Tanya Bara kesal.
"Pa, Bara tidak..." Penjelasana Ira langsung diselip oleh Samudra.
"Ra, biar papa yang selesaikan masalah ini!" Jelas Samudra.
"Ira, papa tidak mau kalau Bara terus terusan bertindak sesuka hatinya!" Jelas Bima.
"Jadi kalian ingin membuat persidangan?" Tanya Bara.
"Bara, dengarkan dulu papa mu bicara." Pinta Dewi.
"Terserah, papa mau berpihak pada siapapun aku tidak peduli, aku ngantuk!" Tegas Bara lalu kembali bangun dari tempat duduknya.
"Berhenti, tidak ada yang boleh beranjak dari ruangan ini tanpa persetujuan papa!" Tegas Bima.
"Bara, duduklah!" Bujuk Ira dan menarik tangan Bara untuk kembali duduk.
"Pa, abang Sam yang mulai cari gara-gara lebih dulu! Sama halnya seperti kejadian satu tahun yang lalu!" Tegas Bara dan langsung pergi dari ruangan tersebut
"Sam, apa kamu yakin kalau kali ini kamu tidak bersalah?" Tanya Dewi memastikan.
"Bunda, apa bunda pikir kalau semua ini ulah ku? Bunda tidak akan tertipu dengan mulut manis Bara kan? Terserah bunda, aku capek setiap hari selalu ada saja ulah putra kesayangan bunda." Jelas Samudra dan lekas ke kamarnya.
"Bunda, pa, aku juga pernisi, masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan, selamat malam." Ujar Ira dan segera menyusul Bara yang telah lebih dulu kembali ke kamarnya.
"Pa, jangan hanya mendengarkan penjelasan Sam, tapi dengarkan juga Bara, papa ingatkan kejadian tahun lalu, pada akhirnya Sam lah yang lebih dulu mengusik Bara. Bunda sangat mengenali anak-anak bunda dengan baik pa. Bara, dia tidak akan mengaung jika Sam tidak berulah!" Jelas Dewi dan juga beranjak pergi meninggalkan Bima seorang diri.
__ADS_1
"Bunda, papa melakukan semua ini, karena papa juga sangat kenal dengan anak-anak papa, papa tidak ingin membuat siapapun terluka, jika papa hanya berdiam diri, maka Bara akan terus terancam dan terluka. Maafkan papa, bunda. Maaf" Ungkap Bima yang sangat menyesali segala hal yang terjadi di dalam keluarganya selama ini.
🦋🦋🦋🦋🦋