Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Di Datangi Mereka.


__ADS_3

Ira yang sudah rapi dengan stelan kantornya segera berlari menuruni tangga menuju meja makan dimana sang mama dan Rival sedang sarapan bersama.


"Ra, ayo sarapan dulu!" Ajak Luna saat Ira mendekati meja makan.


"Aku lagi buru-buru banget ma, harus jumpai investor soalnya, aku duluan ya..." Jelas Ira yang langsung meneguk segelas susu dan lekas menuju pintu utama sana.


"Hati-hati sayang, dan juga ingat ini adalah hari terakhir kamu ke kantor, besoknya kamu nggak lagi boleh kemana-mana sampai haru H!" Jelas Luna.


"Iya mama sayang!" Jawab Ira dengan suara lantang dan langsung keluar rumah.


Seketika langkah Ira langsung terhenti, bahkan tangannya langsung menutup pintu rumahnya, agar orang rumah tidak melihaf kedatangan Vino yang kini berdiri tepat dihadapan Ira.


"Kenapa kamu kesini? Bagaimana kalau papa lihat?" Tanya Ira yang terlihat jelas begitu takut ketahuan sang papa.


"Aku ingin bicara!" Jelas Vino.


"Bukankah semuanya sudah jelas? Aku mohon Vin, jangan lagi datangi aku, ini demi kebaikan kita semua,." Jelas Ira.


"Kebaikan kita semua? Jangan ngaco! Ira, batalkan pernikahan itu!" Tegas Vino.


"Cukup Vin, aku rasa semuaya sudah selesai. Aku harus pergi!" Jelas Ira dan segera menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah.


Vino segera menyusul ia bahkan langsung menarik tangan Ira untuk ikut bersamanya.


"Vin lepas! Kamu jangan gila, gimana kalau papa aku melihat kita berdua?" Jelas Ira yang berusaha menarik tangannya dari genggam Vino.


"Ikut aku, atau aku akan mengacaukan semuanya!" Ancam Vino dengan tatapan sadis yang terlihat siap menerkam Ira hidup-hidup.


Tidak ingin memeperumit keadaan yang ada, akhirnya Ira memutuskan untuk mengikuti keinginan Vino, yang langsung masuk ke mobil Vino lalu keduanya pergi meninggalkan kediaman keluarga Syakil.


"Tolong antarkan aku ke kantor, ada pertemuan penting yang harus aku hadiri!" Jelas Ira saat mobil terus melaju.


Namun tidak ada respon sama sekali dari Vino, sejenak menatap wajah datar Vino lalu pandangan Ira kembali tertuju ke depan.


"Bicaralah sekarang, atau kita bicara nanti setelah aku kerja." Jelas Vino.


"Batalkan pernikahan  konyol mu itu!" Tegas Vino yang masih fokus nyetir.


"Semua persiapan sudah selesai, dan kamu hanya sedang menunggu hari, lalu bagaimana mungkin aku membatalkannya, lagi pula aku sama sekali tidak punya hak atas semua ini." Jelas Ira.


"Ayo kita kawin lari!" Ajak Vino.


"Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya saat ini? Aku tidak bisa mempermalukan kedua orang tua ku, maafkan aku Vin, tolong relakan aku pergi dari hidup mu!" Jelas Ira.


"Lalu bagaimana dengan keadaan aku? Perasaan aku? Kamu mengabaikan aku?" Tanya Vino.


"Sudahlah Vin!" Ujar Ira pelan.


Keduanya terdiam dengan tatapan kosong bahkan saat mobil Vino terus melaju melewati kantor Ira.


"Vin jangan gila, aku harus kerja, turunkan aku! Hentikan mobilnya!" Pinta Ira.

__ADS_1


"Kita akan kabur, kita akan menikah!" Jelas Vino.


"Jangan gila, berhenti atau aku akan lompat!" ancam Ira yang bahkan langsung membuka pintu mobil.


"Ira jangan bercanda, tutup kembali!" Pinta Vino.


"Berhenti atau aku benar-benar akan lompat sekarang juga!" Jelas Ira yang bahkan langsung bersiap untuk melompat ke luar mobil.


"Cukup Ra...." Jelas Vino yang bahkan dengan spontan langsung menghentikan mobilnya.


Setelah mobil terhenti, Ira langsung keluar dari mobil, lalu bergegas berlari kearah kantornya tanpa peduli pada Vino yang terus memanggil dirinya.


Ira tidak menghentikan langkahnya sampai ia benar-benar telah berada di depan kantornya, ia bahkan kembali berlari memasuki kantornya. Tidak ingin menyia-nyiakan waktunya yang masih sedikit tersisa ia langsung menuju ruang rapat yang akan menjadi tempat ia dan sang bos bertemu dengan para Investor yang akan join dalan proyek baru mereka.


Dengan nafas ngos-ngosan Ira langsung membuka pintu ruangan rapat namun anehnya disana sama sekali tidak ada Bima ataupun sang investor yang menjadi tamu mereka hari ini dan anehnya yang berada di sana justru Samudra yang duduk seakan menunggu kedatangan dirinya sejak tadi.


"Maaf, sepertinya saya salah masuk ruangan!" Ujar Ira dengan menundukkan kepalanya lalu hendak kembali keluar dari ruangan tersebut, Namun Samudra langsung menghentikan langkah Ira dengan ucapan lembutnya.


"Kamu tidak salah, masuklah!" Pinta Samudra.


"Tapi, aku benaran salah ruangan deh, pak. Soalnya aku sedang ada pertemuan dengan..."


"Dengan papa dan Pak Surya Cahyudi?"


"Iya, kenapa bapak tau?"


"Aku sudah menyelesaikannya kemaren, dan kita berhasil mengajukan kontrak dengan pak Surya."


"Duduklah!" Pinta Samudra.


"Baiklah!" Jawab Ira pelan lalu perlahan menutup pintu kembali dan segera mengambil posisi di kursi paling ujung membuat jarak yang cukup jauh antara keduanya karena Samudra duduk tepat di kursi paling depan sana.


Perlahan Samudra bangun dari duduknya lalu melangkah mengambil posisi tepat didepan Ira.


"Maaf, soal rapat yang kemaren, aku sama sekali tidak tau kalau rapatnya dipercepat." Jelas Ira.


"Kenapa minta maaf, ini semua salah aku, karena memang aku yang memutuskan untuk bertemu dengan pak Surya kemaren dan aku memang sengaja tidak mengabari kamu atas perubahan jadwal tersebut." Jelas Samudra.


"Hmmmm, apa bapak bisa memberitau aku alasan kenapa pertemuannya di percepat?"


"Karena ..."


"Karena?"


"Lupakan soal kerjaan, ada hal yang lebih penting yang harus aku tanya langsung pada mu!" Jelas Samudra yang seketika terlihat begitu serius.


"Soal apa?" Tanya Ira yang mulai khawatir.


"Apa benar kamu akan menikah dengan Bara?"


Mendengar pertanyaan Samudra seketika membuat Ira kaget, Ira bahkan terdiam untuk beberapa saat lamanya.

__ADS_1


"Ira..." Ujar Samudra pelan.


"Iya, ah iya pak, soal itu, aku...bisakah bapak pura-pura tidak tau saat kita berada di kantor?" Tanya Ira yang seketika langsung bangun dari tempat duduknya.


"Ira..."


"Maaf pak, permisi!" Jelas Ira yang segera keluar dari ruangan tersebut.


Bahkan kini Ira bukannya kembali ke ruangannya, ia justru bergegas keluar dari gedung tersbut dan lekas pergi dengan taxsi.


________________


Rival terus memacu laju motor milik Bara yang saat ini sedang ia kendarai dengan membonceng Bara dibelakangnya.  Rival bahkan semakin menambah kelajuan motornya berharap keduanya segera sampai rumah. Tangan Bara semakin erat menggenggam pinggang Rival, terasa dengan jelas bahwa saat ini Bara benar-benar sedang menahan rasa sakit bercampur amarah yang siap meledak.


Beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya motor berhenti tepat di depan teras rumah Syakil, keduanya segera turun. Dengan sigap Rival langsung membantu Bara untuk berjalan memasuki rumah, Rival memapah Bara menuju kamarnya.


"Tunggulah sebentar, aku ambil kotak obat dulu!" Jelas Rival setelah membantu Bara duduk di atas tempat tidurnya.


"Ma, mama...." Panggil Rival dengan suara lantang sambil terus menyusuri setiap ruangan.


Beberapa kali memanggil namun  sama sekali tidak ada jawaban, membuat Rival mau tidak mau terus mencari keberadaan kotak obat, hingga akhirnya Ira pulang.


"Sedang apa?" Tanya Ira ketika melihat Rival yang sedang mengobrak-abrik lemari yang ada di ruang keluarga.


"Syukurlah kakak pulang, kotak obat mana kak?"


"Siapa yang terluka?"


"Bara."


Ira segera mengambil kotak  p3k yang ada di rak paling atas lalu keduanya segera ke kamar Rival dimana Bara berada.


"Kalian habis bertengkar dengan siapa? Atau ikut demo lagi?" Tanya Ira khawatir ia bahkan langsung duduk di samping Bara lalu memeriksa tubuh Bara yang terluka.


"Awww sakit!" Keluh Bara saat tangan Ira tanpa sengaja menyentuh memar di tangan kanan Bara.


"Rival, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ira yang kini beralih menatap horor kearah Rival yang duduk di sebelah kiri Bara.


Namun untuk sesaat kemudian langsung kembali fokus pada luka yang ada di wajah Bara, perlahan mencoba memebersihkan luka di pipi kiri, bibir bawah dan juga pada lengan kanan Bara lalu mengoleskan obat.


"Pelakunya abang Sam!" Jelas Rival yang sontak membuat Bara menatap horor padanya.


"Samudra?" Tanya Ira.


"Ira, Ira..." Panggil Luna.


"Iya ma, aku di sini, di kamar Rival." Jawab Ira.


"Ada Samudra di depan, katanya ada berkas yang harus dia ambil!" Jelas Luna sambil berjalan masuk ke kamar Rival.


Penjelasan Luna membuat Ira kebingungan, bahkan membuat Rival dan Bara  saling memandang

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2