
Sesampai di rumah sakit, Sari langsung dibawa untuk melakukan pemeriksaan sedangkan Dewi dan juga Samudra masih duduk menunggu di depan ruangan diama Sari berada.
Mata Dewi terlihat jelas begitu gelisah, dia terus saja menatap kearah pintu berharap sang dokter segera keluar membawa kabar, sedangkan sosok Samudra terlihat duduk dikursi dengan mata yang jelas begitu kelelahan. Sejanak mata Dewi beralih menatap Samudra lalu segera menghampirinya, dengan lembut tangan Dewi membelai rambut hitam Samudra membuat mata sayu Samudra menatap sosok Dewi, lalu dengan senyuman Dewi membawa Samudra kedalam pangkuannya hanya butuh waktu beberapa menit saja Samudra sudah tertidur pulas.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Aku tidak bisa menyayanginya tapi dia juga tidak berhak untuk aku benci, dia tidak salah sama sekali, kalaupun aku marah harusnya Sari lah pelampiasannya bukan anak polos ini. Aku harus bagaimana, aku tidak bisa membiarkannya menanggu semua kesalahan kedua orang tuanya, Sam..." Ungkap Dewi dengan mencoba menahan isak tangisnya.
Sesaat kemudian sang dokter keluar, membuat Dewi pun beranjak untuk bangun namun ia mencoba membawa serta Samudra kedalam gendongannya.
"Bagaimana keadaan teman saya dok?" Tanya Dewi dengan tangan yang berusaha membuat Samudra tetap tertidur nyaman dalam gendongannya.
"Untuk saat ini dia sudah kembali sadarkan diri, tetapi saya tidak bisa menjamin sampai berapa lama dia akan bertahan karena sel kanker semakin menyebar." Jelas Sang dokter.
"Tolong lakukan operasi." Pinta Dewi.
"Maaf buk, sel kanker sudah menyebar luas dan operasi malah akan semakin memperburuk keadaannya, yang bisa kita lakukan saat ini adalah membantunya untuk bertahan sebisanya. Sekali lagi maafkan saya buk, dan permisi." Jelas sang dokter dan berlalu meninggalkan Dewi yang masih begitu kelut dalam perasaan gelisahnya.
Sejenak mencoba untuk tenang, lalu perlahan melangkah memasuki ruang rawat Sari. Di ranjang sana terlihat Sari yang terbaring lemah dengan wajah pucatnya, mata Sari terus menitikkan air mata, Dewi semakin mendekat hingga kita ia duduk tepat di samping kiri Sari.
"Bagaimana dengan Sam? Siapa yang akan membesarkannya? Setidaknya kamu harus bertahan sampai anak mu tumbuh besar." Jelas Dewi.
"Maafkan aku Dewi, tolong maafkan aku!" Pinta Sari.
"Lupakan semua masa lalu kita, sekarang masa depan mu adalah Sam jadi tolong bertahanlah demi dia karena aku tidak bisa menjadi ibu untuknya." Jelas Dewi.
"Aku tau kesalahan aku begitu besar terhadap mu, aku jatuh cinta pada suami mu dan aku juga melahirkan anak dari suami mu. Tapi satu hal yang harus kamu tau Dewi, Bima sama sekali tidak bersalah dia bahkan tidak tau tentang kedatangan Sam ke dunia ini. Semua itu terjadi begitu saja, aku yang salah karena aku tidak bisa mengendalikan diri aku, enam tahun yang lalu tidak sengaja aku bertemu dengan Bima saat bekerja karena perusahaan kami malakukan kerja sama dan malam itu....maafkan aku Dewi dan juga jangan membenci Bima, dia tidak tau apa-apa tentang kejadian itu." Jelas Sari.
"Aku tidak peduli dengan masa lalu kalian berdua, tapi maaf aku tidak bisa menjaga anak mu." Jelas Dewi lalu menidurkan Samudra di samping Sari.
"Dewi, tolong rawat ia sebagai anak mu, jangan cerita apapun tentang aku padanya kelak, biarkan dia hidup sebagai putra mu. Aku mohon tolong rawat dia dengan baik, aku mohon sama kamu Dewi, siapa tau dengan merawatnya kamu justru mendapat keajaiban, seperti hamil misalnya." Jelas Sari.
__ADS_1
"Sari...." Gumam Dewi.
"Dewi, Bima tidak mandul, dia punya anak yaitu Sam. Aku harap suatu saat kamu juga bisa melahirkan anak Bima. Pulanglah dan tolong bawa serta Sam bersama mu, beri dia kehidupan baru dalam keluarga kecil mu. Ini adalah permintaan terakhir ku sebagai sahabat mu." Jelas Sari dengan air mata yang terus saja mengalir.
Dewi terlihat kebingungan, dia masih berdiam diri tanpa kata, matanya terus saja menatap tubuh mungil Samudra yang masih tertidur lelap.
"Tolong Dewi, bawa Sam bersama mu." Ulang Sari kali ini dengan ucapan dan tatapan yang begitu penuh dengan harapan.
Membuat Dewi goyah seketika, hatinya melebur saat melihat sosok Samudra, rasanya begitu berat melihat Samudra harus menanggung segala kesalahan orang tuanya. Kedua tangan Dewi perlahan bergerak kembali mengambil Samudra kedalam gendongannya.
"Mulai hari ini dia adalah anak ku, dia Samudra Pradipta putra pertama ku." Jelas Dewi dengan tangan yang mendekap erat tubuh Samudra.
"Terima kasih Dewi, terima kasih banyak, aku doakan kalian selalu bahagia dan segera diberikan anak kedua." Ujar Sari dengan senyuman penuh bahagia.
Tanpa ucapan sepatah kata pun Dewi langsung keluar dari ruangan tersebut dan pergi bersama Samudra.
_____________
"Tuan, apa nyonya belum pulang?" Tanya pak satpam yang sejak tadi terus memperhatikan kelakuan sang majikannya.
"Belum pak, apa tadi nyonya bilang kalau dia kemana?" Tanya Bima.
"Nyonya tidak bilang apa-apa tuan, tapi saya rasa bentar lagi nyonya juga bakal segera pulang, tuan masuk aja biar saya yang tungguin nyonya." Jelas pak satpam.
"Nggak apa pak, saya akan menunggunya di luar." Jelas Bima.
"Tuan, diminum dulu kopinya." Jelas Siti yang datang dengan membawakan segelas kopi lalu meletakkannya keatas meja.
Disaat itu pula mobil Dewi memasuki pekarangan rumah dan secepat kilat ketiganya bahkan langsung menghampiri mobil Dewi yang berhentu tepat di depan teras.
__ADS_1
"Sayang kamu dari mana aja?" Tanya Bima yang langsung memeluk Dewi yang baru saja keluar dari mobil.
"Dari panti asuhan mas." Jawab Dewi mencoba terlihat baik-baik saja.
"Panti asuhan?" Tanya Bima.
"Bi Siti tolong buka pintu mobil yang sebelah sana dan bawa dia masuk ke dalam." Pinta Dewi.
"Baik nyonya!" Jawab Siti yang langsung melaksanakan perintah Dewi.
"Siapa dia sayang?" Tanya Bima saat melihat sosok Samudra di dalam gendongan Siti lalu masuk ke dalam rumah.
"Mas, maaf karena tidak izin dulu dari mas. Aku habis adopsi anak, aku juga ingin punya anak seperti teman-teman kita yang lainnya, maaf karena tidak bicarakan dulu dengan mas." Pinta Dewi dan langsung memeluk sang suami.
"Pak tolong bawa mobil ke garasi." Pinta Bima.
"Baik tuan!" Jawab pak satpam dan langsung melaksanakan tugas.
"Sayang, mas nggak keberatan jika kamu mengadopsi anak, jangankan satu sepuluh pun nggak masalah tapi setidaknya bicarakan dulu dengan mas supaya mas nggak khawatir nungguin kami seperti tadi." Jelas Bima dengan tangan yang mengusap lembut bahu Dewi.
"Mas, tolong anggap Samudra seperti putra mas sendiri, kita sama-sama merawat dan menjaganya dengan baik, dia anak kita." Jelas Dewi.
"Iya sayang, mas janji mas akan menjaganya dengan baik karena dia adalah putra kita." Jelas Bima.
Tanpa terasa air mata Dewi terus menetes tak terbendung lagi, perasaannya bercampur aduk, hingga dirinya sendiri tidak paham dengan apa yang sedang ia rasakan saat itu.
_____________
"Semenjak hari itu bunda sudah janji akan menjadi ibu untuk mu Sam, dan sebulan setelah kedatangan Sam ke rumah, Bara pun hadir dalam rahim bunda, saat itu bunda merasa kalau ternyata doa Sari benar-benar di ijabah oleh Allah, semenjak hari itu bunda membuat janji pada diri bunda kalau bunda akan tetap menyayangi Sam tanpa berkurang sedikitpun meski kelak Bara hadir dalam keluarga kita, bunda akan mencintai kalian berdua dengan sengenap hati. Tapi, mendadak perasaan bunda gelisah, kacau dan tak terarah saat bunda tau kalau Sam mencintai Ira, jujur bunda sempat takut kalau Sam akan mengkhianati bunda seperti yang Sari lakukan dulu. Maafkan bunda Sam, karena bunda sudah berpikiran jahat tentang kamu, maafkan bunda." Jelas Dewi mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata sedangkan yang lainnya masih saja berdiam diri larut dalam rasa tanpa kejelasan sama sekali.
__ADS_1
...🦋🦋🦋🦋🦋...