
"Aku rindu???" Sebuah suara yang berasal dari utara meja seketika sukses mengalihakan perhatian Bara dan juga Ira, keduanya segera menoleh pada pemilik suara tersebut.
Ira menarik tangannya dari genggaman Bara bahkan ia sedikit melangkah menjauh dari tubuh Bara.
"Bara, Ira?" Panggil Faisal dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa bapak bisa ada di sini?" Tanya Bara mencoba mengalihkan perhatian Faisal dari kedekatan dirinya dengan Ira
"Kenapa? Apa restoran ini khusus buat kamu aja? Apa bapak tidak boleh makan disini? Ahhhh hampir saja lupa, kita kembali pada pembicaraan awal kalian barusan? Bar, siapa yang kamu rindukan?" Tanya Faisal yang melangkah mendekati Ira.
"Aku merindukan istri ku..." Jelas Bara yang langsung di skip oleh Ira.
"Siapa lagi kalau bukan istrinya kalau bukan Rival, iya kan?? Faisal, Kamu tau sendirikan kalau dia dan Rival bak pasangan suami istri, nggak bisa jauh-jauh." Jelas Ira berdalih.
"Dasar kalian, hampir saja jantung aku copot, aku kira istri sungguhan! Oh ya Bara, untuk sementara segela latihan dan aktivitas lainnya yang menyangkut tim sepak bola kita hentikan, kalian harus fokus mempersiapkan diri untuk ujian akhir yang cuma berselang dua bulan lagi, kalau gitu bapak permisi, aku duluan ya Ra." Jelas Faisal panjang lebar dan lekas pergi dari sana.
"Hufffff! Untung aja!" Ujar Ira lega sambil menghela nafas panjang.
"Setelah ujian, kita akan langsung meresmikan pernikahan kita. Aku pulang! Ingat, aku nungguin kak Ira di rumah jadi langsung pulang jangan keluyuran kemana-mana." Tegas Bara.
"Bar..." Keluh Ira.
"Dan satu lagi..." Ujar Bara terhenti lalu buru-buru mencium kening Ira dan lekas melarikan diri.
Ira yang masih terpaku dengan perlakuan Bara seolah hanya bisa mematung tanpa bisa mengajukan protes sama sekali.
Dari kejauhan sana sosok Vino terus saja memperhatikan gerak-gerik Ira dan Bara sejak tadi, ia bahkan sempat mengabadikan momen dimana Bara mengecup kening Ira dengan jipratan kamera ponselnya.
_____________
Suara drum yang dimainkan oleh Bara seakan menggema keseluruh penjuru kamarnya. Bara terlihat begitu lihai memainkan alat musik favoritnya tersebut, earphone yang terpasang ditelinga kanannya terus saja memutar lagu baru yang masih dalam proses penulisan liriknya. Tangan kiri Bara terlihat sesekali malah sibuk menulis dilayar ponselnya.
Nanananaa naaaana
Nananana naaaan naaa
Awalnya biasa, lama-lama jatuh cinta,,,
Sihir senyum mu membius hati ku,,,
Dan tangan mu perlahan menhentuhku,
Membawa ku terbang,
Ke dalam surga cinta......
Bara seakan begitu larut dengan dunia musiknya.
__ADS_1
"Bagian mana lagi yang harus diubah? Hmmmmm, apa sebaiknya aku tulis ulang saja lirik lagunya? Atau.... haissssshhh kenapa otak aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik, kenapa senyuman kak Ira seolah menghapus segala kejeniusan ku dalam seketika? Kenapa hanya dia yang terus ada dalam pikiran ku, apa ini? Hufffff!" Gumam Bara yang sedang berseteru dengan hatinya sendiri.
Bara kembali memainkan drumnya hingga tanpa ia sadari pintu kamarnya telah di buka dari luar, langkah kaki yang terus melangkah kearahnya sama sekali tidak mengalihkan fokus Bara, ia masih bergelud dengan dirinya sendiri.
"Bar..." Panggil Ira sambil menyentuh bahu Bara.
"Kak Ira udah pulang!" Seru Bara yang bahkan langsung bangun lalu memeluk erat tubuh Ira.
"Aku sangat, sangat merindukan mu, my sunshine." Jelas Bara lalu mencium mesra sang istri.
"Bar...." Ujar Ira yang saat ini berada dalam gendongan Bara.
Bara terus membawa tubuh Ira lalu meletakkannya keatas tempat tidur. Bara kembali mendekat lalu perlahan kembali menciumi Ira.
"Bar...." Ujar Ira dengan tangan yang mencoba mendorong bahu Bara, berharap Bara tidak semakin menindih tubuhnya hingga membuat dirinya tidak bisa bernafas dengan baik.
"Bara....." Ujar Ira dengan nafas yang mulai ngos-ngosan, dan tangan yang berhasil menyentuh wajah Bara.
"Kakak nggak bisa nafas!" Tegas Ira yang seketika membuat aksi Bara yang bersiap hendak kembali meluncurkan ciumannya langsung terhenti.
"Maafkan aku kak, maaf!" Pinta Bara yang dengan spontan bangun dan agak menjauh dari Ira.
"Untuk sekarang cukup disini, kakak mandi duluan!" Jelas Ira yang segera berlari ke kamar mandi.
"Shiiiit! Bara, apa yang kamu lakukan? Kalau pun kamu ketagihan mintalah secara baik-baik, kenapa menyerang kak Ira dengan begitu brutal, dasar gila!" Gumam Bara yang kesal dengan dirinya yang terbawa nafsu yang berkobar-kobar lalu perlahan membunuh sisa polosnya.
Ira yang sudah rapi dengan piyamanya kini perlahan mendekati Bara yang terduduk lemah.
"Bar, mandilah dulu! Sebentar lagi magrib loh!" Jelas Ira.
"Apa tadi aku terlihat seperti maniak bagi kakak?" Tanya Bara perlahan.
"Cup" Bibir Ira mendarat si hidung mancung milik Bara.
"Kakak sama sekali tidak bermaksud menghalangi mu, hanya saja tadi itu kakak tidak bisa bernafas dengan baik ditambah lagi tubuh kakak masih lengket dan bau keringat dimana-mana." Jelas Ira.
"Jadi? Kakak bukan nolak aku kan?" Tanya Bara memastikan.
"Sekarang buruan mandi, kita sholat magrib berjamaah." Jelas Ira.
"Siap my sunshine terrrrr the best!" Jelas Bara penuh dengan senyuman bahagia.
Bara segera ke kamar mandi sedangkan Ira bergegas menyiapkan baju ganti untuk sang suami, lalu keduanya pun sholat magrib berjamaah.
______________
"Bara..." Panggil Rival yang bahkan langsung membuka pintu kamar Ira tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
__ADS_1
Kedatangan Rival seketika langsung merubah suasana menjadi canggung dan hening, betapa tidak, karena saat Rival datang Bara sedang bermanjaan dengan merebahkan kepalanya di dalam pangkuan Ira tidak cuman sampai pada tahap demikian akan tetapi tangan kanan Bara sibuk membelai pipi Ira.
"Apa yang kamu lakukan sama kakak ku? Kak, kakak baik-baik aja kan? Kakak nggak di apa-apain sama dia kan?" Tanya Rival yang langsung berlari mendekati pasangan suami istri tersebut, tangan Rival dengan gesit menarik Bara agar lekas bangun.
"Adek..." Ujar Ira dengan tetapan penuh kebingungan.
"Kamu lupa? Selain sahabat kamu aku itu ipar kamu!" Tegas Bara.
"Aaaah, hmmmmm, sorry aku lupa!" Ujar Rival sambil menahan malu dan hendak melangkah keluar, namun tiba-tiba ia kembali mendekati Ira.
"Hati-hati kak, jika sampai di berbuat kasar sama kakak, laporkan ke aku, biar aku buang dia ke kutub utara!" Jelas Rival dan lekas keluar.
"Haaaah! Ciiih!" Desis Bara kesal, ia hendak kembali keposisi semula namun sebelum itu terjadi Ira telah lebih dulu mengambil posisi untuk tidur.
"Selamat malam!" Ucap Ira dan langsung menyelimuti tubuhnya.
"Huffff!" Ujar Bara pelan lalu ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Ira.
"Selamat malam my sunshine! I love you, mimpi indah." Ujar Bara lalu mengecup kening Ira dan ikut tidur.
Malam kian larut, keduanya pun tertidur begitu pulas. Ira terlihat begitu damai dalam tidurnya, namun tiba-tiba saja suara ponselnya yang terus berdering mengusik tidurnya, mau tidak mau akhirnya Ira bangun lalu meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Kenapa dia terus menelpon ku malam-malam begini? Apa lagi maunya?" Tanya Ira dengan suara pelan sambil terus menatap layar ponselnya yang menampilkan nama kontak Vino.
"Hai sayang......" Sapa Vino dari seberang saat Ira menjawab panggilan.
"Vin, berhenti gangguin aku, lebih-lebih tengah malam gini! Selamat malam!" Tegas Ira yang hendak memutuskan panggilan.
"Upsss! Jangan asal matiin dong, coba cek dulu chat aku!" Jelas Vino lalu memutuskan panggilannya.
Ira segera beralih membuka chat yang ternyata merupakan foto. Mata Ira terbelalak seketika saat melihat foto dirinya yang sedang dicium oleh Bara dan parahnya wajah Bara terlihat begitu jelas di dalam foto tersebut.
~Waaaaaah setelah menikah dengan bapaknya terus selingkuh dengan anaknya, waaah kamu memang hebat Ra~
~Jadi target mu harta mereka? Gimana jadinya kalau foto ini tersebar keseluruh media sosial? Apa yang akan kamu lakukan?~
~Mengemis pada papanya atau justru merayu anaknya?~
~Jadi penasaran dengan drama yang sedang kamu mainkan!~
Seketika perasaan Ira langsung berkecamuk tak karuan, ia katakutan dan juga panik bahkan kedua tangannya sampai gemetaran. Sejenak menatap wajah polos Bara yang sedang terlelap.
"Bagaimana jadinya jika foto itu benar-benar tersebar? Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak ingin merusak masa depan Bara, sekolahnya pasti akan kacau, lebih-lebih sebentar lagi dia akan ujian, aku nggak bisa membiarkan Vino menghancurkan Bara." Tegas Ira dengan mata yang terus menatap dalam wajah Bara.
Tatapan Ira langsung teralihkan saat ponsel miliknya kembali berdering dan disaat yang bersamaan pula Bara terjaga.
"Siapa yang nelpon kak?" Pertanya Bara sontak membuat Ira kembali menatap kearah Bara.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋