Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Akad Nikah.


__ADS_3

Dekorasi yang megah nan indah siap memanjakan mata setiap tamu yang mulai berdatangan. Suasana bahagia semakin terasa jelas. Para tamu yang hanya kerabat dekat terlihat telah memenuhi tempat acara akad nikah yang akan di gelar beberapa saat lagi.


Suasana ruangan yang di dominasi dengan dekorasi yang berwarna ungu cerah semakin membuat suasana terasa lebih nyaman dan mewah. Tepat di depan para penghulu sana Bara terlihat begitu gagah dengan jas putih rapih, penampilan yang sama sekali belum pernah terlihat dari seorang Bara, bahkan ketampanannya terasa ikut meningkat dalam balutan jas pengantin.


Bima yang duduk tepat di samping sang anak, seakan terus menatap Bara dengan penuh bangga dan bahagia, betapa tidak kini anak bungsu yang kerap kali membuat kepalanya pusing, kini sebentar lagi akan melepaskan masa lajangnya. Di sisi kanan ada Dewi dan Luna yang sejak tadi tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya.


Sementara itu, di ruangan lainnya ada Ira yang sedang bersiap dengan ditemani oleh sang sahabat tercinta. Ira yang masih duduk termenung dengan terus menatap sosok dirinya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Perlahan Resi mendekat lalu dengan pelan menyentuh lembut kedua bahu Ira, membuat sang empunya tersenyum manis padanya.


"Selamat menjadi seorang istri!" Ucap Resi dengan senyuman bahagia.


"Re, apa kamu yakin aku akan bahagia?" Tanya Ira dengan tatapan sendu.


"Kenapa? Apa kamu ingin kabur dari pernikahan ini?" Tanya Resi.


"Re, kamu tau kalau semalam itu ada yang mengajak aku kawin lari?"


"Serius?" Tanya Resi yang bahkan langsung mengambil tasnya yang ada di atas meja rias dan hendak pergi.


"Kemana?" Tanya Ira yang segera mencegah Resi.


"Labrak Vino! Akan aku patahkan tangannya!" Jelas Resi yang mulai emosi.


"Loh kenapa? Emang apa salah Vino?"


"Kamu tanya apa salah brandalan itu? Hahhh! Dia mau bawa kabur calon istri orang dan kamu tanya salah dia dimana? Haisssh!"


"Vino sama sekali tidak melakukannya!"


"Lalu siapa yang ngajak kawin lari?"


"Pak Sam!"


"Apa? Maksud kamu pak Sam, calon ipar mu itu? Pak Sam cowok terganteng di kantor kita, anak sulungnya pak Bima?" Tanya Resi dengan wajah datar.


"Hmmmmmm!"


"Apa dia gila??"


"Maksud kamu?"


"Ngajak kawin lari calon adik ipar, udah macam judul sinetron. Jangan mau!"

__ADS_1


"Lah, bukannya kata mu dia tampan, kaya, mapan, pokoknya lelaki idaman semua wanita."


"Itu cerita beberapa menit yang lalu, sekarang, setelah aku dengar tentang dia yang bahkan mengajak kamu kawin lari, dia sudah bukan lagi lelaki idaman. Cowok baik-baik itu nggak akan mengajak kabur calon istri orang lain terlebih calon iparnya!" Jelas Resi.


"Benarkah begitu?"


"Berhenti memikirkan apapun itu selain Bara, ingat Bara adalah orang yang akan membuatmu bahagia, percaya sama dia, karena aku tau sebenarnya dia adalah cowok baik-baik yang bahkan merelakan dirinya dinikahi tante-tante gesrek!" Jelas Resi dengan gelak tawa.


"Dasar!" Cetus Ira.


"Apa kak Ira udah siap?" Tanya Rival yang baru saja datang ke ruangan tersebut.


"Udah!" Jawab Resi penuh semangat.


"Yang di tanya itu aku, bukan kamu! Ayo dek!" Ajak Ira yang bahkan langsung menggandeng tangan Rival.


"Nggak gitu dong konsepnya!" Protes Resi yang segera mendekati Rival.


"Ayyok kak Re!" Ajak Rival lalu menyentuh tangan kanan Resi.


"Awwwww, seketika bunga-bunga bermekaran di dalam hati ku!" Ujar Resi dengan senyuman bahagia dan langsung mengeratkan tangannya di dalam genggaman Rival.


"Ciiiiih! Dasar..." Ucapan Ira langsung di selip oleh Rival.


Ira dan Resi menurut, dan lekas mengikuti Rival. Ketiganya perlahan memasuki tempat acara, Ira langsung duduk di samping Bara sedangkan Rival dan Resi mengambil tempat di samping Luna.


"Abang Sam nggak datang tante?" Tanya Rival yang memang sejak tadi memperhatikan para tamu namun Samudra sama sekali tidak terlihat.


"Ada urusan kantor yang nggak bisa di tinggal!" Jelas Luna.


"Ohhhh!" Ujar Rival menggangguk paham.


(Ciiiih! Urusan kantor atau sedang bersiap mencuri calon istri adiknya! Ku kira dia bisa berpikir dewasa ternyata....) Gumam hati Resi yang mlai berkecamuk memaki sosok Samudra yang sekarang entah sedang berada di mana.


"Resi..." Ujar Luna lalu menyentuh tangan Resi.


"Iya Tante!" Ujar Resi dengan senyuman lalu membalas hangat sentuhan Luna.


Di depan penghulu sana, Ira yang sejak tadi merasa begitu gugup duduk berdampingan dengan Bara, keduanya bahkan tidak saling menatap satu sama lain, suasana seakan begitu kaku.


"Apa sudah bisa kita mulai akadnya?" Tanya pak penghulu yang sejak tadi duduk berdampingan dengan Syakil.

__ADS_1


"Silahkan di mulai pak penghulu!" Ujar Bima.


"Baik, ayyo di mulai pak Syakil!" Ujar Pak penghulu.


"Baik!" Jawab Syakil yang langsung mengulurkan tangannya kearah Bara dan langsung di jabat oleh bara.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan anak saya, Khumaira Azzahra binti Syakil Darman dengan engkau Ahmad Bara Pradipta bin Bima Pradipta dengan mahar 5 gram emas dan seperangkat  alat sholat di bayar tunai." Ucap Syakil.


"Saya terima nikah dan kawinnya Khumaira Azzahra binti Syakil Darman di atas diri saya dengan mahar yang telah disebutkan, tunai!" Jawab Bara dengan begitu gagahnya.


"Sah?" Tanya pak penghulu.


"Sah sah!" Jawab para Saksi serentak.


"Alhamdulillah!" Ujar pak penghulu lalu di iringi dengan bacaan doa yang begitu khitman.


Di saat itu pula suara langkah kaki yang berlari semakin mendekat lalu terhenti tepat di pintu ruangan tersebut.


(Aku terlambat!") Tegas hati Samudra pada dirinya sendiri saat matanya mendapati seisi ruangan yang sedang khusuk dalam doa mereka.


"Sam, bunda kira kamu bakal tidak hadir, ayo duduk sayang!" Ujar Dewi yang bahkan langsung menghampiri Samudra lalu membawanya untuk di samping Rival.


Samudra hanya ikut tanpa bisa lagi mengendalikan dirinya sendiri, bahkan matanya terus saja menatap kearah Ira yang terlihat sedang mencium punggung tangan kanan Bara.


(Kenapa kamu tidak mendatangiku, Ira? Padahal aku menunggu mu di parkiran sana. Aku bahkan sudah mengirimkan plat mobil aku, ku berharap kamu akan langsung menghampiri ku, tapi ternyata kamu justru memilih untuk melanjutkan pernikahan konyol ini) Hati Samudra mulai bergumam tak jelas.


Suasana terasa semakin meriah saat Ira dan Bara mulai menyalami  kerabat dari kedua belah pihak keluarga. Meski acaranya di buat dengan begitu sederhana namun semuanya berjalan dengan baik seperti yang diharapkan.


Para tamu mulai menikmani hidangan yang di sajikan, Bima dan Syakil yang terlihat asyik mengobrol dengan keluarga besar mereka, sedangkan Luna terlihat begitu antusias melayani keluarganya, di lain sisi ada Resi dan Rival yang asyik makan sambil sesekali bercanda, lalu di ujung ruangan sana ada Samudra yang duduk termenung dengan di temani oleh Dewi.


Bara terlihat duduk melepas lelah dengan mata yang terus menperhatikan semua orang, sedangkan Ira yang berada di samping Bara, ia hanya duduk dengan pandangan tertunduk.


(Sekarang dia adalah suami aku! Apapun yang akan terjadi ke depannya, dia, Ahmad Bara Pradipta adalah orang yang harus aku prioritaskan, karena dia adalah imam ku) Ira terus mencoba meyakinkan hatinya dengan kenyataan yang akan dia hadapi ke depannya nanti.


"Capek?" Tanya Bara pelan.


"Kamu mau istirahat?" Tanya Ira yang bahkan langsung menatap wajah Bara.


"Aku nanya loh kak! Apa kak Ira capek?"


"Ah, hmmmmm meski capek yang tetap harus di sini kan! Udah tenang aja, bentar lagi juga acaranya bakal selesai!" Jelas Ira yang kembali menundukan pandangannya.

__ADS_1


"Hufffff!" Ujar Bara dengan menghembuskan nafas yang begitu berat.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2