
"Shiitttt!" Gumam Samudra dengan terus membanting setiap barang yang ada di hadapannya.
Samudra mengamuk pada dirinya sendiri, kini bahkan tangan kanannya meninju cermin hingga pecah dan meneteskan darah segar dari jemarinya.
"Ikut aku!" Aja Samudra yang menarik paksa tangan Ira agar ikut bersamannya.
Namun Ira segera menarik tangannya dengan kasar hingga terlepas dari genggaman Samudra.
"Sam, untuk yang terakhir kalinya aku meminta pada mu, tolong jangan lagi menaruh perasaan apapun pada ku. Dan satu hal lagi jangan ganggu Bara." Tegas Ira dengan tatapan tajam.
"Ra, aku bilang ikut aku sekarang!" Gumam Samudra yang kembali memaksa Ira untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
"Kamu beneran ingin membuat aku marah?" Tanya Ira yang berusaha menahan emosinya.
Pertanyaan Ira justru membuat Samudra mendorong tubuh Ira hingga menempel pada pintu mobil, lalu kedua tangan Samudra seolah mengunci tubuh Ira di tengah-tengah tangannya, lalu perlahan Samudra mendekatkan wajahnya pada Ira, melihat pergerakan Samudra membuat Ira tidak bisa lagi tinggal diam ia langsung menghaturkan kepalanya ke wajah Samudra, seketika Samudra berdesis kesakitan bahkan hidungnya mengeluarkan darah, kejadian tersebut membuat fokus Samudra buyar. Tidak ingin membuang waktu percuma, tangan Ira menepis kasar tangan kiri Bara lalu bergegas masuk ke mobil miliknya dan lekas pergi.
Ingatan akan kejadian beberapa jam yang lalu sukses membuat Samudra semakin murka, ia terus menatap dirinya dari pantulan cermin yang sudah pecah akibat ulahnya tadi. Emosi Samudra benar-benar membuncah.
"Aku tidak akan membiarkan Bara mendapatkan semua hal yang harusnya menjadi milikku, aku sudah berjuang, bertahan selama ini, karena semuanya memang milik aku, perusahaan, papa, bunda dan juga Ira, mereka adalah milik ku bukan milik mu. Karena memang sejak awal akulah pemiliknya, seharusnya kamu tidak perlu datang ke dunia ini." Gumam Samudra seakan sedang berjanji pada dirinya sendiri.
Samudra perlahan mengusap keringat di wajahnya lalu perlahan duduk keatas sofa dengan tangan yang masih terluka dan dia biarkan begitu saja.
_____________
"Pa...." Panggil Dewi lembut lalu perlahan mendekati sang suami yang sedang berdiri di depan cermin dengan kedua tangan yang terlihat lihai memasang dasi di kerah kemejanya.
Tangan Dewi mengambil alih pekerjaan Bima kini sang istri yang terlihat telaten membantu sang suami memakai dasi. Mata Bima perlahan membaca raut wajah sang istri yang terlihat jelas sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Sayang..." Panggil Bima dengan menyentuh wajah Dewi.
"Mas,,,!" Ujar Dewi.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Apa bunda sedang menyembunyikan sesuatu dari papa?" Tanya Bima.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan sama papa." Jelas Dewi.
"Hmmmm, soal apa? Apa Bara bikin ulah lagi? Dia nggak bolos kan? Atau ikut demo lagi?" Tanya Bima bertubi tubi.
"Bukan soal Bara pa, tapi ingin tentang Sam. Firasat bunda nggak enak." Jelas Dewi.
__ADS_1
"Kenapa dengan Sam? Dia anak yang baik, tidak mungkin kan jika dia buat masalah? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Bima.
"Ntahlah pa, perasaan bunda nggak enak tentang Sam, papa ingat dengan kejadian saat di SMA dulu?" Tanya Dewi.
"Bunda, ini hanya salah paham. Lagi pula papa percaya kalau Sam bisa diandalkan. Jadi bunda tidak perlu khawatir." Saran Bima.
"Pa, kita tidak tau kan gimana..." Pembicaraan Dewi langsung terhenti saat tangan Bima menyentuh lembut kedua bahu Dewi.
"Bunda, tolong jangan lagi ungkit cerita lama, kita kan sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi, bunda ngertikan maksud papa?" Jelas Bima mencoba menenangkan sang istri yang terlihat sedang linglung tanpa arah.
"Hmmmm, baiklah!" Ujar Dewi nurut.
"Kalau gitu, papa berangkat kerja dulu, jaga diri bunda baik-baik, oh ya nanti malam tolong minta Bara pulang ke rumah." Jelas Bima.
"Baik pa, nanti bunda hubungi Bara." Jelas Dewi.
Bima pamit, setelah mengecup kening sang istri ia segera berangkat ke kantor.
_________________
Kelas terlihat begitu tenang, tidak ada terdengar suara sama sekali, semua murid terlihat begitu fokus menjawab soal ulangan mereka. Ada yang terlihat santai ada pula yang sibuk menghitung jawaban di kertas buram, ada yang main asal nebak ada pula yang berusaha membuka kopean yang ia selipkan di balik jam tangan bahkan ada yang menyelipkannya di jepitan rambut.
Bara yang duduk di kursi paling pojok belakang sana justru sedang tiduran dengan kertas ujian yang menjadi alas wajahnya, di depannya ada Safia yang begitu serius menulis jawaban dari soal matematika yang cukup membuat otaknya bekerja keras, lalu di samping Bara ada Gibran yang terus menulis tanpa beban sedangkan Rival justru sibuk dengan lamunannya.
"Waktu kalian sepuluh menit lagi!" Tegas Maya sang guru matematika sambil terus berpatroli.
"Bar, bara...." Panggil Safia dengan kaki yang terus mengetuk-ngetuk kaki meja Bara berharap Bara segera bangun sebelum bu Maya mendatangi kursi Bara.
"Hmmmm!" Jawab bara namun masih saja di posisi semula, ia sama sekali tidak membuka matanya.
"Sudah siap?" Tanya Maya yang berdiri tepat di samping meja Bara.
"Kak, nggak masalahkan jika kita melakukannya sekarang? Hmmm, boleh kan kak? Nggak harus nunggu aku lulus kan?" Tanya Bara yang masih di alam bawah sadarnya, tangan Bara bahkan tanpa sadar menyentuh tangan Maya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Maya seakan ikut dalam kekonyolan Bara.
"Melakukan hub...." Penjelasan Bara langsung terhenti, ia bahkan langsung bangun seketika karena teriakan Rival.
"Aku udah siap buk!" Tegas Rival lantang dengan suara yang bahkan menggema di seluruh penjuru kelas, bahkan membuat para murid lainnya langsung menatap Rival.
__ADS_1
"Maaf bu!" Ujar Bara setelah ia sadar seutuhnya.
"Rival ini masih ada yang kosong loh!" Ujar Maya setelah memeriksa lembar jawaban Rival.
"Cuman itu yang aku bisa bu!" Jawab Rival ragu saat ia melihat lembar jawabannya yang masih kosong di sana sini.
"Aku juga udah siap bu!" Jawab Bara lalu menyerahkan lembar jawaban yang masih putih bersih tanpa tulisan apapun.
"Kamu bercanda?" Tanya Maya.
"Aku lagi nggak bisa mikir bu, otak aku serabutan ntah kemana, aku masih menari dalam mimpi indah ku!" Jelas Bara tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Sudahlah! Terserah kalian, dan juga yang lain kumpulkan sekarang ini udah waktunya pulang!" Jelas Maya.
"Iya bu!" Jawab beberapa murid lalu mengumpulkan lembar jawabannya.
Satu persatu mulai bangun mengumpulkan jawaban mereka, lalu setelah selesai Maya pun mengakhiri kelasnya hari ini bersamaan dengan bel pulang yang mulai berdering.
Bara bukannya membereskan buku-bukunya ke dalam tas, ia justru kembali termenung lalu tersenyum-senyum saat kenangan tadi malam kembali menari indah dalam ingatannya.
"Kamu kerasukan?" Tanya Safia sambil berbalik menatap Bara.
"Udah jangan di ganggu, biarkan dia gila!" Cetus Gibran.
"Kamu kenapa sih Bar, kayak dapat bintang jatuh, senang nggak ketulungan? Emang terjadi sesuatu?" Tanya Ratu yang ikut merapat ke meja Bara.
"Lebih dari sekedar mendapatkan bintang jatuh! Waaaaah hmmmm, oh indahnya..." Jelas Bara dengan bersiul riang lalu beranjak keluar dari kelas tanpa peduli dengan para sahabat yang terus memanggilnya.
"Dia kenapa sih? Aneh banget?" Tanya Safia yang benar-benar dilanda rasa penasaran.
"Kayak orang habis dapat jatah!" Celetuk Ratu ngasal.
"Maksudnya?" Tanya Rival.
"Ya jatah! Hmmmmmm!" Jelas Ratu dan berlalu begitu saja.
"Jangan-jangan, haisshhhhh!" Gumam Rival dan segera berlari menyusul Bara yang ntah sudah sampai kemana.
"Mereka benar-benar aneh! Ayo Saf kita pulang, jika terus memikirkan mereka kita yang akan jadi gila." Jelas Gibran lalu merangkul Safia bersamanya.
__ADS_1
"Ayo pulang!" Ujar Safia yang juga tidak ingin memikirkan pembicaraan yang tidak jelas dari sahabatnya barusan.
🦋🦋🦋🦋🦋