Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Ajakan Kencan.


__ADS_3

"Alea...!" Panggil Samudra sambil perlahan melangkah menghampiri Alea yang terlihat sedang begitu fokus dengan ponsel miliknya.


"Hmmm, iya..."Jawab Alea bahkan tanpa menoleh kearah Samudra sama sekali, ia masih tetap fokus pada layar ponselnya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Samudra masih saja berdiri disamping Alea.


"Bicara aja? Kenapa? Ada apa? Atau tunggu sebentar, soalnya lagi gelut sama papa nih." Jelas Alea panjang lebar sambil terus membalas chat.


"Hmmmm." Jawab Samudra.


"Kok berdiri, dud...!" Ucapan Alea langsung terhenti, tangannya yang tadi hendak menyentuh lengan Samudra seketika mematung saat menyadari bahwa orang yang sedang mengajaknya bicara bukanlah Gibran melainkan Samudra.


Alea bahkan sontak bangun dengan tangan yang langsung mematikan ponselnya.


"Maaf! Tadi aku kira Gibran." Jelas Alea dengan hati yang terus saja memakin dirinya dengan penuh rasa kesal.


"Lalu kenapa kalau ternyata justru abang? Apa kamu kecewa?" Tanya Samudra.


"Bukan begitu, cuman, hmmmm..." Keluh Alea.


"Lanjutkan aja, abang akan tunggu sampai masalah keluarga kamu selesai." Jelas Samudra lalu duduk tepat di samping kanan Alea.


"Udah kelar kok, hmmmm, apa yang ingin abang bicarakan?" Tanya Alea.


"Serius? Boleh nih abang langsung ngomong?" Tanya Samudra memastikan.


"Hmmmm, silahkan!" Ujar Alea.


"Rencananya masuk universitas mana?" Tanya Samudra.


"Sama dengan Bara dan yang lain juga." Jawab Alea.


"Satu jurusan?"


"Rencana mau ngambil bisnis."


"Sendiri?"


"Sama Ratu."


"Kalian udah lama sahabatan?"


"Sejak masuk SMA."


"Dekat?"


"Banget."


"Saling menyayangi?"


"Pasti."


"Cinta?"


"Iya."


"Sama abang?"

__ADS_1


"Iya."


"Serius?"


"Eh maksudnya..."


"Lusa sore abang jemput, nomor wa abang." Jelas Samudra yang langsung bangun setelah meninggalkan secarik kertas dimeja lalu pergi begitu saja.


"Bikin malu aja, dasar mulut, kuping sama hati nggak pernah bisa kerja sama." Tegas Alea pada dirinya sendiri sambil menatap kepergian Samudra.


______


"Hufffff lelah setengah mati!" Keluh Ira sambil merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur.


Setelah menukar gaun pengantin dengan piyama, akhrinya Ira bisa bernafas dengan lega. Tadi benar-benar membuat Ira kelelahan, seharian memasang senyum meski kelelahan, berfoto dengan para undangan, sahabat dan juga senak keluarga apa lagi tadi ada sesi wawancara dengan beberapa awak media, semuanya cukup membuat Ira capek.


Bara yang baru saja masuk ke kamar perlahan melangkah menuju tempat tidur lalu duduk disamping sang istri tercinta.


"Mau dipijitin?" Tanya Bara dengan tangan yang sibuk melepas jas yang masih melekat rapi di tubuh kekarnya.


"Nggak usah, kamu kan juga capek, ayo sini..." Jelas Ira yang sedikit bergeser memberi tempat untuk Bara berbaring disebelahnya.


"Benar nih nggak mau aku pijitin?" Tanya Bara sambil rebahan.


"Peluk!" Pinta Ira yang langsung dilaksanakan oleh Bara.


"Maafkan ayah sayang, kamu juga pasti sangat kelelahan kan? Sorry sayang!" Pinta Bara sambil mengusap lembut perut Ira yang mulai terlihat.


"Meski sedikit lelah tapi tadi itu benar-benar menyenangkan." Jelas Ira lalu mengecup kening Bara.


"Pasti akan menderita banget, aku kan pembawa hoki." Jelas Ira dengan gelak tau penuh percaya diri.


"I love you, Ra." Ucap Bara dengan suara yang terdengar serak namun bisa terdengar dengan sangat jelas.


Tangan Bara sedikit mempererat pelukannya, lalu mengecup lama kening Ira dengan penuh kasih sayang.


"Istirahat yang cukup, besok nggak kan kalah capeknya juga sama hari ini." Jelas Bara dengan tangan yang membelai rambut Ira.


"Waaaah, seharian udah capek pakek banget, ditambah besok lagi, huffff dasar Resi, ngapain sih buru-buru banget, nggak bisa kek sebulan ke depan." Cetus Ira lalu menghela nafas kasar.


"Emang siapa yang bisa tahan sih sama pesona Rival, jangankan nunggu sebulan sehari aja terasa lama." Jelas Bara.


"Ya sama, kami emang punya pesona yang begitu memikat!" Jelas Ira.


"Oh ya? Coba aku periksa..." Ujar Bara yang sontak bangun lalu duduk dengan menghadap pada Ira.


Bara masih saja memperhatikan wajah Ira dengan tangan yang perlahan menyentuh lembut pipi Ira.


"Udah cukup! Tidur!" Pinta Ira yang bahkan langsung memalingkan wajahnya dan menutup kedua matanya.


"Jangan bilang kalau kamu justru tergoda dengan tatapan aku?" Goda Bara.


"Tidur nggak?"


"Kalau aku nggak mau? Terus kamu mau apa?"


"Bara, aku..."penjelasan Ira terhenti, ia kembali menghadap kearah Bara lalu menyentuh tangannya pelan.

__ADS_1


"Huffff, ayo sayang ku kita tidur! Anak sama istri mu benar-benar butuh istirahat full, ayo sayang!" Ajak Ira lembut.


"Let's go!" Ujar Bara yang langsung nurut.


________


Pintu kamar Resi perlahan dibuka dari luar, Dira terus melangkah mendekati tempat tidur dimana kini Resi sedang melepas lelah. Dira mengambil tempat disamping Resi, membuat Resi langsung tersenyum atas kehadiran Dira.


"Mama..." Ujar Resi manja.


Sudah sejak beberapa bulan mama dan papanya jarang menjenguknya karena sibuk kerja, ya sejak SMA Resi memang tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya karena pekerjaan, kedua orang tuanya terpaksa tinggal diluar kota.


Biasanya jika liburan mereka akan bergantian datang, kadang Resi yang menjenguk atau sebaliknya kadang kedua orang tuanya yang pulang untuk menjenguk Resi.


"Gimana persiapannya? Apa ada yang kurang atau mungkin ada yang nggak pas dengan selera mu?" Tanya Dira.


"Ma, semua pilihan mama udah sempurna banget, Re suka ma." Jelas Resi.


"Akhirnya anak gadis mama nikah juga, dan mama bisa lega ninggalin kamu disini karena udah ada yang akan menjaga kamu bahkan lebih baik dari penjagaan mama selama ini." Jelas Dira.


"Ma, mau nikah atau nggak mama adalah penjaga terbaik buat Re, mama dan papa cinta pertama Re, nggak akan ada yang bisa menggeserkan posisi itu termasuk Rival sekalipun." Jelas Resi.


"Mama tau, cuman nggak gitu konsepnya sayang! Besok setelah kamu sah menjadi istrinya Rival, maka dia adalah prioritas dalam hidup mu. Meski Rival jauh lebih muda dari kamu tapi dia tetap imam mu, jangan nakal, jangan buat dia terluka, jaga suami kamu dengan baik."


"Mama...." Ujar Resi yang segera bangun lalu memeluk erat tubuh Dira.


"Re..." Ujar Indra yang perlahan ikut masuk ke kamar Resi.


"Papa..." Ujar Resi yang langsung membuka lebar kedua tangannya dan segera memeluk sang papa.


"Gimana? Deg-degan?" Tanya Indra dengan tangan yang mengusap lembut rambut Resi.


"Sama sekali nggak kok pa." Jawab Resi tegas.


"Cieee yang sebentar lagi jadi pengantin." Goda Indra.


"Papa..." Ujar Resi dengan wajah merona.


"Re, papa tau kalau kamu sangat mencintai Rival, papa melihatnya dengan jelas dari tatapan mata mu itu, tapi satu pinta papa jangan buat Rival serba salah karena cinta mu itu." Jelas Indra.


"Maksud papa apa? Re nggak ada niat jahat pa sama bocah itu!" Tegas Resi.


"Eh eh eh...bocah? Tuh kan kebiasaan deh, dia itu calon suami mu, Re." Jelas Dira.


"Papa rasa bukan Rival yang bocah tapi kamu! Papa jadi takut, ntar setelah nikah yang ada Rival yang bakal diuji mental dan fisik dalam meladeni semua tingkah konyol mu itu." Jelas Indra.


"Papa..." Ujar Resi.


"Habisnya udah tua masih aja tingkah kayak bocah! Nggak kebayang bakal seriweh apa Rival jika tinggal sama kamu!" Jelas Dira.


"Mama jangan ikutan kayak papa dong!" Protes Resi.


"Hmmmm, semoga kamu bahagia selalu putri semata wayangnya papa dan mama!" Ujar Indra penuh kasih sayang.


"Love yau sayang..." Ujar Dira lalu mengecup manja kedua pipi Resi.


...🦋🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2