
Tiga mobil yang baru saja berhenti di depan rumah keluarga Pradipta, membuat para penumpang langsung bergegas keluar dari mobil dan berbondong-bondong masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!" Salam Gibran yang terus melangkah masuk menelusuri setiap ruangan.
Yang lainnya ikut menyusul, mereka terus saja mencari sosok yang membuat mereka kerap kali mendatangi rumah ini selama beberapa bulan terakhir ini.
"Dasar kalian, tuan rumah malah kalian tinggal begitu saja, main nyosor aja kayak maling!" Gumam Bara kesal sambil terus menyusul yang lainya.
"Bunda...." Ujar Alea yang langsung menghampiri Dewi lalu keduanya berpelukan.
"Aku juga mau dipeluk!" Ujar Ratu yang bahkan langsung ikut bergabung.
"Usir aja mereka semuanya bunda! Dikira rumah kita pasar malam apa, datang segerombolan gini!" Cetus Bara.
"Cih! Lagian kami kesini bukannya main ke rumah kamu, kami lagi main ke rumah bunda kali, iyakan bunda." Jelas Safia.
"Iya sayang, ayo duduk semuanya." Ajak Dewi.
"Anak aku mana bunda?" Tanya Gibran.
"Rupanya nyari anak bukan nyari bunda!" Canda Dewi.
"Dua duanya kok bun!" Jawab Gibran dengan senyuman.
"Kebetulan, Rival dan Resi juga baru datang, mareka lagi di teras belakang, udah sana kalian gabung aja, biar bunda buatkan minum dulu." Jelas Dewi.
"Ya udah bunda, kami jumpai anak kami dulu ya." Jelas Ratu.
"Iya sayang!" Jawab Dewi dengan senyuman.
"Anak! Anak, anak aku kali! Sejak kapan Alwan jadi anak kalian!" Gumam Bara kesal.
"Sejak dulu, awas!" Cetus Safia yang bahkan langsung menyingkirkan tubuh Bara yang menghalangi jalannya.
"Benar-benar!" Gumam Bara lalu ikut menyusul yang lainnya yang telah lebih dulu menuju teras belakang.
"Biar aku bantu bunda." Tawar Alea.
"Nggak usah sayang, kan ada bi Siti yang bantuin." Jelas Dewi.
"Iya non Lea, ada bibi kok." Jelas Siti yang sejak tadi memang sedang membantu Dewi membuatkan minum untuk para tamu tak diundang.
"Lebih rame lebih cepat, iya kan bunda." Ujar Alea.
"Terima kasih sayang!" Ucap Dewi dengan senyuman.
"Sama-sama bunda." Ucap Alea yang langsung membantu menyusun gelas keatas talam.
"Bunda, bunda..." Suara lantang yang terus memanggil Dewi lambat-laun makin terdengar mendekat.
"Bunda..." Panggil Samudra untuk yang kesekian kaliannya.
__ADS_1
"Lea..." Ujar Samudra dengan suara pelan saat melihat Alea yang sedang berdiri diantara Dewi dan Siti.
"Makanya jangan suka teriak-teriak, masuk dulu, baru nyari bunda, kebiasaan sih, baru masuk gerbang udah langsung teriak manggil bunda." Jelas Dewi.
"Ayo bi Siti, kita antarkan minum untuk para tamu kita..." Ajak Dewi yang langsung membawa satu talam yang telah diisi dengan beberapa gelas yang dipenuhi dengan jus segar.
"Ayo nyonya!" Ujar Siti yang juga membawa satu talam lalu keduanya meninggalkan Samudra dan Alea disana.
"Khmmmm! Panas, haus!" Ujar Samudra lalu melangkah mendekati Alea.
"Ini, diminum." Ujar Alea lalu menyodorkan segelas jus apel.
"Makasih!" Ucap Samudra dengan senyuman lalu meminum semuanya hingga habis.
"Abang Sam..." Ujar Alea dengan tatapan fokus pada Samudra.
"Iya, kenapa?" Tanya Samudra yang juga langsung menatap Alea dengan tatapan yang begitu dalam.
"Apa abang tidak berencana untuk menikah? Abang sudah sangat pantas loh untuk berumah tangga." Jelas Alea.
"Apa kamu sedang meminta abang untuk segera menikahi mu?" Tanya Samudra.
"Lalu? Apa abang pikir kalau aku meminta abang untuk menikahi Ratu atau Safia? Ya iya aku dong, dasar nggak peka! Dasar pria tua." Cetus Alea kesal dan pergi meninggalkan Samudra.
"Manis banget kalau lagi kesal gitu! Jadi tambah sayang! Waaah, gini kali ya jatuh cinta sama remaja. Kesabaran ku diuji setiap saat." Jelas Samudra pada dirinya sendiri lalu melangkah menyusul Alea yang berjalan kearah teras belakang.
"Lea, Sam, ayo gabung!" Ajak Resi yang melihat kedatangan sepasang sejoli tersebut.
"Hmmmm, kami kangen sama bayi kami yang tampan ini." Jelas Gibran yang kembali mencium pipi Alwan untuk yang kesekian kalinya.
"Awas!" Cetus Rival yang langsung mendorong Gibran lalu merampas hak gendong Alwan.
"Sayangnya papa Rival, makin ganteng aja, love you..." Ujar Rival lalu mengecup kedua pipi Alwan secara bergantian.
"Habis tuh pipi anak aku! Udah mending kalian semua pulang aja deh, ganggu banget!" Cetus Bara kesal dan hendak mengambil alih bayinya.
Namun sebelum tangan Bara menyentuh tubuh Alwan tangan Samudra sudah lebih dulu menarik kemeja Bara agar tubuh Bara menjauh dari Alwan.
"Mending kamu aja deh yang pulang!" Cetus Samudra lalu mengambil alih Alwan kedalam gendongannya.
"Kayaknya abang Sam lebih cocok dipanggil papa sama Alwan deh, udah mending abang Sam buruan nikah deh, ntar keburu tua!" Cetus Ratu sekenanya.
"Nah kali ini bunda setuju dengan Ratu." Jelas Dewi.
"Bibi juga setuju banget!" Jelas Siti.
"Udah lanjut aja bang, ntar keburu diambil orang loh! Sekedar informasi aja nih, kalau di kampus banyak yang ngejar Lea loh, untung ada kami yang jagain." Jelas Rival.
"Benar kah?" Tanya Samudra memastikan.
"Hmmm, kami bahkan terkadang harus mengaku sebagai kekasih Lea agar mereka berhenti mengganggu Lea." Jelas Gibran.
__ADS_1
"Udah Sam, buruan nikah!" Jelas Resi.
"Udah, tunggu apa lagi? Emang kamu mau rebutan Alwan terus menerus sama Bara? Kamu nggak berencana buat nyetak Sam junior nih? Ya itung-itung kasih teman main untuk Alwan." Jelas Ira yang sontak membuat semua mata menatap kearahnya.
"Ternyata kak Ira mesum juga orangnya, baru nyadar aku!" Ujar Safia.
"Kakak emang gitu, semenjak bergaul sama Bara, omongannya diluar nalar!" Cetus Rival.
"Kamu ngatain aku?" Tanya Bara.
"Ya gitu!" Cetus Rival hingga membuat semua orang tertawa.
"Bunda, tolong segera lamar Lea untuk aku, aku juga nggak mau kalah dari Bara dan Rival." Jelas Samudra.
"Abang Sam....". Ujar Alea tersipu malu.
"Cieee yang sedang berbunga-bunga!" Goda Safia dan Ratu hampir berbarengan.
"Siap, minggu ini juga bunda dan papa akan langsung datang menemui orang tua Lea." Jelas Dewi.
Semua yang ada tersenyum bahagia, begitu juga dengan Alwan, ia bahkan tertawa riang membuat semua mata menatapnya gemes.
"Tuh kan, Alwan aja senang banget dengarnya. Sama kita sayang, om juga senang banget!" Jelas Samudra lalu mengecup kening Alwan.
"Udah balikin sini anak aku!" Pinta Bara.
"Awas..." Tegas Samudra yang malah menjauh dari Bara dengan membawa serta Alwan bersamanya.
"Aaaaaah..." Keluh Bara kesal yang justru membuat yang lain tertawa puas.
"Bahagia banget lihat mereka semua tertawa bahagia." Ucap Resi dengan senyuman sambil menyentuh tangan Ira yang duduk tepat disampingnya.
"Hmmm, sangat bahagia, kamu juga pasti bahagia kan calon anggota baru!" Ujar Ira lalu perlahan mengusap pelan perut buncitnya Resi.
(Bara Pradipta, Dia suami ku. Suami ku dunia akhirat, lelaki yang begitu aku cintai dengan sepenuh jiwa dan raga, lelaki yang kerap kali ku sebut di sepanjang doa-doa ku.) Ungkap Hati Ira dengan mata yang terus menatap senyuman Bara yang sedang tertawa riang di samping Rival dan Gibran.
...🦋🦋TaMaT🦋🦋...
Akhirnya selesai🤗🤗
Terimakasih untuk semua pembaca setia ku yang udah ngikutin cerita aku dari pertama sampai terakhir.
Terima kasih banyak banyak😘😘😘
Jangan lupa untuk ikuti novel baru aku ya judulnya....
🦋 Diantara Galang dan Karang
🦋 Night Guard
Ditunggu kunjungannya.
__ADS_1
Terima kasih😊😊