Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Menyelesaikan Masa Lalu.


__ADS_3

Ira yang begitu buru-buru terlihat berlarian keluar kantor ia bahkan tidak peduli dengan penampilannya yang begitu berantakan. Tangan kanan yang menjinjing tasnya dan tangan kiri yang membawa beberapa file serta jilbab yang begitu berantakan, ia terus saja mempercepat langkahnya bahkan tanpa sengaja ia malah menabrak seseorang yang baru saja keluar dari mobilnga yang terparkir tepat di sebelah mobilnya Ira.


Semua berkas yang ada di tangannya berjatuhan, membuat Ira mau tidak mau harus memungutnya kembali, dengan begitu sopan sebuah tangan membantunya lalu menyerahkan beberapa kertas pada Ira.


"Maaf! Ini!" Jelas Lelaki tersebut.


Tangan Ira langsung mengambil kertas tersebut tanpa menoleh pada pemilik tangannya, lalu perlahan ia malah menyentuh tangan kanan Ira yang masih sibuk memungut filenya.


"Ira..." Pelan namun terdengar jelas kalau lelaki yang kini berada dihadapannya sedang menyebut namanya.


Perlahan Ira segera menoleh pada pemilik suara tersebut.


"Bayu..." Ujar Ira setalah menatap wajahnya.


"Masih kenal rupannya, aku kira kamu sudah melupakan wajah tampan ku ini" Jelas Bayu memamerkan senyuman mautnya.


"Masak iya lupa sama lelaki tertampan di kantor ini!" Ujar Ira yang juga ikut tersenyum.


"Ada metting atau gimana nih? Buru-buru banget!"


"Hmmmm, iya janji!"


"Mau aku antar?"


"Nggak usah, lagi pula ini hari pertama kamu kembali ke kantor kan?  bos mu mana? Nggak bareng atau gimana? Ya udah, aku duluan ya, lagi buru-buru banget soalnya, selamat datang kembali!" Jelas Ira dan hendak membuka pintu mobilnya namun segera dihadang oleh Bayu.


"Nanti sore antarkan aku pulang, janji?"


"Kamu kan bawa mobil!"


"Pokoknya antarkan aku pulang, masa iya sahabat mu kembali bekerja tapi nggak ada penyambutannya sama sekali, dasar tidak setia kawan, pokoknya aku tunggu nanti sore. Semangat kerjanya!" Seru Bayu dan langsung bergegas masuk ke dalam kantor.


"Kalau Bayu kembali pasti pak Sam juga ikut kembali, hufff, harus hati-hati, jangan sampai dia salah paham lagi sama aku kayak waktu itu, kenapa harus balik lagi? Nambah beban aja, huffffff!" Gundah hati Ira dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Mobil mulai melaju meninggalkan parkiran. Beberapa menit berlalu kini mobil milik Ira berhenti i tepat di depan sebuah taman, Ira segera turun lalu berlari menuju sebuah bangku yang berada di bawah pohon nan rindang sana.


Saat dirinya mulai semakin dekat, kini ia mulai menahan langkahnya pelan, bahkan kini sejanak berdiam diri mematung dengan pandangan sendu yang terus menatap punggung seseorang yang sedang duduk di bangku sana.


"Mendekatlah!" Pinta si pemilik punggung yang ternyata sejak awal telah menyadari kedatangan Ira.


Perlahan Ira kembali melangkah lalu duduk di sebelahnya.


"Vin...." Ujar Ira tertahan.


"Biar aku yang bicara lebih dulu. Apa kamu serius dengan keputusan mu itu? Kamu benar-benar meninggalkan aku?" Tanya Vino tanpa menoleh pada Ira.


"Hmmmmm!"


"Keinginan mu atau desakan orang tua mu?" Tanya Vino yang bahkan seketika langsung mencengkram kedua bahu Ira dengan begitu kasar.

__ADS_1


"Vin, sakit!" Keluh Ira yang mencoba lepas dari cengkeraman Vino.


"Jawab! Kamu yang membuat keputusan atau orang tua mu?" Desak Vino yang semakin di penuhi dengan amarah.


"Vin, nggak penting ini keputusan aku atau orang tua ku, yang jelas aku akan segera menikah. Tolong lupakan aku, dan juga maafkan aku yang tidak bisa memperjuangkan cinta kita!" Jelas Ira.


"Hashhhhhhhh! Apa kamu akan menikah dengan om om kaya raya? Dasar ****** mata duitan!" Gumam Vino.


"Akhirnya kamu membuka topeng mu Vin, jadi ini sosok yang Resi lihat selama ini, pantas saja dia begitu marah saat aku jadian sama kamu dulu." Jelas Ira yang terlihat jelas begitu kecewa.


"Lalu sebutan apa yang pantas untuk wanita pengkhianatan seperti mu? Ira, tolong, aku mohon jangan tinggalkan aku!" Pinta Vino.


"Maafkan aku Vin!" Ujar Ira yang langsung bangun dari tempat duduknya.


Vino ikut bangun dan langsung mencegat langkah Ira, dengan sigap Ira langsung menarik Ira ke dalam pelukannya.


"Vin, lepas!" Pinta Ira yang menarik tubuhnya dari Vino.


"Jangan tinggalkan aku Ra, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup aku tanpa kamu!" Jelas Vino yang bahkan semakin mengeratkan pelukannya.


"Vin lepas!" Gumam Ira yang kini berhasil menarik tubuhnya dari pelukan Vino.


"Seminggu lagi aku akan menjadi istri orang lain, lupakan aku Vin, aku harap kamu kan bahagia selalu!" Ujar Ira.


"Nggak Ra, aku nggak akan rela kamu menjadi milik orang lain, aku akan membuat dia menyesal karena merebut kamu dari ku!" Tegas Vino dan lekas pergi begitu saja.


"Maafkan aku Vin, maaf!" Pinta Ira sambil menatap kepergian Vino.


"Telat lima belas menit!" Tegas Bayu yang masih duduk manis di lobi kantor.


Ira yang baru saja tiba langsung mendekati Bayu yang memang sedang duduk menunggu kedatangannya.


"Lagian siapa suruh nungguin aku!" Cetus Ira yang ikut duduk di sebalahnya Bayu.


"Terus kalau  aku nggak nungguin, lah  sekarang yang nemanin kamu di sini siapa coba!" Cetus Bayu.


"Sorry telat!" Pinta  Resi yang ternyata baru keluar dari ruang kerjanya.


"Aku juga minta maaf!" Pinta Dimas sambil berlarian menghampiri ketiga sahabatnya.


"Hayyok, buruan! Keburu sore ntar!" Ajak Bayu.


"Kemana jadi?" Tanya Resi sambil mengecek isi tasnya.


"Pesta penyambutan atas kembalinya aku ke kantor dong!" Jelas Bayu dan segera beranjak dari tempat duduknya.


"Kalian mau kemana?" Tanya Samudra yang baru saja muncul entah dari arah mana yang jelas kini ia tepat berdiri di hadapan Bayu yang merupakan sekretaris pribadinya.


"Pak Sam!" Ujar Dimas, Resi dan Ira hampir berengan dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Mau makan, mau ikut?" Tanya Bayu. Selain sebagai sekretaris, Bayu adalah tema baik Samudra, jadi tidak heran kalau Bayu selalu bersikap santai bahkan sesekali terlihat kasar terhadap Samudra.


"Emang boleh?" Tanya Samudra.


"Boleh banget, kan kamu yang bayarin, ayo teman-teman!" Ajak Bayu.


"Benaren nih saya boleh ikutan?" Tanya Samudra memastikan pada yang lainnya.


"Boleh pak!" Jawab Dimas.


"Kalau gitu, ayo!" Ajak Samudra.


"Ayo mari pak!" Ujar Resi yang segera ikut mengikuti langkah Samudra.


"Kenapa malah ngajak bosnya sih??" Gumam Ira pelan dan ikut menyusul.


"Tuh anak emang resek banget, pasti bakal canggung banget!" Ujar  Dimas pelan dan  bergegas menyusul yang lainnya.


__________________


Tim sepak bola SMAN Bangsa Jaya kini tampak memenuhi sebuah restoran, tujuh meja yang di atur memanjang menjadi tempat mereka berkumpul merayakan kemenangan mereka setelah melakukan pertandingan seminggu penuh melawan beberapa tim sepak bola dari sekolah lain, dan tadi adalah pertandingan final yang membuat mereka berhasil meraih mendali emas dan mengharumkan nama sekolah tercinta.


Dengan di pimpin oleh sang pelatih tebaik, acara pesta perayaan berjalan sesuai keingin. Faisal terlihat begitu bangga dengan prestasi yang dicapai oleh anak asuhnya terlebih lagi Bara yang selalu saja berhasil mencetak gol dengan baik, dan semua itu tidak luput dari kerja sama tim yabg begitu hebat.


Semua anggota tim begitu menikmati makanan mereka. Di saat suasana sedang begitu asyik tiba-tiba suara Faisal seketika menghentikan aktifitas para murid yang sedang bergelut dengan hidangan yang berjejer di hadapan mereka.


"Ira...." Panggil Faisal saat melihat Ira melintasi meja di mana ia dan oara muridnya berada.


"Faisal!" Ujar Ira yang langsung menghentikan langkahnya.


"Kak Ira sedang apa di sini?" Tanya Rival yang langsung bangun dan menghampiri sang kakak.


"Makan, sama teman kantor kakak!" Jawab Ira.


"Gimana kalau kami gabung di sini?" Tanya Resi yang sontak membuat para sahabatnya heran.


"Boleh banget!" Jawab Faisal.


Diam diam Bara terus saja menatap kearah Samudra yang memang sejak awal terus menatap pada dirinya.


"Benaren kak Resi mau gabung sama kita? Kita habis tanding loh, bau keringat!" Jelas Rival.


"Mending kalian cari tempat lain aja!" Cetus Bara lalu kembali melanjutkan makannya.


"Bara..." Tegur Faisal karena memang Bara berbicara dengan nada yang kasar.


"Ayo cari tempat lain!" Ajak Samudra.


"Udah di sini aja, lebih seru, rame biar terlihat layaknya pesta!" Jelas Bayu yang langsung mengambil tempat duduk.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2