Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Kurang Tidur.


__ADS_3

"Ra, Ira..." Panggil Resi sambil menggoyangkan bahu Ira.


Saat itu, Ira sedang tertidur lelap dengan wajah yang menempel di atas meja kerjanya. Resi yang baru masuk ke ruang kerja Ira, segera menghampiri sang sahabat yang benar-benar tertidur pulas, bahkan setelah menggoyangkan bahunya hingga beberapa kali, Ira masih juga tidak terbangun sama sekali.


"Ira..." Gumam Resi sambil memukul kasar meja.


"Apaan sih? Re jangan ganggu aku, please!" Pinta Ira yang kembali memejamkan matanya.


"Ngapain sih kamu semalaman sampai ketiduran di kantor seperti ini?" Tanya Resi.


"Aku cuman ingin tidur dengan tenang, jadi keluarlah dari sini, jangan ganggu tidur ku!" Jelas Ira.


"Hmmm hmmmm hmmmm!" Ujar Resi dengan irama yang cukup menggoda.


"Jangan mikir yang aneh-aneh!" Tegas Ira yang langsung menatap horor kearah Resi.


"Hmmm hmmmm! Aku sama sekali tidak mikir yang aneh-aneh kok, toh wajar kan, kalau kamu kurang tidur, orang udah punya kerjaan malam!" Goda Resi.


"Mulut! Jangan gila kamu, Re!" Gumam Ira yang kesal dengan gelagat sahabatnya tersebut.


"Udah nggak usah malu gitu dong! Gimana??" Tanya Resi yang bahkan mengedipkan matanya dengan nakal kearah Ira.


"Bakal aku rontok kan tuh gigi!" Gumam Ira dengan melemparkan kotak tisu hingga mengenai lengan Resi.


"Du dudu dududu duuuuu, pengantin barrrluuuu...." Ucapan Resi langsung terhenti saat sebuah map melayang kearahnya.


"Sedikit lagi kamu bicara, akan aku robek mulut ember mu itu!" Gumam Ira.


"Loh, kenapa marah sih, lagi pula wajarkan kalau suami dan istri ituuuuu" Jelas Resi menggantung.


"Re!!" Seru Ira yang tidak lagi bisa diam, ia bahkan segera mendekati Resi.


"Iya, iya aku akan diam, tenang dong, santaiii!" Ujar Resi sambil mengusap kedua bahu Ira pelan.


"Ayo sini cerita sama bbf mu ini, kenapa? Apa kerjaan kantor numpuk? Atau mungkin ada masalah keluarga? Ada apa? Kenapa kamu bisa kurang tidur dan kelihatan lesu banget?" Tanya Resi yang mulai serius lalu duduk di sofa dengan di ikuti oleh Ira.


"Semalam Bara demam tinggi, aku harus ngurusin dia, belum lagi bahan rapat juga harus aku siapkan karena pagi-pagi sudah harus rapat dengan pihak promosi, terus Bara, dia nggak cuman demam aja, dia terus menangis di sepanjang tidurnya, terlihat seperti ketakutan dan juga kelelahan, aku sama sekali tidak tidur semenit pun, sepanjang malam aku harus jagain dia dan kamu tau apa yang terjadi tadi pagi? Parahnya pagi-pagi dia sudah sehat wal afiat, bugar kekar dan cuzzz ikut pertandingan sepak bola, kurang ajar banget kan tuh anak? Aku susah payah bergadang semalaman tau-taunya dia baik-baik aja, gila kan??" Jelas Ira panjang kali lebar.


"Dari cerita mu, aku mulai sadar akan satu hal!" Ujar  Resi setelah mengamati Ira dengn seksama.


"Apa? Kamu juga sependapat dengan aku kan? Kalau dia itu emang tidak tau terima kasih?" Tanya Ira.


"Ra, aku rasa kamu mulai menyayangi Bara." Tegas Resi.


"Apa? Gilaaa!" Ketus Ira yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa.


"Iya, kamu yang mulai menggilai bocah SMA itu, bersiaplah, kamu bakal benar-benar terperangkap dalam permainan mu sendiri!" Jelas Resi.

__ADS_1


"Resek banget sih, udah ah, aku mau lanjut tidur, sana gih keluar!" Cetus Ira.


"Yakin nih, nggak mau ikut makan siang bareng aku, Dimas dan Bayu?" Tanya Resi memastikan.


"Nggak minat! Udah keluar sana! Selamat makan!" Seru Ira kembali memejamkan matanya.


_____________


"Kamu yakin, kalau kamu baik-baik saja" Tanya Gibran memastikan saat semua anggota tim sedang istirahat sejenak.


"Hmmmmm!" Jawab Bara lalu meneguk air mineral dari botolnya.


"Tapi wajah kamu pucat banget Bar..." Jelas Rival.


"Aku baik-baik aja, terlihat masi pucat mungkin karena efek demam semalam, tapi sekarang aku okay kok!" Jelas Bara.


"Yakin Bar?" Tanya Azka memastikan.


"Hmmmmm!" Jawab Bara dengan di sertai anggukan pasti.


"Tetap fokus pada strategi kita, ingat! Kerja sama tim yang solid adalah jalan menuju kemenangan!" Jelas Faisal menasehati.


"Siap pak!" Jawab semua anggota tim serentak.


"Bara dan juga kamu, Azka usuhakan kalian bisa mencetak gol kali ini dan yang lainnya juga harus lebih fokus mengiring bola!" Jelas Faisal.


"Siap, semangat, maju!" Seru mereka serentak lalu kembali turun kelapangan karena memang waktu istirahat telah selesai.


Beberapa menit kembali berlalu, dan di saat permainan semakin serius di saat itu pula Azka berhasil mencetak gol berkat giringan yang bagus dari Rival. Pertandingan semakin memanas saat jam menuju detik-detik pertandingan akan berakhir. Bara semakin gesit membawa bola ke arah gawang lawan, namun tiba-tiba ia justru membagikan bola pada Gibran namun itu hanya untuk sesaat, hingga pada akhirnya Gibran mengembalikan bola kepada Bara dan tendengan Bara akhirnya berhasil membobol gawang sang lawan bersamaan dengan tubuh Bara yang tumbang lalu disusul dengan waktu permainan yang telah usai.


Rival dan Gibran segera berlari kearah Bara, keduanya berusaha untuk kembali menyadarkan Bara dari pingsannya.


"Ada apa ini?" Tanya Faisal yang memasuki lapangan dan langsung membawa kepala Bara ke dalam pangkuannya.


"Itu akibatnya jika sok kuat dan sok bisa segalanya!" Cetus Mulki si kapten dari tim lawan.


Gibran hendak bangun untuk melabrak mulut pedas Mulki namun Faisal langsung mencegahnya.


"Prioritas kita sekarang adalah keselamatan Bara, ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" Jelas Faisal yang langsung mengangkat tubuh Bara dengan dibantu oleh Rival.


"Ayo pak, saya bawa mobil, ayo kita bawa Bara lebih dulu ke rumah sakit!" Ajak Azka yang segera berlari ke parkiran.


"Ayo, Gibran kamu selesai kan yang di sini, dan juga jaga tim mu dengan baik, bapak akan kembali setelah memastikan keadaan Bara." Jelas Faisal.


"Baik pak!" Jawab Gibran patuh.


Rival dan Faisal pun langsung bergegas menbawa Bara ke mobil Azka dan tancap gas menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


______________


Setelah menjalani pemeriksaan kini tubuh Bara terbaring lemah di ranjang pasien dengan infus yang terpasang di tangannya. Kata dokter dia hanya demam dan terlalu lelah jadi istrihat beberapa hari akan segera membaik, tidak ada yang serius, setelah memastikan bahwa keadaan Bara baik-baik saja Faisal dan Azka kembali ke tempat pertandingan dengan meninggalkan Rival di rumah sakit untuk menjaga Bara hingga orang tua Bara datang.


Rival terus saja duduk di kursi tepat di samping ranjang di mana Bara masih terbaring lelap, bahkan setelah Azka dan Faisal pulang ia masih begitu setia memandangi wajah pucat sang sahabat.


"Berhenti menatap aku seperti itu! Kamu membuat ketampanan ku memudar!" Jelas Bara lalu perlahan membuka matanya.


"Sekali lagi kamu membuat kehebohan seperti ini? Maka aku akan membunuh mu!" Tegas Rival.


"Itu udah yang ke seratus kalinya kamu mengucapkan kata-kata tersebut, basi tau!" Jelas Bara.


"Benar-benar!" Geram Rival.


"Kita menang kan?" Tanya Bara yang langsung girang.


"Apa sekarang itu penting?" Tanya Rival.


"Banget! Aku rela tumbang gini ya supaya kita menang!" Jelas Rival.


"Apa cuma menang aja yang ada di otak mu itu? Kamu hampir aja kenapa-kenapa!" Jelas Rival.


"Mulai deh! Jiwa emak-emaknya kambuh lagi!" Cetus Bara.


"Kalau kamu gini terus, bunda bakal mengeluarkan mu dari tim sepak bola sekolah!" Jelas Dewi yang baru saja memasuki ruang inap tersebut.


"Bunda..." Ujar Rival yang langsung bangun dari kursinya.


"Bunda jangan ngaco deh! Becandaan bunda nggak lucu!" Cetus Bara.


"Bunda tidak sedang bercanda, ini ancaman!" Tegas Dewi.


"Bunda...." Ujar Bara.


"Makanya jangan ngeyel!" Jelas Dewi yang langsung menyentuh wajah Bara dengan penuh kasih sayang.


"Bunda nggak mau kalau sampai sesuatu yang buruk menimpa mu, sayang!" Jelas Dewi lalu mengecup lembut kening Bara.


"Bunda..." Ujar Bara pelan.


"Cepat sembuh sayang..." Ujar Dewi lalu tersenyum hangat.


Pintu ruangan tersebut kembali terbuka dan sosok yang muncul dari balik pintu adalah Ira. Ira terus melangkah mendekati ranjang di mana Bara masih terbaring dengan di temani oleh Dewi di sisi kiri dan Rival di sisi kanan.


"Rival, ayo temani bunda beli cemilan!" Ajak Dewi.


"Ayyo bunda!" Jawab Rival dan segera ikut Dewi keluar dari ruang tersebut dan meninggalkan Bara bersama Ira.

__ADS_1


"Kak Ira........" Ujar Bara pelan.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2