Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Kebingungan.


__ADS_3

Bara yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abu terlihat keluar dari kamarnya lalu tanpa sengaja ia justru berhadapan dengan Samudra yang juga baru saja keluar dari kamarnya.


"Apa masih belum cukup?" Tanya Bara yang sontak membuat langkah Samudra yang hendak melewatinya terhenti seketika.


"Kenapa? Apa masalah mu?" Tanya Samudra sinis.


"Sudah hampir satu bulan ini aku perhatikan abang selalu saja menghindar dari bunda, emang bunda salah apa sama abang? Bukan kah sejak awal yang salah adalah mamanya abang Sam!" Jelas Bara.


Padahal ini sudah hampir sebulan sejak Dewi menceritakan semuanya namun Samudra sama sekali tidak pernah bicara pada Bara dan juga Dewi, bahkan dia kerap kali menghindari Dewi jika berpapasan di rumah hingga beberapa hari ini Samudra justru jarang pulang. Bima sudah pernah menegur dan bicara dengan Samudra namun semua itu sama sekali tidak mempengaruhi pendirian Samudra, entah apa yang dia pikirkan atau mungkin dia sedang merencanakan sesuatu tidak ada yang tau hingga sikap Samudra membuat Bara kesal dan juga marah.


"Kamu membicarakan mama ku? Siapa maksud mu?" Tanya Samudra.


"Wanita yang mengkhianati bunda ku!" Tegas Bara yang langsung spontan mendapat tamparan keras dari Samudra hingga membuat pipi kiri Bara memerah.


"Apa ada yang salah dari ucapan aku barusan? Harusnya aku yang marah, aku yang ngamuk terus kenapa malah abang Sam yang bikin masalah! Kenapa membuat suasana ruma ini semakin mengerikan?" Gumam Bara yang tidak lagi bisa menahan segala amarah yang selama ini terus ia coba redam.


"Kenapa? Apa karena aku anak dari wanita lain, lalu kamu ingin mengusir ku dari sini? Kamu lupa semua ini milik papa dan dia, Bima Pradipta juga papa kandung ku!" Tegas Samudra.


"Haaaah! Aku paham sekarang, jadi selama ini abang melakukan semua ini karena semua ini punya papa? Abang selalu saja risih dengan aku karena abang tau kalau abang hanya anak adopsi? Dan sekarang setelah abang tau kalau ternyata papa juga papa kandung abang lantas abang semakin ngelunjak!" Jelas Bara.


"Kenapa? Apa kamu takut tersingkirkan?" Tanya Samudra.


"Tersingkirkan? Aku? Bukankah sejak lama aku memang sudah tersingkirkan dari hati papa dan bunda, apa abang lupa kalau setiap kali kita bertengkar sejak dulu papa dan bunda pasti akan selalu memihak sama abang, bagi mereka abang yang paling benar, abang yang paling dibanggakan. Aku sama sekali tidak menginginkan semuanya, aku hanya ingin sedikit saja perhatian dari kalian, aku bahkan tidak peduli dengan semua harta papa, aku tidak menginginkannya!" Jelas Bara dengan tatapan yang terasa begitu menyiksa.


"Hah! Dasar maniak! Kamu kira aku akan terkecoh dengan kebohongan mu! Aku tidak peduli, minggir!" Tegas Samudra lalu melangkah melewati Bara.


"Aku ingatkan sekali lagi, jangan buat bunda menangis, jangan lukai lagi perasaannya, jika abang masih saja menghindari bunda maka jangan salahka aku! Harusnya abang bersyukur karena bunda merawat dan menyayangi abang melebihi rasa sayangnya untuk anaknya sendiri!" Tegas Bara yang bahkan langsung menuruni tangga meninggalkan Samudra begitu saja.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku begini karena aku tidak tau harus bersikap seperti apa sama bunda, aku marah pada diriku sendiri!" Gumam Samudra yang tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.


----------


"Bara, Sam, ayo sarapan bersama!" Aja Dewi yang saat itu memang sedang berada di meja makan bersama Ira dan juga Bima.


Bara dan Samudra yang baru saja melintasi ruang makan seketika menghentikan langkahnya saat tetapan Dewi silih berganti menatap keduanya.


"Iya bunda..." Jawab Bara lalu melangkah mendekati meja makan dan duduk disamping Ira.

__ADS_1


"Sam..." Panggil Dewi karena mendapati Samudra yang masih berdiri pada posisi semula.


"Aku lagi buru-buru." Jelas Samudra.


"Sam, duduklah!" Pinta Bima.


"Aku lagi banyak kerjaan pa!" Tegas Samudra dan pergi begitu saja tanpa peduli dengan suara Bima yang terus memanggilnya.


"Pa, sudah, mungkin Sam memang lagi banyak kerjaan di kantor." Jelas Dewi dengan mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya lalu kembali menyantap sarapannya.


"Bagaimana persiapan ujian akhir mu? Sebulan lagi kamu ujian kan?" Tanya Bima yang beralih menatap Bara.


"Hmmmm, aku belajar kok!" Jawab Bara sekenanya.


"Untuk saat ini berhenti main bola dan juga berhenti manggung!" Titah Bima.


"Nggak bisa gitu dang pa!" Sanggah Bara.


"Papa hanya minta kamu fokus dulu sama ujian mu, setelah selesai ujian kamu kan bisa main lagi." Jelas Bima.


"Pa...." Protes Bara seketika terhenti saat tangan Ira menyentuh tangannya.


"Aku tidak ingin jadi pengusaha!" Tegas Bara.


"Pa, soal jurusan biar nanti kita bahas lagi, tunggu sampai Bara lulus dulu." Jelas Dewi mencoba memcegah perdebatan antara keduanya.


"Bara, kan papa cuma mengusulkan, sebaiknya kamu pikirkan dulu sebelum memberi jawaban." Ujar Ira.


"Nggak! Aku tidak punya sedikitpun untuk meneruskan perusahaan papa! Aku mau jadi pemain sepak bola atau mungkin musisi, yang jelas aku tidak ingin jadi pengusaha." Tegas Bara.


"Bara..." Ujar Ira yang kembali mencoba menenangkan Bara dengan menyentuh lembut tangan Bara.


"Musisi? Jangan menghayal! Papa tidak akan pernah membiarkan mu menjadi musisi lebih-lebih pemain bola!" Tegas Bima.


"Sekalian aja aku jadi pengangguran biar papa lebih puas! Aku tidak akan masuk universitas manapun!" Tegas Bara lalu bangun dari kursinya.


"Bara..." Panggil Dewi.

__ADS_1


"Bara..." Panggil Ira lalu bangun hendak menyusul Bara namun seketika langkah Ira tertahan dengan tangan kanan yang spontan menutup mulutnya.


"Ira, kamu kenapa sayang?" Tanya Dewi panik dan segera menghampiri Ira.


"Kamu baik-baik aja? Apa kamu sakit? Ayo papa antar ke rumah sakit!" Ajak Bima yang terlihat begitu khawatir.


"Aku baik-baik aja bunda, pa. Tiba-tiba aja pening dan rasanya nggak ena banget." Jelas Ira.


"Ayo ke rumah sakit, papa kita ke rumah sakit sekarang!" Ajak Dewi yang langsung merangkul bahu Ira.


"Kak Ira kenapa?" Tanya Bara yang baru saja kembali untuk mencari Ira.


"Kakak baik-baik aja, mending kamu duluan, ntar telat loh!" Jelas Ira.


"Kamu langsung berangkat sekolah aja, biar papa sama bunda yang ngurus Ira." Jelas Bima dan langsung menuntun Ira berjalan.


"Aku ikut!" Seru Bara.


"Ke sekolah atau papa akan....!" Jelas Bima terhenti.


"Untuk sekarang kamu berangkat ke sekolah dulu, nanti bunda kabarkan lagi keadaan Ira setelah diperiksa dokter." Jelas Dewi.


"Hmmmm!" Jawab Bara nurut lalu membiarkan Ira di bawa oleh Bima dan juga Dewi.


Setelah mobil yang dikemudikan oleh supir pribadi keluarga Pradipta pergi meninggalkan perkarangan rumah baru setelah itu Bara berangkat dengan motor kesayangannya.


_________


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Dewi setelah Ira bangun dari ranjang pemeriksaan lalu duduk disamping Dewi yang sejak tadi duduk tepat di depan meja kerja sang dokter.


"Selamat bu Pradipta, putri anda hamil, usia kandungannya baru dua minggu dan semuanya baik-baik saja, baik iba maupun janin, keduanya sehat." Jelas sang dokter.


"Hamil?" Tanya Dewi seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya buk, untuk lebih lanjut silahkan konsultasi dengan dokter kandungan, sekali lagi selamat buk Ira dan juga buk Pradipta." Jelas sang dokter dengan senyuman.


Ira masih saja termenung, dia seperti sedang berada dialam mimpi, semua penjelasan sang dokter cukup membuatnya mematung tanpa kata, ia benar-benar kebingungan, ini berita bahagia atau justru sebaliknya, dia tidak tau harus mengekspresikannya bagaimana, tersenyum atau menangis. Hingga perlahan tangan Dewi memeluk tubuh Ira membuat Ira tersadar dari dalam pikirannya yang menerka-nerka.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2