Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Perasaan Ratu.


__ADS_3

Bara terus mengendap-endap disepanjang dinding luar kelas, setelah memastikan keadaan kelas aman, Bara segera melompat ke dalam lewat jendela lalu pelan-pelan berjalan menuju kursinya, ia melangkah begitu hati-hati agar pak Imam yang sedang menulis di depan sana tidak mengetahui kedatangannya.


Belum sempat Bara duduk di saat itu pula namanya seakan menggema di ruang kelas tersebut seketika membuat langkah Bara terhenti.


"Bara....!" Suara pak Imam cukup membuat seisi kelas seketika beralih menatap pada sosok Bara.


"Ah, saya nggak bisa melihat dengan jelas pak, makanya saya bangun!" Jelas Bara yang entah sejak kapan tangannya sudah memegang buku cacatan dan juga pulpen.


"Jangan bohong! Bapak tidak akan tertipu dengan trik mu lagi!" Jelas pak Imam.


"Aku serius pak, tulisan bapak sih jelek makanya aku tidak bisa membacanya!" Jelas Bara.


"Bara benar pak!" Jelas Gibran yang juga ikut bangun.


"Kalian, cepat kembali ke tempat duduk kalian, dan segera selesaikan soal yang ada di papan tulis." Jelas pak Imam yang telah selesai menulis sepuluh soal di papan tulis.


"Baik pak!" Jawab semua siswa hampir serentak.


Bara duduk di kursinya, yah tepatnya di samping Rival dan di belakang Gibran. Meja Bara tepat berada di pojok kiri paling belakang sana. Suasana kelas begitu aman karena memang semua siswa sedang fokus mengerjakan soal matematika yang terlihat jelas begitu sulit untuk di selesaikan.


"Kenapa bisa telat? Apa kak Ira tidak membangunkan mu? Aku kan sudah bilang jangan telat, hari ini kita ulangan!" Jelas Rival pelan dengan mata yang menatap horor pada Bara.


"Justru karena kak Ira aku telat!" Tegas Bara sambil terus mengerjakan soal di kertas ulangannya.


"Loh kenapa?" Tanya Rival.


"Kenapa apa? Apa kalian mau bapak jemur di tiang bendera?" Gumam Imam yang tiba-tiba muncul di samping mereka.


"Nggak ada pak!" Jawab Rival yang kembali mengerjakan soal.


"Sekali lagi kalian bicara, maka kertas ulangan kalian akan bapak robek!" Jelas Imam yang kembali berjalan memantau setiap siswa.


"Nanti aku jelasin, sekarang selesaikan dulu ulangan kita!" Jelas Bara.


"Sssssst!" Ujar Gibran pelan sambil terus menendang pelan kaki meja Bara dengan kaki kanannya.


"Dasar tukang nyalin!" Cetus Bara dan langsung menyodorkan kertasnya untuk Gibran.


"Gila! Baru datang langsung siap! Emang gila tuh otak!" Gumam Gibran pada dirinya sendiri dan cepat-cepat menyalin jawaban tersebut.


Menit demi menit terus berlalu,  tak terasa setengah jam telah terlewati dan kini saatnya semua siswa harus mengumpulkan kertas ulangan mereka


"Waktu kalian habis! Letakkan kertas di atas meja dan kalian boleh keluar!" Jelas pak Imam.


"Pak jangan dulu lah, lima menit lagi." Pinta salah satu siswi yang duduk di kursi paling depan.


"Tidak ada tawar menawar! Letakkan kertas kalian dan keluar!" Tegas Imam.


"Ah bapak nggak seru! Dah lah!" Guman seorang siswa lainnya dan langsung keluar.


"Ayo!" Ajak Gibran.


"Kamu duluan aja, aku harus menyelesaikan masalah lain!" Jelas Rival yang langsung menyeret Bara ikut bersamanya.


"Aku ikut!" Jelas Gibran yang segera mengikuti Bara dan Rival.


"Ini masalah pribadi!" Tegas Rival.

__ADS_1


"Lalu? Apa aku ini orang asing buat kalian berdua?" Tanya Gibran kesal.


"Bukan begitu!" Keluh Rival.


"Pesankan aku dan Rival makanan dan minuman, lima menit kami akan langsung menyusul!" Jelas Bara.


"Awas kalau sampai lima menit kalian nggak datang, aku bakal habiskan semua makanan kalian!" Ancam Gibran dan segera menuju kantin.


"Jelaskan!" Pinta Rival.


"Aku habis ngantar kak Ira ke kantor, dan sialnya ban motor aku malah kempes!" Jelas Bara.


"Hanya itu?"


"Lalu?"


"Apa kak Ira buat masalah? Kenapa harus mengantarnya?"


"Papa yang buat masalah!"


"Jadi om Bima yang menyuruh mu? Tumben kamu nurut."


"Hasssssh! Aku tidak ingin membahasnya lagi, ayo ke kantin, aku lapar!" Jelas Bara dan lekas pergi.


"Lalu di mana motor mu?" Tanya Rival sambil berjalan merangkul bahu Bara.


"Di bengkel!"


"Ya udah nanti kita pulang bareng! Ayo makan." Jelas Rival dengan senyuman lalu keduanya segera bergabung dengan Gibran yang telah lebih dulu berada di kantin dan menyantap makanan favoritnya.


"Ratu..." Ujar Rival dan Bara hampir bersamaan saat mendapati Ratu yang duduk di samping Gibran.


"Siapa yang kamu maksud? Kami disini bertiga loh, aku, Gibran atau Bara?" Tanya Rival.


"Ya Bara, siapa lagi!" Jawab Ratu dan lekas pergi.


"Apa hubungan kalian bermasalah? Kalian nggak sedang perang kan? Kenapa aku bahkan tidak tau apa-apa?" Tanya Gibran yang langsung membuat Rival menatap kearah Bara.


"Siapa yang sedang oerah coba? aku sama Ratu nggak ada masalah apa-apa, kami baik-baik saja." Jelas Bara yang langsung menyantap baksonya.


"Serius? Kamu sedang tidak membohongi aku akan?" Tanya Gibran memastikan.


"Hmmmm!" Jawab Bara ngasal.


"Aku dengar-dengar kamu sedang ngejar Alea? Apa itu benar?" Tanya Rival.


"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu juga suka sama dia!" Jelas Gibran memastikan.


"Jangan konyol! Aku hanya berteman dengannya! Tidak ada perasaan apapun untuknya." Jelas Rival yang juga segera menyantap mienya.


"Good!" Ujar Gibran dengan senyum sumringah.


_________________


Mobil yang dikemudikan oleh Bara berhenti di sebuah taman  yang begitu indah. Perlahan Ratu dan Bara keluar dari mobil, lalu berjalan menuju sebuah kursi yang berada di bawah pohon sana, setelah duduk disana, dengan pandangan yang terus menatap keindahan taman dengan suasana angin sepoi-sepoi yang perlahan bermain nakal dengan rambut Ratu yang terurai begitu saja, rambut Bara juga ikut menjadi sasaran, buktinya Bara sampai beberapa kali membenarkan rambut depannya yang menghalangi pandangannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"  Tanya Bara yang memulai pembicaraan diantara keduanya.

__ADS_1


"Tentang kamu!" Jawab Ratu dengan tatapan yang langsung tertuju pada Bara.


Sejenak keduanya saling menatap satu sama lain, lalu dengan cepat Bara mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Ada apa dengan aku? Apa aku buat salah?" Tanya Bara yang mulai menerka sebenarnya apa yang ingin Ratu bicarakan.


(Apa dia tau tentang pernikahan aku? Apa ini? Apa mungkin Rival yang menceritakan semuanya pada Ratu. Nggak, nggak mungkin Rival atau...) Bara terus bertarung dengan hatinya sendiri yang terus menduga-duga.


"Bar..."


"Iya!"


"Apa benar kalau kamu...?"


"Aku apa? Kenapa dengan aku?"


"Kalau kamu sebenarnya mulau mencintai Hanin, adiknya Gibran?"


"Apa? Siapa yang mengatakannya?"


(Syukurlah, setidaknya pernikahan aku masih aman) Ujar hati Bara lega.


"Aku hanya menerka, karena eaktu itu aku perhatiin kalian berdua terlihat begitu dekat, terlebih Hanin selalu saja tersenyum manis pada mu."


"Aku dan Hanin tidak ada hubungan apapun, aku menganggap dia sebagai adik aku, nggak lebih!"


"Lalu bagaimana dengan perasaan mu untuk aku?"


"Maksud mu?"


"Kamu masih mencintai ku kan? Kita masih pacaran kan?" Tanya Ratu memastikan.


"Pacaran?" Ulang Bara dengan tatapan yang begitu dalam.


Sejak kelas dua dulu, keduanya memang begitu dekat, meski Bara tidak pernah menyatakan cintanya pada Ratu namun seisi sekolah tau kalau mereka pacaran, terlebih sikap Bara yang selalu saja begitu peduli terhadap Ratu, tentang apapun itu, Bara selalu sigap berada di sisi Ratu. Mungkin karena hal itulah Ratu juga menganggap bahwa dia dan Bara adalah pasangan kekasih karena Bara sama sekali tidak pernah membantah ataupun berusaha menjelaskan pada siapapun saat ada yang mengatakan kalau Ratu adalah kekasihnya. Dan semenjak dua tahun terakhir ini, mereka selalu saja menghabiskan waktu bersama, layaknya pasangan kekasih.


"Aku wanita yang kamu cintai kan?"


"Ratu..."


"Aku tau dan aku juga merasakan hal yang sama, aku mencintaimu, Bara!" Ujar Ratu dan langsung memeluk lengan kanan Bara. Disaat yang bersamaan pula di sisi utara taman sana terdengar jelas suara pertengkaran diantara dua insan.


"Aku bilang lepas!" Gumam Ira yang terus berusaha menarik tangannya dari genggaman Vino.


"Ra, ikutlah bersama aku, aku akan menjadikan mu Ratu, percayalah pada ku, aku akan membahagiakan mu!" Jelas Vino yang kini mencoba memeluk tubuh Ira.


"Vin, lepas!" Teriak Ira saat kedua tangan Vino berhasil memeluk tubuh mungilnya.


"Vino, lepas atau aku..." Ancam Ira yang langsung memberontak hingga tubuhnya terlepas dari dekapan Vino.


"Jangan pernah sentuh aku!" Tegas Ira bahkan dengan tetapan yang penuh dengan amarah.


'Plaaaak' Tangan Vino mendarat di pipi kiri Ira.


"Dasar gadis murahan! Demi uang kamu bahkan rela menikah dengan om-om mata keranjang! Kamu benar-benar ******, sampah!" Cela Vino yang langsung membuat air mata Ira perlahan jatuh memabasahi kedua pipinya.


'Plaaaak' kini wajah Vino yang menajdi sasaran. Bukan hanya satu kali, namun tamparan tersebut menghatam  wajah Vino hingga tiga kali.

__ADS_1


"Bara....!" Ujar Ira saat mengetahui bahwa Bara adalah orang yang baru saja menyerang Vino.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2