
"Kak Ira..." Ujar Bara pelan.
Ira langsung mendekati Bara, tangan Ira seketika melayang lalu mendarat sempurna di bahu lebar Bara membuat sang empunya langsung menjerit kesakitan, tak hanya sampai di situ kini tangan Ira justru kembali memghantam kaki Bara dan berikutnya mencubit kasar lengan kanan Bara.
"Awwwww, kak Barhenti, sakit tau!" Keluh Bara sambil mengusap pelan semua anggota tubuhnya yang dipukul oleh Ira secara bergantian.
"Sakit? Haisssh!" Gumam Ira yang begitu kesal dan berusaha menahan tinjunya agar tidak kembali menghantam tubuh Bara.
"Sakit rupanya? Kakak kira kamu robot, semalaman demam terus paginya langsung ikut pertandingan, kamu pikir kakak nggak khawatir, semalaman bergadang ngurusin kamu sampai-sampai tadi pagi kakak nggak bisa fokus saat rapat karena kurang tidur, dan sekarang kamu justru tumbang, bukannya sembuh malah tambah parah!" Jelas Ira mencoba melepaskan semua unek-unek yang sejak tadi menyerang akal sehatnya.
"Ya tadi pagi aku memang udah sembuh, kak Ira lihat sendirikan? Tadi aku udah nggak demam, lagi pula aku juga nggak suka sakit gini, aku nggak suka bergantung sama kakak, aku juga nggak mau jadi beban hidup kakak, aku....!" Gumam Bara penuh amarah, dia terlihat jelas begitu membenci keadaannya saat ini.
Bara bangun, lalu mencoba untuk duduk dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, matanya terus menatap tubuhnya sendiri dari ujung kaki hingga ke ujung tangan, perlahan Bara hendak melepaskan jarum infus yang melekat di tangan Kanannya dan dengan cepat Ira menghentikannya.
"Kenapa? Bukannya kak Ira capek ngurusin aku? Jadi sebaiknya kita pulang!" Tegas Bara.
"Jangan salah paham!" Pinta Ira yang masih menggenggam erat tangan kiri Bara.
"Salah paham? Di bagian mana aku salah paham? Atau nggak, mending kak Ira pulang aja atau balik gih ke kantor, aku bisa jagain diri aku sendiri." Jelas Bara.
"Dasar bodoh!" Cetus Ira sambil mengucek rambut Bara.
"Apaan sih!" Cetus Bara lalu menepis tangan Ira dari rambutnya.
"Kakak tidak masalah kalau harus merawat kamu dari pagi sampai pagi lagi, tapi kakak nggak suka kalau kamu sakit begini!" Jelas Ira dengan tatapan yang begitu tulus pada Bara.
"Apa kak Ira sayang sama aku?" Tanya Bara.
"Hmmmm! Kamu dan juga Rival sama berartinya buat kakak." Jelas Ira lalu perlahan menyentuh wajah Bara.
"Cepatlah sembuh! Terus apa kata dokter?" Lanjut Ira dengan senyuman manisnya.
"Aku hanya harus istirahat, setelah infus ini habis aku sudah boleh pulang kok." Jelas Bara.
"Kamu yakin nggak apa-apa? Nggak ada yang sakit? Yakin kalau dokter ngomong gitu?" Tanya Ira memastikan.
"Iya loh kak! Udah nggak usah khawatir berlebihan gitu, suami kakak baik-baik aja." Jelas Rival yang baru kembali dengan plastik yang di penuhi makanan ringan di kedua tangannya.
"Ciiiih!" Cetus Bara.
"Kenapa sendirian? Bunda mana?" Tanya Ira saat Rival berdiri di sampingnya.
"Ngurus biaya rumah sakit!" Jelas Rival.
"Harusnya kakak yang mengurus biayanya!" Ujar Ira.
"Kenapa harus kak Ira yang mengurusnya?" Tanya Gibran yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Yah karena kak Ira sekretaris pribadi om Bima!" Jelas Rival.
"Yaitu, kan lucu kalau istri pak Bima yang ngurus padahal kakak ada di sini." Jelas Ira dengan terbata-bata.
"Oooo, terus gimana keadaan kamu? Masih bisa lari sama mukul drum kan?" Tanya Gibran memastikan.
"Dasar teman kurang ajar! Temannya udah mau sekarat tetap aja band sama tim bola yang kamu khawatirkan." Cetus Bara.
"Ya takut aja ntar kita harus bubar karena komandannya maninggal!" Cetus Gibran.
"Dasar teman syaitan!" Maki Bara.
"Bararti kamu dong syaitannya, secara dia kan sahabat kamu!" Seru Rival dengan gelak tawa yang diikuti oleh Ira.
"Kamu Iblisnya!" Cetus Bara.
"Sesama jenis aja berantem!" Cetus Ira yang semakin larut dalam tawanya.
"Kakak ngatain kami Syaitan?" Tanya ketiganya hampir bersamaan dengan pandangan yang langsung tertuju pada Ira.
"Bukannya kalian sendiri yang mulai? Kakak mah ikut aja!" Cetus Ira.
"Kak Ira..." Gumam Rival yang langsung menarik Ira ke dalam dekapannya.
"Waaah seketika ingin ikut meluk!" Cetus Gibran.
"Khmmm! Assalamualaikum." Ujar Faisal yang baru muncul dari balik pintu.
"Waalaikum salam!" Jawab keempatnya hampir bersamaan.
"Waaah kelihatannya lagi seru banget nih?" Ujar Faisal.
"Pak Faisal." Ujar Bara.
"Gimana Bar? Udah mendingan?" Tanya Faisal.
"Bentar lagi juga bakal boleh pulang kok pak? Gimana, kita menang kan pak?" Tanya Bara.
"Pastinga dong!" Jawab Faisal bangga.
"Yessss, makan enak lagi kita!" Cetus Gibran girang.
"Makan aja isi otak mu!" Cetus Rival lalu menjitak kening Gibran.
"Loh, kamu juga di sini Ra? Udah lama?" Tanya Faisal.
"Baru aja, aku....!" Jelas Ira tertahan.
__ADS_1
"Ira datang bersama saya tadi!" Jawab Dewi yang baru saja kembali dari mengurus segala biaya rumah sakit.
"Gimana bun? Apa aku udah boleh pulang?" Tanya Bara.
"Kata doter untuk malam ini kamu harus nginap disini dulu, besok pagi kalau keadaan kamu udah stabil kembali, baru dibolehkan untuk pulang!' Jelas Dewi.
"Ihhhhssss!" Cetus Bara kecewa.
"Udah kamu tenang aja, aku bakal jagain kamu kok!" Jelas Gibran.
"Nggak usah!" Tegas Bara.
"Udah nggak usah malu-malu gitu, aku akan menginap disini, iya kan Val?" Tanya Gibran.
"Mending kita pulang aja, kan ada tante Dewi yang jagain Bara, dia pasti lebih butuh bundannya dari pada kita." Jelas Rival.
"Rival benar, lebih baik bunda aja yang temani Bara malam ini, kalian pulanglah dan istirahat, kan besok harus sekolah." Jelas Dewi.
"Ya udah ayo anak-anak kita pamit pulang, Ira kamu mau ikut pulang sama kami?" Tanya Faisal.
"Maaf pak Faisal, Ira kan datang sama saya, jadi nanti biar sopir saya yang ngantar dia pulang!" Jelas Dewi.
"Ya udah, kalau kita gitu, kita duluan aja pak!" Ajak Rival.
"Baiklah, Bara kami pamit pulang, cepat sembuh!" Ujar Faisal.
"Terima kasih banyak pak." Ujar Bara.
"Kami permisi tante, kak Ira." Ujar Gibran lalu ketigannya keluar dari ruangan tersebut.
"Kalau gitu bunda juga pamit pulang, Ira kamu bisa jagain Bara kan?" Tanya Dewi.
"Bisa bunda." Jawab Ira.
"Ya udah kalau gitu bunda pulang sebentar, nanti malam bunda balik ke sini lagi!" Jelas Dewi.
"Nggak udah balik kok Bunda, lagi pula aku baik-baik aja." Jelas Bara.
"Beneran nih?" Tanya Dewi memastikan.
"Iya bunda, aku bisa jagain Bara kok." Jelas Ira.
"Ya udah kalau gitu bunda pamit, kalau ada perlu apa-apa langsung telpon bunda ya." Pesan Dewi.
"Baik bunda." Jawab Bara dan Ira hampir bersamaan.
Dewi langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan sang anak bungsu bersama dengan istrinya di ruang inap tersebut.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋