
Bara dan anggota tim yang lainnya terlihat sedang beres-beres, karena pertandingan sudah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu dan mereka keluar sebagai juara dan itu artinya mereka akan maju ke babak final minggu depan melawan juara dari sekolah lainnya.
Bara terlihat masih duduk di bangku istirahat sambil terus meneguk air dari botol air mineralnya hingga habis.
"Besok kita latihan satu jam!" Jelas Faisal.
"Baik pak!" Jawab semuanya serentak.
"Sekarang kalian boleh bubar, jangan lupa besok jam empat sore di lapangan sekolah! Ingat anak-anak ini adalah pertandingan terakhir kalian sebelum lulus maka lakukan yang terbaik." Tegas Faisal sekali lagi mengingatkan jadwal latihan mereka.
"Siap pak!" Jawab semua anggota tim lalu bersorak menyemangati diri sendiri dan bubar.
"Bar..." Panggil Ratu yang berjalan kearah Bara yang hendak pulang bersama Rival dan Gibran.
"Ratu...!" Ujar Bara.
"Kamu juga nonton?" Tanya Gibran.
"Pastinya dong, aku bareng teman kelas lainnya." Jelas Ratu sambil menetap ke kursi penonton dimana teman-teman yang lainnya berada.
Ketiganya tersenyum kearah kursi penonton sana.
"Ayo pulang!" Ajak Rival.
"Kalian duluan aja, aku pulang sama Ratu sekaligus ada hal yang ingin aku bicarakan berdua dengan Ratu." Jelas Bara.
"Terus aku gimana?" Tanya Rival karena memang tadi dia berangkat ke tempat pertandingan dibonceng oleh Bara.
"Udah, ayo aku yang antarin!" Ajak Gibran yang langsung menyeret tubuh Rival untuk ikut bersamanya.
"Selamat berkencan!" Seru Gibran dan lekas pergi.
"Ayo Ratu!" Ajak Bara.
"Ayo!" Ujar Ratu.
"Teman-teman, aku duluan ya, sampai jumpa besok, bye!" Pamit Bara.
"Bye!" Ujar lain.
Ratu dan Bara segera meninggalkan lapangan dan lekas pergi.
"Kita mau kemana?" Tanya Ratu sambil terus mengeratkan pegangannya di pinggang Bara.
"Ke taman aja gimana? Boleh?" Tanya Bara mengusulkan dan terus menambah kelajuan motornya.
"Okay!" Jawab Ratu yang perlahan mengubah pegangannya menjadi pelukan.
Lima belas menit berlalu, kini motor Bara telah terparkir di area taman dan keduanya terlihat sedang duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati pemandangan taman yang memang sedang ramai pengunjung.
__ADS_1
"Bicaralah!" Ujar Ratu setelah sekian detik keduanya hanya terdiam membisu.
"Hmmmmmm, sebelum aku bicara, berjanjilah kalau kamu tidak akan membenci ku." Pinta Bara.
"Membenci mu? Jangan konyol, aku? Lalu bagaimana bisa aku membenci kamu. Bar, kamu satu-satunya orang yang paling aku cintai di atas muka bumi ini, jadi kamu nggak perlu khawatir kalau aku akan membenci mu." Jelas Ratu.
"Justru karena itu..." Jelas Bara.
"Maksud kamu?" Tanya Ratu yang mulai gelisah.
"Ratu, sejak dulu kamu tau kan kalau hubungan diantara kita bukan berstatus pacaran?" Jelas Bara perlahan berharap Ratu akan paham dengan maksud arah pembicaraannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Ratu.
"Baiklah, anggap saja kita sempat berpacaran, tapi untuk saat ini aku..." Jelas Bara ragu karena mulai mengetahui ekspresi wajah Ratu yang mulai kecewa.
"Ratu, jujur selama ini sayang aku ke kamu sama seperti sayang aku ke Rival dan Gibran, kalian bertiga teman baik aku." Lanjut Bara.
"Apa sekarang kamu sedang jatuh cinta sama gadis lain?" Tanya Ratu.
"Hmmmm!" Jawab Bara pasti.
"Apa itu Hanin? Apa kamu mencintai gadis ayu nan polos itu? Apa karena dia anak pesantren, alim makanya kamu jatuh cinta sama dia, Bar, aku juga bisa menjadi seperti Hanin jika itu bisa membuatmu tidak beranjak dari sisi ku, lagi pula kamu dengar sendiri kan kalau kemaren Hanin bilang kalau dia sukanya sama Rival bukan sama kamu." Jelas Ratu.
"Ratu, cewek yang aku suka bukan Hanin!" Jelas Bara.
"Bukan Ratu, aku tidak jatuh cinta dengan cewek di sekolah kita. Ratu, dengarkan aku baik-baik, aku ngerti perasaan kamu, tapi coba kamu tanyakan pada hati mu benarkah aku cowok yang kamu suka?" Jelas Bara.
"Berhenti bicara omong kosong! Aku hanya cinta sama kamu, bukan sama cowok lainnya. Bara, tidak bisakah kamu hanya mencintai aku?" Tanya Ratu.
"Maafkan aku Ratu, maaf! Aku benar-benar minta maaf." Pinta Bara dengan penuh rasa bersalah.
Perlahan air mata mulai menetes dengan sendirinya, dada terasa begitu sesak, hatinya benar-benar hancurlah sudah, Ratu pergi tanpa ucapan sepatah kata pun.
____________
Sejak sepuluh menit yang lalu Ira hanya diam mendengarkan semua curhatan hati Ratu, saat Ratu kembali terisak, Perlahan Ira sedikit bergeser mendekat pada Ratu, mengusap pelan rambut panjangnya yang terurai rapi, hingga di menit berikutnya Ratu menyandarkan kepalanya di bahu Ira, dia menangis sejadi-jadinya.
"Ratu, tenanglah!" Ujar Ira sambil terus membelai rambut Ratu dengan penuh kasih sayang.
"Kak, dia mutusin aku, dia nggak sayang lagi sama aku!" Adu Ratu di sela-sela isak tangisnya.
"Kak..." Panggil Ratu kali ini dengan menatap dalam mata Ira.
"Kak, aku harus bagaimana? Aku nggak mau kehilangan Bara, aku sangat mencintainya." Tegas Ratu.
"Tenanglah dulu, kamu harus tenang lebih dulu, nanti setelah itu baru kita pikirkan cara untuk bicara dengan Bara." Jelas Ira.
"Kak, tolong aku, tolong bantu aku bicara dengan Bara, aku benar-benar bakal gila jika putus darinya." Jelas Ratu dan kembali menangis.
__ADS_1
"Putus darinya?" Tanya Rival yang baru saja melintasi ruang tamu dan tidak sengaja mendengar curhatan antara Ira dan Ratu.
Rival langsung duduk disamping Ira.
"Kalian putus? Kamu dan Bara?" Ulang Rival lalu menatap kedua wanita tersebut secara bergantian.
"Dia yang mutusin aku! Val, tolong bantuin aku balikan sama teman kamu itu, aku nggak bisa kehilangan dia." Jelas Ratu sambil mengusap pelan air matanya.
"Bagus dong kalian putus." Ujar Rival.
"Kok bagus?" Tanya Ira dan Ratu hampir barengan.
"Dia itu cowok keras kepala, suka demo, kerajaannya bikin kacau sana sini, kang bolos, kasar, emosian, pokoknya beuuuuuh paket jahat komplit!" Jelas Rival.
"Tapi dia juga baik, bertanggung jawab, dan juga pintar." Jelas Ratu.
"Pintar?" Tanya Ira.
"Hmmmm, pintar!" Jelas Ratu dan Rival dalam waktu yang bersamaan.
(Mampus! Tamat sudah riwayat mu Ra, haaaah, bisa-bisanya aku nggak tau kalau bocah itu pintar) gumam hati Ira.
"Dia juara umum di sekolah!" Jelas Rival.
"IQ-nya 165." Jelas Ratu.
"Tapi kan masih banyak cowok lainnya yang pintar ples baik, nurut, nggak suka bikin onar. Salah satunya, aku misalnya." Jelas Rival.
"Kamu? Cihhhh!" Cetus Ira dengan gelak tawanya.
"Kakak ngejek aku? Kakak belum tau kalau adik kakak ini paket sempurna, lengkap." Jelas Rival.
"PD bener! Tapi emang iya sih, tapi tetap aja Bara peringkat utamanya." Jelas Ratu.
"Kamu juga ngeremehin aku?" Tanya Rival kesal.
"Bukan begitu, hanya saja di hati aku udah nggak ada lagi tempat untuk siapapun kecuali Bara, hanya Bara." Jelas Ratu dengan menundukkan wajahnya.
Ira segera mendekap Ratu kedalam pelukannya. Ira dan Rival saling memandang satu sama lain seakan memberi sebuah isyarat dengan apa yang sedang terjadi.
"Assalamualaikum, ma, mama!" Seru Bara yang berasal dari pintu utama dan perlahan mulai terdengar langkah kakinya semakin dekat dengan ruang tamu.
"Ma, mama..." Suara Bara malah terdengar semakin kencang semakin membuat Ira dan Rival saling menatap memberi kode.
Ratu yang berada di dalam pelukan Ira pun langsung bangun lalu berdiri tegak menatap sosok Bara yang baru saja tiba di ruang tamu.
"Bara..." Ujar ketiganya barengan, bahkan dengan mata yang menatap sosok Bara yang masih mengenakan seragam pertandingan tadi.
🦋🦋🦋🦋🦋
__ADS_1