Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Bolos.


__ADS_3

"Kak, kak Ira....!" Panggil Bara sambil terus mencoba bangun.


Matanya yang perlahan terbuka segera menelusuri keberadaan Ira, namun ia sama sekali tidak bisa menemukannya. Meski dengan tubuh yang terasa begitu berat, ia terus mencoba untuk bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi, namun tidak ada Ira disana, lalu lanjut mencari ke balkon kamar dan tetap juga tidak ada hingga akhirnya Bara kembali duduk diatas tempat tidur, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur lalu segera menghubungi nomor Ira.


"Kakak dimana?" Tanya Ira saat panggilnya dijawab.


"Ada berkas yang harus kakak urus, jadi kakak berangkat pagi-pagi sekali tadi, semua keperluan mu sudah kakak siapkan, cepat mandi dan langsung berangkat sekolah!" Jelas Ira.


"Pulang!" Pinta Bara.


"Jangan bercanda, udah mandi, sarapan dan cepat berangkat ke sekolah kan hari ini kelompok kalian maju untuk presentasi hasil kerja kalian." Jelas Ira.


"Aku bilang pulang sekarang, sebelum kakak pulang aku tidak akan kemana-mana, aku akan kembali tidur!" Jelas Bara yang langsung memutuskan panggilannya dan benar saja, dia langsung tidur kembali bahkan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.


____________


"Ada masalah apa lagi bocah itu? Semalam baiknya selangit, lembut, manja lah pagi ini udah kembali menggila, apa sih maunya!" Gumam Ira kesal, ia bahkan tidak berhenti menyusun berkas-berkas yang memenuhi mejanya.


Ira segera menghubungi nomor Bara namun tidak dijawabnya sama sekali bahkan hingga beberapa kali panggilan tetap saja tidak ada jawaban, hingga akhirnya Ira memutuskan untuk menghubungi Rival.


"Syukurlah akhirnya ada yang jawab!" Ujar Ira lega setelah mendengar suara Rival dari seberang.


"Ada apa kak?" Tanya Rival.


"Dek, kamu masih di rumah kan?" Tanya Ira.


"Hmmmm, kenapa?" Tanya Rival.


"Tolong seret Bara ke sekolah, jangan sampai dia kembali berulah, katakan padanya untuk segera berangkat jika tidak maka dia tidak akan bisa ikut pertandingan nanti sore." Jelas Ira.


"Kak, gimana aku mau nyeret dia ke sekolah, aku nggak tega, dia lagi sakit, tubuhnya panas banget, wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah, tangannya lemah tidak bisa bergerak dan kakinya kaku seketika." Jelas Rival.


"Berhenti ber acting, atau kakak akan membunuh kalian berdua!" Gumam Ira semakin kesal.


"Wuiiiih! Siapa yang mau kamu bunuh?" Tanya Samudra yang baru saja masuk ke ruangan Ira.


"Apa suara abang Sam? Kalau kakak nggak pulang sekarang maka aku yang akan jagain Bara sakit, kami berdua tidak akan ke sekolah hari ini!" Tegas Rival dan langsung mematikan ponselnya.


"Hmmmmmm, apa kamu butuh bantuan aku untuk menjinakkan bocah liar itu?" Tanya Samudra yang perlahan mendekati Ira.


"Ini berkasnya sudah selesai, semuanya, lengkap!" Jelas Ira dan langsung menyerahkan beberapa map pada Samudra.

__ADS_1


"Ayo...!" Ajak Samudra.


"Kemana?" Tanya Ira.


"Ikut rapat bersama ku!" Jelas Samudra.


"Maaf sebelumnya, aku akan tegaskan sekali lagi sama pak Samudra, aku bukan sekretaris bapak, jadi bukan tugas aku untuk ikut bersama pak Sam." Jelas Ira.


"Apa papa belum memberi tau kamu?" Tanya Samudra.


"Tentang apa?" Tanya Ira.


"Sekarang kamu adalah sekretaris aku, kamu sekarang kerja untuk aku bukan lagi untuk papa, karena papa telah menyetujui pertukaran sekretaris antara kamu dan Dimas." Jelas Samudra dengan senyuman.


"Apa? Pak Sam serius? Aku akan tanya ke papa." Jelas Ira yang kembali mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Bima.


"Kamu pikir aku sedang berbohong? Okay, kamu pastikan aja sendiri, aku tunggu kedatangan mu ke ruangan ku. Kita akan keluar kota, ada pertemuan penting yang harus kita hadiri." Jelas Samudra dan keluar dari ruang kerja Ira.


"Keluar kota?" Tanya Ira dengan membuang nafas kasar.


"Ada apa Ira?" Tanya Bima yang ternyata sejak tadi sudah menjawab panggilan dari Ira.


"Apa ini soal dinas keluar kota?" Tanya Bima memastikan.


"Iya pa. Pa, apa benar kalau aku sekarang bekerja untuk pak Sam?" Tanya Ira.


"Iya, maaf karena papa nggak bicara sama kamu, percayalah papa menyetujui permintaan Sam setelah melakukan banyak pertimbangan, ini demi kebaikan kamu dan juga Sam." Jelas Bima.


"Baik pa." Ujar Ira dengan suara lemah tanpa semangat.


"Apa kamu marah sama papa?" Tanya Bima memastikan.


"Nggak pa, bukan begitu. Ya udah kalau gitu aku akan siap-siap karena sebentar lagi harus ikut pak Sam keluar kota. Assalamualaikum, pa." Ujar Ira.


"Waalaikum salam." Jawab Bima dan langsung memutuskan panggilan mereka.


Ira segera memgambil kunci mobil dan segra berlari keluar menuju parkiran, ia lekas pergi.


_______________


"Percuma kita bohong, kakak nggak akan ketipu, buaya di kadalin mana ampuh!" Cetus Rival lalu duduk disebelah Bara yang masih betah tiduran.

__ADS_1


"Bar....!" Panggil Rival karena sejak tadi dia bicara, Bara hanya diam, tidak ada respon sama sekali.


Rival menarik selimut Bara, hingga wajah Bara yang sedang tertidur pulas terpampang dengan jelas.


"Bisa-bisa kamu tidur di waktu tegang seperti ini! Dasar....!" Gumam Rival kesal dan langsung menarik tubuh Bara untuk bangun.


"Buruan, ini udah setengah delapan, kita bisa telat ke sekolah!" Jelas Rival yang terus berusaha menarik tubuh Bara.


"Aku lagi nggak mood ke sekolah! Aku mau tidur!" Cetus Bara dan kembali tidur.


"Apa kamu sedang menguji kesabaran aku? Bangun, kakak nggak akan pulang, dia nggak akan ninggalin kerjaan pentingnya itu hanya untuk meladeni sifat kekanak-kanakan kamu!" Cetus Rival.


"Kekanak-kanakan kata mu? Val, aku lagi cemburu! Kamu tau kalau sekarang..." Jelas Bara ngegantung.


"Apa? Kalau sekarang apa? Lanjut! Kenapa diam?" Gumam Rival dengan suara lantang.


"Lihat aja sendiri!" Jelas Bara yang menyerahkan ponselnya pada Rival.


Rival langsung membaca dokumen yang terpampang di layar ponsel Bara, disana dengan jelas tertulis tentang jabatan Ira yang kini menjadi sekretaris pribadinya Samudra dan parahnya file dokumen tersebut dikirim langsung oleh Samudra.


"Aku akan menemui om Bima!" Jelas Rival yang langsung berdiri, siap untuk pergi.


"Percuma! Nggak akan ada gunanya." Jelas Bara dengan kepala tertunduk lesu.


"Jadi ini alasan tadi pagi kakak buru-buru ngantor! Sampai-sampai aku ngomong aja nggak di dengerin!" Cetus Rival yang juga ikut kesal.


Rival kembali duduk disamping Bara, tangan Rival menarik dasinya hingga longgar, ia bahkan membuka kancing seragamnya karena kepanasan mimikirkan tingkah Ira tadi pagi.


"Ayo kita tidur! Nggak usah ke sekolah, kita tidur aja sampe seminggu!" Cetus Rival bersamaan dengan merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Kamu gila! Kenapa kamu juga ikutan?" Tanya Bara.


"Terserah! Lagi pula aku juga sedang malas belajar!" Cetus Rival santai.


"Bolos itu emang luar biasa menyenangkan! Huffffff! Ayo lanjut tidur!" Seru Bara yang ikut tidur disebelah Rival.


"Bangun! Atau kakak robohkan kamar ini?" Guman Ira emosi dengan tangan yang menyibak kasar selimut lalu melemparkannya ke lantai.


Hal tersebut sukses membuat Rival dan Bara tercengang dan seketika bangun lalu berdiri tegak dengan mata yang saling menatap seolah sedang mengisyaratkan sesuatu.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2