
Ira masih di meja kerjanya, ia terlihat begitu fokus dengan kerjaannya meski sesekali ia makan cemilan yang berhamburan di atas mejanya.
"Lucu..." Cetus Ira pada dirinya sendiri setelah sejenak memerhatikan keadaan dirinya yang terlihat jelas begitu berantakan.
"Apa aku memang harus mencari kerjaan tambahan? jika benar apa yang dia katakan, haruskah aku mulai mencari uang yang lebih banyak lagi." Jelas Ira pada dirinya sendiri.
Ira kembali mengetik namun fokusnya seketika teralih saat pintu ruangan yang terbuka dari luar.
"Kenapa datang ke sini? bukannya sudah kakak bilang tunggu di halte depan sa...." Ucapan Ira langsung terhenti saat matanya melihat ternyata yang datang bukanlah orang yang sedang dia tunggu-tunggu kedatangannya.
"Siapa yang kamu tunggu? apa aku menghancurkan ekspetasi mu?" Tanya Vino yang perlahan masuk bahkan tanpa izin dari sang pemilik ruangan.
"Kenapa kamu datang ke sini?" Tanya Ira yang terlihat jelas begitu ketakutan.
Ingatan tentang kejadian waktu itu seolah kembali menari di mata Ira, membuatnya seketika panik lebih dari rasa itu, ia justru tidak ingin membuat orang-orang kantor curiga, kerena memang hampir semua karyawan tau bahwa Vino adalah mantan kekasih Ira yang dulunya saat masih menjalin hubungan Vino begitu sering mengantar jemput Ira.
"Ikut dengan ku? atau tetap di sini?" Tanya Vino dengan terus menatap Ira dari ujung kepala.
"Tidak ada lagi yang harus kita bahas, tolong pergi dari sini!" Jelas Ira yang kembali membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Vino untuk keluar dari sana.
"Pilihannya hanya dua, ikut dengan aku atau tetap di sini?" Ulang Vino dan langsung menyentuh tangan Ira.
"Apa lagi? Vin, tolong jangan lagi ganggu aku!" Pinta Vino.
"Antarkan aku pada suami mu itu, aku akan mengambil mu kembali menjadi milik ku." Tegas Vino dengan tangan yang masih menggenggam tangan Ira.
"Jangan gila, Vin!" Tegas Ira lalu menarik kasar tangannya dari genggaman Vino.
"Aku tau kalau kamu masih mencintai ku, aku juga tau kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahan paksa ini kan? jujur sama aku, kamu masih menjadi milik ku kan?" Tegas Vino lalu berusaha untuk memeluk tubuh Ira.
"Bruuuuk!" Suara pintu yang ditendang membuat Ira dan Vino terperanjat kaget bukan kepalang.
"Milik mu?" Ulang Bara yang memang sempat mendengar pembicaraan antara Vino dan Ira.
"Kenapa selalu saja kamu yang muncul? ayo Ira!" Jelas Vino lalu menarik tangan Ira untuk ikut bersamanya.
Tangan Bara dengan cepat menarik tangan Ira dari pegangan Vino. Bara membawa Ira ke belakang tubuhnya, lalu tangan kiri Bara mencengkram kuat bahu Vino.
"Jangan ganggu kak Ira lagi! Tidak, maksud aku, jangan pernah lagi muncul di hadapannya, jangan datang kembali ke dalam hidupnya." Tegas Bara dengan penuh penekanan.
Suara Bara yang memang begitu lantang cukup membuat beberapa karyawan ikut menyaksikan kejadian tersebut kerena memang pintu ruangan Ira terbuka lebar.
__ADS_1
"Memang apa hak mu? dia kekasih ku..." Tegas Vino yang menepis kasar tangan Bara dari bahunya.
"Aku, a.....!" Ucapan Bara tertahan, terlihat jelas dia ingin berteriak namun ia tahan sebisa mungkin saat melirik ke sekeliling dan mendapati para karyawan yang sedang menonton kejadian tersebut.
"Dia adik ku!" Tegas Ira dan langsung pergi dengan membawa Bara bersamanya.
Lagi dan lagi kedekatan Ira dan Bara menjadi sebuah kehebohan di seluruh kantor terlebih kali ini Bara terlihat begitu marah. Vino langsung menyusul, tangannya dengan kasar menarik bahu Bara lalu sesaat kemudian tinjunya mendarat di wajah Bara.
"Kamu tau siapa aku?" Gumam Bara dengan tangan yang langsung menangkap tinju Vino yang hendak kembali mendarat di wajahnya.
Bara membuang kasar tangan Vino lalu kini kaki Bara bergerak lalu menendang betis Vino dan langsung membuat sang pemilik meringis kesakitan, tak sampai di situ, kini tinju Bara yang melayang namun langsung di hadang oleh sosok Samudra yang baru saja datang.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Gumam Samudra yang justru langsung menampar pipi Bara.
"Sam...!" Ujar Ira yang seketika memasang badan untuk melindungi Bara.
"Jangan gunakan kekerasan di kantor ini, jika kamu begitu ingin berkelahi, keluar! keluar dari sini!" Gumam Samudra dengan suara lantang yang cukup membuat seisi kantor syok.
"Aku akan menuntut mu!" Tegas Vino.
"Aku yang akan lebih dulu melaporkan mu atas tindakan pelecehan terhadap karyawan kantor ini!" Ancam Resi yang muncul entah dari mana yang jelas kini tangannya sudah menarik kerah baju Vino.
"Re..." Ujar Ira.
"Resi, kamu..." Gumam Vino yang kemarahannya memuncak lah sudah, betapa tidak, kini semua mata memandangnya dengan tatapan hina.
"Jangan ganggu kakak-kakak ku, ingat itu!" Tegas Bara yang membawa serta Ira dan Resi ikut bersamanya keluar dari kantor tersebut.
Setelah ketiganya pergi, perlahan kini Samudra kembali mendekati Vino.
"Sekali lagi aku lihat kamu menginjakkan kaki mu ke kantor ku, maka aku tidak akan lagi bisa menjamin keselamatan mu, camkan itu!" Tegas Samudra lalu pergi begitu saja.
"Sial, haissssshhh! Lihat apa? Kalian semua, haissssshhh!" Gumam Vino kesal dan lekas pergi.
Langkah Vino terhenti ketika seseorang muncul di hadapan dirinya, dan yang membuat Vino panik tidak karuan adalah saat para karyawan menundukkan kepalanya sambil ada yang berkata pak "CEO".
"Saya tidak tau apa masalah mu dengan mereka berempat, yang jelas sedikit saja kamu ganggu keempatnya, maka saya akan langsung menghancurkan hidup mu! Ini bukan ancaman, tapi keharusan. Ingat itu baik-baik." Tegas Bima dan langsung berlalu dari sana dengan diikuti oleh kelima bodyguardnya.
"Apa dia suaminya Ira? Jadi kedua lelaki tadi adalah anak tirinya Ira? Waaah dia benar-benar membuktikan kalau dia adalah ******, mata duitan, dasar wanita murahan, demi uang kamu bahkan menghalalkan segala cara. Baiklah, kita lihat saja, permainan siapa yang akan menang!" Gumam Vino sambil terus berjalan keluar dari gedung tersebut.
________
__ADS_1
"Kalian pulanglah, aku bisa naik taxsi." Jelas Resi saat ketiganya berada di area parkiran.
"Ayo kak!" Ajak Bara yang langsung naik ke motornya.
"Gini aja, kakak sama Resi keluar pakek mobil kakak, kita ketemu di persimpangan jalan, nanti biar Resi pulang pakek mobil aku aja." Jelas Ira memberi saran.
"Baiklah!" Ujar Bara dan lekas pergi.
"Kenapa?" Tanya Resi saat ia dan Ira sudah berada dalam mobil.
"Aku nggak mau bikin masalah lagi, kasian Bara, kalau sampai semua orang tau, aku nggak bisa ngabayangin bagaimana keadaannya nanti." Jelas Ira.
"Kamu memikirkan keadaan dia?" Tanya Ira.
"Lalu? Re, dia suami ku, jelas aku harus memikirkan keadaannya, atau kamu mau teman mu ini jadi istri durhaka?" Jelas Ira.
"Terserah kamu deh, aku nggak ikutan, kamu turun disini kan?" Tanya Resi memastikan lalu menepikan mobil ke kiri jalan.
"Hmmmm, terima kasih." Jawab Ira.
"Ra, jaga diri kamu baik-baik, apapun yang terjadi, pastikan keadaan mu lebih dulu." Jelas Resi mengingatkan.
"Iya nyanyi ratu ku tersayang." Ujar Ira dengan senyuman dan langsung keluar dari mobil.
Ira segera menghampiri Bara yang menepikan motornya tepat di depan Ira.
"Kemana?" Tanya Ira dan langsung naik keatas motor.
"Ke rumah mama." Jawab Bara bersamaan dengan menjalankan motornya.
"Loh, kenapa ke rumah mama?" Tanya Ira.
"Aku kangen sama Rival!" Tegas Bara yang semakin menambah kecepatan laju motor.
"Hahhh! Benar-benar, kalian bahkan mengalahkan semua cuople seluruh dunia." Cetus Ira.
"Kak Ira cemburu?" Tanya Bara.
"Ciiiih!" Cetus Ira.
"Bukannya kakak dan kak Resi juga bakal menang jika jadi nominasi bets cuople sedunia!" Cetus Bara lalu tersenyum pelan dari bali helmet yang ia kenakan.
__ADS_1
Lagi-lagi Bara menambah kecepatan hingga membuat Ira mau tidak mau semakin mengeratkan tangannya di pinggang Bara.
🦋🦋🦋🦋🦋