Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Di Jemput Kekasih.


__ADS_3

Setelah tadi dokter datang lalu memeriksa ulang keadaan Bara serta melepaskan jarum infus dari tangan bara karena memang Bara sudah boleh pulang. Kini terlihat Ira sedang merapikan jilbabnya sedangkan Bara sedang mengganti baju pasien dengan seragam olah raga yang kemaren ia kenakan saat datang ke rumah sakit.


"Beneran nggak mau kakak beli kan pakaian lain? Atau biar kakak minta Rival bawakan baju ganti." Tanya Ira lalu mendekati Bara yang berdiri di samping ranjang sambil memakai bajunya.


"Udah gini aja, kak Ira kan lagi buru-buru mau ngantor!" Jelas Bara lalu sedikit membersihkan bajunya yang agak sedikit kotor dengan terus menepuk-nepuk bagian kotor tersebut.


Ira mendekat lalu membantu Bara membersihkannya.


"Apa ada yang tinggal?" Tanya Ira memastikan saat keduanya sudah siap untuk pulang.


"Ponsel ku?" Tanya Bara.


"Di tas kakak!" Jawab Ira.


"Tuh file kakak yang ketinggalan noh di meja!" Jelas Bara setelah melihat tumpukan file diatas meja sana.


"Hampir aja!" Ujar Ira yang segera berlari lalu mengambil file tersebut dan memasukkannya ke dalam paper bag.


"Nggak ada lagi kan?" Tanya Bara memastikan.


"Hmmmm, ayo!" Ajak Ira yang langsung menggandeng tangan Bara lalu melangkah keluar dari ruang inap tersebut.


"Bara..." Panggil Ratu yang baru saja datang bersama Gibran.


Suara Ratu langsung membuat Bara menarik tangannya dari gandengan Ira, Gibran dan Ratu yang awalnya masih berjarak jauh kini segera berlari menghampiri Bara dan juga Ira.


"Kamu udah boleh pulang?" Tanya Gibran.


"Hmmmm!" Jawab Bara.


"Kalian bolos?" Tanya Ira.


"Nggak loh kak, bukan bolos cuman nggak masuk aja!" Ujar Gibran lalu tertawa.


"Dasar, terus ngapain kesini?" Tanya Bara.


"Mau jengukin kamu, eh taunya udah boleh pulang ya udah berarti aku kesini buat jemput kamu." Jelas Ratu.


"Jemput aku?" Tanya Bara.


"Iya sayang, aku kesini buat jemput kekasih aku, ayo aku antar pulang!" Ajak Ratu yang langsung menggandeng tangan Bara.


"Aku udah di jemput sama kak Ira." Jelas Bara.


"Kan kak Ira harus ke kantor?" Ujar Gibran.


"Ahh iya, kakak harus ke kantor ya udah Ratu, kakak titip Bara ya, tolong antarkan dia pulang." Jelas  Ira.


"Siap kak, aku pastikan kalau anak bos  kakak ini sampai di rumah dengan selamat. Ayo sayang!" Jelas Ratu.


"Kalau gitu kamu aja yang ngantar Bara pulang, biar aku yang antar kak Ira ke kantor, ayo kak!" Ajak Gibran.


"Kakak bisa naik ojek online aja." Ujar Ira.


"Biar Gibran yang antar kakak."  Tegas Ratu.


"Terserah kalian lah, aku mau pulang!" Tegas Bara dan langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Tungguin!" Pinta Ratu yang buru-buru mengejar Bara yang telah lebih dulu keluar dari rumah sakit.


"Ayo kak." Ajak Gibran.


"Hmmmm!" Jawab Ira nurut lalu segera ikut bersama Gibran.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit lamanya, kini motor Gibran berhenti tepat di depan kantor Ira, Ira segera turun.


"Makasih banyak, sekarang buruan ke sekolah, jangan berencana untuk bolos, buruan gih!" Jelas Ira.


"Siap kakak ku tersayang! Selamat bekerja!" Ujar Gibran dengan memamerkan senyuman menawan dan lekas pergi.


Setelah Gibran benar-benar menghilang dari pandangannya, Ira segera masuk ke dalam kantor.


Ira terus berjalan menuju lift, dia terus berdiri menunggu pintu litf terbuka.


"Apa Bara masih kurang, sampai Gibran pun kamu sikat!" Ujar Resi pelan sambil berdiri di samping Ira.


" Re!" Gumam Ira.


"Katanya nggak doyan sama bocah..." Jelas Resi.


"Jangan buat rumor yang bukan-bukan deh!" Tegas Ira.


"Emang kamu pakek pelet apa sih buat mikat tuh bocah, bagi dong mau aku jampi jampiin ayang ValVal!" Jelas Resi.


"Ciiih! Sana gih kerja." Gumam Ira semakin kesal.


"Siap nyonya muda BSB Gruop!" Ujar Resi.


"Ishhhh benar-benar!" Seru Ira.


"Sahabat berasa musuh." Cetus Ira dan segera masuk ke dalam lift.


___________


"Terima kasih!" Ucap Bara saat mobil Ratu berhenti tepat di depan rumahnya.


Tanpa respon Ratu justru buru-buru keluar dari mobil dan dimenit selanjutnya ia telah membuka pintu mobil tepat disebelah Bara.


"Aku bisa sendiri!" Jelas Bara lalu keluar dari mobil.


Setelah Bara keluar dari mobil kini tangan Ratu langsung menggandeng tangan Bara dan hendak membantu Bara untuk masuk ke dalam rumah.


"Ratu, stop sampai disini, buruan balik ke sekolah!" Jelas Bara.


"Tapi, aku mau rawat kamu." Jelas Ratu.


"Rawat? Siapa yang sakit? Aku udah sembuh!" Tegas Bara.


"Tapi....!" Keluh Ira.


"Cukup, jangan banyak  alasan, buruan gih kembali ke sekolah." Jelas Bara.


"Nggak asik!" Cetus Ratu dengan perasaan kecewa.


"Terserah! Balik atau..." Ujar Bara terhenti.

__ADS_1


"Iya aku balik sekarang, selamat beristirahat sayang ku!" Ujar Ratu lalu dengan spontan langsung mengecup pipi kanan Bara.


"Ratu..." Ujar Bara kaget dengan keberanian Ratu.


"Aku pamit, bye sayang!" Seru Ratu dan langsung berlari kembali ke dalam mobil.


Mobil Ratu perlanan keluar dari halaman rumah keluarga Pradipta dan menghilang dari pandangan Bara. Bara perlahan melangkah menuju pintu utama, namun dengan cepat pintu di buka dari dalam dan ternyata sosok Bima lah yang muncul dari balik pintu. Tanpa ucapan sepatah katapun, Bima langsung menampar Bara hingga tiga kali, membuat Bara harus meringis kesakitan.


"Apa yang papa lakukan?" Tanya Bara yang masih terus mencoba menahan rasa sakit.


"Sekali lagi papa lihat kamu dekat dengan gadis barusan, maka papa bukan hanya akan menampar wajah mu tapi akan papa patahkan semua tulang mu!" Tegas Bima.


"Dia pacar aku pa!" Tegas Bara.


"Ira istri mu!" Tegas Bima dengan suara yang lebih lantang lagi.


"Itu urasan papa, bukan keinginan dan juga keputusan aku! Aku nggak peduli!" Tegas Bara yang hendak masuk namun Bima menghadangnya.


"Sekali saja kamu buat Ira terluka maka papa akan membuang mu untuk selamanya dari hidup papa, bunda dan juga ira. Ingat itu baik-baik." Ancam Bima dan lekas pergi dengan mobilnya.


"Haissssshhh! Selalu saja begitu!" Gumam Bara kesal ia bahkan menendang vas bunga yang terpajang di samping pintu.


Bara segera masuk ke dalam dengan langkah yang begitu terburu-buru.


"Bar, Ira mana? Bukannya dia semalam sama kamu di rumah sakit?" Tanya Dewi.


"Ira lagi Ira lagi, aku bosan!" Gumam Bara dan segera naik ke kamarnya.


Bara bahkan menutup pintu kamarnya dengan membantingnya kasar, lalu segera menuju drum, duduk di sana dengan tangan yang meraih stik lalu langsung memukulnya dengan irama yang tak karuan kacaunya.


Bara terus melampiaskan kekesalannya hingga tanpa sadar ia justru kembali membuat stik kesayangannya rusak, patah kembali.


"Sial! Kenapa tidak ada yang berjalan sesuai mau ku! Haissssshhh, shiiit!" Gumam Bara yang semakin kesal namun tangannya segera mengambil bagian stiknya yang patah dan jatuh ke lantai.


"Maafkan aku Mai! Maaf lagi-lagi aku merusak pemberian mu hanya karena aku tidak bisa menahan emosi ku!" Keluh Bara.


Tubuh Bara terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar pada dinding di dekat drum, kedua kaki yang terjulur kedepan, tangan kanan yang menggenggam stik drum dan air mata yang mulai tak terkendalikan lagi.


Perlahan pintu kamar kembali di buka dari luar, suara langkah kaki terdengar kian melangkah ke dalam.


"Bara..." Panggil Ira lembut dan perlahan langkahnya semakin medekati posisi Bara.


Mata Ira begitu kaget saat mendapati Bara dalam keadaan yang begitu kacau, perlahan dia mendekat lalu duduk di sampingnya.


"Kenapa pulang? Apa lagi yang ingin kakak hancurkan dari diri aku?" Tanya Bara tanpa menoleh kearah Ira.


"Apa kakak penyebabnya?" Tanya Ira pelan.


"Keluar! Pergi, jangan ganggu aku!" Tegas Bara.


"Hmmmm, kakak hanya ingin mengembalikan ponsel mu yang tertinggal di tas kakak, baiklah untuk sementara kakak akan pulang ke rumah mama, kakak nggak akan ganggu kamu. Hmmmm, istirahatlah, jangan sakit lagi!" Jelas Ira lalu meletakkan ponsel Bara di samping pemiliknya dan hendak pergi.


"Kak...." Ujar Bara dan tangisnya pecahlah sudah, ia bener-benar sangat kacau saat ini.


"Menangis lah, menangis sampai kamu bisa tenang, karena terkadang kita memang harus menangis untuk bisa kembali berdiri dengan tangguh!" Jelas Ira yang kembali duduk lalu membawa Bara ke dalam dekapannya.


Tangsi Bara semakin menjadi, kedua tangannya memeluk erat tubuh Ira. Perlahan tangan kiri Ira menepuk pelan bahu Bara sedangkan tangan kanannya terus saja mengusap rambut Bara.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2