Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Balas Dendam.


__ADS_3

Meski dengan langkah yang tertatih, Ira terus memasuki kamarnya. Sejenak menatap keseluruh penjuru kamar lalu mencoba menahan amarah yang hampir saja meledak, kini perlahan Ira melangkah mendekati kaki Bara yang terjulur ke lantai dan yang satunya lagi diatas kasur, perlahan tangan Ira menyentuh kaki Bara lalu membawanya keatas tempat tidur tepat di samping yang satunya lagi.


"Auwwww sakit!" Rintih Bara masih dengan mata yang terpejam, dengan tubuh yang sedikit menggeliat lalu tubuhnya bergerak seolah ingin mencari posisi yang lebih nyaman, namun gerakan tersebut justru hampir membuat tubuh Bara jatuh ke lantai jika saja tangan Ira tidak cepat bergerak.


Kedua tangan Ira kini menompang bahu lebar Bara lalu perlahan menariknya kembali ke kasur, tanpa sengaja pandangan Ira terhenti di wajah Bara, matanya yang masih terpejam namun terlihat jelas begitu sembab, lalu bibir yang pucat dan hidung yang memerah sempurna.


"Apa dia demam?" Tanya Ira pelan lalu perlahan meletakkan telapak tangannya di dahi Bara.


"Baguslah, setidaknya dia tidak demam." Ujar Ira lega karena Bara baik-baik.


Kini Ira beralih mendekati tubuh Rival, mengambil ponsel dari tangannya, lalu sedikit membenarkan posisi tidur Rival. Sejenak Ira duduk di samping Rival, dengan tangan yang perlahan memindahkan rambut bagian depan yang hampir menutupi mata indah sang adik tercinta.


"Ada apa dengan kalian berdua? Padahal untuk sesaat tadi, rasanya ingin sekali kaki menjambak rambut kalian, lalu mematahkan kedua tangan kalian berdua, tapi semua perasaan itu bomm, tiba-tiba menghilang entah kemana saat mata kakak menatap wajah polos kalian yang tertidur begitu lelap. Sepertinya kalian memang datang sebagai ujian kesabaran dalam hidup kakak, Kak Ira menyayangi mu Val, Bar." Jelas Ira pelan masih dengan tangan yang begitu setia membelai wajah teduh Rival.


Setelah puas memandangin mereka secara bergantian, kini Ira mulai beranjak untuk membersihkan kamarnya, Ira terus saja mengutip semua sampah lalu menyimpan sisa makanan mereka dan juga memasukkan semua baju Bara ke dalam keranjang pakaian kotor dan kini mulai menyapu, di balik pintu yang sedikit terbuka sana, dari kejauhan Luna terus memperhatikan sosok Ira yang terlihat begitu telaten dan juga sabar dalam menghadapi tingkah Bara dan Rival.


"Mama bangga sama kamu sayang, itu artinya mama dan papa berhasil mendidik mu menjadi wanita yang bertanggung jawab dan juga tangguh. Terima kasih karena memilih mama, dan terima kasih karena mengizinkan mama menjadi ibu untuk mu, terima kasih karena kamu dan juga papa mu menjadikan mama dan Rival bagian dari kebahagiaan kalian. Terima kasih sayang" Ungkap Luna dengan tetasan air mata lalu perlahan kembali menutup pintu rapat-rapat.


"Ma...." Panggil Syakil yang baru saja pulang dan melintasi kamar Rival dan Ira.


"Papa...." Ujar Luna dan segera menghampiri Syakil.


"Kenapa? Apa Bara dan Ira menginap di sini?" Tanya Syakil.


"Hmmmm, jangan ganggu mereka, ayo!" Ajak Luna.


"Biar papa ke kamar Rival sebentar!"


"Rival juga lagi di kamar Ira."


"Maksud mama? Mereka bertiga di sana?"


"Pa, udah! lagi pula Bara masih SMA, papa harus ekstra sabar nungguin cucu, kan salah sendiri kenapa milih mantu yang masih bocah, udah ayo buruan ke kamar!" Jelas Luna yang langsung menggandeng Syakil untuk ke kamar.

__ADS_1


"Mama ada-ada aja kalau ngomong!" Ujar Syakil lalu merangkul sang istri tercinta kedalam pelukannya dan lekas ke kamar mereka.


__________________


Rival yang perlahan membuka matanya, lalu  menarik nafas pelan seolah membiarkan jiwanya kembali menyatu dengan raganya setelah berkelana semalaman, setelah merasa sudah cukup sadar, Rival perlahan bangun dari tidurnya namun ia mulai tesadar ternyata ada tangan yang menempel di perutnya, matanya langsung mencari sosok pemilik tangan tersebut.


"Kak Ira, loh sejak kapan dia pulang? Kenapa tidak membangunkan ku?" Tanya Rival lalu perlahan memindahkan tangan Ira dari perutnya.


Setelah meletakkan tangan Ira di atas kasur lalu pandangan Rival tertuju pada tangan kiri Ira yang ternyata menempel pada dada bidangnya Bara sedangkan tangan Bara malah menjadi bantal untuk alas kepalanya Ira, kaki Bara yang sakit diletak rapi di atas dua guling yang tersusun tinggi. Ira masih tertidur pulas diantara Rival dan Bara.


Rival yang menyadari bahwa sang kakak dan sahabatnya masih begitu terlelap, ia buru-buru mencari ponsel miliknya dan langsung mengabadikan moment indah tersebut.


"Pasangan serasi!" Ujar Rival saat memperhatikan hasil jipratannya di layar ponsel.


Rival perlahan turun dari tempat tidur dan segera kembali ke kamarnya tanpa membangunkan Ira ataupun Bara.


Beberapa menit seletah kepergian Rival, suara alarm berdering, terdengar jelas bahwa suara yang melantunkan lagu indah tersebut adalah milik Rival, tangan Ira mencoba meraba keberadaan ponsel miliknya, setelah mendapatkannya Ira langsung memeriksanya.


"Jam lima...!" Ujar Ira sambil mengucek kedua matanya secara bergantian.


"Dia udah bangun rupanya, dan langsung kabur aja..." Ujar Ira lalu beralih menoleh kesisi kanannya.


"Yang satu menghilang yang satunya lagi masih gentayangan entah kemana! Bara bangun, bangun udah subuh!" Ujar Ira pelan dengan tangan yang mencoba menggoyang-goyangkan lengan kekar Bara.


"Hmmmmmm!" Ujar Bara lalu kembali pulas.


"Bara, bar...!" Ulang Ira kali ini dengan tangan yang langsung jail menutup hidung Bara membuat sang empunya tidak bisa bernafas.


"Apaan sih kak?" Gumam Bara yang akhirnya terpaksa harus bangun.


"Udah subuh! Buruan bangun!" Jelas Ira yang segera turun dari tenpat tidur.


Bara yang baru terbangun segera memeriksa keadaan kamar yang dia ingat dengan jelas bahwa dia dan Rival sudah membuatnya kacau dan anehnya seisi kamar terlihat begitu rapi saat ini, idak ada sampah sama sekali. Lalu pandangannya beralih pada perban yang telah berganti dikakinya.

__ADS_1


"Kak...!"


"Kenapa? Kaget karena pas tidur kamar bak kapal pecah terus ketika bangun terlihat bak kapal persiar?"


"Itu karena....?"


"Karena apa? Kamu mau buat kakak stres kan?" Tanya Ira yang bahkan kembali mendekati Bara.


"Itu balas dendam!"


"Balas dendam? Dendam yang mana? Karena kakak merusak masa SMA mu? Atau karena kakak....?"


Telunjuk Bara yang tiba-tiba menyentuh bibir Ira membuat ocehan Ira seketika langsung terhenti.


"Karena kakak mempermalukan aku di rumah sakit!" Jelas Bara sambil memindahkan telunjuknya.


"Haaaah! Di bagian mana kakak melakukannya?"


"Kenapa mengandongku di punggung kak Ira?


"Lalu? Apa kakak harus menyeret mu dengan keadaan kaki yang sedang sakit begini? Atau kakak harus meladeni keras kepala mu itu?"


"Ahhh terserah, intinya jangan pernah lagi melakukan hal memalukan itu!" Tegas Bara lalu turun dari tempat tidur.


"Dan terima kasih karena telah menggantikan perbannya dan juga mengolesi obat di luka ku!" Lanjut Bara lalu segera ke kamar mandi.


"Ntar pagi kita ke rumah sakit yang lainnya lagi!" Jelas Ira.


"Nggak perlu!"


"Kenapa? Bukannya kamu ingin ganti dokter?"


"Mama sudah membawa ku ke dokter lain tadi sore, dan kaki ku akan segera sembuh, jadi kakak fokus aja sama kerjaan kakak." Jelas Bara yang langsung menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Benarkah? Udah ah mending ntar tanya ke mama aja, dari pada sama tuh bocah, yang ada tambah runyam masalahnya." Cetus Ira dan juga segera bersiap.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2