Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Kencan pertama.


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Bara berhenti tepat di depan sebuah taman wisata yang begitu ramai pengunjung karena memang hari ini adalah hari minggu, hari dimana banyak orang pergi liburan baik bersama keluarga sahabat dan banyak pula yang datang bersama kekasih mereka.


Bara turun dari mobil dengan disusul oleh Ira yang juga ikut turun tanpa menunggu dibukakan pintu lebih dulu oleh Bara.


"Dasar, nggak ada romantis-romantisnya sama sekali, tungguin kek aku bukain pintu." Cetus Bara kesal bahkan ia langsung memasang wajah masam dan berlalu begitu saja dari hadapan Ira.


"Maaf, aku belum terbiasa dimanjakan seperti itu. Aku, ya aku, serba semuanya ku lakukan sendiri." Jelas Ira sambil terus mengikuti langkah Bara.


"Ini kencan pertama kita, harus diisi dengan penuh bahagia. Ayo!" Jelas Bara setelah perlahan menggenggam tangan Ira lalu berjalan beriringan menikmati setiap inci dari keindahan taman bunga tersebut.


Keduanya terus berjalan beriringan dengan saling bergenggaman tangan, menikmati kencan pertama dengan penuh rasa bahagia. Keduanya terus saja berjalan dengan tetap saling diam hingga tiba-tiba Bara menghentikan langkahnya membuat Ira juga mau tidak mau ikut menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Tanya Ira.


"Nggak ada." Jawab Bara namun ia masih saja berdiri tanpa beranjak sama sekali.


"Terus kenapa berdiri?" Tanya Ira yang bahkan mulai menatap fokus wajah Bara.


"Mastiin aja." Jawab Bara.


"Mastiin? Tentang?" Tanya Ira yang sama sekali tidak paham dengan jawaban yang Bara berikan sejak tadi.


"Mastiin kalau aku sedang tidak bermimpi. Ternyata ini memang nyata, aku dan kamu berkencan sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai bukan pasangan nikah paksa. Ayo duduk!" Jelas Bara lalu duduk di atas bangku yang memang tidak terlalu jauh dari tempat keduanya berdiri.


Ira pun melangkah ikut duduk di samping Bara. Keduanya kembali terdiam, dengan tatapan lurus kedapan.


Bara bergeser mengikis jarak antara keduanya, lalu perlahan sedikit menyandarkan kepalanya dibahu kanan Ira, tangan kiri Bara perlahan menyentuh lembut tangan kanan Ira yang sedang berada diatas pahanya sedangkan tangan kanan Bara perlahan mengusap perut rata Ira.


"Setelah aku lulus, ayo kita beli rumah, aku ingin menghabiskan banyak waktu hanya berdua dengan mu, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun itu, ayo kita bina keluarga kecil kita bersama." Jelas Bara.


"Bara...." Ujar Ira pelan dengan tangan kiri yang mulai menyentuh tangan Bara yang Sedang menggenggam tangannya sejak tadi.


"Hmmmmm, iya aku tau kalau aku bukanlah suami yang baik, usiaku saja belum beranjak dewasa tapi aku janji, aku akan jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk kamu dan juga anak kita. Okay fine, aku memang belum punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kita, aku juga tidak memiliki perkerjaan, aku bukan siapa-siapa tanpa nama keluarga ku, tapi aku janji aku akan menghasilkan banyak uang dengan tangan aku sendiri." Jelas Bara.


"Bukan itu masalahnya...." Jelas Ira.


"Lalu? Apa uang kamu tidak cukup untuk membeli rumah? Kerja macam kuli, siang malam terjang saja masak iya tidak punya uang, emang gaji kamu perbulan berapa sih? Bisa dong kita beli rumah kecil-kecilan." Cetus Bara dengan mengangkat wajahnya dari bahu Ira.


"Ciiiih! Rumah kecil-kecilan, kamu kira kita mau main rumah-rumahan apa? Lagi pula aku itu karyawan bukan yang punya perusahaan yang paling berapalah gaji ku sebulan, belum lagi bayar biaya ini itu, ludes tak tersisa." Jelas Ira.


"Waaaah gila! Udah berhenti aja kerja." Jelas Bara.

__ADS_1


"Berhenti kerja? Lalu siapa yang akan membayar semua kebutuhan aku? Kamu? Dengan black card keluarga mu?" Cerus Ira kesal.


"Terus? Kamu yang katanya bakal bayar biaya kuliah aku, mau bayar pakai apa? Daun!" Cetus Bara yang juga mulai kesal.


"Ya setidaknya aku punya tabungan dari hasil kerja keras aku sendiri, setidaknya aku kerja bukan pengangguran." Tegas Ira.


"Aku juga kerja, aku manggung, aku juga main bola!" Jelas Bara.


"Ciiiiiih!" Cetus keduanya hampir bersamaan bahkan mereka berdua sama-sama membuang pandangan kearah yang berlawanan dengan posisi yang masing menyilangkan kedua tangan di perutnya.


"Mau kencan atau bertengkar sih? Heran!" Cetus Ira yang semakin kesal.


"Yeee! Lagian siapa yang mulai?" Cetus Bara.


"Terserahlah!" Ujar Ira ngalah, ia sama sekali tidak ingin melanjutkan kesalah pahaman yang sedang terjadi.


"Terserah! Kalau mau lanjut bertengkar mending ayo pulang!" Tegas Bara lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Aku sudah mengajukan pinjaman, dan pihak bank menyetujuinya." Jelas Ira yang terpaksa jujur pada Bara.


"Pinjaman? Untuk apa? Kenapa nggak bicarakan dulu sama aku?" Tanya Bara yang seketika langsung menoleh kearah Ira yang masih duduk dengan wajah tertunduk.


"Ra...." Ujar Bara pelan dan langsung memeluk erat tubuh Ira.


"Maaf karena aku tidak punya cukup uang untuk membiayai hidup kita, aku juga ingin beli rumah untuk kita, tapi..." Jelas Ira.


"Kenapa kamu suka sekali menyulitkan dirimu sendiri? Jangan membuat aku merasa tidak berguna seperti ini. Aku akan kerja untuk bayar biaya kuliah dan aku juga sudah membeli rumah untuk kita tinggal, setelah aku lulus, ayo kita pindah ke rumah baru kita." Jelas Bara.


"Rumah baru? Apa kamu minta sama papa?" Tanya Ira.


"Jangan ngaco! Meski masih bocah SMA aku juga punya kerjaan kok, kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada oma." Jelas Bara sembari menatap dalam wajah Ira lalu perlahan mengecup lembut kening sang istri.


"Jangan bercanda!" Cetus Ira.


"Ya udah ayo kita temui oma!" Ajak Bara.


"Bara...." Ujar Ira.


"Aku serius!" Tegas Bara lalu kembali memeluk tubuh Ira.


"Kamu benar-benar membuat aku kesal!" Ujar Ira.

__ADS_1


"Benarkah? Ntah mengapa aku merasa kalau itu sebuah pujian. Ayo!" Jelas Bara dengan memamerkan senyuman manisnya.


"Kemana?" Tanya Ira namun tetap menyambut uluran tangan dari Bara.


"Melanjutkan kenca pertama kita!" Jawab Bara dan kembali melangkah menelusuri setiap jalan yang dipenuhi dengan beragam macam bunga yang indah.


Ira dan Bara terlihat kembali menikmati suasana taman bunga, di bagian utara taman sana tampak Alea dan juga Rival yang sedang duduk sambil menikmati jus mereka.


"Gimana?" Tanya Alea sambil sekilas menatap wajah Rival.


"Indah, menyenangkan!" Jawab Rival.


"Aku atau taman ini?" Tanya Alea yang sontak membuat Rival keselek dengan jusnya.


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Alea sambil menepuk pundak Rival.


"Hmmmmm!" Jawab Rival yang sontak bangun dari bangkunya namun pergerakannya yang secara tiba-tiba justru membuat seorang bocah yang sedang berlari kesandung lalu jatuh.


"Maaf, abang nggak sengaja!" Pinta Rival yang langsung membantu gadis kecil tersebut berdiri.


"Sayang, hati-hati dong! Kamu baik-baik saja?" Tanya Resi lalu menepuk bagian celana  gadis kecil tersebut yang kotor.


"Iya kak, aku baik-baik sana." Jawab Gadis kecil yang bernama Kiana.


"Kak Re...." Ujar Rival yang menyadari bahwa wanita yang datang bersama Kiana adalah Resi.


"Rival, kamu sama siapa?". Tanya Resi.


"Sama Alea, kak. Kenalkan, ini Alea." Jelas Rival.


"Resi, sahabatnya kakak Rival dan kenalkan ini Kiana anak tante kakak." Jelas Resi.


"Alea..." Ujar Alea bahkan dengan mengulurkan tangannya pada Kiana dan Resi secara bergantian.


"Rival..." Panggil Bara yang berdiri agak jauh mereka mereka berempat.


"Bara, kakak!" Ujar Rival.


"Kiana...." Seru Ira yang bahkan segera mendekati Kiana lalu keduanya berpelukan dengan erat membuat yang lainnya menatap heran pada tingkah keduanya.


...🦋🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2