
"Kenapa hanya diam?" Tanya Bara lagi setelah mengecek raut wajah Ira yang tiba-tiba tertunduk diam dengan seribu bahasa.
Tangan Bara bergerak perlahan menyentuh wajah Ira, lalu mengangkatnya agar ia bisa memandangnya dengan leluasa, lama Bara menatap dalam wajah pucat Ira lalu tersenyum manis membuat Ira semakin khawatir, Ira paham saat Bara tersenyum seperti Barusan, itu artinya dia pasti akan bertindak diluar nalar, pasti dia akan melakukan sesuatu yang bikin syok.
"Ayo ke rumah sakit!" Ajak Bara.
"Rumah...sa...kit?" Ulang Ira dengan raut wajah yang mulai gelisah.
"Hmmm, rumah sakit? Aku ingin tau sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku." Jelas Bara.
"Bara....." Ujar Ira pelan dengan tangan yang perlahan menyentuh dada Bara, berusaha membuatnya kembali tenang.
"Ayo, buruan pakek jilbab." Pinta Bara yang bahkan langsung mengambil ngasal jilbab yang tersangkut di sofa lalu memakaikannya pada Ira.
"Hmmm, bukannya kamu harus manggung? Ntar telat loh! Kasiankan Rival dan Gibran nunggu lama." Jelas Ira pelan.
"Aaaaah! Aku bisa bantalin manggung, jika aku bilang kalau kakak tercintanya yang lagi sakit dia juga pasti bakal langsung meluncur ke rumah sakit." Jelas Bara.
"Sebaiknya besok aja kita ke rumah sakit." Jelas Ira.
"Jujur sama aku!" Pinta Bara bersamaan dengan menarik pinggang Ira agar tubuh sang istri menempel pada tubuhnya.
"Ba....ra." Ujar Ira dengan suara tertahan.
Bara tidak lagi menjawab yang ada matanya terus saja mengintimidasi raut wajah Ira lalu perlahan mengecup kening Ira.
"Jangan coba sembunyikan apapun dari aku! Aku beri waktu selama dua jam, pikirkan baik-baik dengan tenang dan bijak, saat aku pulang aku akan menagih jawaban dari kamu, entah itu ikut aku ke rumah sakit atau bicara jujur. Aku pamit, selamat malam, assalamualaikum." Jelas Bara dan lekas pergi begitu saja.
Setelah pintu kamar kembali tertutup Ira masih saja berdiri diposisi semula dengan otak yang mulai bermain mencari jawaban apa yang akan dia berikan pada Bara.
___________
Samudra terus melangkah mendekati Dewi yang terlihat sedang asyik menonton sinetron favoritnya di layar kaca televisi yang berada di ruang keluarga. Perlajan Samudra duduk di samping Dewi lalu tangan kanannya menyentuh tangan Dewi hingga membuat Dewi seketika mengalihkan pendangannya pada Samudra.
"Sam..." Ujar Dewi pelan dengan tangan yang mengusap lembut rambut Samudra.
"Maafkan aku, dan juga maafkan mama." Pinta Samudra yang sukses membuat air mata Dewi menetes dengan sendirinya.
__ADS_1
"Sam...." Ujar Dewi yang mencoba menahan isak tangisnya.
"Maafkan aku, karena untuk beberapa minggu ini aku mengacuhkan bunda, aku sama sekali tidak marah pada bunda, sebaliknya aku justru membenci diri aku sendiri, karena aku bunda harus terluka setiap hari, saat melihat aku pasti membuat bunda ingat akan perbuatan mama terhadap bunda, aku benar-benar tidak bisa memaafkan diri aku, harusnya bunda tidak memberikan aku kehidupan yang penuh dengan cinta dan kasih seperti ini." Jelas Samudra dengan mata memerah dan kepala yang tertunduk ia bahkan berulang kali mencium tangan kanan Dewi yang sejak tadi mesih ia genggam dengan begitu erat.
"Tidak sayang, kamu sama sekali tidak membuat bunda terluka justru karena kamu, hidup bunda penuh tawa, kedatangan mu dalam rumah ini bak hujan yang datang dengan sejuta harapan, karena kamu bunda tidak lagi kesepian, karena kamu rumah ini terasa sejuk dan nyaman, karena kedatangan....Sam, terima kasih karena datang dalam hidup kami semua, bunda sangat menyayangi mu, sayang." Jelas Dewi dan langsung memeluk erat tubuh Samudra.
"Bunda..." Ujar Samudra pelan lalu hanyut dalam kehangatan pelukan yang Dewi berikan.
___________
Setelah selesai membawakan dua lagu, kini semua anggota band The Grib mulai berberes, ketiganya keluar dari cafe, Gibran yang masih membiarkan bass menempel di punggungnya sedangkan Rival terlihat memegang tas gitar di tangan kanannya lalu terakhir ada Bara dengan tangan kiri yang menggenggam erat stik drun kesayangannya.
"Loh, loh, loh! Mau kemana? Tanya Gibran saat mendapati Bara yang bahkan langsung naik keatas motornya.
"Pulang! Kegiatan kita udah selesai kan?" Jelas Bara yang mulai menyalakan mesin motornya.
"Ayolah kita nongkrong sebentar, selama beberapa hari ini kita jarang banget ketemu selain di sekolah, ayo dong!" Ajak Gibran.
"Sorry aku nggak bisa." Jelas Bara.
"Jangan gitu dong! Mentang-mentang ada yang nungguin di rumah." Cetus Gibran.
"Kakak sakit? Sakit apa? Udah berapa lama? Kenapa nggak ngabarin?" Tanya Rival panik.
"Hmmm, nggak gitu, maksud aku...." Jelas Bara terheti karena Rival telah lebih dulu naik dibelakang motornya.
"Ayo pulang!" Titah Rival.
"Terus aku? Tega kalian ninggalin aku sendirian malam-malam gini?" Cetus Gibran.
"Hai!! Aku nggak telat kan?" Tanya Ratu yang baru saja datang bersama dengan Alea.
"Kami udah mau pulang!" Jelas Rival.
"Pas!" Jawab Ratu.
"Pas?" Ulang Rival dan Bara hampir bersamaan bahkan Bara dan Rival saling menatap dengan rasa heran.
__ADS_1
"Hmmm, aku sengaja datang buat jemput Gibran." Jelas Ratu.
"Gibran?" Ulang Rival serasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Hmmm, kalian nggak tau kalau mereka berdua mulai dekat, terus hampir...." Jelas Alea tertahan.
"Serius? Aku ikut senang mendengarnya, ingat Ratu, jaga sahabat aku baik-baik kalau sampai dia kenapa-napa, maka aku mendatangi mu?" Tegas Bara.
"Ciiih!" Cetus Ratu.
"Ya udah, ayo Bar! Kami duluan ya!" Jelas Rival.
"Kamu juga pulang?" Tanya Alea dengan langsung menatap kearah Rival yang masih duduk tepat di belakang Bara.
"Hmmmmmm!" Jawab Rival.
"Turun nggak! Buruan sekarang!" Pinta Ratu yang bahkan langsung menarik Rival agat turun dari motor Bara.
"Loh, kenapa?" Tanya Rival setelah Ratu berhasil membuatnya turun dari motor.
"Dasar nggak peka, aku duluan, Alea aku titip adik ipar ku ya, selamat malam." Jelas Bara dan langsung pergi.
"Kami juga duluan, ayo Gibran!" Ajak Ratu yang bergegas ke mobilnya.
"Duluan ngejar! Hmmmmm, semoga sukses, nih kunci motor!" Jelas Gibran lalu melemparkan kunci motor yang langsung di sambut oleh Rival.
Gibrab ikut masuk ke dalam mobil Ratu dan keduannya pergi meninggalkan Rival bersama Alea yang masih kelihatan canggung satu sama lain.
"Ayo aku antar pulang!" Ajak Rival lalu bergegas menuju motor yang masih berada di parkiran sebelah utara cafe.
"Rival..." Panggil Alea.
"Hmmm, kenapa?" Tanya Rival tanpa menoleh sedikitpun pada Alea.
"Bisa nggak kamu jujur sama aku?" Tanga Alea yang perlahan mendekat lalu menyentuh tangan Rival.
"Jujur? Soal yang mana?" Tanya Rival
__ADS_1
"Soal perasaan kamu pada ku, selama satu tahun ini kamu terus saja menatap aku dari jauh, aku menyadarinya Rival, aku tau kalau diam-diam kamu sering memperhatikan aku di sekolah. Apa kamu suka sama aku? Atau hanya sekedar rasa kagum karena aku juara kelas? Atau mungkin karena status sosial ku? Katakan dengan jujur alasan kamu begitu perhatian terhadap aku? Simpati? Kagum atau cinta?" Tanya Alea dengan mata yang terus menatap wajah Rival yang terlihat jelas begitu kebingungan.
...🦋🦋🦋🦋🦋...