Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Bidadari.


__ADS_3

"Kak Ira..." Ujar Gibran yang bahkan langsung mendekat pada Ira yang kini berdiri menempel pada jeruji besi yang menjadi pemisah antara dirinya dengan Ira.


"Apa dia kakak mu?" Tanya Erris.


"Bukankah dia bidadari? Bagaimana bisa aku bertemu dengan tipe ku saat aku dalam kurungan seperti ini, menyebalkan!" Ujar Arjuna dengan mata yang tidak bisa berpaling dari wajah Ira.


"Khhmmmmm!" Suara dehem Faisal membuayarkan tatapan kagum Arjuna.


"Apa mereka buat ulah lagi? Maaf karena mereka kamu justru harus ke kantor polisi seperti ini!" Pinta Ira.


"Mereka kan juga tanggungan aku." Jelas Faisal dengan senyuman.


"Serasa suami istri yang sedang mengurus anak-anak nakalnya!" Celetuk Gibran lalu sedikit menjauh.


"Rival...." Seru Bara dengan tatapan mengerikan yang langsung membuat Rival sedikit menjauh.


"Bukan aku yang ngadu, aku juga ketemu sama kak Ira di depan barusan!" Jelas Rival membela diri.


"Bapak yang melakukannya." Jelas Faisal.


"Kenapa ba....?" Pertanyaan Bara seketika terhenti saat melihat seorang polisi datang bersama dengan Samudra.


"Bapak yang menghubungi pak Samudra, dan ntah kenapa Ira bisa ikut datang juga!" Jelas Faisal.


"Kebetulan saat kamu menghubungi pak Sam, aku sedang berada di ruangannya, makanya aku langsung ikut datang!" Jelas Ira.


"Ini kali terakhir bapak melihat kalian berdemo, belajarlah yang rajin jangan buat masalah lagi!" Jelas polisi tersebut setelah membukakan pintu jeruji besi tersebut.


"Sekali lagi terima kasih pak!" Ucap Samudra.


"Sama-sama pak Pradipta, kalau begitu silahkan bawa mereka pulang." Jelas polisi tersebut.


"Ayo anak-anak kita pulang!" Ajak Faisal saat satu persatu dari mereka keluar dari dalam sana.


"Terima kasih banyak pak faisal dan juga pak Sam!" Ucap Erris.


"Terima kasih banyak pak, dan juga kakak bidadari!" Jelas Arjuna dengan memamerkan senyuman manisnya pada Ira.


"Aku tidak minta kalian datang menjemput ku!" Cetus Bara dan langsung berlalu begitu saja.


"Bara..." Panggil Ira yang segera mengikuti langkah Bara.


"Kak..." Panggil Gibran.


"Jangan lagi cari masalah, ayo pulang!" Ajak Rival bersamaan dengan menyeret Gibran ikut bersamanya.


"Saya permisi!" Ujar Samudra yang juga bergegas pergi.


Langkah Samudra semakin cepat keluar dari kantor polisi, tangannya langsung menyeret tubuh Bara untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Lepas!" Gumam Bara tanpa beranjak dari tempatnya.


"Sam..." Ujar Ira seolah meminta Samudra untuk tidak mengusik Bara.


"Ikut abang sekarang!" Tegas Samudra.


"Aku bilang lepas!" Gumam Bara dengan tatapan mematikan.


"Ini masih kantor polisi! Kalau kalian ingin bertengkar, lakukan di tempat lain, jangan disini!" Tegas Ira.


"Aku tidak pernah meminta kalian datang untuk membebaskan aku!" Tegas Bara lalu menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Samudra.


"Plak" tangan Samudra mendarat sempurna di wajah Bara.


"Apa sudah cukup? Atau mau lanjut, tampar!" Jelas Bara.


"Sam, aku mohon berhentilah!" Pinta Ira.


"Kamu tau apa kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan? Aku membiarkan wanita sebaik Ira menikah dengan monster seperti mu!" Tegas Samudra lalu pergi dengan membawa serta Ira bersamanya.


Awalnya Ira terus mengikuti langkah Samudra hingga ke tempat dimana mobil Samudra terparkir, namun disaat Samudra memintanya untuk masuk ke dalam mobil, Ira langsung melepaskan tangannya dari genggaman Samudra.


"Apapun yang terjadi, Bara adalah suami aku. Jadi aku mohon jangan lagi membuatnya merasa serba salah! Dan juga terima kasih karena bersedia datang untuk membebaskan Bara." Jelas Ira dan segera kembali pada Bara.


Bara yang memang sudah pergi dari beberapa menit yang lalu, membuat Ira mau tidak mau segera berlari ke jalan raya untuk menyusul sang suami. Langkah Ira yang awalnya berlari bergitu cepat kini perlahan melambat saat ia berada beberapa langkah di belakang Bara yang terus berjalan menelusuri trotoar dengan kepala tertunduk ke jalanan.


"Ayo makan siang! Kakak lapar banget." Jelas Ira sambil berjalan berdampingan dengan Bara.


"Apa kakak harus ikut dengan abang mu?"


"Katanya lapar, harusnya ikut sama dia. Dia bisa membelikan kakak makan bahkan restoran sekalipun, aku bahkan tidak bawa seperser uang pun sekarang." Jelas Bara.


"Dompet kamu mana?"


"Aku titipkan sama Rival saat sebelum demo."


"Makanya jalan kaki?"


"Terus apa aku harus naik taxi tanpa uang sama sekali?"


"Jarak ke sekolah sekitar satu jam berjalan kaki deh kayaknya, kalau ke rumah, hmmmmm kurang lebih sejam setengah lah, terus apa kamu bisa sampai sebelum kamu terkulai lemah?"


"Ciiiih! Kak Ira meremehkan aku?"


"Nggak sama sekali, ya.... setidaknya, ayo kita isi tenaga lebih dulu!" Ajak Ira yang langsung menyeret Bara untuk masuk ke sebuah wartek yang memang berada di pinggir jalan.


"Benaran nih?" Tanya Bara saat keduanya telah berada tepat di depan wartek.


"Kenapa? Kamu Nggak nyaman makan di tempat seperti ini? Apa kamu mau cari restoran?"

__ADS_1


"Aku justru takut kalau kak Ira lah yang tidak nyaman, kalau aku emang sudah terbiasa dengan tempat seperti ini. Aku bukan abang Sam yang tidak bisa makan di pinggir jalan!" Jelas Bara yang langsung menyelonong masuk dan lekas mengambil makan.


"Baguslah!" Ujar Ira dan segera ikut masuk.


Setelah puas menyantap makan siang mereka, kini keduanya kembali menelusuri trotoar.


"Kak..."


"Hmmm, kanapa?"


"Bidadari...!"


"Katakan apa mau mu? Kakak sama sekali tidak butuh pujian mu itu!"


"Aku tidak sedang memuji sama sekali!" Jelas Bara lalu sedikit mendekat pada Ira.


"Kenapa? Mau naik taxi?"


"Memangnya boleh?"


"Ayo...!"


"Tapi aku masih mau berjalan kaki bersama kak Ira!' Penjelsan Bara sontak mebuat kaki Ira berhenti melangkah.


"Apa lagi yang sedang kamu rencanakan? Jangan buat kakak takut!" Jelas Ira.


"Aku hanya ingin berjalan? Apa tidak boleh?"


"Bara, jangan buat kakak merinding? Katakan, apa yang sedang kamu rancang di kepala mu itu?"


"Maaf karena mengikat kakak dalam pernikahan aneh ini!" Ujar Bara dengan tatapan yang begitu teduh.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Tanya Ira yang semakin menaruh curiga pada sikap Bara.


"Maafkan aku!" Ucap Bara bersamaan dengan tangan kirinya yang langsung merebut ponsel milik Ira yang berada di genggaman tanggan kanannya. Setelah mendapatkan ponsel milik Ira, Bara langsung memakai tenaga dalam penuh dan wussss menghilang secepat kilat dari sisi Ira.


"Bara...." Teriak Ira penuh emosi.


"Benar-benar tuh bocah! Haisssh!" Gumam Ira kesal dan mau tidak mau teyap juga harus merelakan ponsel miliknya dibawa kabur oleh Bara.


Setelah merasa bahwa Ira tidak lagi bisa menemukannya, Bara menghentikan larinya, ia segera membuka ponsel dan mencari kontak atas nama Rival dan segera menghubunginya.


"Jemput aku sekarang, aku akan mengirimkan lokasi ku." Jelas Bara.


"Bukannya ini ponsel kak Ira?" Tanya Rival dari seberang.


"Aku merampoknya, buruan gih, masih ada hal yang harus kita selesaikan!" Jelas Bara.


"Okay!" Jawab Rival dan langsung memutuskan panggilan tersebut.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2