Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Hari Pertama Ujian.


__ADS_3

Rival yang masih sibuk mengenakan seragamnya dengan mata yang berulang kali menatap kearah jam yang terpasang rapi pada dinding kamarnya, setelah selesai dengan seragam kini tangannya mulai beralih mengambil perlangkapan alat tulis memasukkannya ke dalam ransel lalu kembali bercermin.


"Waaah makin tampan aja!" Ujar Rival dengan senyuman full saat memuji dirinya sendiri.


Lain halnya dengan Rival, Bara justru terlihat begitu santai, ia masih berdiri di depan cermin dengan kedua tangan yang sibuk memasang kancing bajunya satu persatu, namun pandangannya terus tertuju pada pantulan dirinya yang ada di cermin.


"Sepertinya aura papa muda mulai terlihat nih! Wuiiiih!" Cetus Bara dengan tersenyum lebar.


"Mau sampai kapan ngaca? Buruan!" Ajak Rival yang baru saja muncul dari balik pintu kamar sana.


"Baru juga jam 7.30 masih sisa 30 menit lagi loh!" Jawab Bara lalu beralih merapikan rambutnya.


"Kalau kena macet gimana? Terus kita juga belum sarapan, jadi mending buruan sebelum mama sama kakak mulai main siraman rohani, bakal lebar urusannya nanti, buruan!" Jelas Rival yang langsung nyelonong masuk lalu menarik Bara keluar dari kamar.


"Tas aku ketinggalan!" Jelas Bara yang langsung membuat Rival kembali lalu mengambil tas Bara.


"Ayo!" Ajak Rival lalu keduanya buru-buru menuruni tangga dan segera ke meja makan.


"Ayo sarapan dulu!" Ajak Syakil yang sedang menikmati nasi gorengnya.


"Duduk gih!" Pinta Ira lalu menarik dua kursi yang langsung diisi oleh Rival dan Bara.


"Hari ini mata pelajaran apa?" Tanya Luna.


"Kimia" Jawab Bara bersamaan dengan Rival yang malah memberikan jawaban "Bahasa Inggris."


"Yang benar yang mana?" Tanya Ira dengan mata yang langsung mengintimidasi keduanya secara bergantian.


"Rival, Bara, kalian nggak salah jadwal kan?" Tanya Luna memastikan.


"Bahasa Inggris loh, Bar. Kamu nggak lihat jadwal?" Jelas Rival.


"Aku lihat, mata pelajaran hari ini ya Kimia." Jelas Bara.


"Coba cek ulang, jangan sampai kalian justru sama-sama salah!" Jelas Syakil.


Rival dan Bara segera mengambil ponsel mereka lalu segera mengecek ulang jadwal ujian yang dikirim di group kelas.


"Matematika." Jawab keduanya serentak.


"Dasar! Makanya punya mata tuh di pasang, digunakan dengan baik, awas aja kalau sampai gagal bakal kakak begal kalian berdua." Jelas Ira dengan penuh penekanan.


"Ira, tenang dulu, jangan langsung merepet nggak jelas." Pinta Syakil.


"Habis ulah mereka ada-ada aja pa, nggak ada yang beres semuanya berantakan, mau jadi apa coba nantinya!" Jelas Ira yang masih terlihat jelas begitu kesal.


"Jaksa." Jawab Bara bersamaan dengan Rival yang dengan lantang menajwab "Hakim."


"Ciiiih! Cita-cita selangit kerjaannya buat onar dimana-mana." Cetus Ira.


"Ira, kenapa jadi kesal nggak jelas sih, lagi pula mama rasa mereka bakal sukses menggapai cita-cita mereka kok, iya kan pa?" Jelas Luna.

__ADS_1


"Hmmm, udah Ra, tenang aja, adek dan suami mu ini cowok yang tangguh loh, kamu tenang aja, mereka pasti akan lulus dengan nilai tinggi, iya kan Val, Bar." Jelas Syakil.


"Pastinya pa!" Jawab keduanya serentak dengan penuh semangat.


"Kami pamit, assalamualaikum pa, ma dan juga kakak tersayang." Ujar Rival setelah menyalami satu persatu dari ketiga orang tersebut.


"Aku juga pamit pa, ma." Ujar Bara dengan senyuman.


Setelah pamitan pada Luna dan Syakil, Perlahan Bara mendekati Ira mencium lembut kening sang istri lalu mengusap pelan rambutnya.


"Tenang aja, aku pasti menjawab semua soal dengan benar, doakan aku, love you sayang!" Ujar Bara dengn suara pelan dan segera berlari menyusul Rival yang telah lebih dulu keluar.


"Masih berdiri aja, nggak ada rencana ngantarin suami sampai ke depan gituh!" Goda Luna.


"Males ah!" Cetus Ira.


"Hati-hati loh, kalau nggak dijaga dengan baik dirawat penuh manja ntar di tikung sama gadis SMA loh!" Syakil malah semakin menggoda.


Ucapan Syakil bak sihir yang langsung membuat Ira berlari menuju pintu depan.


"Hati-hati sayang, jangan lari-lari!" Seru Luna mengingatkan.


"Nggak mama nggak anak, kalau soal ditikung langsung melucur! Padahal lagi hamil, haduhh jadi ingat pas mama hamil Rival dulu." Ujar Syakil dengan senyuman saat melihat tingkah Ira barusan yang justru foto copy dari ibu sambungnya tersebut.


"Mana ada sih pa, istri yang bakal diam aja kalau perkara pelakor." Jelas Luna.


"Iya, iya, papa paham." Ujar Syakil dengan senyuman.


Ira yang baru sampai diteras segera keluar menghampiri Bara yang kini berada diatas motornya, Bara dan Rival siap untuk berangkat.


"Jagain Bara baik-baik." Pesan Ira dengan wajah ketus.


"Kakak tenang aja, suami kakak ini mafia jadi nggak bakal ada yang ngapa-ngapain dia, tenang aja nggak bakal ada yang berani menghantam dia kecuali aku." Jelas Rival.


"Maksud kakak jagain dari para gadis-gadis di sekolah kalian!" Jelas Ira yang sontak membuat Rival dan Bara tertawa terbahak-bahak.


"Kamu cemburu?" Goda Bara yang bahkan membuka helmnya.


"Nggak! Ini peringatan!" Tegas Ira.


"Ya kalau cemburu, bilang aja cemburu, kenapa harus bohong segala sih?" Ujar Rival.


"Adek mana paham sama perasaan ibu hamil, emangnya adek pernah hamil apa?" Jelas Ira.


"Ups...!" Ujar Rival.


"Ra, kamu tenang aja, aku nggak bakalan tergoda sama gadis manapun kok, karena aku sudah tergila-gila sama kamu, sana gih masuk dan istirahat, jaga anak kita baik-baik, love you." Jelas Bara sambil menyentuh rambut Ira.


"Kamu nggak pakek jilbab?" Tanya Bara yang akhirnya sadar bahwa Ira keluar tanpa jilbab.


"Haissssshhh!" Seru Ira yang juga baru menyadarinya dan segera berlari masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Cemburu emang kadang-kadang bikin orang lupa ingatan, seumur-umur baru kali ini aku lihat kakak sebucin ini." Ujar Rival.


"Kamu lihat kan betapa dahsyatnya pesona Bara Pradipta?" Ujar Bara sombong.


"Ciiih! Buruan ntar telat!" Cetus Rival.


"Oke, lets go!" Seru Bara yang kembali memakai helm dan lekas pergi.


______


"Apaan sih soalnya? Guru kadang ngada-ngada kerjaannya, masak iya soal sebegitu parah, seribu kali di diagnosis tetap aja nggak bisa di mengerti!" Jelas Gibran yang terlihat begitu kesal.


Tangan Gibran bahkan berulang kali memukul jok motornya. Saat ini ketiga sahabat itu berada diarea perkiran setelah selesai mengikuti ujian dihari pertama mereka.


"Kayaknya nggak separah itu lah penyakitnya matematika, cuman flu biasa, corat sana coret sini juga dapat hasilnya." Jelas Bara santai.


"Itu otak lo, beda kelas sama otak kami!" Jelas Ratu yang ikut nimbrung entah dari mana datangnya.


"Udah deh nggak usah bahas lagi, bikin punyeng nih pala! Ayo!" Cetus Rival.


"Kemana?" Tanya Ratu, Bara dan Gibran serentak.


"Jalan, cari udara segar!" Jelas Rival.


"Rival..." Ujar Alea.


"Hai Lea!" Sapa Gibran dengan senyuman.


"Hai! Hmmm, aku boleh pinjam Rival sebentar nggak?" Tanya Alea.


"Ahhhh! Silahkan, lama pun nggak masalah, pakek aja sampai puas!" Jelas Gibran.


"Kalau gitu kami duluan, ayo Bara, Gibram!" Ajak Ratu yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Kami duluan!" Jelas Gibran lalu naik ke motornya.


"Kalau gitu, aku titip Rival ya, tolong diantar pulang, bye..." Seru Bara dan lekas pergi.


"Terima kasih!" Ujar Alea dengan senyuman.


Setelah ketiga pergi, Alea mendekat pada Rival lalu perlahan menyentuh tangan kanan Rival.


"Ayo!" Ajak Alea.


"Lea, hmmmm, ayo duduk dulu!" Ajak Rival lalu menarik tangannya pelan dari genggaman Alea.


Rival segera duduk pada tembok pembatas antara taman bunga dengan perkiran, perlahan Alea menyusul dan duduk disamping Rival.


"Apa ini tentang pernyataan cinta ku?" Tanya Alea.


"Hmmm, sebelumnya...." Jelas Rival terhenti karena langsung diselip oleh Alea.

__ADS_1


"Cukup! Jangan dilanjutkan lagi, aku....!" Tegas Alea.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2