Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Terbayang-bayang.


__ADS_3

Semenjak berangkat dari rumah tadi Bara terus saja bersiul riang dengan senyum yang terus merekah di wajahnya, sepanjang perjalanan ia benar-benar begitu menikmatinya bahkan setelah memarkirkan motornya di parkiran sekolah ia masih saja bersenandung riang. Kaki panjangnya terus menelusuri  sepanjang koridor menuju ruang kelasnya bahkan dengan sesekali berjalan sambil menari riang larut dalam kebahagiaan di dunianya sendiri.


"Kau, bidadari ku,


malaikat hati ku,


Yang selalu membuat aku


Menjadi tenang dan damai


Saat dunia mengamuk,


Mengacuhkan ku


Kau datang melukiskan pelangi


Dalam badai ku...


Wooooooo


Shalala lalala


Dududududu


Nanaaaa nan nanaaaa"


Bara terus bernyanyi riang dengan kedua tangan yang sibuk menyibakkan poninya agar berdiri tegak memamerkan dahi paripurna miliknya.


"Girang bener? Mimpi apa semalam?" Tanya Gibran yang sejak tadi membututi Bara dari belakang.


Gibran langsung merangkul bahu Bara lalu berjalan beriringan.


"Mimpi indaaaaaah banget, sampai-sampai masih terbayang-bayang hingga sekarang!" Jelas Bara dengan wajah yang tidak berhenti tersenyum.


"Waaaaah jangan bilang mimpi bertemu dengan bidadari!" Jelas Gibran.


"Iyap, benar banget! Seratus persen ori, aku jumpa bidadari dan parahnya aku wussssssh!" Jelas Bara.


"Nggak asik, apa sih yang terjadi? Jangan bilang kamu meluk dia atau....?" Tanya Gibran yang bahkan menghentikan langkahnya.


"Plaaaak." Tangan Rival mendarat di kepala Gibran dan Bara secara bergantian.


"Dasar! Ini sekolah, bukan tempat bahas mimpi, buruan gih masuk, ntar telat!" Jelas Rival yang bergegas menuju ke kelas.


"Loh Bara, tumben hari ini datang awal biasanya juga setengah jam pelajaran baru nongol!" Cetus Devi cewek yang duduk tepat disamping Gibran dan juga kerap kali satu kelompok dengan mereka saat tugas kelompok.


"Tau nih Dev, kesambet bidadari kali!" Cetus Gibran.


"Waaah! Bagus dong, sering-sering aja kesambet biar aku nggak ribet menjadi tameng kamu saat datang telat!" Jelas Devi yang memang selalu menjadi penghalang antara pandangan guru dengan kursi Bara karena Devi duduk tepat di depan Bara.


"Untuk hari ini aku maafkan apapun kesalahan kalian, terserah mau bilang apa tentang aku, aku nggak bakal marah karena hati aku sedang berbunga-bunga!" Jelas Bara.

__ADS_1


"Ciiiiih!" Cetus Gibran dan lekas masuk ke dalam kelas karena memang mereka sudah sampai tepat di ruang kelas mereka.


"Nanti ulangan Kimia bagi ya!" Cetus Devi sambil mengedipkan matanya pada Bara lalu masuk ke dalam kelas.


Bara juga segera duduk di kursinya, semua siswa silih berganti datang memenuhi ruangan kelas dan guru pun masuk. Pelajaran pun dimulai, suasana tenang dan damai hingga jam pelajaran berakhir.


"Aku mau ngomong!" Jelas Ratu yang berdiri tepat di samping Bara.


"Silahkan!" Ujar Bara setelah menutup buku pelajarannya karena memang saat ini sudah jam istirahat.


"Aku tunggu di tempat biasa!" Jelas Ratu dan hendak pergi lebih dulu.


"Ratu, hari ini aku sedang tidak punya tenaga untuk ke atap sekolah kita ke kantin aja, ayo!" Ajak Bara yang bahkan langsung pergi ke kanti.


"Ratu...." Panggil Rival karena mendapati Ratu yang terlihat mulai marah.


"Sepertinya aku mulai membenci teman mu itu!" Tegas Ratu dan kembali ke kursinya lalu merebahkan wajahnya ke atas meja.


"Apa mereka benar-benar putus?" Tanya Gibran.


"Ntah lah! Aku juga nggak tau pastinya gimana!" Jelas Rival.


"Kamu tenangkan Ratu biar aku yang susul Bara." Jelas Gibran dan lekas pergi menyusul Bara.


Sejenak menghela nafas kasar perlahan Rival mendekat ke meja Ratu lalu duduk di sebelahnya karena memang saat ini di dalam kelas hanya tersisa mereka berdua sedangkan siswa lainnya sudah keluar sejak tadi.


"Jangan hibur aku! Aku lagi hancur saat ini, aku butuh waktu sendiri." Tegas Ratu.


"Aku hanya akan duduk dan berdiam diri di sini, aku nggak akan mengganggu kamu." Jelas Rival.


"Sama sekali tidak!"


"Jangan mencoba untuk menghibur ku!"


"Aku serius! Ratu, jangan buang air mata mu untuk menangisi cowok seperti Bara, sekarang yang harus kamu lakukan adalah mencari cowok yang lebih baik dari Bara." Jelas Rival.


"Apa aku harus mengikuti saran mu?" Tanya Ratu dengan tatapan kebingungan.


"Wajib!" Tegas Rival.


"Tapi aku masih sangat mencintainya!" Tegas Ratu dengan tetesan air mata.


"Benci dia, buang semua rasa cinta mu untuk dia, lupakan dia!" Tegas Rival lalu perlahan mengusap air mata Ratu.


"Apa aku bisa melakukannya?" Tanya Ratu.


"Hmmmm, kamu bisa! Kamu kan Ratu, wanita hebat, baik dan juga paling cantik!" Jelas Rival dengan memasang senyuman teduhnya yang sukses menyihir perasaan Ratu yang awalnya sedih kini mulai tersenyum kembali.


"Nah gitu dong, senyum. Ayo ke kanti, kita cari makan, aku lapar!" Sambung Rival setelah memerhatikan senyuman yang perlahan muncul di wajah Ratu.


"Hmmm, ayo!" Ujar Ratu lalu perlahan bangun dari kursinya.

__ADS_1


Keduanya segera menuju ke kantin.


___________


"Aku suka, aku suka melakukannya dengan kakak! Jujur ini bukanlah ciuman pertama aku, tapi kali ini rasanya beda, apa karena kita sudah halal? Aku juga yakin kalau ini bukan ciuman pertama kakak kan?" Tanya Bara setelah berhasil meluncurkan aksinya.


"Mungkin bagi kamu ini adalah untuk ke yang sekian kalinya, tapi buat kakak, ini adalah pertama kalinya. Haaaah, kamu pasti akan mengatakan kalau kakak ini kolot kan? Kurang pergaulan, norak dan kampungan, tapi ini adalah prinsip kakak sejak remaja dulu, tidak melewati batas apapun meski berstatus sebagai pacar. Karena pacaran bukanlah hubungan yang menghalalkan yang bukan mahram saling bersentuhan, meski pada dasarnya pacaran itu hukumnya haram dan kakak tetap melakukannya, tapi setidaknya kakak tidak terus menambah dosa dengan membiarkan diri kakak di sentuh oleh para lelaki." Jelas Ira.


"Kak...." Ujar Bara.


"Iya kakak tau, kalau kakak norak, nggak gaul! Yah mau gimana lagi, kakak nggak mau...."


"Kak, terima kasih sudah menjaga semuanya untuk aku, terima kasih banyak my sunshine karena menjadikan aku orang pertama menyentuh kak Ira!" Jelas Bara yang langsung memeluk erat tubuh Ira.


Bayang-bayang tentang kejadian semalam seakan terus berputar ulang dalam ingatan Ira, membuat dirinya tidak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri, bahkan dia mengabaikan tumpukan pekerjaannya, dia begitu larut dalam ingatannya.


"Khmmmmmmm!" Seru Resi yang berdiri diambang pintu sana.


Suara Resi sama sekali tidak berefek pada Ira, dia masih saja larut dalam dunia bucinnya.


"Ya ampun si pengantin baru, serius amat lamunannya!" Seru Resi sambil terus melangkah mendekati meja Ira.


"Buuuuk!" Tangan Resi memukul meja dan akhirnya Ira menyadari kedatangan Resi.


"Resi, ada apa?" Tanya Ira.


"Ada apa? Waaaaah suara aku udah habis sejak tadi ngomong sendiri, lah yang diajak ngomong malah asyik dalam dunianya sendiri!" Cetus Resi.


"Emang iya? perasaan kamu nggak ngomong apapun!" Cetus Ira membela diri.


"Makanya jangan pakek perasaan! Apa sih yang kamu lamunkan? Jangan-jangan...." Ujar Resi.


"Apa?" Tanya Ira.


"Apa teman ku sudah tidak perawan lagi?" Tanya Resi yang langsung mendapat pukulan dari Ira.


"Mulut! Bara masih bocah, iya kali kami... Udah ah kenapa kamu kesini?" Tanya Ira mengalihkan pembicaraan.


"Aku kesini buat apa? Noh tengok jam! Yok pulang!" Jelas Resi.


"Apa?  Udah jam lima? Waaah ayo pulang!" Ajak Ira yang buru-buru pulang.


"Kan buru-buru, tadi aja asyik ngelamun." Jelas Resi.


"Aku mau nonton Bara latihan!" Jelas Ira.


"Latihan? Aku ikut!" Jelas Resi.


"Ngapain?" Tanya Ira yang mulai curiga.


"Mau ketemuan sama ayang ValVal, ayo!" Jelas Resi yang bahkan sudah lebih dulu keluar dan lekas menuju mobil di parkiran.

__ADS_1


"Benar-benar nggak bisa dibiarkan, gimana kalau adek malah kepincut  sama tuh mak lampir, nggak kebayang deh nasib papa sama mama, punya mantu satu tua satu ABG! Huffff!" Gumam Ira sambil terus mengikuti Resi menuju parkiran.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2