Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Ira_Resi


__ADS_3

"Belok kiri!" Perintah Samudra.


Sejak beberapa menit yang lalu keduanya hanya diam membisu dan tiba-tiba Samudra memberi perintah membuat Alea tersentak kaget namun pada menit selanjutnya ia langsung melaksanakan apa yang Samudra minta. Perlahan mobil Alea belok ke arah kiri lalu berhenti tepat di depan sebuah hotel mewah membuat Alea seketika menatap kearah Samudra.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku masih waras, terus jalan, di ujung depan jalan ada restauran enak." Jelas Samudra yang paham betul dengan apa yang sedang Alea pikiran saat melihat hotel tersebut.


Alea tidak memberi komentar apapun, ia kembali menjalankan mobilnya sesuai perintah, hingga akhirnya mobil Alea masuk kearea parkiran restauran yang Samudra maksud.


"Ayo!" Ajak Samudra yang langsung keluar dari mobil.


Alea pun ikut keluar, Samudra perlahan melangkah menghampiri Alea.


"Apa masih ingin terus berdiri disini?" Tanya Samudra.


"Abang Sam..." Panggil Alea yang sukses membuat langkah Samudra terhenti lalu kembali menoleh kearah Alea.


"Jika semua ini abang lakukan untuk menjadikan aku sebagai alat, maaf aku nggak bisa, Bara itu sahabat baik aku dan kak Ira itu orang yang baik. Maaf aku pulang!" Tegas Alea dengan agak sedikit ragu.


"Apa aku terlihat semengerikan itu?" Tanya Samudra dengan langsung menarik lengan Alea lalu menatap matanya dalam.


"Apa aku terlihat seperti monster di mata kalian semua? Okay, aku memang pernah berniat merebut kembali Ira dari Bara, dan aku nggak tau kabar seperti apa yang kalian dengar, haissssshhh! Lagi pula kenapa aku harus menjelaskan tentang diri aku sama bocah seperti mu, pulanglah!" Jelas Samudra yang terlihat jelas begitu frustasi.


Samudra segera melangkah meninggalkan Alea begitu saja, ia langsung menuju jalan untuk menemukan taxi dan pulang.


"Maaf" Pinta Alea setelah berhasil mengejar Samudra.


"Aku lapar! Apa abang tidak jadi mentraktir aku?" Tanya Alea.


"Pulanglah! Aku tidak ingin membuat mu tidak nyaman dengan berada disisi aku!" Jelas Samudra yang langsung menyetop taxi dan langsung pergi begitu saja.


"Apa tadi ucapan ku begitu kasar? Apa aku menyakiti hatinya? Lea, harusnya kamu bisa mengendalikan diri mu, dasar ceroboh!" Gumam Alea memarahi dirinya sendiri dan bergegas kembali ke mobil lalu memutuskan untuk mengembalikan ponsel milik Bara.


________


"Yesssss!" Teriak Gibran penuh semangat.


"Yeeeeee!" Gibran kembali berteriak girang dan tidak henti-henti menatap kertas pengumuman yang tertempel rapi di mading sekolah, tangannya bahkan terus mengelus tulisan nama dirinya.


"Biasa aja kali! Toh semua siswa lulus!" Cetus Safia.


"Tapi ini beda, beda banget, coba lihat nama aku terketik rapi disana." Jelas Gibran.


"Lalu kamu pikir nama aku terketik berantakan!" Cetus Bara yang langsung menabok kepala Gibran.


"Ciiiih!" Gumam Gibran kesal.


"Tinggal satu pengumuman lagi!" Ujar Rival dengan menghela nafas lega.


"Udah tenang kita pasti akan lulus!" Jelas Alea penuh percaya diri.


"Ayo kita rayakan kelulusan kita." Ajak Ratu semangat.


"Sorry, aku udah ada janji." Jelas Alea yang sontak membuat yang lainnya kaget.

__ADS_1


"Janji?" Ulang Bara.


"Hmmmm!" Tegas Alea.


"Dengan siapa?" Tanya Rival kepo.


"Apa kamu pacaran? Dengan siapa? Aku ikut!" Tegas Gibran.


"Aku juga ikut!" Tegas Safia.


"Kalian apaan sih! Aku, aku ada janji sama papa!" Jelas Alea.


"Cie cie cie....! Udah ngaku aja!" Goda Ratu.


"Udah ah, aku duluan!" Tegas Alea.


"Nggak iya nih, aku ikut..." Jelas Gibran.


"Dasar nggak peka!" Tegas Bara yang langsung menarik tubuh Gibran yang hendak menyusul kepergian Alea.


"Awwww sakit!" Keluh Gibran saat tangan Ratu dan Safia bersamaan menghantam bahu kiri dan kanannya.


"Dasar sahabat syaitan!" Gumam Rival.


"Kalau aku syaitan lalu kalian apa? Ciiih!" Cetus Gibran.


"Ayo ikut aku!" Ajak Bara.


"Kemana?" Tanya Ratu penuh semangat.


"Dasar!" Cetus Ratu dan segera ikut begitu juga dengan Alea, kelimanya segera meluncur menuju gedung yang nantinya akan digunakan untuk acara pernikahan Ira dan Bara.


__________


Di kamar Ira sana, tepatnya di atas tempat tidur, ada Ira yang sedang berbaring dengan kepala kearah barat lalu di sampingnya ada Resi yang berbaring dengan kepala kearah timur, keduanya terlihat begitu lelah setelah tadi pulang dari butik untuk fitting baju pengantin.


"Rasanya bagaikan mimpi!" Ujar Ira pelan.


"Hmmmm, bagai mimpi indah yang semenjak dulu aku mimpikan di setiap malam lelah ku!" Jelas Resi.


"Apa kamu begitu menyukai adek?" Tanya Ira.


"Hmmmm, sejak dulu aku sangat menyukai Rival, dia memang tidak melakukan apa-apa namun ntah mengapa hati aku terus menggila sejak pertama melihatnya saat menjemput kamu di rumah ku, rasanya semua kriteria cowok idaman ku ada pada sosok Rival. Bukankah kamu juga begitu?" Jelas Resi.


"Aku? Nggak sama sekali!" Tegas Ira.


"Bohong! Aku tau semuanya Ra, cowok yang kamu ceritakan setiap hari dan malam itu adalah Bara, cowok yang kamu chat sampai tengah malam itu juga Bara dan aku juga tau tentang stik drum yang kamu beli dengan susah payah itu juga untuk Bara kan? Kamu bahkan lebih gila dari aku!" Jelas Resi.


"Ciiih! Itu namanya usaha bukan gila, dan hasilnya, bahkan lebih dari usaha dan perjuangan aku, aku mendapatkan dia seutuhnya, cinta, sayang, perhatian dan segela hal yang dia punya sekarang adalah milik aku." Jelas Ira.


"Iya iya, bahkan tubuhnya pun telah menjadi milik mu!" Cetus Resi ngasal dan langsung mendapat cubitan pada pinggangnya.


"Dasar mulut, mesum!" Cetus Ira.

__ADS_1


"Loh, aku benar dong, kalau nggak gimana caranya kamu sampai hamil!" Goda Resi.


"Benar-benar nih kang mesum." Ujar Ira yang kembali menyerang Resi.


"Ra, ada yang ingin aku tanyakan!" Ujar Resi yang tiba-tiba berubah menjadi begitu serius.


"Tentang apa?" Tanya Ira.


"Aku serius!" Jelas Resi.


"Iya, aku juga serius? Tanyakan!" Jelas Ira yang perlahan bangun lalu duduk menghadap kearah Resi.


Resi ikut bangun, lalu perlahan tanganya menyentuh kedua tangan Ira, Resi menatap dalam mata Ira, ia terlihat sangat serius.


"Jangan buat aku takut, apa yang ingin kamu tanyakan? Apa ini tentang adek?" Tanya Ira yang mulai khawatir.


"Buka tentang Rival." Jawab Resi.


"Lalu? Cepat bicara jangan buat aku tambah khawatir!" Pinta Ira yang perlahan mengusap tangan Resi yang sedang menggenggam tangannya.


"Tapi tolong dijawab dengan jujur, janji!" Pinta Resi.


"Iya, aku akan menjawabnya dengan jujur, apa? Katakan!" Jelas Ira.


"Soal, hmmmm..." Jelas Resi yang kembali tertahan.


"Re, buruan ngomong!" Pinta Ira.


"Berapa kali kalian melakukannya dalam semalam?" Tanya Resi dengan senyuman penuh mesum ia bahkan mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar...." Gumam Ira penuh emosi ia bahkan langsung menabok kepala Resi.


Ekspresi Ira yang kalang kabut membuat Resi tertawa puas karena berhasil menggoda sahabatnya tersebut.


"Dasar, awas aja ya..." Cetus Ira yang kembali memukul bahu Resi hingga beberapa kali.


"Ya kan aku penasaran!" Jelas Resi.


"Diam! Sedikit aja kamu ngomong bakal aku tarik lidah mu keluar!" Gumam Ira yang benar-benar begitu kesal.


"Loh! Ibu hamil nggak boleh galak-galak loh, ntar di tiru sama cabang bayi!" Jelas Resi.


"Berhenti bicara! Udah pulang gih sana, pulang, pulang!" Cetus Ira kesal.


"Kalau ngambek aura cantiknya makin bertambah loh bumil!" Jelas Resi yang merasa begitu puas bisa menggoda sahabatnya tersebut.


"Ciiiih!" Cetus Ira lalu perlahan memeluk tubuh Resi.


"Re, tolong jaga adek aku dengan baik, tolong jangan sakiti dia, karena aku akan ikut terluka jika dia tidak bahagia." Penjelasan Ira yang tiba-tiba membuat Resi mematung sempurna.


"Re..." Ujar Ira karena tidak mendapat respon apapun dari Resi.


"Bagaimana bisa aku menyakitinya, melihat dia tersakiti justru membuat aku lebih sakit lagi, aku janji aku bakal jagain Rival di sepanjang usia ku, aku akan mencintaimu dan membahagiakan dia selamanya." Tegas Resi.

__ADS_1


"Makasih Re, terima kasih banyak sahabat terbaikku!" Ujar Ira penuh rasa bahagia.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2