Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Penyambutan atau Perayaan??


__ADS_3

Setelah Dimas dan Bayu mengambil tempat di kursi paling ujung, Resi pun segera bertindak ia sama sekali tidak ingin kalah telak dari sahabat senadinya itu, sebelum Ira mengisi kursi kosong yang ada di sebelah Rival, Resi buru-buru mengisinya. Ira dan Samudra masih mematung dengan terus menatap ketiga sahabatnya yang telah lebih dulu bergabung di meja makan.


"Ayo duduk sini!" Ajak Faisal yang bahkan menarik kursi yang ada di sebelahnya.


"Duduk kak!" Pinta Rival yang bahkan langsung bangun lalu menarik tangan Ira untuk duduk di kursinya.


Ira hanya menurut tanpa mengajukan protes sama sekali sedang Resi jelas terlihat kesal karena Rival akhirnya pindah ke kursi yang ada di ujung sana.


"Silahkan duduk pak!" Ulang Faisal sambil menoleh pada Samudra, karena target utamanya Ira kini telah duduk di sebelah Bara.


"Terima kasih!" Ucap Samudra yang kemudian duduk di sebelah Faisal tepatnya di depan Bara.


Faisal kembali memanggil pelayan lalu Ira dan juga teman-temannya mulai memesan makanan dan minuman untuk diri mereka masing-masing.


"Kenapa harus di sini sih? Kan gagal lagi aku curi-curi kesempatan sama ayang ValVal aku!" Bisik Resi pelan dengan menatap tajam pada Ira.


"Tak akan aku biarkan kamu menistakan kepolosan adik aku tersayang!' Cetus Ira pelan sambil membalas tatapan tajam sang sahabat.


"Kak, kami menang loh!" Seru Gibran sambil memperlihatkan mendalinya padanya Ira, karena memang Gibran duduk tepat di hadapan Ira.


"Selamat! Ntar kadonya nyusul ya!" Ujar Ira dengan senyuman bahkan dengan tangan yang menyentuh lembut mendali yang ada di tangannya Gibran.


*Terus kado buat aku?" Tanya Rival.


"Iya kamu juga!" Jawab Ira.


"Buat Bara juga loh kak!" Jelas Rival.


"Kami juga!" Protes Azka yang juga merupakan tim sepak bola tersebut.


"Ok! Buat kalian semuanya, satu tim!" Jelas Ira.


"Yeeeeeee!" Sorak yang lainnya dengan begitu gembira.


"Jadi ingat masa SMA dulu!" Ujar Dimas.


"Iya, huffff nggak terasa ternyata kita udah tua!" Ujar Bayu.


"Sadar juga ternyata! Makanya tingkahnya itu udah bisa di ubah, jangan kayak anak kecil mulu!" Cetus Resi.


Pernyataan Resi sukses membuat para tim sepak bola tertawa, tak terkecuali Bara yang sejak tadi diam sambil menikmati makanannya kini juga ikut tertawa.


"Gimana sekolah kamu?" Tanya Samudra sambil menatap kearah Bara.


"Bara merupakan siswa pintar di sekolah kami, bukan hanya unggul di bidang olah raga dan musik tapi juga ahli dalam semua mata pelajaran!" Jelas Faisal. Karena sejak dulu Faisal tau bahwa hubungan antara kedua saudara tersebut tidaklah akur, karena saat Bara bermasalah di sekolah Samudra selalu datang dan meminta pihak sekolah menghukum Bara tanpa lebih dulu mendengarkan penjelasan Bara maupun pihak sekolah.

__ADS_1


"Apa benar seperti itu?" Tanya Samudra memastikan kali ini bahkan dia menatap intens pada Bara hingga membuat teman-teman Bara ikut terdiam seketika.


"Aku belajar ataupun tidak itu nggak ada hubungannya sama abang. Lagi pula aku sama sekali tidak pernah menyeret nama abang dalam hidup aku!" Tegas Bara lalu kembali melanjutkan makannya.


"Bara!" Gumam Samudra yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Sam, pesanan mu datang, buruan makan!" Seru Bayu saat pelayan membawa pesanan mereka.


"Ayo mari makan!" Ajak Faisal memcoba mencairkan suasana yang sempat begitu menegangkan


Mata Bara terus saja menatap makanan yang ada di piringnya, dengan tatapan yang begitu penuh kesal, seakan makanan tersebut sedang menerima pelampiasan atas perlakuan Samudra terhadap Bara, tangan kiri yang terus mencengkram celana pada bagian paha kirinya, terlihat jelas ia sedang menahan marahnya.


Pelan-pelan Ira melirik kearah Bara, sejenak memerhatikan keadaan Bara hingga akhirnya ia berinisiatif untuk mengalihkan suasana perang dingin antara kedua putra bosnya tersebut.


"Selamat datang kembali ke kantor, Bayu! Semoga tumpukan kerjaan mu segera kamu selesaikan dengan cepat!" Seru Ira sambil tersenyum kearah Bayu.


"Tenang, kan ada kamu yang bakal bantuin aku, jadi bakal cepat nyusut tuh tumpukan!" Cetus Bayu.


"Ciiih! Kerjaan kamu kok malah Ira yang harus tanggung jawab? Selesaiin sendiri!"" Cetus Resi.


"Jangan melirik aku! Aku tidak punya tenaga dan waktu luang untuk menolong mu! Selamat kembali ke medan tempur!" Jelas Dimas saat mendapati Bayu yang menatap penuh harap padanya.


"Selamat datang kembali?" Ujar Samudra.


"Kamu juga tau!" Cetus Bayu lalu melanjutkan makannya.


"Sebenarnya ini pesta penyambutan kembali ke kantor atau perayaan atas kemenangan kita sih?" Cetus Bara yang langsung mengambil ranselnya lalu pergi.


"Bara tunggu!" Pinta Faisal namun Bara sama sekali tidak peduli ia tetap melangkah keluar restauran tersebut.


"Biar aku yang nyusul Bara, pak!" Ujar Gibran.


"Aku aja, ayo kak!" Jelas Rival yang bahkan tanpa menunggu persetujuan Ira, ia langsung menarik sang kakak untuk ikut bersamanya.


"Aku duluan ya, sampai jumpa di kantor besok!" Seru Ira dan lekas pergi bersama Rival.


"Yah aku malah di tinggal!" Cetus Resi kesal.


"Lanjutkan makan kalian, aku permisi, dan Bayu tolong bayar semua makanan yang ada dimeja ini." Jelas Samudra.


"Siap bos, toh black card kamu aku yang pegang!" Jelas Bayu.


"Ayo lanjutkan lagi makannya!" Jelas Dimas saat Samudra telah pergi.


Dan semuanya kembali melanjutkan acara makan-makan mereka, meski awalnya Faisal tidak nyaman dengan kepergian Ira, namun ia segera menutupi perasaannya tersebut, ia tidak ingin murid yang lainnya tidak menikmati pesta perayaan atas kemenangan mereka.

__ADS_1


___________________


Saat Rival dan Ira berada di parkiran, Bara sudah siap diatas motor kesayangannya.


"Aku duluan!" Ujar Bara yang langsung menyalakan mesin motornya.


"Terus aku pulangnya gimana? Aku kan nebeng di motor kamu tadi!" Jelas Rival.


"Kan kak Ira bawa mobil!" Jelas Bara.


"Kuncinya sama Resi, soalnya tadi dia yang nyetir!" Jelas Ira.


"Ya udah kalian barengan aja, aku naik taxsi!" Jelas Rival yang langsung keluar ke jalan.


"Naik!" Titah Bara.


"Kakak?" Tanya Ira memastikan.


"Lalu? Apa ada manusia selain kak Ira disini sekarang?" Tanya Bara.


"Kakak juga naik taxsi aja!" Jawab Ira.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan, buruan! Naik!" Perintah Bara kali ini dengan nada tegas.


Mau tak mau akhirnya Ira nurut, dia hanya tidak ingin nantinya Bara malah semakin memperkeruh keadaan.


Setelah Ira ikut naik, Bara langsung tancap gas meninggalkan lokasi restauran tersebut.


Sedangkan Rival masih saja menunggu taxsi di tepi jelan tepatnya di sisi kanan restauran, hingga suara klakson mobil membuatnya menoleh kearah mobil putih yang baru saja berhenti tepat di hadapannya.


"Ira mana?" Tanya Samudra dari dalam mobil.


"Kak Ira udah pulang duluan!" Jawab Rival.


"Naik taxsi? Terus kamu kenapa nggak barengan?" Tanya Samudra.


"Ah, hmmmmm, kak Ira langsung pulang sedangkan aku mau ngejar Bara, makanya kami pisah!" Bohong Rival.


"Mau abang antar?" Tawar Samudra.


"Tidak terima kasih, soalnya aku harus nyusul Bara dulu." Jelas Rival.


"Kenapa harus menyusulnya? Apa dia begitu penting?" Tanya Samudra.


"Iya, dia sangat penting, permisi!" Jelas Rival dan lekas pergi begitu saja.

__ADS_1


"Dasar remaja, masih saja tidak paham mana yang lebih penting untuk hidupnya. Ahhh kalian berteman dekat, pastinya sifat kalian tidak jauh beda, yang ada di kepala kalian main, dan main saja." Cetus Samudra dan langsung meninggalkan tempat tersebut.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2