
"Kalian nggak ada yang terluka kan?" Tanya Bara memastikan.
Bara yang baru sampai di lokasi langsung turun dari motor yang sejak tadi dibonceng oleh Rival. Langkah Bara sedikit dipercepat untuk menghampiri para siswa lainnya yang sedang berkumpul di markas milik Bara.
"Kami okay, kalian gimana? Erris dan Arjuna kenapa nggak bareng sama kalian?" Tanya salah satu siswa yang satu sekolah dengan Arjuna.
"Mereka bareng pak Faisal, wali kelas kami, bisa jadi saat ini mereka sudah diantar pulang." Jelas Gibran.
"Terus sekarang apa rencana kalian? Mau lanjut lagi besok gabung sama mahasiswa dari universitas M, atau cukup sampai hari ini aja?" Tanya Fildan.
"Kalian maunya gimana?" Tanya Bara.
"Aku rasa udah cukup sampai hari ini aja, yang panting kita turun lapangan, karena besok kita harus latihan Bar, pertandingan kita cuman beberapa hari lagi!" Jelas Rival.
"Aku setuju dengan pendapat Rival, lagi pula yang kita lakukan hari ini sudah lebih dari cukup untuk membantu senior kita!" Jelas Gibran.
"Iya Bar, sebaiknya kita nggak ikutan lagi besok." Jelas salah seorang lainnya.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian semua." Jelas Bara.
"Lain kali, kita pasti bakal ikutan lagi kok!" Ujar Fildan.
"Kamu doain terjadi hal-hal aneh lagi di negeri tercinta kita ini?" Tanya Rival.
"Ya bukan gitu maksud aku, udahlah, senang bisa bergabung dengan kalian semua, kalau begitu aku dan yang lainnya pamit." Jelas Fildan.
"Sebelum bubar, ayo kita rayakan kerja keras kita hari ini, kalian tenang aja ada Bara yang bakal tanggung semua bonnya!" Jelas Gibran yang langsung merangkul Fildan untuk ikut bersamannya.
"Tunggu apa lagi? Ayo!" Ajak Rival yang segera mengajak semuanya untuk makan-makan.
"Yah baiklah, ayo teman-teman!" Ajak Bara yang berjalan paling belakang.
"Waaah ternyata gini nih rasanya punya teman orang kaya!" Ujar Fildan.
"Sayangkan di anggurin, mending kita kuras sampai dia jatuh miskin!" Ujar Gibran dengan gelak tawanya.
"Dasar matre!" Cetus Rival.
"Yang ngomong juga nggak kalah matrenya, kan selevel kalian berdua!" Cetus Bara dari belakang yang memang bisa mendengar dengan jelas ocehan sahabatnya.
"Ayo, makan enak kita!" Seru Gibfan semakin menjadi dan langsung di ikuti dengan tawa semua yang ikut dalam rombongan demo tersebut.
______________
__ADS_1
"Pa, Ira akan tanggung jawab untuk semuanya." Ujar Ira masih dengan kepala tertunduk.
Tepat jam delapan malam, Bima, Dewi dan juga Ira duduk di ruang tamu untuk menunggu Bara pulang, bukan tanpa sebab, semua itu Bima lakukan setelah tadi siang Samudra mengadukan Bara pada sang papa di tambah lagi Faisal sang wali kelas yang juga ikut menemui Bima dalam rangka menjelaskan apa yang sebenarnya Bara lakukan hingga di bawa ke kantor polisi dan parahnya tadi sore Bima mendapatkan SMS notifikasi tentang pengeluaran yang lumanyan banyak dari rekening atas nama Bara.
"Kenapa kamu yang harus bertanggung jawab! Ini salahnya, dia yang harus belajar dewasa dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri." Tegas Bima.
"Pa, benar memang Bara di bawa ke kantor polisi, tapi itu bukan sepenuhnya salah Bara...." Jelas Ira.
"Jangan mencoba untuk membelanya, Ira papa tidak ingin dia semakin kurang ajar pada semua orang!" Tegas Bima.
"Pa, maaf kalau Ira lancang, tapi untuk kali ini aja, tolong izinkan Ira yang menyelesaikan semua ini." Pinta Ira.
"Pa, kali ini bunda setuju dengan Ira, setidaknya kita beri mereka berdua kesempatan untuk menyelesaikan masalah mereka." Jelas Dewi.
"Ini bukan masalah Ira, ini masalah anak kita yang selalu caja buat masalah!" Jelas Bima.
"Pa..." Ujar Dewi lalu menyentuh lembut tangan sang suami.
"Setelah berurusan dengan kantor polisi bukannya pulang malah keluyuran entah kemana, di tambah lagi pengeluarannya yang luar biasa banyak, papa yakin kalau saat ini dia sedang berpesta foya dengan teman-temannya yang nggak jelas itu!" Jelas Bima.
"Aku akan menjemputnya, jadi tolong pa, untuk kali ini aja, jangan marahi Bara, dan soal pengeluarannya hari ini, biar Ira yang menanggungnya." Jelas Ira.
"Sejak kapan istri yang menafkahi suami, kamu jangan mau di kadalin sama tuh buaya! Dia yang menghamburkan uang kenapa kamu yang jadi jaminannya." Jelas Samudra yang melintasi ruangan tersebut dan keluar begitu saja.
"Baik, kali ini papa serahkan dia pada mu, Ira. Jika dia justru mendatangkan masalah pada mu, maka papa yang akan bertindak." Jelas Bima.
"Baik pa, terima kasih." Ujar Ira yang sedikit lega.
"Dan soal uang, papa sama sekali tidak masalah selama dia memakainya bukan untuk foya-foya." Jelas Bima dan lekas pergi.
"Bunda percayakan anak bunda pada mu sayang, jika terjadi sesuatu segera panggil bunda dan papa." Jelas Dewi.
"Iya bunda." Jawab Ira dengan senyuman.
Setelah Dewi dan Bima masuk ke kamar mereka, Ira masih duduk menunggu diruang depan, hingga beberapa saat lamanya Ira mendengar suara mesin motor yang mati di depan rumah, ia langsung berlari keluar rumah.
"Kak Ira nungguin aku?" Tanya Bara setelah melepas helmet dari kepalanya.
"Ikut kakak!" Ajak Ira yang langsung menarik tangan Bara untuk ikut bersamanya ke halaman belakang rumah.
Sesampai di belakang sana tepatnya di bawah pohon mangga yang berdaun rindang, Ira langsung mengulurkan tangannya kearah Bara.
"Apa?" Tanya Bara ketus.
__ADS_1
"Ponsel kakak mana?"
"Aaahhhh, nih! Sorry!"
"Habis dari mana?"
"Kenapa? Apa setiap aku kemana-mana harus laporan dulu sama kak Ira?"
"Barapa banyak uang yang kamu habiskan untuk bersenang-senang tadi? Apa Rival juga ikut? Kalian ke bar yang mana? Jawab?"
"Haaaah! Bar?"
"Terus? Apa namanya? Club malam? Tampat mabuk-mabukan? Diskotik? Apa?"
"Aaahaaa, aku paham sekarang, lalu untuk apa lagi aku ngejelasin semuanya, bukannya kakak sudah tau semuanya? Dan jangan libatkan Rival, dia nggak ikutan, Gibran juga!"
Sesaat keduanya saling terdiam, lalu ponsel milik Ira berdering pertanda ada chat yang masuk, Ira langsung membukannya.
~Udah sampai rumah kan? Semuanya baik-baik saja? Abang Sam nggak cari gara-gara kan, dan jika sudah sampai rumah segera kembalikan ponsel kak Ira, dan satu lagi, terima kasih atas traktirannya~ Rival.
"Terima kasih banyak atas makan gratisnya. Anak-anak lain maksa aku buat ucapin terima kasih dari mereka semua~ Fildan.
"Apa om Bima mempermasalahkan angka nol yang kamu keluarkan hari ini? Kalau ada masalah segera kabarin, aku akan bantu ngejelasin sama om Bima!" Gibran.
~Udah sampai rumah belum sih? Balas kek, jangan buat aku khawatir!~ Rival.
"Ponsel mu!" Ujar Ira sambil menyodorkan ponsel yang ada di tangannya.
"Ah sial!" Pekik Bara yang baru sadar kalau ternyata dia malah memberikan ponsel miliknya pada Ira.
Bara segera mengambil ponsel Ira yang masih ada di saku celana abu-abunya lalu menyerahkan pada pemiliknya, ia mengambil kembali ponsel miliknya dan langsung memasukkan ke dalam sakunya.
"Aku capek, mau mandi dan istirahat." Jelas Bara.
"Maafkan kakak, Bar!" Ujar Ira yang bahkan langsung memeluk erat tubuh kekar Bara dari belakang.
Hal yang tidak pernah Ira lakukan selama ini dan ntah apa yang terjadi, kali ini Ira bahkan melakukannya tanpa ragu sama sekali. Bara yang merasa dipeluk erat oleh sang istri seketika menghentikan langkahnya.
"Kakak emang tidak memberikan perhatian dengan baik pada mu, maafkan kakak yang sudah menuduh mu macam-macam " Ujar Ira yang kini malah membenamkan wajahnya di punggung lebar milik Bara.
Dari kejauhan Samudra menatap adengan mesra tersebut dengan rasa cemburu yang membakar sampai ubun-ubunnya.
🦋🦋🦋🦋🦋
__ADS_1