
"Kak..." Panggil Bara lalu perlahan mendekati Ira.
Saat itu Ira terlihat begitu sibuk dengan kerjaannya, sejak tadi setelah sholat insya hingga kini sudah pukul sebelas malam ia masih tidak beranjak sejengkalpun dari meja kerjanya. Perlahan tangan Bara menyentuh kedua bahu Ira dengan sentuhan yang begitu lembut hingga perlahan sentuhan tersebut berubah menjadi dekapan, kedua tangan Bara melingkar dibahu Ira.
"Ada apa?" Tanya Ira yang sejenak melepaskan tangannya dari keyboard laptop lalu perlahan menyentuh lengan Bara yang masih menempel ditubuhnya.
"Apa masih lama?" Tanya Bara.
"Sebentar lagi selesai kok, ada apa? Apa kamu lapar? Mau kakak ambilkan makanan?" Tanya Ira yang kini memutar kursinya agar ia bisa berhadapan dengan Bara.
"Bukan itu masalahnya." Jelas Bara seperti tertahan di kalimat yang buntu.
"Terus? Apa kamu sakit? Atau masih kepikiran soal Sam?" Tanya Ira.
(Kenapa dia nggak peka sih? Harus ngomong apa lagi coba? Nggak mungkinkan aku minta dimanja, atau mending langsung nyosor aja? Haissssshhh, ngomong apa lagi? Benar-benar deh nih otak nggak bisa diajak kerja sama, huuuuf! Tahan Bara, tenang, ayo kita pikirkan cara paling efektif untuk membuat kak Ira paham.) Bisik hati Bara yang tidak lagi bisa tenang.
"Kak...." Ujar Bara pelan dengan seketika berjongkok dihadapan Ira lalu membenamkan wajahnya di dalam pangkuan Ira.
"Bara...!" Ujar Ira pelan dengan tangan yang perlahan mengusap rambut Bara.
"Ayo kita lakukan lagi!" Ajak Bara spontan dengan mengangkat wajahnya untuk menatap Ira.
"Aaaah, hmmmmm, kakak harus balik kerja!" Jelas Ira yang terlihat jelas kalang kabut dan salting seketika.
Ira bahkan langsung kembali memutar kursinya menghadap kearah meja lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Haissssshhh!" Gumam Bara kesal dengan suara pelan namun Ira masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Bara beranjak menuju tempat tidur, namun sesaat kemudian langkah kakinya malah melangkah menuju pintu lalu keluar dari kamar bahkan ia menutup pintu dengan membantingnya keras hingga suara hantaman pintu cukup membuat Ira terperanjat kaget dengan ulah Bara barusan.
Bara tidak peduli apapun lagi, ia terus menuruni tangga lalu keluar rumah menuju halaman belakang, sesampai disana ia langsung merebahkan tubuhnya diatas bangku kayu yang lumayan panjang yang berada tepat dibawah pohon mangga yang agak rindang.
"Punya istri serasa nggak punya! Lalu apa gunanya kawin kalau nggak bisa nagih jatah, haissssshhh!" Bara terus ngedumel pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mending aku jadi bintang ajalah! Kayaknya lebih seru aja hidup dilangit soalnya makhluk bumi sekarang ini banyak yang nggak jelas, bikin kesal aja bawaannya, belum lagi masalah papa yang bisa-bisanya punya anak tapi nggak sadar? Terus punya bunda yang hatinya kelewat baik, punya abang kang geplak dan rusuh kerjaannya nyari gara-gara mulu sama aku, punya sahabat setengah waras ples punya istri mati rasa, waaaaah benar-benar kacau balau emang hidup aku ini, nggak ada yang normal satu pun, waaaaah serasa ingin langsung pindah ke Uranus." Gumam Bara dengan mata yang terus menatap langit malam.
"Tapikan tuan muda masih punya bi Siti yang super duper waras!" Ujar Siti lalu duduk di dekat Bara.
Menyadari kedatangan Siti membuat Bara langsung bangun lalu duduk dengan sedikit bergeser mendekati Siti.
"Iya, cuma bibi orang terwaras yang aku miliki." Ujar Bara dengan gelak tawa khasnya.
"Tuan muda..." Ujar Siti pelan, dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Hmmmmm!" Ujar Bara dengan mata yang masih memperhatikan ekspresi Siti.
"Terkadang banyak hal yang tidak bisa kita mengerti dari sifat ataupun prilaku orang lain. Dulu, saat pertama nyonya membawa tuan muda Sam ke rumah ini, jujur bibi benar-benar kesal dan marah, ingin rasanya bibi beritaukan semuanya pada tuan Bima, bahkan bibi sempat berpikir untuk mencari Sari lalu melabraknya, namun penjelasan nyonya membuat bibi sadar kalau sebenarnya nyonya bukannya tidak terluka ataupun kecewa sama tuan Bima hanya saja nyonya tidak ingin tuan Bima dan juga tuan Sam ikut merasakan hal pedih yang ia rasakan, ia tidak ingin orang-orang yang dia sayangi terluka cukup dirinya saja yang menangis. Mungkin untuk beberapa orang, mereka akan menganggap nyonya itu bodoh tapi pada nyatanya nyonya adalah istri yang hanya ingin menjaga harga diri dan juga martabat suaminya." Jelas Siti.
"Bunda memang wanita terhebat." Ujar Bara penuh rasa bangga.
"Hmmmm, makanya nyonya mencarikan tuan muda istri terhebat juga, supaya tuan muda hidup bahagia dunia akhirat." Jelas Siti.
"Hmmmm, non Ira adalah wanita baik-baik, penyanyang dan juga bertanggung jawab, makanya nyonya melamar non Ira untuk tuan muda yang notabenya tukang buat masalah. Biar hidup tuan muda nggak belok kanan belok kiri mulu, karena nyonya percaya kalau non Ira bisa menjaga tuan muda dengan baik, terlebih menjaga tuan dari gangguan tuan muda Sam yang sering kali semena-mena pada tuan muda." Jelas Siti.
"Ishhhh! Bibi mah gitu." Cetus Bara.
"Ya emang tuan muda tukang buat onar kan? Ada aja kelakuan tuan muda yang bikin tuan Bima darah tinggi." Jelas Siti.
"Ya biar darah papa nggak rendah mulu?" Celetuk Bara sekenanya hingga membuat keduanya tertawa.
"Udah larut malam, sana gih masuk, besok harus sekolah kan? Ayo masuk!" Jelas Siti.
"Hmmmm, ayo bi!" Ajak Bara lalu merangkul tubuh Siti lalu keduanya berjalan kembali ke dalam rumah.
Tangan Bara mencoba membukakan pintu kamar tanpa menimbulkan suara sedikitpun, lalu pelan-pelan sekali dia melangkah masuk, mendapati tubuh Ira yang sudah terbaring lelap diatas tempat tidur membuat Bara sedikit menarik napas lega lalu berjalan mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya tepat disamping Ira.
Bara mencoba memejamkan kedua matanya, berdamai dengan perasaannya namun matanya kembali terbelalak saat perlahan tangan Ira melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku, Bar." Pinta Ira yang bahkan langsung menempelkan wajahnya di punggung lebar Bara yang memang tidur dengan membelakangi Ira.
"Aku?" Ujar Bara seakan mempertanyakan kalimat aku yang baru saja keluar dari mulut Ira yang selama ini menggunakan sebutan "kakak" saat berbicara dengannya.
"Hmmmm, aku..." Ujar Ira pelan.
Bara berbalik menghadap kearah Ira, mata keduanya beradu saling menatap dalam diam. Bara sedikit mendekat lalu mengecup lama kening Ira.
"Maaf karena membuat mu kesal!" Pinta Ira.
"Aku maafkan, asal kakak menebusnya! Ahhh hmmmm, asal kamu menebusnya!" Jelas Bara dengan tatapan yang begitu menggoda.
"Menebus? Huffff, harus bayar berapa?" Tanya Ira.
"Hmmmmmm!" Ujar Bara menggantung lalu kembali mengecup kening Ira.
"Satu..." Ujar Bara setelah melepaskan kecupannya pada kening Ira.
"Dua..." Ujar Bara lagi setelah ia berhasil mencium kedua pipi Ira.
"Tiga..." Hitungan Bara terus meningkat setelah ia kembali berhasil mencium kedua mata Ira.
"Tiga, empat..." Ujar Bara setelah buru-buru mencium hidung dan bibir sang istri tercinta.
Perlakuan Bara sontak membuat pipi Ira merah merona, bahkan saat Bara kembali menatap dalam bola matanya, Ira justru dibuat semakin tak berdaya.
"Masih belum lunas!" Ujar Bara bersamaan dengan mengenipkan mata kirinya.
"Ba...ra....!" Ujar Ira yang terlihat jelas begitu gugup.
"Aku mencintaimu, Khumaira." Tegas Bara dan langsung meluncurkan aksinya.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1