Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Penjelasan Bara.


__ADS_3

Setelah mobil terparkir di depan rumah, Luna adalah orang yang paling pertama keluar dan langsung disusul oleh Bara yang perlahan melangkah mengikuti langkah kaki Luna.


"Mama...!" Panggil Bara yang sontak membuat Rival dan Ira yang sejak tadi berjalan dibelakang Bara kini ikut menghentikan langkahnya sedangkan Luna seketika menoleh pada Bara yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Luna.


"Bisa aku minta waktu mama sebentar?" Tanya Bara.


"Ada apa?" Luna justru balik bertanya.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan, bisa ma?" Tanya Bara.


"Ayo duduk sini!" Ajak Luna yang beranjak duduk ke sofa yang ada di ruang tamu.


"Aku ke kamar duluan ya ma, soalnya ada ulangan Kimia besok, selamat malam semuanya." Jelas Rival dan langsung berlari ke kamarnya.


"Aku juga duluan, selamat malam ma." Ujar Ira dan juga segera kembali ke kamarnya.


"Bara, ayo sini duduk!" Ajak Luna karena memang sejak tadi Bara masih saja berdiri di tempat semula.


"Iya ma." Jawab Bara lalu segera duduk disamping Luna.


"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan sama mama? Apa ini soal yang di cafe tadi?" Tebak Luna.


"Maafkan aku ma!" Ucap Bara dengan kepala tertunduk.


"Jika mama yang berada di posisi kamu saat ini, maka mama mungkin akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih. Bara, mama paham perasaan kamu, dipaksa menikah saat kamu masih ingin menikmati masa sekolah mu dengan penuh bahagia dan terlebih kamu harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak kamu cintai dan juga dengan orang yang usianya  jauh lebih dewasa dari dirimu sendiri, mama paham gimana rasanya Bar, dan mama sama sekali nggak marah hanya saja mama sedikit kecewa karena mama bahkan sama sekali tidak bisa membantu mu saat kamu benar-benar butuh perhatian dan kasih sayang untuk menjalani semua ini dengan baik." Jelas Luna.


"Ma....." Lirih Bara bahkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu masih SMA, masih banyak hal yang ingin kamu nikmati dengan kegilaan masa muda mu. Dan soal hubungan mu dengan Ratu, Rival sudah menjelaskan semuanya dan mama sama sekali nggak marah. Tapi apa boleh mama minta satu hal dari kamu?"


"Hhmmmmm!" Jawab Bara dengan perlahan mengangkat pandangannya tuk menatap Luna.


"Tolong jaga perasaan Ira, mama tau kalian sedang belajar menghargai satu sama lain tapi tolong jika kalian sedang bersama tolong jangan bawa Ratu dalam cerita kalian. Mama tau kalau Ratu adalah kekasih mu tapi ingat Bara, Ira adalah istri mu. Kamu ngertikan maksud mama?"


"Iya ma, aku janji ke depannya aku akan lebih jaga sikap saat berada dengannya."


"Terima kasih sayang!" Ujar Luna yang langsung menarik tubuh Bara ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Aku yang harus berterima kasih sama mama, terima kasih karena telah menerima ku dengan baik di keluarga mama, padahal aku bukanlah menantu yang baik, aku bahkan melukai kepercayaan mama." Ucap Bara.


"Ya udah, kan kamu juga ada ulangan besok, sana gih istirahat." Ujar Luna.


"Iya ma, sekali lagi terima kasih." Ucap Bara lalu bangun dari tempat duduknya.


"Sama sama sayang!" Ucap Luna dengan senyuman.


Bara langsung menuju ke kamarnya meninggalkan Luna seorang diri di ruang tamu.


Tangan Bara perlahan mengetuk pintu kamar Ira dari luar hingga akhirnya sebuah tangan membukakan pintu dari dalam.


"Masuklah!" Ujar Ira yang berada di balik pintu.


Bara perlahan melangkah masuk dan Ira kembali menutup pintu kamarnya. Disaat Bara masih berdiri mematung Ira justru sudah mengambil bantal dan selimut lalu melangkah menuju sofa.


"Tidurlah bukan kah besok kamu ada ulangan." Jelas Ira sambil meletakkan bawaannya ke sofa.


"Hmmmmm!" Jawab Bara yang segera mendekat ke arah sofa di mana Ira berada.


"Kakak yang tidur di sini, kamu tidurlah di tempat tidur sana, kalau butuh sesuatu katakan sama kakak." Jelas Ira.


"Jangan ulangi lagi. Ingat perjanjian nomor 1, masing-masing dari kita tidak boleh memperlihatkan hubungan kita dengan kekasih kita di depan kedua pihak keluarga." Jelas Ira.


"Hmmmmm, aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Hmmmmmm" Ujar Ira yang kini beranjak ke kamar mandi.


"Kak Ira mau kemana?"


"Wudhu, kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?"


"Wudhu?"


"Hmmmm, kakak belum sholat insya, atau kamu mau pakai kamar mandi, ya udah kamu duluan aja."


"Nggak kak Ira duluan aja."


"Ok!" Ujar Ira dan langsung ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aku bahkan lupa kapan terakhir aku sholat insya, benar-benar manusia tidak bertanggung jawab bahkan kewajiban aku sendiri aku lupa! Tidak berguna!" Cela Bara pada dirinya.


Bara langsung berbaring di tempat tidur, bahkan saat Ira sholat ia masih saja berbaring meski dengan mata yang sesekali justru melirik ke arah Ira. Setelah sholat lalu beralih ke meja kerjanya dan membereskan semua berkas yang akan dia bawa ke kantor besok, setelah semuanya selesai Ira segera istirahat dengan membaringkan tubuhnya ke sofa.


Beberapa menit telah berlalu, setelah memastikan bahwa Ira benar-benar telah terlelap, perlahan Bara bangun dan segera menuju ke kamar mandi, wudhu dan segera sholat, setelah selesai perlahan, pelan-pelan sekali Bara melangkah mendekati Ira, sejenak menatap wajah teduh yang begitu terlelap lalu tangan Bara bergerak menyentuh tubuh Ira dan dimenit selanjutnya ia langsung mengangkat tubuh Ira lalu membaringkannya ke atas tempat tidur.


"Selamat malam, kak Ira." Ujar Bara pelan dengan tangan yang langsung menyelimuti tubuh Ira dan ia pun segera menuju sofa lalu tidur di sana.


____________________


Ira yang baru saja mendapatkan telpon langsung bangun dari kursi kerjanya, tangannya langsung mengambil tasnya lalu berlari keluar dari ruangannya. Ira semakin mempercepat langkah hingga kini ia berada di depan lift. Tangannya beberapa kali menekan tombol lift berharap pintunya segera terbuka namun yang terjadi malah tidak terbuka sama sekali, hal tersebut justru membuat Ira semakin kalang kabut, sejenak berdiri dengan perasaan yang begitu panik, kini Ira memantapkan kakinya menuju ke arah pintu tangga darurat.


"Ira..." Panggil Samudra yang baru saja muncul dari balik pintu lift.


"Pak Sam..." Ujar Ira.


"Mau kemana? Kenapa begitu buru-buru, apa ada pertemuan dadakan?" Tanya Samudra saat mendapati keadaan Ira yang jelas terlihat begitu buru-buru.


"Ada hal penting." Jawab Ira singkat dan kembali melangkah menuju lift.


"Hal penting? Apa terjadi sesuatu dengan perusahaan?" Tanya Samudra lagi.


"Ahhh, ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan, aku permisi pak!" Jelas Ira yang langsung menekan lantai satu di tombol lift.


"Lalu?" Tanya Samudra yang bahkan langsung menghentikan pintu lift yang hampir saja tertutup.


"Ini urusan pribadi." Jawab Ira.


"Apa bocah itu buat masalah lagi? Kali ini kegilaan apa lagi yang dia lakukan? Dibawa ke kantor polisi karena jadi ketua tawuran? Ikut demo? Berkelahi? Atau mungkin memukul gurunya lagi? Melanggar lalu lintas? Buat keributan di pengadilan?Apa lagi ulah gilanya itu??" Tanya Samudra dengan tatapan yang penuh dengan amarah, dia bahkan langsung menyebutkan semua kesalahan yang pernah Bara lakukan.


"Aku juga belum tau!" Jawab Ira.


"Berhenti ngurusin dia! Kamu bukan baby sisternya!" Gumam Samudra yang tidak lagi bisa mengendalikan emosinya, suara Samudra bahkan membuat beberapa karyawan yang lewat ikut memperhatikan keduanya.


"Maaf, aku harus pergi!" Tegas Ira yang langsung memindahkan tangan Samudra yang sejak tadi menghalangi pintu lift tertutup.


"Hasssssh, apa lagi ulah mu!" Gumam Samudra yang semakin kesal saat pintu lift tertutup dan beranjak membawa Ira ke lantai bawah.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2