
Tepat pukul enam sore semuanya sampai pada tujuan, mobil milik Ira dan milik Safia mulai memasuki perkarangan villa milik keluarga Safia dan berhenti tepat di depan villa utama yang terlihat begitu besar dan megah, bangunan villa tersebut menghadap kearah barat tepatnya ke area kebun strawberry yang memang sedang musim berbuah.
Cuaca yang terasa sejuk mulai menyentuh tubuh mereka, keadaan puncak saat ini benar-benar memberi kenyamaan dan ketenangan bagi setiap pengunjung yang datang.
Perlahan mereka mulai turun dari mobil dimulai dari Rival, Ira dan Resi lalu disusul oleh Safia, Alea, Ratu dan Gibran yang keluar dari mobil yang sama.
"Bara mana? dia nggak ikut?" Tanya Safia yang tidak melihat Bara keluar dari mobil bersama Ira.
"Mana lagi tuh anak, Bar!" Panggil Rival lalu membuka pintu mobil tepat dimana Bara duduk.
"Masih enakan tidur, bangun woi udah sampai!" Lanjut Rival yang langsung menarik tubuh Bara agar segera bangun dari tidur nyenyaknya.
"Udah sampai!" Ujar Bara sambil keluar dari mobil dengan tangan yang perlahan mengucek kedua matanya.
"Dari tadi kali! ayo masuk!" Ajak Gibran yang langsung membawa serta koper miliknya dan juga milik Ratu.
"Ayo kak kita masuk!" Ajak Safia sambil merangkul Ira dan Juga Resi.
"Ayo Lea!" Ajak Bara sambil membawa koper miliknya dan juga milik Alea.
"Hmmmmm, terima kasih!" Ujar Alea dengan senyuman lalu ikut bersama Bara menyusul yang lainnya yang telah lebih dulu masuk ke dalam villa.
Rival masih berdiri ditempat semula, matanya menatap dalam sosok Alea dan Bara yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya seorang diri.
"Kenapa mereka nggak bilang sih kalau ngajak Lea? tau gini ceritanya aku nggak bakal ajak kak Re, canggung banget rasanya, serba nggak enak. Bagaimanapun aku harus menjaga perasaan Lea di saat otak ku di penuhi dengan kak Resi, kak Resi dan kak Resi terus, niat hati mau menambah kedekataan eh malah gini perkara kejadiannya. Hufff! harus gimana coba?" Gumam Rival yang sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.
Rival masih saja berdiri dengan dua koper yang masih berjejer rapi disisi kanannya. Lama terdiam dengan perasaan yang tidak menentu hingga kedua tangannya dengan brutal menjambak rambutnya sendiri.
"Haissssh, bisa hilang kewarasan ku kalau gini ceritanya!" Desah Rival.
"Adek mulai gila jadi ini ceritanya?" Tanya Ira yang tiba-tiba muncul lalu duduk diatas salah satu koper.
"Ngapain disini? suami kakak mana? kok malah kesini?" Tanya Rival dengan sejenak menoleh pada Ira lalu kembali tertunduk.
__ADS_1
"Jangan ngomongin Bara, kakak nggak mood. Mending ayo bahas tentang adek aja."
"Bahas adek? tentang apa?"
"Resi yang masih ngambang antara stay dan nyerah atau beralih pada Lea."
"Kak, adek nggak gitu! disini hanya ada kak Re."
"Yakin? buktinya barusan kamu malah fokus sama Alea. Dek, yang ngajak Resi kesini adek loh, kakak udah rayu dan sogok dia supaya mau ikut, jangan sampai liburan ini terhentikan sebelum dimulai."
"Kak, nggak gitu! lagi pula adek kesini juga rencananya mau menambah kedekataan dengan kak Re, adek sama sekali nggak tau kalau Lea ikut, tau gini adek nggak bakal ngajak kak Re."
"Adek tau siapa yang ngajak Alea?"
"Jangan bilang kalau itu ulahnya kang tawuran? bukan idenya bocah keras kepala kesayangan kakak kan?"
"Hmmmmm, ini emang ulah dia!" Jawab Ira santai.
"Tapi atas permintaan Resi, hmmmm, ya bisa dibilang ini ide mereka berdua, colab antara istri dan pacar adek." Jelas Ira dengan gelak tawa lalu bangun dan merangkul sang adik tercinta.
"Dan sekarang bagian adek, perankan sebaik mungkin! yakinkan Resi kalau adek memang benar-benar serius ingin meminangnya bukan Alea. Pastikan kalau adek akan melamarnya setelah pengumuman nanti, kakak juga butuh kawan di rumah, bukankah kakak sudah berhasil membawa masuk sahabat adek ke rumah kita? kini giliran adek yang balas jasa, fighting!" Jelas Ira dengan tangan yang perlahan mengusap rambut Rival lalu tersenyum manis seolah sedang memberi kekuatan pada sang pejuang yang sedang bertarung dengan keberuntungan hatinya.
Rival membalas senyuman Ira lalu memeluk erat tubuh Ira lalu keduanya segera masuk karena memang sebentar lagi sudah waktunya sholat magrib.
Rival dan Gibran memilih kamar paling depan, sedangkan Safia dan Ratu bakal menghuni kamar di sebelah utara yang berdampingan dengan kamar Alea dan Resi lalu di kamar tengah bagian barat diisi oleh Bara dan Ira.
Ira terlihat sedang memakai pashmina berwarna hitam yang perlahan melilit di kepalanya, ia duduk tepat di depan cermin, Bara yang perlahan berjalan mendekatinya dengan tangan yang sibuk mengkancing kemeja putih yang menempel di tubuhnya. Tangan Bara perlahan menyentuh pundak Ira.
"Jangan pegang! tuh kan nyangkut!" Keluh Ira yang memang kerjaannya langsung keganggu oleh tangan Bara.
"Ra..." Ujar Bara lembut dengan perlahan bergeser berdiri disamping Ira.
"Bentar, tunggu, sedikit lagi...." Pinta Ira sambil mencoba memasang peniti pada pashmina di bagian bahunya.
__ADS_1
Perlahan Bara duduk dengan kepalanya yang ia sandarkan di pangkuan Ira.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Ira yang dibuat heran dengan sikap Bara yang tiba-tiba manja padanya.
Ulah Bara sontak membuat tangan Ira menyentuh pelan kepala Bara, lalu mengangkat wajah Bara untuk menoleh padanya.
"Setelah ini, ayo kita buat pesta megah, paling meriah di tahun ini, kita gelar peresmian pernikahan kita. Ayo bahagia dengan cara kita tanpa peduli dengan siapapun yang ingin menghancurkan tawa kita. Ra, terima kasih karena memilih ku!" Jelas Bara pelan dengan kata perkata yang terdengar begitu berwibawa dan dewasa.
"Benar kah? kamu benaran ingin mengadakan pesta pernikahan kita?"
"Hmmmmm, apa kamu keberatan?"
"Gila, aku justru ingin berteriak kegirangan. Mendengarkannya saja sudah membuat aku senang banget, jujur, sejak dulu aku begitu mengimpikannya, duduk dipelaminan bersama mu, seolah menegaskan pada seluruh dunia kalau Ahmad Bara Pradipta adalah milik ku, hanya akan menjadi milik aku, kini hinggga selamanya."
"Haaah!" Sontak gelak tawa Bara pecah lalu mendekap erat pinggang Ira.
Untuk sesaat keduanya terdiam, larut dalam tatapan dalam, perlahan tangan Bara menyentuh wajah Ira, sedikit mendonggakkan wajahnya agar lebih leluasa menatap wajah cantik Ira, semakin lama semakin mendekat, Bara hendak meluncurkan aksi ciumannya namun tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar tanpa permisi sama sekali, membuat Ira langsung bangun dari tempat duduknya, pergerakan Ira yang spontan membuat lututnya tanpa sengaja malah menghantam rahang Bara hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Upssss sorry!" Ujar Resi seolah tanpa dosa dan masih stay berdiri di depan pintu.
"Makan makan, ayo makan malam!" Seru Gibran yang melintasi kamar Bara.
"Makan Bar, jangan nyari kesempatan mulu! kasian kak Ira butuh istirahat." Jelas Ratu.
"Mau lanjut? atau gabung ke meja makan?" Tanya Resi yang seakan tidak peduli pada Bara yang sejak tadi menahan rasa sakit dengan tangan kanan yang terus mengusap rahang miliknya.
"Ciiih! benar-benar!" Gumam Bara kesal.
"Ayo kak makan, kesehatan kakak lebih utama dari pada ngurusin tuh bocah!" Tegas Rival yang langsung nyelonong masuk lalu membawa kabur Ira dari kamar tersebut.
Aksi Rival membuat Resi dan Bara saling memandang lalu tertawa renyah dan akhirnya segera menyusul yang lain yang sudah ngumpul untuk makan malam bersama.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1