Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Ikatan Persahabatan.


__ADS_3

Sejenak mematung, dengan pandangan yang terus mengintimidasi ketiga bocah SMA itu secara bergantian. Resi segera berlari menghampiri Rival lalu mengecek kondiri Rival.


"Kamu baik-baik saja? Dimana yang sakit?" Tanya Resi yang terlihat jelas begitu khawatir, tangan Resi bahkan langsung mengecek kondisi seluruh tubuh Rival.


Tangan Resi berhenti di siku kiri Rival yang ternyata terluka dan berdarah.


"Awww sakit kak!" Ujar Rival dengan mencoba menahan rasa perih pada bagian lukanya tersebut.


"Siku kamu berdarah, ayo ke rumah sakit!" Jelas Resi.


"Kamu terluka?" Tanya Bara yang bahkan langsung mendekati Rival, tangan Bara langsung mengambil alih lengan Rival dari tangan Resi.


"Ayo bangun, kita ke rumah sakit sekarang!" Jelas Gibran yang langsung membantu Rival untuk bangun.


"Bukannya kalian masih ingin bertengkar? Lanjutkan! Kalian bahkan tidak peduli dengan ucapan ku dari tadi." Jelas Rival.


"Siapa yang bertengkar, ayo ke rumah sakit!" Tegas Gibran yang telah siap membantu Rival untuk berjalan.


"Ciiiih! Bukankah tadi kata mu persahabatan kita sudah bubar, awas aku bisa sendiri!" Gumam Rival yang bahkan langsung menarik tubuhnya dari himpitan Bara dan Gibran.


"Awwww!" Jerit Bara meringis kesakitan saat tanpa sengaja tangan Rival mendorong bagian perut kiri Bara.


"Kamu kenapa?" Tanya Gibran panik, ia bahkan langsung menyikap baju Bara untuk mengecek kondisi perut Bara.


Ya terlihat jelas ada memar yang berwarna keunguan yang ukurannya hampir sebesar bola kaki.


"Kenapa hanya diam, kamu terluka! Dan,,, aku lah penyebabnya." Jelas Gibran lalu perlahan menurunkan kembali baju Bara.


"Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa kecewa yang aku ukir di hati mu, aku malah menghancurkan rasa percaya diantara persahabatan kita, maafkan aku." Pinta Bara dengan penuh penyesalan.


"Apa kalian sedang baikan?" Tanya Resi memastikan.


"Siapa yang baikan? Toh sejak awal kami sama sekali tidak bertengkar, ini hanya salah paham." Jelas Rival dengan senyuman lebar saat memperhatikan kedua sahabatnya yang terlihat begitu peduli dengan keadaan satu sama lain.


"Gibran..." Ujar Ira lalu perlahan melangkah mendekati mereka berempat, karena sejak tadi Ira memang hanya berdiam diri diambang pintu sana sambil terus memperhatikan gerak-gerik mereka bertiga.


"Kakak...." Ujar Rival yang bahkan langsung memeluk tubuh Ira.


"Apa lukanya terasa perih?" Tanya Ira.


"Hmmmmm, tapi aku baik-baik saja." Jelas Rival.


"Syukurlah. Gibran, kakak minta maaf kalau keputusan kakak justru membuat persahabatan kalian terguncang. Kakak adalah orang yang mengajukan syarat agar pernikahan kami di rahasiakan dari semua teman sekolahnya Bara. Sekali lagi kakak minta maaf karena tidak jujur sama kamu tentang hubungan kakak dan Bara. Gibran, dia, Bara Pradipta, sahabat baik kamu, dia adalah suami kakak." Jelas Ira mencoba memberi penjelasan pada Gibran.


"Kak, aku, sebenarnya! Aku tidak marah sama kakak, Rival ataupun sama Bara, aku hanya kesal, aku kecewa sama diri aku sendiri, aku hanya tidak bisa menerima kenyataan kalau selama ini mereka menyembunyikan rahasia sebesar ini dari aku, padahal aku sahabat baik mereka, aku orang yang selalu ada saat mereka butuhkan, aku..., Aku benar-benar kecewa sama mereka berdua!" Tegas Gibran.


"Maafkan aku!" Pinta Bara dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaafkan mu!" Tegas Gibran.


"Gibran..." Ujar Ira dengan tatapan yang begitu teduh.


"Bukankah sudah aku katakan sejak tadi kalau aku tidak marah, aku hanya kesal!" Tegas Gibran yang seketika langsung mendapat pelukan dari Rival.


"Awwww!" Jerit Gibran saat tanpa sengaja tangan Rival menyentuh bagian bahu kiri Gibran yang ternyata terluka.


"Kalian bertiga terluka? Dasar! Ayo ke rumah sakit!" Ajak Resi


"Aku baik-baik saja!" Jawab ketiganya serentak, cukup membuat Resi dan Ira saling memandang lalu tersenyum puas.


"Buruan, sebelum kakak menyeret kalian bertiga!" Tegas Ira yang bahkan langsung keluar dari studio musik.


"Cepetan, sebelum Ira benar-benar menyeret kalian satu persatu masuk ke mobil." Jelas Resi dan bergegas mengikuti Ira dengan segera disusul oleh Bara, Gibran dan Rival.


______________


"Kak..." Panggil Gibran yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


Gibran melangkah menghampiri Ira yang sedang duduk dikursi tunggu.


"Oh, ayo sini duduk! Gimana? Apa kata dokter? Kamu tidak terluka parah kan?" Tanya Ira memastikan.


Gibrab langsung mengambil tempat disamping kanan Ira, lalu tersenyum kearah Ira.


"Tentang apa, katakan saja!" Ujar Ira yang kini beralih menatap sosok Gibran.


"Apa kakak mencintai Bara?" Pertanyaan spontan dari Gibran sejenak membuat Ira terdiam membisu namun untuk beberapa detik kemudian Ira malah tersenyum pada Gibran.


"Hmmm, kakak mencintainya, dan kakak akan mencoba menjadi istri yang baik untuk Bara, kamu tidak perlu khawatir, karena kakak akan menjaga sahabat mu dengan baik." Jelas Ira.


"Terima kasih!" Ucap Gibran.


"Kakak juga sayang sama kamu, kamu dan Rival adalah adik-adik terbaik kakak." Jelas Ira.


"Kakak tau kalau aku suka sama kakak? Perasaan Suka dari seorang pria pada wanita" Tanya Gibran secara blak-blakan mengutarakan isi hatinya.


"Serius???" Tanya Ira memastikan.


"Hmmm, aku suka melihat senyum kak Ira, aku jatuh cinta dengan kak Ira dan aku juga begitu ingin menjadikan kak Ira sebagai wanita ku. Tapi Bara telah lebih dulu mendapatkan kak Ira, dan untuk sesaat aku kesal dan juga marah namun setelah hati ku tenang, kepala ku mulai kembali berpikir dengan baik, aku tersadar memang Bara yang jauh lebih berhak memiliki kak Ira, karena dia pasti akan membuat kak Ira bahagia, dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab pada kakak. Aku kenal baik dengan Bara, dia adalah cowok yang begitu perhatian dan peka terhadap situasi orang-orang didekatnya oleh kerena itu, aku yakin dia akan menjaga dan juga membahagiakan kakak dengan caranya sendiri." Jelas Gibran.


"Apa kamu akan keluar dari tim sepak bola? Lalu gimana dengan band kalian?" Tanya Ira.


"Kenapa aku harus keluar, jika aku meninggalkan band, maka aku tidak tau harus mencari sahabat yang seperti mereka dimana, aku tidak akan menemukan orang aneh seperti mereka di band lain, si bar-bar sama kang sabar, yang satu keras kepala yang satu bijak sebelum bertindak, yang satu pintar dan yang satunya lagi rajin, aku yakin aku pasti tidak akan bisa menemukan karekter seperti itu pada diri orang lain." Jelas Gibran.


"Hmmmm, lalu kamu si penasehat sekaligus di emosian dan juga komandan terdepan saat Bara dan Rival dalam masalah. Kakak menyayangi kalian." Jelas Ira.

__ADS_1


"Apa sekarang posisi aku dan Rival sama dihati kakak?" Tanya Gibran.


"Jangan mimpi, aku tetap akan menjadi adik kesayangannya." Tegas Rival yang baru muncul dan langsung duduk ditengah memisahakan Gibran dan Ira.


"Tapi kak Ira juga kakak ku, iya kan kak?" Tanya Gibran memastikan.


"Hmmmm!" Jawab Ira yang langsung disabut girang oleh Gibran.


"Yesssss!" Seru Gibran penuh kemenangan.


Tidak terlalu jauh dari kursi tempat ketiganya berada, disana Bara berdiri dengan terus memperhatikan ketiganya, lalu perlahan tersenyum bahagia.


"Apa sekarang kamu begitu bahagia?" Tanya Resi yang perlahan berdiri di samping Bara.


"Hmmmm, melihat mereka bertiga tertawa bersama membuat aku begitu bahagia, aku punya dua sahabat yang begitu sayang sama aku dan juga memiliki seorang istri yang begitu mencintai ku, rasanya aku tidak butuh apa-apa lagi, memiliki mereka sudah begitu membuat seisi dunia cemburu pada ku." Jelas Bara.


"Hmmmm, kita memang beruntung bisa kenal dan dekat dengan Ira, dia sungguh luar biasa, dia bahkan akan mempertaruhkan semuanya demi orang yang dia sayangi. luka mu gimana?" Jelas Resi.


"Aku baik-baik saja." Jawab Bara.


"Kalau begitu boleh dong aku minta bantuan mu?" Tanya Resi.


"Bantuan? Apa?" Bara malah balik bertanya.


"Bantu aku mendapatkan Rival." Jelas Resi.


"Sorry kalau soal itu aku nggak bisa bantu, aku tidak bisa memaksa perasaan Rival." Jelas Bara.


"Ciiih kamu dan istri mu sama saja! Nggak bisa diajak kompromi." Cetus Resi dan segera bergabung dengan Ira, Rival dan Gibran.


"Kenapa berdiri di situ? Kamu nggak mau pulang?" Tanya Rival dengan pandangan yang tertuju pada Bara.


"Apa kamu harus di rawat inap? Atau mungkin harus operasi?" Tanya Gibran.


"Jangan gila! Ayo pulang!" Jelas Bara yang bahkan langsung bergegas menuju pintu keluar dari rumah sakit tersebut.


"Tunggu, perut mu benar baik-baik saja?" Tanya Rival yang segera menyusul langkah Bara.


"Kalian berdua tidak terluka parah kan?" Tanya Gibran yang berjalan berdampingan dengan Bara dan Rival.


"Hmmmm!" Jawab Bara dan Rival hampir serentak.


"Apa sekarang kamu bahagia?" Tanya Resi setelah memperhatikan senyuman merekah di wajah Ira, keduanya berjalan tepat dibelakang Rival, Bara dan Gibran.


"Sangat bahagia, ayo pulang!" Jelas Ira yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


...🦋🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2