Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Manja.


__ADS_3

"Nanti malam kami bakal manggung, mau ikut?" Tanya Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi dan terus berjalan menuju tempat tidur, dimana Ira sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


Bara duduk disamping Ira dan berusaha melirik pada layar ponsel Ira, ia penasaran sebenarnya apa yang sedang Ira lihat sehingga tidak menyadari kedatangannya.


Mata Bara terus mengikuti setiap gambar yang terus saja di-scroll oleh Ira.


"Apa kamu mau membelinya?" Tanya Bara dengan jemari yang menekan layar ponsel milik Ira tepat pada gambar sebuah gaun pengantin yang terlihat begitu mewah.


"Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Ira yang bahkan langsung mematikan layar ponsel dan buru-buru menyembunyikannya ke dalam saku kemeja yang ia kenakan.


"Udah dari berjam-jam yang lalu! Ayo pesan!"


"Pesan? Ahhhh, aku hanya melihat-lihat saja, nggak ada niat mau beli sama sekali, ayo makan!" Ajak Ira yang sengaja mengalihkan arah pembicaraan Bara.


"Ayo kita resmikan pernikahan kita."


"Jangan bercanda! Aku lapar, ayo makan!" Ajak Ira yang langsung bangun dari duduknya.


"Ira..." Ujar Bara dengan suara yang begitu pelan dan tangan yang meraih tangan Ira lalu menggenggamnya dengan begitu tulus.


"Duduklah!" Lanjut Bara dengan tatapan  nan teduh dan senyuman yang begitu menggoda.


Ira menurut dan kembali keposisi semula. Tangan Bara menyentuh rambut Ira yang terurai berantakan lalu mengucirnya, tangan Bara kembali beranjak lalu menyentuh wajah Ira.


"Jangan membohongi dirimu sendiri hanya untuk menjaga perasaan ku. Mulai sekarang apapun yang kamu inginkan tolong katakan pada ku, setidaknya jangan biarkan aku menjadi suami yang egois, aku ini bukan hanya menjadi kewajiban bagi mu tapi kamu juga kewajiban dan tanggunganku, bukan cuma kamu yang harus memenuhi hak mu sebagai istriku, tapi aku, aku juga wajib memenuhi semua hak-hak ku sebagai seorang suami. Rumah tangga bukan hanya kerja sepihak, tapi ini koperasi, kita berdua sama-sama berpertisipasi dalam mencapai bahagia, kita sahabatan, bahu-membahu membangun sakinah mawadah warahmah bersama, aku tidak ingin berjalan di depanmu tapi kita harus jalan beriringan, kamu dan aku, Ra." Jelas Bara dengan tatapan yang begitu dalam dan tangan yang sama sekali tidak beranjak dari wajah Ira.


"Bara, aku..."


"Sayang, my sunshine, tolong aku, hmmm? Bantu aku menjadi suami yang baik untuk mu." Pinta Bara yang langsung membawa kepala Ira untuk bersandar di dada bidangnya.


"Terima kasih karena telah mencintai ku, terima kasih banyak, Bara." Ucap Ira penuh haru lalu kedua tangannya segera mendekap erat tubuh Bara yang saat itu masih bertelanjang dada dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


"Ira..."


"Hmmm, kenapa?" Tanya Ira bersamaan dengan mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Bara.


"Cup" secepat kilat Bara mencuri ciuman Ira.


Keduanya kembali saling menatap dalam diam, hingga perlahan tangan Bara mulai bergerak nakal, wajah Bara semakin mendekat hendak kembali melesatkan aksi ciumannya namun sebelum Bara sukses melakukannya Ira telah lebih dulu mendorong dada Bara agar menjauh darinya, Ira bahkan bergegas ke kamar mandi.


"Ira, Ira..." Panggil Bara setelah menyusul ke kamar mandi.


"Hmmmm!" Jawab Ira dengan tatapan sendu dan wajah yang sedikit pucat.


Sejenak Ira menoleh pada Bara namun beberapa detik kemudian dia kembali muntah-muntah membuat Bara segera mendekat lalu mengusap pelan bagian punggung Ira, berusaha mengurangi rasa mual sang istri.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja? Dimananya yang sakit? Perut? Kepala? Atau...katakan dimana yang sakit?" Tanya Bara panik.


"Aku baik-baik saja." Jawab Ira berusaha memamerkan senyuman.


"Jangan bohong, katakan padaku, sebenarnya tadi dokter bilang apa? Kamu sakit apa?" Tanya Bara dengan kedua tangan yang mengusap pelan kedua bahu Ira.


"Aku baik-baik saja, tolong bantu aku kembali ke tempat tidur." Pinta Ira yang bahkan langsung membuat Bara menggendongnya.


Dengan penuh kelembutan Bara membaringkan tubuh Ira ke tempat tidur.


"Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja?" Tanya Bara memastikan.


"Hmmmm!" Jawab Ira yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


"Tetaplah berbaring, jangan bergerak, aku akan segera kembali!" Jelas Bara lalu segera keluar kamar tanpa kejelasan apapun.


Baru saja beberapa menit Bara pergi, ponsel milik Bara mulai berdering hingga berulang kali membuat Ira mau tidak mau harus mengambil ponsel Bara yang tegeletak disisi kiri kasur lalu segera menjawab panggilan tersebut.


"Dimana? Buruan!" Jelasnya dari seberang.


"Ini kakak, dek." Jawab Ira.


"Loh kak, apa Bara meninggalkan ponselnya di rumah?" Tanya Rival.


"Dia lagi turun ke bawah, mungkin sebentar lagi juga balik, kenapa? Emang kalian ada janji ketemuan?" Tanya Ira.


"Dia nggak ngomong sama sekali." Jelas Ira.


"Waaah dasar suami durhaka!" Cela Rival.


"Dek, jangan gitu ah! Hmmm, bentar lagi kakak suruh dia berangkat, tapi ingat jangan sampai papa Bima tau, adek ngertikan maksud kakak?" Jelas Ira mengingatkan.


"Hmmmm, adek paham. Jangan lupa bilang buruan kak ya, soalnya waktu kami cuma dua puluh menit lagi." Jelas Rival.


"Iya dek!" Jawab Ira lalu keduanya memutuskan panggilan mereka tepat disaat pintu kamar dibuka dari luar.


Bara kembali dengan nampan di tangannya.


"Ayo makan, setelah itu minum obat dan istirahat." Jelas Bara setelah meletakkan bawaannya di atas meja.


"Apa malam ini jadwal manggung kalian?" Tanya Ira.


"Hmmm, bukannya aku sudah mengatakannya tadi?"


"Ohhh mungkin aku yang lupa, Rival nelpon dia minta kamu secepatnya datang." Jelas Ira.

__ADS_1


"Hmmm, aku segara datang, jadi ayo buruan makan." Ajak Bara yang bahkan langsung mengambil piring yang berisikan nasi lengkap dengan beberapa lauk pauk.


"Ayo makan...." Pinta Bara lagi kali ini sambil menyodorkan sendok yang di penuhi nasi kearah mulut Ira.


"Aku bisa makan sendiri, kamu pergilah, ntar telat loh!" Jelas Ira.


"Tapi..."


"Hmmm, pergilah, dan cepat kembali, aku akan menunggu mu pulang, sayang." Ujar Ira perlahan membuat Bara seketika salah tingkah dibuatnya.


"Sayang....?" Ulang Bara seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Hmmmm sayang, jangan lama-lama, aku takut jika harus merindukan mu!" Jelas Ira yang terdengar begitu manja.


"Hmmm, aku janji setelah manggung aku akan langsung pulang, makan dan istirahatlah, kamu harus cepat sembuh." Jelas Bara lalu beranjak dari sisi Ira.


"Bara..." Panggil Ira dengan tatapan sendu membuat Bara kembali menoleh padanya.


"Hmmm, kenapa?"


"Bisakah sebelum pergi kamu peluk aku sebentar, sebentar aja!" Pinta Ira dengan menundukkan wajahnya.


Sebenarnya dia tidak ingin meminta pelukan Bara namun entah mengapa rasa malunya hilang entah kemana, saat ini yang ada di pikirannya hanya ingin bermanja pada sang suami.


Bara segera memeluk erat tubuh Ira, setelah merasa cukup dengan pelukan, perlahan Bara melepaskannya lalu mengecup kilas kening Ira. Namun hal mengejutkan terjadi, Ira yang bisanya jaim seketika langsung menyosor dan tanpa ba bi bu Ira langsung mencium sang suami.


"I love you!" Ujar Ira pelan dengan kedua tangan yang bermain pada selimut yang menutupi tubuhnya.


"Apa kamu sengaja menggoda ku? Apa aku batalkan saja manggungya?" Tanya Bara.


"Bukan begitu! Hmmmm, pergilah!" Jelas Ira.


"Aku akan segera pulang!" Tegas Bara dan segera menuju ruang ganti untuk siap-siap.


"Bara..." Panggil Ira saat Bara keluar dari ruang ganti, dia sudah rapi dengan kemeja putih dipadu jeans berwarna navy.


"Iya, apa ada pesanan? Mau dibawa apa nanti?"


Bukannya menjawab pertanyaan Bara, Ira justru bangun lalu melangkah mendekati Bara yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin. Ira langsung mendakap erat tubuh Bara dari belakang.


"Jangan menatapku, sebentar lagi aja, biarkan aku memelukmu untuk beberapa detik saja." Pinta Ira.


"Ada apa sebenarnya? Kamu kenapa? Kenapa jadi cengeng dan manja gini? Apa terjadi sesuatu yang tidak aku tau? Kamu benar-benar beda dari biasanya, aku tidak pernah melihat mu dalam versi seperti ini selama kita menikah? Ayo cerita, sebenarnya ada apa?" Tanya Bara yang mulai merasakan perubahan mendedak dari sikap dan perilaku Ira.


"Aku hanya, hmmmm!" Ira bahkan kembali terdiam tanpa kejelasan pada kata-katanya.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan kamu sedang mengidap penyakit kronis? Kanker stadium akhir? Atau.....kamu hamil?" Pertanyaan Bara sontak membuat tangan Ira terlepas dari tubuh Bara.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2