
"Sepertinya?" Tanya Resi dengan perlahan menarik tangannya dari genggaman Rival.
"Aku juga tidak paham harus menjelaskannya bagaimana. Apa kakak mempermasalahkan kata 'sepertinya'?" Tanya Rival yang kini beralih berdiri tepat dihadapan Resi dalam jarak yang begitu dekat.
"Kamu tau persis bagaimana perasaan aku kan?" Tanya Resi dengan menundukkan wajahnya.
"Sejak kapan?" Tanya Rival.
"Saat pertama kamu datang ke rumah ku untuk menjemput Ira. Kamu yang datang dengan seragam bola, dengan keringat yang bercucuran, kamu,hmmmm membuat hati ku meronta, aku tau kalau aku tidak pantas mencintai mu!" Jelas Resi lalu sedikit melangkah mundur menjauh dari Rival.
Tanpa jawaban sama sekali langkah Rival perlahan maju kembali mendekati Resi lalu mendekap tubuhnya erat.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Resi yang berusaha lepas dari dekapan Bara.
"Yang sedang aku lakukan? Aku mengubah kata 'sepertinya' menjadi sebuah keyakinan, kalau aku benar-benar jatuh cinta pada kak Resi, sekarang aku paham dengan perasaan ku yang ngambang selama ini, tidak ada Alea di hati ku tapi kak Resi lah yang ada di sini!" Jelas Rival setelah melepaskan pelukannya, tangannya bahkan perlahan menyentuh bagian hatinya sendiri.
"Rival...." Ujar Resi dengan menitikkan air mata.
"Aku mungkin tidak sekaya Bara dan aku juga tidak cukup berani seperti dia, tapi aku janji aku akan membahagiakan kak Re seperti Bara membahagiakan kak Ira. Akan ku jadikan kakak Ratu di hatiku. Yah, aku tau kalau aku masih SMA, butuh waktu untuk aku bisa menghalalkan kak Re, tapi aku harap kak Re bisa sedikit bersabar, memberi aku sedikit waktu aku janji, aku tidak akan lama, aku akan segera menjadikan kak Re sebagai istri ku." Jelas Rival.
Tubuh Resi hanya mematung, tak ada ucapan ataupun pergerakan sama sekali, hanya matanya yang terus menerus menatap Rival dengan tatapan yang begitu teduh nan dalam.
"Kenapa hanya diam? Beri aku jawaban!" Pinta Rival.
"Kamu ingin aku menjawabnya seperti apa? Jawaban apa yang ingin kamu dengar?" Tanya Resi.
"Kak...." Ujar Rival tertahan.
"Hmmmmmm!" Ujar Resi pelan.
"Jawab! Jangan buat aku khawatir!" Pinta Rival dengan perlahan menyentuh kedua tangan Resi.
"Bukankah sejak awal sudah jelas? Aku mencintaimu, Rival!" Tegas Resi dan kali ini ia yang lebih dulu bergerak, ia langsung memeluk erat tubuh Rival hingga membuatnya sang empunya terkaget heran dengan sikap Resi yang tiba-tiba menyerangnya.
"Apa sekarang kita pacaran?" Tanya Rival.
"Hmmmmm, lalu bagaimana dengan Alea?" Tanya Resi.
"Aku bahkan tidak menjanjikan apapun padanya, sejak awal aku meminta waktu untuk memastikan perasaan ku, dan hari ini semuanya sudah jelas, besok aku akan menjelaskan semuanya pada Lea." Jelas Rival.
"Hmmmm." Ujar Resi lalu kembali memeluk Rival.
_______
__ADS_1
"Khmmmmm!" Ujar Ira setelah perlahan membuka pintu kamar Rival.
Di meja belajar sana Rival tampak sedang fokus pada buku-buku yang terbuka lebar di atas meja namun saat Ira datang fokus Rival seketika buyar.
"Boleh kakak masuk?" Tanya Ira yang masih berdiri diambang pintu.
"Sejak kapan kakak minta izin, ada apa? Ayo duduk sini!" Ajak Rival yang kini beralih pindah ke tepi tempat tidur.
Ira pun seketika masuk dan segera duduk di samping Rival.
"Rajin banget." Ujar Ira membuka pembicaraan.
"Kan besok ujian akhir, rajin nggak rajin, mau nggak mau kan tetap juga harus belajar. Kakak kesini nggak cuman mau bahas soal rajinnya adek kan? Ada apa?" Jelas Rival lalu pada akhirnya menatap dalam wajah Ira.
"Hmmmm, soal Re, apa dia melakukan sesuatu pada adek?" Tanya Ira.
"Maksud kakak? Emang kak Re melakukan apa?" Tanya Rival.
"Ya mungkin! Hmmmm....." Ujar Ira tertahan, ia terlihat kebingungan harus menjelaskannya bagaimana.
"Adek menyatakan cinta pada kak Re." Tegas Rival.
"Apa? Barusan apa kata adek?" Tanya Ira yang terlihat jelas begitu syok dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Adek dan kak Re pacaran." Jelas Rival.
"Kakak apaan sih? Orang adek jatuh cinta benaran sama kak Re, nggak ada paksaan apapun, sejak awal adek emang udah suka cuman adek nggak berani buat mendekatinya, dia bagai langit, serasa tidak bisa digapai." Jelas Rival.
"Jadi serius nih?" Tanya Ira memastikan.
"Hmmmm, untuk saat ini kami pacaran." Jelas Rival.
"Saat ini? Terus selanjutnya? Apa adek ingin mencampakkan Re begitu saja?" Tanya Ira yang terdengar mulai emosi.
"Mencampakkan? Apa kakak kira adek gila? Maksud adek, saat ini kami hanya pacaran dulu setelah adek matang adek akan langsung melamarnya.". Jelas Rival.
"Huffffff! Selalu saja bikin orang syok dengan kalimat ambigu adek, lanjut gih belajarnya, kakak mau ke kamar, selamat malam." Jelas Ira.
"Hmmm, selamat malam!" Ujar Rival dengan senyuman.
Ira keluar dari kamar Rival dengan menutup pintu secara pelan-pelan setelah sejenak memperhatikan Rival yang kembali ke meja belajarnya.
Ira kembali ke kamarnya, saat pertama masuk matanya langsung tertuju kearah meja kerjanya dengan harapan Bara berada disana, belajar untuk persiapan ujian besok. Namun kenyataannya berbeda, tidak ada siapapun di sana karena saat ini Bara justru sedang tertidur nyenyak diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Huuff! Benar-benar, bukannya belajar malah molor, terus cita-cita pengen lulus dengan nilai tertinggi, ciiih!" Cetus Ira kesal dan segera menghampiri Bara.
"Bangun, buruan bangun!" Gumam Ira dengan tangan yang langsung menarik kasar lengan Bara.
"Ngantuk banget, please! Jangan ganggu aku." Tegas Bara tanpa bergeming sama sekali, ya masih diposisi semula.
"Bangun, atau....!" Ancam Ira yang kini mulai menarik seluruh selimut yang sejak tadi menutupi tubuh Bara.
"Ra, tolong saat ini mata aku benar-benar butuh merem, nggak bisa di buka sama sekali, aku ngantuk banget, jadi tolong jangan ganggu." Pinta Bara tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Besok ujian akhir!" Tegas Ira.
"Lalu?" Tanya Bara yang malah kembali menarik selimutnya.
"Lalu kata mu? Kamu nggak belajar? Gimana kalau nggak dapat nilai tertinggi?" Tanya Ira khawatir.
"Tanpa belajar pun nilai tertinggi sudah menjadi milik aku, kamu tenang aja, ayo tidur." Jelas Bara yang bangun lalu menarik tubuh Ira untuk ikut tidur bersamannya.
"Bara..." Cetus Ira yang hendak kembali bangun namun langsung dicegah oleh Bara.
"Kalau mau aku lulus dengan nilai tertinggi, maka cepatlah tidur, aku hanya butuh pelukan mu." Jelas Bara yang perlahan mengeratkan pelukannya.
"Bara, ini buka saatnya bercanda, dewasalah sedikit!" Pinta Ira.
"Kurang dewasa apa lagi coba? Emang ada anak bocah yang minta dipeluk sama pasangannya saat tidur? Emang ada anak bocah yang hmmmm...." Jelas Bara tertahan dengan menatap dalam wajah Ira yang berbaring disampingnya.
"Terserah kamu aja deh, percuma aku ngejelasinnya panjang lebar toh kamu tetap sama pemikiran mu itu." Cetus Ira lalu segera bangun.
"Mau kemana?" Tanya Bara sambil sedikit mengucek kedua matanya.
"Belajar!" Seru Ira dan langsung mengambil tas Bara lalu membawanya keatas kasur.
Ira membuka tas tersebut lalu mengeluarkan semua buku yang ada di dalamnya. Semua isi tas kini berhamburan diatas tempat tidur. Lalu tangan kanan Ira mengambil sebuah buku cetak, sedikit bergeser untuk bersandar pada kepala ranjang namun Sebelum punggung Ira menempel disana tangan Bara telah lebih dulu menarik tubuh Ira lalu membawa Ira bersandar pada dada bidangnya. Tangan Bara menyentuh buku yang ada di tangan Ira lalu perlahan membukanya dengan perantaraan tangan Ira.
"Larutan yang mengandung 3 gram zat non elektrolit dalam 100 gram air (Kf air \= 1,86°C/m) membeku pada suhu -0,279°C. Massa molekul relatif zat tersebut adalah...?? Hmmmmm" Baca Bara setelah buku terbuka lebar pada halaman soal.
"Berapa???" Tanya Ira dengan nada tinggi dan tegas.
"200!" Jawab Bara santai hingga membuat Ira segara membuka pada halaman kunci jawaban.
Jawaban Bara yang tidak hanya cepat tapi juga tepat membuat Ira mengernyitkan dahinya, Ira hendak berpaling untuk menatap wajah Bara yang berada di belakangnya namun Bara segera menghentikannya. Perlahan tangan Bara yang awalanya memegang tangan Ira kini beralih menyentuh bagian perut Ira.
"Ini yang namanya belajar bersama, ayah, ibu dan juga anak! Persiapan ujian yang begitu menyenangkan, ayo lanjut!"Jelas Bara lalu mengecup lembut pucuk kepala Ira.
__ADS_1
Perlakuan Bara sukses membuat wajah Ira merah merona dan terbuai dalam suasana romantis, dan keduanya pun melanjutkan belajar bersama.
...🦋🦋🦋🦋🦋...