Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Ingatan Manis.


__ADS_3

Ira duduk di kursi kerjanya dengan tangan yang terus memainkan bolpen berwarna ungu dengan begitu lihai, tatapannya penuh dengan kebahagiaan, senyum merekah seakan tidak luput sedetik pun dari pipi indahnya, bahkan sesekali ia tersenyum malu dengan menyembunyikan wajah merah meronanya keatas tumpukan file yang menggunung di atas meja kerjanya.


"Hmmmmmm, hufffff! bagaimana aku bisa jadi seperti ini? huffff!" Gundah hati Ira seakan berusaha untuk menenangkan jantungnya yang seakan lepas kendali sejak tadi pagi.


Ingatannya kembali  terbang dengan kejadian tadi pagi, saat ia terbangun dalam kondisi yang berada dalam pelukan Bara dan parahnya ia sadar dengan jelas bahwa ia dalam keadaan tidak mengenakan baju begitu pula dengan Bara.


"huuf! apa ini hanya mimpi, bisa-bisanya aku begitu tenang terlelap dalam dekapan tangan kokoh bocah SMA itu, bisa-bisanya aku...." Ujar Ira bersamaan dengan detak jantung yang kembali up normal.


Kali ini Ira menempelkan wajahnya keatas meja, lalu tersenyum malu sepuasnya. Hingga suara ketukan pintu dari luar sana membuat Ira kembali mengangkat wajahnya, sejenak menata kembali wajahnya agar terlihat baik-baik saja, lalu berdehem mengatur deru nafas yang tadi sempat berpacu.


"Khmmmm, silahkan masuk!" Jelas Ira lalu sedikit membenarkan posisi duduknya.


Pintu perlahan dibuka dari luar dan yang datang adalah Bara, melihat sosok Bara yang masih mengenakan seragam putih abu-abunya sukses  membuat Ira bangn dari kursinya, keduanya terus menatap dalam jarak yang lumayan jauh, perlahan Bara memamerkan senyuman andalannya yang langsung menyihir Ira menjadi salah tingkah di tambah tatapan mata Bara yang seakan mengoyak kewarasannya. Tangan Bara perlahan menutup pintu kembali lalu perlahan melangkah mendekati meja kerja Ira, untuk sesaat Ira sempat mematung hingga suara petik jari Bara yang tepat diwajah Ira membuat Ira kembali tersadar dari lamunan jauhnya.


"Kak...!" Panggil Bara lalu dengan spontan menyentuh wajah Ira.


Untuk sesaat Ira melangkah mundur namun Bara bukannya menajauh ia malah berpindah semakin mendekati Ira lalu secepat kilat mencium kening Ira.


"Bar, ini kantor!" Jelas Ira.


"Aku juga nggak bilang kalau ini sekolah!" Cetus Bara lalu segera berjalan menuju sofa dan duduk disana.


"Kenapa kesini?" Tanya Ira lalu perlahan ikut duduk di sofa tepat di hadapan Bara.


"Kangen!" Jawaban spontan Bara sukses membuat pipi Ira kembali merah merona.


"Apa udah makan siang?" Tanya Ira mengalihakn pembicaraan.


"Kak...."


"Hmmmmm."


"Untuk yang semalam terima kasih banyak."


"Bar, kamu...kakak, soal itu, hmmmm, hmmmmm!" Ujar Ira gelagapan ia bahkan salah tingkah.


Bara yang awalnya duduk di hadapan Ira, seketika berpindah ke samping kanan Ira lalu langsung mendekap tubuh Ira kedalam dekapan hangatnya. Awalnya Ira hendak protes namun lama kelamaan ia justru merasa nyaman berada di sana.


"Aku janji aku akan lulus dengan nilai tertinggi di sekolah, dan aku juga janji kalau aku akan jadi suami yang bertanggung jawab, meski aku tau kalau aku telah melanggar perjanjian kita, tapi anehnya aku tidak merasa bersalah sedikitpun, aku justru merasa sangat bahagia, akhirnya kakak menjadi milik ku seutuhnya." Jelas Bara lalu sedikit melonggarkan pelukannya.


"Apa kakak kecewa pada ku?" Tanya Bara dengan mata yang menatap lekat bola mata Ira.


"Kecewa? Kamu sengaja menggoda kakak?" Tanya Ira dengan memainkan kedua matanya.

__ADS_1


"Menggoda kakak? Yang ada justru aku lah yang tergoda dengan kakak!" Jelas Bara lalu memasang senyuman mesum sambil terus memandang tubuh Ira dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Ayo kita makan siang?" Ajak Bara setelah bangun dari duduknya.


Tubuh tinggi nan menjulang milik Bara kini berdiri tepat dihadapan Ira dengan mengulurkan tangannya kearah Ira.


"Ayo makan siang bersama!" Ajak Bara lagi.


Sebelum Ira menyambut uluran tangan Bara, pintu ruangannya kembali dibuka dari luar kali ini bahkan tanpa diketuk sama sekali membuat Ira langsung menepis tangan Bara yang masih menjulur dihadapannya.


"Ayo cari makan!" Ajak Resi yang masih berdiri diambang pintu sana.


"Ups sorry! Ya udah kalian lanjutkan temu kangen kalian aku duluan, bye!" Lanjut Resi setelah menyadari keberadaan Bara dan ia bahkan langsung menutup Kembali pintu.


"Udah gih pulang sana, kakak ada janji sama Re." Jelas Ira.


"Tapi...." Keluh Bara.


"Kalau nanti malah ketauan orang kantor gimana? Udah pulang aja, nanti malam kita makan malam di luar." Jelas Ira.


"Makan malam berdua? Di luar?" Tanya Bara memastikan.


"Hmmmmmm!" Jawab Ira tegas.


"Nggak ada, nggak ada!" Tegas Bara.


"Loh, padahal aku belum habis ngomong, ayo otak kakak traveling kemana coba? Apa kejadian semalam masih melekat di ingatan kakak?" Tanya Bara.


"Bara!" Gumam Ira.


"Apa? Kan aku cuman nanya, kalau aku nggak usah kakak ragukan lagi, aku ingat semuanya dengan jelas apalagi masih ada buktinya." Jelas Bara santai.


"Bar, kamu" Cetus Ira.


"Masih ada bekas luka cakaran kakak loh di punggung kokoh ku!" Bisik Bara pelan hingga membuat tangan Ira refleks dan langsung mendorong bahu Bara agar menjauh darinya.


"Kakak mau makan sama Re!" Tegas Ira dan langsung melesat kabur ke luar ruangannya.


"Wuiiiiiih! Jadi pengen ku gangguin selalu, kenapa tambah hari tambah imut aja istri aku, benar-benar membuat aku goyah, pengen lagi dan lagi! Kak, i love you." Jelas Bara dengan senyuman berbunga-bunga lalu perlahan keluar dari ruangan Ira.


"Bara!" Panggil Bima yang melintas di depan ruang kerjanya Ira.


"Papa." Ujar Bara.

__ADS_1


"Ira mana? Kok sendirian?" Tanya Bima sambil melangkah mendekati Bara.


"Kak Ira pergi makan siang sama kak Re." Jelas Bara.


"Terus kamu?" Tanya Bima.


"Ya, aku mau pulang!" Jawab Bara.


"Gimana kalau ikut papa makan siang?" Ajak Bima.


"Nggak usah deh pa, aku pulang aja!" Jelas Bara.


"Yakin? Soalnya papa ada janji makan siang sama Ira dan juga Resi!" Jelas Bima.


"Papa nggak sedang bohong kan?" Tanya Bara memastikan.


"Gimana masih nggak mau ikut?" Tanya Bima.


"Ayo pa..." Ujar Bara girang dan lekas ikut bersama Bima.


___________


Bima dan Bara terus berjalan menelusuri setiap meja di restoran tersebut. Bima terus mencari sosok sang menantu dan setelah menoleh kesana sini akhirnya dia mendapati Ira dan Resi yang sedang menyantap makan siang mereka di meja paling ujung sana.


"Ira, Resi!" Ujar Bima sambil mendekati meja tersebut.


"Pak Bima." Ujar Resi yang bahkan langsung bangun dari kursinya.


"Apa saya boleh ikut makan di sini?" Tanya Bima.


"Papa serius?" Tanya Ira.


"Hmmm, papa dan juga Bara mau joint, boleh kan?" Tanya Bima lagi.


"Boleh kok pak." Jawab Resi sopan dan juga raut wajah yang begitu sopan.


"Tadi katanya papa udah janjian? Ini nyelip pa namanya." Tegas Bara.


"Terserah apa namanya yang penting kan kita makan bersama, ayo pesan!" Jelas Bima setelah duduk langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka.


Bara pun ikut duduk, setelah pesanan mereka datang barulah Ira dan juga Resi melanjutkan makan mereka. Resu terlihat agak canggung betapa tidak, saat ini ia duduk tepat disamping pemilik perusahaan tempat ia selama ini bekerja, sedangkan Ira tampak rileks meski sesekali mencuri-curi pandang pada Bara yang duduk tepat di sampingnya.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2