Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Minta Izin.


__ADS_3

Ira yang ikut menjadi penonton juga tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, bahwa penampilan band The Grib memang begitu memukau, bukan hanya telinga yang di manjakan dengan suara merdunya tapi setiap mata juga di ikut di manjakan dengan visual ketiganya terlebih malam ini tidak hanya Rival yang menjadi vocalis tapi Bara dan Gibran juga ikut bernyanyi dan hasilnya benar-benar pecah, perpaduan suara ketiga personil the Grib sukses membuat semua penonton semakin menggilai penampilan mereka.


Di meja ujung sana, Ira duduk sendirian dengan di temani oleh segelas jus yang hanya tersisa setengahnya lagi. Mata Ira terus saja memperhatikan ketiga cowok yang terlihat keren dengan pilihan gaya fashion mereka masing-masing.


Rival yang terlihat rapi dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah dengan jeans berwarna hitam dan rambut rapi bak pegawai kantoran, lain halnya dengan Gibran yang tampil dalam balutan kaos dan celana pendek yang berwarna senada dengan gaya rambut yang menutupi sebagian dahi cetarnya, sedangkan Bara memilih memakai Hoodie berwarna abu-abu yang ia padukan dengan jeans panjang namun tetap memamerkan kedua lututnya.


Nyanyian mereka seakan mengetuk setiap hati, larut dalam bait-bait liric yang begitu bersahaja, kerena malam ini mereka memang sengaja membawakan lagu melow sesuai dengan keadaan cuaca yang memang sedang mendung dan sedikit gerimis.


Tanpa sengaja, saat mata indah Ira terus menatap sosok Bara justru pandangan keduanya beradu dan saling memandang satu sama lain.


"Gila, kenapa vibe kak Ira malam ini mengalahkan para ABG sih? Waaaah!" Ungkap hati Bara yang tanpa sadar justru begitu mengangumi paras sang istri, yang selama ini bahkan tidak pernah ia lakukan.


"Kamu benar-benar begitu mencintai musik, saat sedang bermain drum kamu terlihat seperti Bara yang berbeda, hangat, lembut terlihat goodboy banget, tapi....! Ah Ira apaan sih, sadar dia itu Bara, Bara tukang buat masalah!" Tegas Ira pelan pada dirinya sendiri.


Ira buru-buru membuang pandangannya lalu kembali meneguk jusnya hingga habis. Beberapa menit kemudian, penampilan mereka pun berakhir, setelah menyanyikan 2 lagu mereka menyelesaikan pekerjaannya malam ini, ketiganya segera turun dari panggung lalu berlari menghampiri Ira.


"Gimana kak? Suara aku nggak kalah saing sama Rival kan?" Tanya Gibran yang bahkan langsung mengambil tempat di samping Ira.


"Pastinya!" Jawab Ira bahkan dengan mengacungkan kedua jempolnya.


"Jadi maksud kakak suara aku itu standar?" Cetus Rival namun tetap mendekap erat tubuh Ira dari belakang.


"Kakak nggak bilang gitu kan, suara kalian bagus semua kok, serius!" Jelas Ira sambil mengusap rambut sang adik tersayang.


"Seketika pengen dielus juga!" Cetus Gibran lalu meneguk minumannya.


Rival duduk di samping Gibran sedangkan Bara yang terakhir datang mendapat tempat di depan Ira.


"Kak..." Panggil Bara.


"Iya kenapa?" Tanya Ira yang langsung fokus menatap wajah Bara.


"Bisa antarkan aku pulang sekarang?" Tanya Bara yang sukses membuat Gibran dan Rival langsung menatap kearah Bara.


"Kamu sakit?" Tanya Gibran bersamaan dengan Rival yang juga mengajukan pertanyaan yang berbeda.


"Kamu ada janji sama Ratu?" Tanya Rival yang langsung mendapat cubitan dari Bara.


"Aku lelah, harus istirahat banyak supaya nggak balik lagi nginap di rumah sakit. gimana kak, bisa?" Jelas Bara.

__ADS_1


"Ayo biar aku aja yang antar!" Jelas Gibran yang bahkan langsung bangun dari kursinya.


"Emang bawa mobil? Tadi kan datang kesini aku yang jemput!" Jelas Rival.


"Biar kakak yang antar, kalian juga cepat pulang jangan keluyuran kemana-mana, kamu duluan, ayo Bar!" Ajak Ira.


"Sampai jumpa besok di sekolah!" Seru Bara dan segera mengikuti langkah Ira keluar dari cafe tersebut.


"Apa aku yang salah lihat...?" Tanya Gibran kebingungan.


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Rival.


"Bara kelihatan girang banget diantar kak Ira! Apa jangan-jangan..." Jelas Gibran.


"Jangan ngaco!" Tegas Rival yang mulai sedikit panik.


"Aku rasa, dia bakal buat masalah lagi deh!" Cetus Gibran dengan instingnya.


"Haaaaahhhh!" Gumam Rival lega.


"Haaaaah? Dia akan membuat kak Ira kewalahan, memikirkannya saja membuat aku sedih!" Jelas Gibran yang langsung memasang wajah sedih.


"Kak Ira itu kuat, udah nggak usah khawatir gitu, dia jauh lebih tangguh dari kita bertiga." Jelas Rival sambil menepuk bahu Gibran pelan.


_________


Setelah masuk ke dalam mobil, mata tajam Ira menatap kearah Bara yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?" Tanya Bara yang sadar ditatap oleh Ira.


"Harusnya kakak yang tanya kenapa, ini mau langsung pulang atau mau kakak antarkan ke suatu tempat?" Tanya Ira.


"Pulang ke rumah mama!" Tegas Bara lalu menutup matanya.


"Ke rumah mama lagi? Kenapa?" Tanya Ira.


"Kenapa? Emang harus ada alasan baru boleh pulang ke rumah mama?" Tanya Bara.


"Ya bukan gitu,,," Ujar Ira.

__ADS_1


"Mama bilang aku bebas datang kapan aja aku mau, aku udah ngantongin izin mama loh, buruan gih jalan! Ntar keburu Gibran datang ke parkiran lagi." Jelas Bara.


Dengan menarik nafas pelan, Ira pun mengikuti perintah sang suami, perlahan mobil mulai meninggalkan area parkiran cafe dan segera meluncur gesit menuju kediaman keluarga Syakil Darman.


________


"Gimana manggungnya? Aman?" Tanya Luna yang sedang menonton tv di ruang keluarga.


"Mama...!" Ujar Bara dan langsung duduk di samping Luna.


Tangan luna mengelus lembut rambut Bara persis seperti perlakuan penuh kasih sayangnya yang sering kali ia berikan untuk Rival.


"Semuanya aman ma." Jelas Bara yang kali ini langsung menyandarkan kepalanya di bahu Luna.


"Mama kok sendiri? Papa mana?" Tanya Ira.


"Biasa papa mu ya di ruang kerja." Jelas Luna.


"Ya udah aku ke kamar dulu ya ma." Jelas Ira dan segera menuju kamarnya.


"Rival mana?" Tanya Luna setelah Ira pergi dari sana.


"Masih di cafe sama Gibran, katanya ntar pulang bareng!" Jelas Bara.


"Hmmmm, kamu udah makan? Mau mama ambilkan sesuatu?" Tanya Luna.


"Aku udah kenyang kok ma, kalau gitu mama lanjut aja lagi nontonnya, aku ke kamar dulu ya ma." Jelas Bara.


"Iya sayang, selamat malam menantu mama tersayang!" Ujar Luna dengan senyuman penuh rasa bangga.


"Selamat malam mertua tersayang!" Ucap Bara dan segera menuju ke kamarnya.


Baru pertama melangkahkan kaki ke dalam kamar, Bara langsung tercengang melihat Ira yang duduk di meja sambil membuka laptopnya.


"Ciiiih, lagi lagi kerja, teruss aja kerja sampe subuuuuh!" Celetuk Bara setelah menutup rapat pintu kamar.


Bara melangkah menuju tempat tidur lalu sejak duduk di sana, namun Ira sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Merasa di abaikan kini Bara beralih bangun lalu mendekati Ira.


"Apa aku harus minta izin dulu?" Tanya Bara saat ia berdiri tepat dibelakang kursi Ira.

__ADS_1


"Minta izin? Dalam hal apa?" Ira balik bertanya karena dia memang tidak paham dengan maksud ucapan Bara.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2