Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Aku Cemburu.


__ADS_3

"Khhmmmmm!" Ujar Resi lalu perlahan mendekati Rival yang terlihat sedang melepas lelah di sudut lapangan sana.


"Kak Re, datang sama kakak?" Tanya Rival yang bahkan langsung bangun saat mengetahui kedatangan Resi.


"Hmmm, boleh kakak duduk di sini sebentar?" Tanya Resi dengan memasang senyuman semanis mungkin.


"Silahkan!" Ujar Rival lalu kembali duduk setelah Resi lebih dulu duduk.


"Gimana latihannya?" Tanya Resi memulai pembicaraan.


"Ya gini, meski lelah haus tetap dijabanin, ya namanya olahraga pasti menguras tenaga apalagi sepak bola, kerjaannya lari sana lari sini, main kejar-kejaran sama bola giliran dapat eh langsung di tendang." Jelas Rival.


"Kan nggak mungkin di peluk, namanya juga bola kaki bukan kakak!" Jelas Resi.


"Iya juga sih!" Cetus Rival lalu tertawa renyah.


"Apa latihannya sudah selesai?" Tanya Resi.


"Udah, paling juga bentar lagi bubar! Nunggu intruksi pak Faisal dulu gimananya." Jelas Rival.


"Gimana kalau kita..." Ajakan Resi langsung terhenti saat nama Rival dipanggil oleh seorang gadis yang berlari kearah dimana Resi dan Rival berada.


"Hai, aku kira kamu nggak bakal datang!" Jelas Rival.


"Kan udah janji, harus di tepati dong, gimana latihannya masih lama?" Tanya gadis manis tersebut.


"Bentar lagi selesai kok, oh ya kenalin ini kak Re temannya kak Ira." Jelas Rival.


"Hai salam kenal, Aku Safia, teman sekolahnya Rival." Jelas Safia.


"Resi, sahabatnya Ira, kakaknya Rival." Jelas Resi.


"Oh ya, tadi kak Re mau ngomong apa?" Tanya Rival yang kembali teringat dengan ucapan Resi yang sempat terhenti karena kedatangan Safia.


"Nggak ada, ya udah kalau gitu kakak duluan, bye!" Ujar Resi dan lekas pergi.


"Yang lain mana? Anggota kelompok kita rame loh, nggak cuman kita berdua doang!" Jelas Safia.


"Bara lagi di sana tuh sama kak Ira, terus Gibran ya paling ke toilet, terus Adis itu lagi melepas lelah dan Devi bentar lagi juga datang." Jelas Rival menyebutkan semua anggota kelompok mereka.


"Terus bakal kerja di rumah kamu atau Bara?" Tanya Safia.


"Rumah aku aja. Ya udah kamu tunggu di sini, aku kumpul dulu sebentar ada hal yang akan pak Faisal sampaikan, setelah ini kita langsung cus ke rumah aku, okay!" Jelas Rival.


"Siap pak ketua kelompok!" Seru Safia.


Rival segera bergabung dengan para anggota tim lainnya karena memang Faisal akan memukai sesi pembagian tugas serta trik yang akan mereka terapkan dalam pertandingan besok.


Disisi kanan lapangan sana Resi tampak sedang kesal, dia bahkan sejak tadi terus mengomel tak jelas membuat Ira kewalahan mendengar curhatan konyolnya.


"Masih belum selesai juga? Lagian, Rival itu bukan pacar kamu, terus kenapa kamu marah-marah nggak jelas gini kalau dia dekat sama cewek lain, aku aja yang kakaknya dia santai aja." Jelas Ira.


"Ya elo kakaknya! Beda cerita, isshhhh! Pengen banget aku multilasi tuh cewek!" Cetus Resi semakin kesal.


"Kamu serius? Emang kamu tau Safia itu anaknya siapa?" Tanya Ira.

__ADS_1


"Aku nggak peduli!" Cetus Resi.


"Yakin nggak peduli? Dia itu anak pak pengacara kondang loh! Sedikit aja kamu cari masalah sama dia, hmmmm bakal di jeblosin langsung ke dalam penjara." Jelas Ira.


"Apa? Serius?" Tanya Resi.


"Hmmmmm!" Jawab Ira pasti.


"Ciiiih!" Cetus Resi kesal.


"Kak Ira..." Seru Devi yang baru saja datang.


"Loh Devi, kenapa ke sini? Mau nonton mereka latihan juga?" Tanya Ira.


"Nggak lah kak, kami...hei Safia, ayo sini!" Seru Devi saat melihat Safia disisi lain lapangan.


Panggilan Devi langsung membuat Safia ikut bergabung dengan mereka.


"Kami kumpul disini karena bentar lagi mau ngarjain tuga kelompok di rumah kakak, kan besok mereka tanding terus lusa tugasnya harus di kumpulkan jadi terpaksa ntar malam harus kerja keras." Jelas Devi.


"Ooooo gitu ceritanya toh!" Ujar Ira sambil melirik kearah Resi.


"Kalian mau kerjain tugas kelompok?" Tanya Resi memastikan.


"Iya!" Jawab Devi dan Safia bahkan hampir bersamaan.


"Okay!" Ujar Resi girang.


"Ira..." Panggil Faisal yang menghampiri mereka semua.


"Hmmmm, boleh aku minta waktunya sebentar?" Tanya Faisal.


"Mau kemana?" Tanya Resi.


"Sebentar aja, bisa aku pinjam belahan jiwa mu ini sebentar?" Tanya Faisal.


"Ya udah ayo! Kita ngomong di sana!" Ajak Ira sambil bangun lalu berjalan ke sisi utara lapangan dimana kursi penonton berada.


"Kak Ira mau kemana?" Tanya Bara yang baru aja bergabung disana.


"Mau bicara sama Faisal sebentar, ada hal penting katanya!" Jelas Resi.


"Lagian apa urusannya sama kamu, toh kak Ira bukan kakaknya kamu, jadi terserah dong kak Ira mau jalan sama siapa, siapa tau mereka berjodoh!" Jelas Devi.


"Aku nggak setuju!" Tegas Bara.


"Emang siapa yang minta persetujuan mu?" Cetus Safia.


"Ya aku...." Sanggah Bara terhenti.


"Aku juga nggak setuju, guru olahraga kan kasar, sangar, pokoknya nggak cocok sama Ira!" Tegas Resi.


"Siapa yang nggak cocok sama siapa?" Tanya Gibran.


"Kaka Ira sama Pak Faisal, menurut kamu gimana?" Tanya Safia.

__ADS_1


"Nggak! No!" Tegas Gibran.


"Apa kalian berdua menyukai kak Ira?" Tanya Devi.


"Nggak!" Tegas Bara bersamaan dengan Gibran namun dengan jawaban yang berlawanan, dengan lantang Gibran menjawab "Iya!"


"Kalian berdua mencurigakan!" Ujar Devi dan mulai menatap tajam keduanya secara bergantian.


"Jangan ngaco! Masa iya bocah suka sama orang dewasa!" Cetus Resi.


"Emangnya nggak boleh? Apa salahnya, kalau cinta ya cinta, nggak ada istilah terhalang umur, kasta apalagi suku." Jelas Rival yang baru saja ikut bergabung dengan mereka.


"Yakin cinta nggak mandang umur?" Tanya Resi.


"Kalau gitu kamu pacaran aja ama kak Resi!" Celetuk Safia.


"Aku sih nggak masalah, cuman aku kan nggak mungkin maksain kak Re! Udah jangan lagi bahas hal konyol, tugas kita gimana?" Tanya Rival yang tidak ingin berdebat dengan masalah yang tidak jelas.


"Ayo kita selesaikan!" Ajak Devi.


"Jadi gimana? Langsung ke rumah kamu Val?" Tanya Gibran.


"Ya udah ayo!" Ajak Rival.


"Kalian duluan, aku akan tungguin kak Ira." Jelas Bara.


"Ya udah ayo kita duluan!" Ajak Resi.


"Tunggu-tunggu, kenapa kamu harus nungguin kak Ira?" Tanya Safia.


"Terserah aku dong! Udah kalian duluan aja, aku mau ke toilet!" Cetus Bara dan lekas pergi.


"Kak Re gimana? Mau pulang atau ikut ke rumah?" Tanya Rival.


"Kakak pulang aja, kakak duluan Bye, kalian hati-hati di jalan!" Jelas Resi dan lekas pulang lebih dulu lalu disusul oleh Gibran, Rival, Devi dan juga Safia yang lekas pergi meninggalkan lapangan.


________


"Gimana dengan pernyataan aku minggu lalu?" Tanya Faisal saat ia dan Ira duduk di kursi penonton.


"Pernyataan yang mana? Soal apa?" Tanya Ira yang bahkan tidak ingat sama sekali dengan apa yang sedang Faisal bicarakan.


"Ra, kemaren aku chat kamu, aku ungkapin perasaan aku ke kamu selama ini lewat chat, aku yakin kamu sudah membacanya. Dan sekarang aku ingin mendengar jawaban dari kamu. Ra, aku sangat mencintai mu, sejak dulu, bahkan saat kita masih SMA dulu." Jelas Faisal.


"Apa maksud kamu kalau kamu nyatain perasaan kamu ke aku lewat chat dan aku udah baca chat itu?" Tanya Ira memastikan.


"Iya!" Jawab Faisal pasti.


Seketika mata Ira langsung meluncur menelusuri seluruh penjuru lapangan, saat menyadari bahwa tidak ada satu orang pun lagi di lapangan, seketika Ira langsung bangun dari bangkunya.


"Maaf, aku harus pulang!" Jelas Ira dan langsung pergi meninggalkan Faisal begitu saja.


Ira terus berlari keluar lapangan, dan segera masuk ke dalam mobilnya, disaat ia baru saja menghidupkan mesin mobilnya di saat itu pula Bara masuk dan duduk di sebelahnya Ira.


"Aku cemburu!" Tegas Bara bersamaan dengan Ira yang mengatakan "Ini salah paham!" Keduanya saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2