
Rival masih mematung kaku dengan tatapan sendu kearah Alea yang masih saja menunggu jawaban darinya. Alea sedikit mundur agak menjauh dari sisi Rival.
"Selamat malam!" Ujar Alea lalu perlahan melangkah meninggalkan Rival begitu saja.
"Ayo bicara!" Ajak Rival setelah turun dari motor dan langsung menggandeng tangan Alea lalu mengajaknya kembali ke dalam Cafe.
"Duduklah!" Pinta Rival setelah ia duduk di salah satu meja yang terletak di sudut cafe.
Alea nurut, ia duduk tepat dihadapan Rival.
"Hmmmmm, aku suka sama kamu. aku selalu saja memerhatikan mu meski dari jauh, tapi, iya, seperti yang tadi kamu katakan, aku benar-benar tidak mengerti dengan rasa suka ku ini, ntah ini cinta atau hanya rasa kagum belaka, aku belum bisa memastikan perasaan ku sendiri." Jelas Rival.
"Butuh waktu berapa lama?" Tanya Alea.
"Waktu? Untuk?"
"Memastikan perasaan mu. Aku akan menunggunya, karena aku, aku mencintaimu Val. Aku jatuh cinta pada mu, Rival." Jelas Alea dengan tangan yang perlahan menyentuh tangan Rival.
"Hmmm, terima kasih karena mau mengerti perasaan aku. Alea, aku....jujur aku senang saat melihat mu, tapi aku juga tidak ingin membuat mu terluka, aku tidak ingin membuatmu kecewa, beri aku waktu satu minggu, setelah itu aku akan menemui mu." Jelas Rival.
"Hmmmm!" Ujar Alea dengan senyuman.
"Rival..." Ujar Resi pelan saat tanpa sengaja ia melihat Rival yang sedang duduk disalah satu meja cafe.
Langkah Resi yang awalnya begitu gesit, perlahan mulai tertahan karena melihat sosok Alea yang sedang duduk bersama Rival, bahkan kaki Resi seketika terhenti saat melihat tangan Alea yang menggenggam erat tangan Rival.
"Ternyata dia sudah punya pacar! Huuuuf, tenang Re, tenang! Jangan panik, jangan...huuuf!" Jelas Resi pada dirinya sendiri.
Resi segera memutar arah menuju ke luar cafe, berusaha menghindari Rival. Ia terus berjalan pelan dengan perasaan kacau dan pilu, bahkan tanpa sadar dalam diam air matanya mulai menetes dengan sendirinya.
"Tenang Re, tenang! Dia bahkan tidak memiliki perasaan apapun terhadap mu, jangan bodoh, dia hanya menganggap mu sebagai sahabat dari kakaknya, dasar bodoh!" Cetus Resi pada dirinya sendiri dan segera berlari keluar dari cafe.
________
Bara yang perlahan masuk ke dalam kamar, lalu berjalan menuju ruang ganti, setelah selesai dengan stelan tidurnya Bara segera kembali ke tempat tidur dimana Ira sedang tertidur lelap.
Bara duduk di samping Ira dengan tangan yang perlahan menyentuh wajah Ira.
"Siapa yang bocah? Aku atau kamu?" Tanya Bara yang sejak awal memang tau kalau Ira sedang pura-pura tidur.
__ADS_1
"Mau terus pura-pura? Ayo kita bicara!" Ajak Bara.
Namun tidak ada reaksi apapun dari Ira, ia masih saja tertidur pulas tanpa bergerak sedikitpun. Perlahan tangan Bara bergerak menyentuh bahu Ira hingga jemarinya, dimenit berikutnya tangan Bara mulai menyusup nakal kebalik piyama Ira hingga seketika membuat Ira langsung bangun lalu bergeser duduk agak menjauh dari sisi Bara.
"Loh kok bangun? Lanjutkan lagi aja tidurnya!" Jelas Bara dengan tatapan nakal.
"Bara...." Ujar Ira.
"Hmmmm, apa?" Tanya Bara lalu kembali bergeser mengikis jarak, hingga bahunya kembali menempel pada bahu Ira.
"Sebenarnya..." Ujar Ira pelan dengan tangan yang mencoba menahan dada kekar Bara yang terus saja mendekat padanya.
"Sebenarnya?" Tanya Bara lalu yang bahkan tidak peduli dengan tangan Ira yang berusaha menahan dirinya, ia bahkan semakin mendekat hingga benar-benar tidak ada lagi jarak sedikitpun diantara keduanya.
"Bara, cukup, berhenti!" Tegas Ira lalu berusaha menjauh dari Bara.
Namun secepat kilat tangan Bara menarik tubuh Ira kedalam pelukannya.
"Tidak bisakah kamu jujur pada aku?" Tanya Bara dengan tatapan penuh manja bersamaan dengan merebahkan kepalanya di bahu Ira.
"Aku hamil, aku sedang mengandung." Jelas Ira.
"Bara..." Ujar Ira yang begitu heran dengan respon Bara.
"Tidak sia-sia, waaaaah beginikah rasanya? Waaaaah, berarti aku benar-benar lelaki tangguh, iya kan Ra? Aku keren kan? Iya kan???" Tanya Bara yang benar-benar terlihat begitu bahagia.
Bara bahkan berkali-kali meloncat dengan terus berteriak 'yes' dengan penuh semangat, lalu kembali mendekati Ira dan langsung memeluknya.
"Sekarang aku bukan lagi bocah kan? Udah lihat hasilnya kan?" Jelas Bara dengan terus mengeratkan pelukannya.
"Bara, pelan-pelan, aku nggak bisa nafas!" Protes Ira yang berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan erat Bara.
"Maaf, maaf!" Pinta Bara yang spontan melonggarkan pelukannya.
"Tapi..." Ujar Ira tertahan dengan mata yang menatap dalam wajah Bara yang sedang bersinar binar.
"Tapi? Ada apa? Apa ada masalah dengan anak aku? Atau selain hamil kamu juga sakit? Kenapa? Jangan buat aku menerka-nerka, katakanlah!" Pinta Bara dengan kedua tangan yang menyentuh lembut kedua bahu Ira.
"Dia baik-baik saja, aku juga, kami berdua sehat." Jelas Ira.
__ADS_1
"Lalu? Apa masalahnya?" Tanya Bara.
"Bisa nggak untuk sementara kamu pura-pura nggak tau, soalnya bunda dan papa meminta aku untuk tidak cerita dulu ke kamu, bunda tidak mau fokus ujian mu buyar karena aku hamil, dan papa, papa ingin kamu lulus dengan baik baru setelah itu kita pikirkan masalah kehamilan aku, bahkan papa dan bunda ingin mengadakan pesta peresmian pernikahan kita. Jadi untuk sementara ini, berpura-pura lah di depan papa dan bunda, kamu bisa kan?" Jelas Ira panjang lebar.
"Peresmian pernikahan?" Tanya Bara.
"Hmmm, itu usulan bunda dan papa, kalau kamu keberatan aku bisa bicarakan sama papa agar tidak membuat acara apapun itu." Jelas Ira.
"Baik, aku akan berpura-pura tidak tau tentang kehamilan mu, tapi dengan satu syarat." Ujar Bara.
"Hmmmm, apapun syaratnya akan aku lakukan." Tegas Ira pasti.
"Okay, ayo tidur!" Ajak Bara yang bahkan langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur.
"Apa syaratnya?" Tanya Ira yang masih duduk.
"Nanti setelah ujian akan aku katakan persyaratannya, ayo istirahat!" Ajak Bara lagi yang bahkan langsung memejamkan matanya.
Ira masih saja duduk, tanpa bergeming sama sekali, tangan kanannya menyentuh pelan perut ratanya, matanya masih terus tertuju pada Bara yang berbaring di sampingnya.
(Perasaan apa ini? Rasanya sesak banget, mendengar dia bicara seperti itu, apa dia benar-benar tidak ingin meresmikan pernikahan ini? Apa baginya aku hanyalah istri yang tidak layak untuk di kenalkan pada semua orang? Lalu kenapa waktu itu dia justru mengekspos pernikahan ini? Bara, sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan? Padahal tadi dia terlihat sangat bahagia dengan kabar kehamilan ku, tapi...kenapa tiba-tiba saja, hmmmm, Ira sabar, jangan nangis, semua akan baik-baik saja, kenapa kamu jadi cengeng gini sih?) Ungkap hati Ira bercampur aduk ia bahkan terus berusahan menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Sekuat apapun ia mencoba akhirnya pertahanannya roboh seketika, air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya, Ira buru-buru memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan oleh Bara kalau saat ini ia sedang menangis pilu. Pelan-pelan Ira berbaring lalu mencoba untuk memejamkan matanya. Saat tangan Bara perlahan melingkar dipinggang Ira seketika membuat Ira kembali membuka matanya.
"Jangan berpikir yang macam-macam! Berhentilah menangis." Pinta Bara.
"Hmmmmmm." Ujar Ira pelan dengan mencoba menahan isak tangisnya.
"Tolong peluk aku, peluk aku, Bara." Pinta Ira yang seketika berbalik menghadap pada Bara.
Secepat kilat Bara langsung memeluk tubuh Ira, mengecup lembut kening serta pipi Ira.
"Tidurlah, besok minggu, ayo kita pergi kencan bersama anak kita." Ujar Bara.
"Benarkah?" Tanya Ira memastikan.
"Hmmmm, jadi buruan tidur!" Jelas Bara lalu mengeratkan pelukannya.
Keduanya pun terlelap bersama.
__ADS_1
...🦋🦋🦋🦋🦋...