Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Ayo Lakukan!


__ADS_3

Bara terlihat begitu asyik membangun istana pasir meski sesekali dengan nakal deburan ombak merusak istana yang sudah ia bangun dengan susah payah, meski kesal dan marah Bara hanya bisa bergumam pada dirinya sendiri lalu kembali membuat bangunan yang baru. Terlihat begitu fokus dan lihai dalam membuat istana hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang terus saja memperhatikannya dari kejauhan.


Gadis remaja tersebut seakan tidak bosan menatap wajah imut nan lugu milik Bara, meski sesekali ia membuang pandangannya kearah lain agar pandangannya tidak beradu ataupun tidak akan ada yang menyadari ulanya terlebih ada seorang cowok remaja yang duduk di bawah pohon cemara sana yang terlihat memperhatikan gerak-geriknya.


"Dhuuuuum" kali ini deburan ombak menyapu bersih semua istana yang sudah payah di bangun oleh Bara.


"Ahhhhhhhh! Awas aja, aku bakal balas dendam!" Ancam Bara lalu berdiri tegak dengan tangan yang memegang secrop mainan di tangan kirinya lalu memasang badan bak banteng parang.


Matanya terus menatap marah kearah ombak lalu kakinya berlari kearah laut dan menghadang ombak besar yang siap pecah.


Mata Ira terusik dengan gerak Bara, dengan spontan Ira bangun dan segera berlari kearah Bara saat pecahan ombak membawa serta tubuh mungil Bara kearah lautan.


Ira semakin mempercepat langkahnya, ia langsung menerjang ombak, menyelami lautan, mencoba mencari tubuh Bara ke sana-sini.


"Bara, Bara, Baraaaaa!" Teriak Ira histeris hingga terbangun dari mimpi buruknya.


Teriakan Ira juga sukses membangunkan Bara yang ada disampingnya.


"Kak Ira kenapa? Ada apa?" Tanya Bara panik.


"Bara...." Ujar Ira pelan dan langsung memeluk erat tubuh Bara yang berada disampingnya.


Dengan lembut tangan Bara mengusap pelan punggung lemah Ira.


"Apa aku yang datang di mimpi kakak?" Tanya Bara pelan masih dengan memeluk erat sang istri.


"Hmmmmmm!" Jawab Ira pelan.


"Tentang kejadian waktu itu? Apa disana pertama kali kita bertemu?" Tanya Bara yang perlahan melonggarkan pelukannya lalu kini duduk dengan saling berhadapan.


"Iya, itu hari pertama kali kakak melihat mu." Jelas Ira.


"Dan langsung jatuh cinta?" Tanya Bara.


"Kenapa? Tidak boleh? Apa aku terlihat seperti maniak di mata mu karena menyukai bocah?" Tanya Ira lalu mengikat rambutnya yang terurai berantakan.


"Apa barusan aku bilang tidak boleh? Kak, terima kasih karena telah menggenggam erat tangan ku hari itu."


Ira terus berenang berusaha mencari tubuh mungil Bara, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Ira melihat tangan Bara yang mulanya masih bergerak mengibas meminta tolong namun perlahan tubuhnya semakin ditarik ke dalam lautan, tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa Ira segera menuju Bara lalu berusaha meraih tangan Bara menggenggamnya dengan erat lalu menariknya keluar dari dalam lautan.


Usaha dan kerja keras Ira membuahkan hasil, Ia berhasil membawa tubuh Bara ke daratan meski dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Langkah-langkah terus berlarian menghampiri Ira dan juga Bara yang terbaring kaku diatas pasir.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik saja? Bangunlah, bunda mohon bangun sayang!" Tangis Dewi pecah dengan kedua tangan yang mendekap erat wajah Bara yang kini berada di dalam pangkuannya.


Sosok pria nan karismatik langsung mengambil alih, dia segera menekan dada Bara, berusaha untuk membuatnya kembali bernafas, sedang seorang cowok remaja lainnya hanya berdiri dengan terus menatap sosok Bara.


"Bara bangun nak, papa bilang bangun sayang!" Pinta Bima sambil terus menekan dada Bara.


Hingga akhirnya Bara sadar dari pingsannya, ia terbatuk-batuk dengan air yang keluar dari rongga hidung dan mulutnya.


"Bunda..." Tangis Bara dengan tatapan yang begitu lemah.


"Iya sayang, ini bunda." Ujar Dewi yang kembali memeluk erat tubuh sang anak tercinta.


"Terima kasih banyak nak atas bantuan mu, terima kasih karena telah menyelamatkan anak om." Ucap Bima dengan menyentuh lembut tangan Ira.


Dari dalam pelukan sang bunda ternyata diam-diam Bara menatap sosok malaikat penolongnya, lalu perlahan tangan kecilnya bergerak dan menyentuh tangan Ira.


"Siapa nama kakak?" Tanya Bara masih dengan suara yang terdengar begitu lemah, namun matanya terus menatap penampilan gadis tersebut yang basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Khumaira." Jawab Ira dengan senyuman.


"Terima kasih kak Mai!" Ucap Bara dengan senyuman manis.


Ingatan tentang kejadian tersebut perlahan menghilang dari pikiran Bara, ia kembali tersadar dari kenangan yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Hmmmm, sejak kejadian itu kakak baru tau kalau ternyata papa mu dan juga papa adalah sahabat, berawal dari sana, kakak mulai mencari tau tentang kamu, kebiasaan mu apapun yang berhubungan dengan mu, sampai di satu titik kakak sadar kalau kakak benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya kakak menjerat mu yang masih bocah dalam perasaan konyol kakak." Jelas Ira.


"Lalu bagaimana ceritanya kakak bisa jadi Mai_24?" Tanya Bara yang semakin penasaran dengan kisah Ira.


"Karena hanya kamu satu-satunya orang yang memanggil kakak dengan nama Mai, dan soal akun Ig mu, maaf, kakak mencurinya dari Rival dan kakak akui kalau kakak juga diam-diam mencuri beberapa foto mu dari ponsel Rival, maaf!" Ujar Ira dengan penuh rasa bersalah.


"Hmmmm, terus 24 itu apa? Tanggal pertemuan kita? Atau....?" Tanya Bara.


"Itu, tanggal lahir kamu kan?"


"Apa? Jadi kak Ira benar-benar tergila-gila sama sosok cowok aduhai tampan seantero dunia ini?"


"Kamu!" Gumam Ira yang langsung menarik telinga Bara.


"Awww sakit kak! Wajah aku masih bonyok sana sini loh, belum sembuh!" Protes Bara.


"Sorry!" Ujar Ira yang langsung menyentuh lembut wajah Bara.


"Apa jangan-jangan perjodohan ini juga bagian dari skenario kakak?"

__ADS_1


"Jangan ngasal! Kakak sama sekali tidak ikut andil dalam perjodohan ini, bahkan kakak menolaknya dengan tegas, kakak tidak mau menghancurkan masa depan kamu, Bar."


"Lalu bagaimana jika seandainya waktu itu bukan aku yang papa jodohkan dengan kak Ira, bagaimana kalau justru Abang Sam? Apa kak Ira akan tetap melakukannya?"


"Hmmmm, karena keputusan papa tidak bisa di ganggu gugat sama sekali."


"Itu artinya kakak menyerah dengan cinta kakak?"


"Menyerah? Bukannya mencintai tidak harus memiliki? Sejak awal kakak memang sangat mencintai mu, tapi jujur kakak tidak pernah menaruh harapan untuk bisa memiliki mu, kakak tidak ingin kecewa terlalu dalam lagi dengan diri kakak sendiri."


"Kak..."


"Hmmmmm!"


"Apa sekarang kita benar-benar sudah menjadi suami istri seperti umumnya?"


"Maksudnya? Iya emang kita suami istri kan?"


"Maksud aku itu, benar-benar suami istri, aku cinta sama kak Ira begitu juga sebaliknya, lantas apa lagi masalahnya?"


"Masalah apa?"


"Penghalang diantara kita?"


"Penghalang? Siapa?"


"Maksud aku! Hmmmmm, gimana cara ngomongnya coba? Jadi bingung, serba salah kan!" Gumam Bara pelan pada diri sendiri ia bahkan membuang wajahnya dari pandangan Ira.


"Apa? Kamu ngedumel? Emang kakak salah apa lagi?" Tanya Ira yang semakin kebingungan.


"Ayo!" Ajak Bara.


"Kemana? Ini udah tengah malam, mau berkeliaran kemana lagi coba?"


"Siapa yang ngajak berkeliaran orang ngajak...." Jelas Bara namun seketika langsung menghentikan ucapannya.


"Bara..." Ujar Ira.


"Okay, ayo kita lakukan!" Seru Bara dengan suara lantang dan kedua tangan yang langsung mendekap wajah Ira.


"Maksud kamu melakukan?"


"Hmmmm! Apa yang seharusnya suami istri lakukan." Jelas Bara dengan mata yang terus menatap kedua mata Bening Ira tanpa berkedip sama sekali.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2