Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Tentang Aku.....


__ADS_3

Motor Bara masih saja menelusuri sepanjang jalan yang mulai gelap, karena senja perlahan surut lalu mempersilahkan sang malam datang dan menghadirkan para bintang dan rembulan yang menggantung indah dilangit malam. Bara terus berpacu kecepatan mengiringi detik yang terus berjalan, hingga suara Azan mulai menggema di mesjid-mesjid di sepanjang jalan yang mereka lalui.


"Bara!" Panggil Ira pelan.


Tiga kali sudah Ira memanggil namun tak ada jawaban sama sekali, hingga Ira memutuskan untuk sedikit menyentuh bahu kanan Bara.


"Kenapa?" Tanya Bara dengan sedikit mengurangi laju motornya.


"Udah magrib." Jawab Ira dengan suara yang sedikit ia lantangkan agar Bara bisa mendengarnya dengan jelas.


"Terus?"


"Turunkan kakak di mesjid depan sana!"


"Kenapa? Apa kak Ira mau naik taxsi?"


"Kakak mau sholat magrib dulu, takutnya kalau nunggu sampai di rumah bakal nggak keburu." Jelas Ira dengan begitu pelan.


Bara tidak lagi meberi jawaban apapun, ia justu kembali mempercepat laju motornya. Sikap Bara membuat Ira menarik nafas dalam-dalam, ia tidak ingin membuat suasana hati Bara kembali kesal dan akhirnya ia memutuskan untuk diam. Beberapa menit kemudian motor Bara justru memasuki pekarangan sebuah mesjid megah yang begitu indah.


"Terima kasih!" Ucap Ira saat motor Bara berhenti dekat pintu mesjid.


"Berapa menit?" Tanya Bara sambil mengambil helm dari tangan Ira.


"Kamu duluan aja, ntar kakak naik taxsi aja pulangnya." Jawab Ira.


"Tapi Rival menitipkan kak Ira sama aku!" Jelas Bara.


"Nitip? Kalian kira kakak anak kecil apa, kakak udah biasa pulang sendirian, kamu duluan aja!" Jelas Ira.


"Aku udah janji sama Rival, dan kak Ira tau kan? Kalau aku nggak pernah ingkari janji aku sama dia! Buruan gih sana, aku tunggu di parkiran!" Jelas Bara yang kembali menghidupkan mesin motornya.


"Tunggu!" Pinta Ira yang bahkan langsung menyentuh lengan kanan Bara.


"Ada apa lagi?" Tanya Bara.


"Hmmmm, ayo ikut sholat!" Ajak Ira dengan senyuman lebar.


"Aku?" Tanya Bara memastikan.


"Hmmmm kamu, calon imam ku!" Ujar Ira yang sontak membuat Bara salah tingkah.

__ADS_1


"Aku....hmmmm!" Keluh Bara.


"Bara..." Ujar Ira dengan suara yang begitu lembut.


"Aku parkir motor dulu, kak Ira masuk aja duluan!" Jelas Bara.


"Baikalh!" Ujar Ira yang langsung bergegas wudhu lalu sholat berjamaah di mesjid tersebut.


Setelah sholat dan zikir selesai, Ira cepat berberes, dan lekas keluar dari mesjid tersebut, dia tidak ingin membuat Bara menunggunya. Setelah memakai sepatu, kini Ira duduk di tangga mesjid menunggu Bara menemuinya.


________________


"Terima kasih pak!" Ucap Bara sambil menyerahkan kembali sarung yang barusan ia pakai untuk sholat yang merupakan pemberian dari seorang bapak-bapak yang berdiri di sebelahnya.


"Apa baru selesai latihan? Atau habis ikut pertandingan?" Tanya bapak tua tersebut lalu mengambil kebali sarungnya.


"Habis tanding pak, dan sekolah kami menang!" Jelas Bara.


"Waaaah hebat, meski lelah tapi ibadah tetap nomor satu, anak muda panutan memang kamu nak. Bapak dulu saat seusia kamu malah sangat malas ibadah, main aja kerjaannya." Jelas bapak tersebut.


"Aku tidak seperti yang sedang ada dalam pikiran bapak, aku bahkan jauh lebih buruk dari masa lalu bapak!" Jelas Bara.


"Bapak senang sekali malam ini, setidaknya bumi masih memiliki pemuda seperti mu, nak." Jelas bapak itu sambil menepuk pundak kanan Bara.


"Aku permisi pak, soalnya lagi buru-buru, takutnya kakak aku menunggu ku terlalu lama." Jelas Bara.


"Ah ya, silahkan! Hati-hati ya nak, dan juga semoga kamu selalu dalam berkah-Nya!" Doa sang bapak yang bak petir menyambar relung hati Bara.


Dengan senyuman perlahan Bara keluar dari mesjid dan bergegas mengambil motornya dan segera menjemput Ira yang menunggunya di tangga sisi utara mesjid.


"Ayo pulang!" Ajak Bara yang langsung membuat Ira segera naik ke atas motor lalu keduanya lekas pulang.


"Apa kak Ira buru-buru?" Tanya Bara dengan motor yang terus melesat menembus udara dingin malam.


"Kenapa?"


"Ayo kita bicara sebentar!" Ajak Bara.


"Baiklah."


"Dimana?"

__ADS_1


"Dimana saja boleh, kakak ikut kamu!" Jelas Ira.


"Baiklah!" Jawab Bara yang segera menambah laju motor lalu mampir ke sebuah taman yang memang begitu banyak pengunjung meski saat malam hari.


Keduanya turun dari motor, lalu mengambil tempat di sebuah kursi yang menghadap kearah taman mawar yang begitu indah. Sejenak keduanya terdiam dengan mata yang terus menatap keindahan yang mawar tawarkan.


"Aku punya kekasih!" Jelas Bara yang seakan memecah keheningan diantara keduanya.


"Apa dia Hanin? Atau Ratu?" Tanya Ira.


"Ratu. Apa Kak Ira sudah tau sejak awal?" Tanya Bara lalu sejenak menatap pada Ira dan pada menit berikutnya kembali menatap sang mawar yang berjejer rapi.


"Hmmm...." Jawab Ira.


"Tentang aku yang gila bola dan drum? Tentang aku yang tidak bisa mengendalikan emosi aku? Atau tentang aku yang sama sekali tidak ingin diatur ataupun dikekang oleh keluarga aku? Tentang aku yang sama sekali tidak ingin mengikuti jalan yang sudah papa ciptakan untuk aku? Atau mungkin tentang aku yang tidak pernah akur dengan abang Sam, tentang apapun itu, aku harap kak Ira akan menerima semua tentang aku, tidak perlu dimengerti, aku hanya ingin kita sama sama menjaga privasi, baik tentang hobi, kerjaan ataupun percintaan." Jelas Bara.


"Hmmmm, kakak terima persyaratan mu itu, tapi kakak juga punya syarat!" Jelas Ira.


"Aku akan menerima apapun syarat kak Ira!"


"Jangan pernah tunjukkan hubungan asmara kamu di depan Rival." Jelas Ira


"Baik!" Jawab Bara tegas.


"Dan kakak juga jangan pernah menunjukkan pacar kakak di hadapan kedua orang tua aku!" Lanjut Bara.


"Baik, kakak setuju!" Jelas Ira.


(Apa ini artinya kami nikah kontrak? Atau sejenis kawin diatas selembar kertas? Hashhhhh apapun itu, aku tidak peduli, lagi pula kita sama sama sepakat, jadi bodoh amat!) Gumam hati Bara yang berusaha untuk yakin dengan kesepakatan yang baru saja ia dan Ira buat.


"Bukankah semuanya sudah selesai? Ayo pulang!" Ajak Ira lalu bangun dari tempat duduknya.


"Kak Ira..." Panggil Bara yang langsung membuat langkah Ira terhenti.


"Kenapa?" Tanya Ira yang kembali menoleh pada Bara yang masih belum beranjak dari kursi tersebut.


"Dunia ku sangat jauh berbeda dari ekspektasi kakak, dan... terima kasih karena mau menerima perjodohan ini meski aku tidak yakin apa yang sedang kakak perjuangkan saat ini akan setimpal dengan masa depan yang kakak korbankan!" Jelas Bara.


"Kakak tau, baik kamu atau pun kakak, kita sama-sama sedang memperjuangan satu hal yang begitu penting dalam hidup kita, bukankah untuk mendapatkan sesuatu kita harus melepaskan sesuatu yang lainnya? Karena memang begitulah cara kerja dunia, kita tidak bisa mendapatkan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan. Ayo pulang!" Jelas Ira dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Ayo pulang!" Ujar Bara yang segera kembali ke kotornya dan keduanya pun lekas pulang.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2