Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Air Mata Ira


__ADS_3

"Plaaaak' kini wajah Vino yang menjadi sasaran. Bukan hanya satu kali, namun tamparan tersebut menghantam  wajah Vino hingga tiga kali.


"Bara....!" Ujar Ira saat mengetahui bahwa Bara adalah orang yang baru saja menyerang Vino.


"Jangan ikut campur! Ini masalah pribadi kami, ikut aku Ira!" Tegas Vino yang bahkan langsung menarik tangan Ira untuk ikut bersamanya.


"Lepaskan kak Ira!" Pinta Ratu yang bahkan langsung menghadang langkah Vino.


"Lepaskan dia, atau aku akan mematahkan tangan mu!" Ancam Bara yang menarik kembali Ira ke sisinya.


"Kalian para bocah pergilah?" Gumam Vino yang mulai kesal.


"Lepaskan kakak aku!" Tegas Ratu.


Tangan Vino hendak menampar wajah Ratu namun secepat kilat Bara menghadangnya, tangan Bara dengan sigap menepis kasar tinju Vino lalu kaki kanan Bara seketika menghantam kedua lutut Vino secara bergantian membuat tubuh Vino bertekuk lutut di atas rerumputan.


"Bara...!" Ujar Ira yang mencoba mencegah Bara agar tidak kembali menyerang Vino.


"Hassssh!" Gumam Bara kesal.


"Ira..." Ujar Vino lalu mencoba untuk kembali berdiri.


Namun sebelum Vino bisa berdiri kaki Bara telah lebih dulu membuat kedua lututnya kembali bertumpu di rumput.


"Jangan pernah lagi sentuh kak Ira! Atau aku akan membunuh mu!" Tegas Bara dengan penuh emosi.


"Apa hak mu melarang aku? Dia kekasih ku dan yang paling penting dia bukan istri mu!" Tegas Vino yang langsung berdiri bahkan menyerang Bara.


"Hentikan Vin!" Tegas Ira yang segera mendekap tubuh Bara sehingga membuat tinju Bara terhenti begitu saja.


"Kak, dia itu bajingan! Biarkan aku membunuhnya!" Jelas Bara.


"Bara cukup!" Pinta Ira.


"Apa kakak masih mencintai bajingan ini?" Tanya Bara yang sontak membuat Ira terdiam dalam tatapan sendu.


"Kak Ira..." Ujar Ratu lalu perlahan merangkul tubuh Ira kedalam pelukannya.


"Ira kamu masih mencintai ku kan? Jawab Ra...!" Pinta Vino dengan suara yang begitu lantang, karena dia yakin bahwa Ira masih sangat mencintai dirinya.


"Vin, aku sama sekali tidak lagi mencintai mu!" Jawab Ira pelan.


"Apa kamu mulai menjadi wanita mata duitan? Jangan bilang kalau sekarang kamu mencintai om tua bangka yang kini menjadi suami mu itu!" Tegas Vina.


"Apa kak Ira sudah menikah?" Tanya Ratu dengan terus menatap wajah Ira.


"Cukup Vin, aku capek, aku,,, tolong biarkan aku pergi dari hidup mu!" Jelas Ira dan langsung melangkah pergi begitu saja.


Ratu segera menyusul langkah Ira. Dan Bara pun lekas pergi meninggalkan Vino yang masih mematung sambil menatap kepergian sang kekasih tercinta.


_______________

__ADS_1


"Masuk!" Pinta Bara setelah membuka pintu mobil.


"Ayo kak!" Ajak Ratu.


"Ini mobil Ratu, dia akan mengantarkan kita pulang!" Jelas Bara yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Iya kak, jadi masuklah!" Pinta Ratu.


Tidak ingin semakin mengacaukan suasana, akhirnya Ira nurut dan ia langsung masuk dan duduk di kursi belakang sedangkan Ratu mengambil tempat di samping Bara yang kini mulai menyetir mobil meninggalkan lokasi taman tersebut.


"Kak Ira baik-baik saja?" Tanya Ratu sambil menoleh ke belakang tepat dimana Ira berada.


Bara terus saja fokus menyetir tanpa bicara sepatah katapun, hanya Ratu yang sedari tadi terus memperhatikan sosok Ira yang terus saja menundukkan wajahnya.


"Hmmmmm!" Jawab Ira.


"Bar, sebaiknya kita antar kak Ira dulu, setelah itu baru aku antar kamu pulang!" Jelas Ratu sambil menyentuh lengan Bara.


"Aku sudah minta Rival buat jemput kak Ira!" Jawab Bara dingin yang bahkan tanpa menoleh pada Ratu sama sekali.


"Loh kenapa? Terus kamu suruh Rival jemput dimana? Nggak mungkinkan kita turunkan kak Ira jalan dengan kondisi kak Ira yang kayak gitu!" Jelas Ratu pelan.


"Aku minta Rival datang ke rumah aku, jadi kak Ira akan ikut ke rumah ku." Jelas Bara.


"Tapi.... Apa kak Ira nggak masalah kalau harus mampir ke rumah Bara dulu?" Tanya Ratu.


"Hmmmmm!" Jawab Ira singkat.


"Nggak usah, Rival udah gerak soalnya!" Jelas Bara.


"Ok, baiklah!" Jawab Ratu nyerah dengan keputusan Bara.


Mobil terus melaju menuju rumah keluarga Pradipta, hingga beberapa menit berlalu dan akhirnya mobil tersebut berhenti tepat di depan gerbang depan.


"Terima kasih, ayo turun kak!" Ucap Bara yang langsung turun dari mobil.


"Terima kasih banyak Ratu." Ucap Ira.


"Sama-sama kak, hati-hati dan kalau kak Ira butuh teman cerita aku bisa kok! Hubungi saja aku." Jelas Ratu dengan senyuman yang begitu ramah.


"Makasih banyak!" Balas Ira dengan senyuman manisnya lalu segera turun dari mobil.


Setelah mobil Ratu tidak lagi terlihat, Bara dan Ira baru masuk. Keduanya terus berjalan tanpa ucapan sepatah kata pun, setelah melewati taman nan luas lalu masuk ke rumah dan menaiki tangga, keduanya benar-benar saling diam membisu hingga sebuah suara menghentikan langkah kaki keduanya.


"Kalian habis dari mana?" Tanya Bima yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Ya dari sekolah, masak iya dari kantor." Cetus Bara dan langsung masuk ke kamarnya.


"Papa..." Ujar Ira.


"Apa dia buat masalah lagi?" Tanya Bima.

__ADS_1


"Tidak pa!" Jawab Ira dengan begitu cepat.


"Kamu tidak sedang menyembunyikan kesalahan dia dari papa kan?" Tanya Bima memastikan.


"Iya pa." Jawab Ira.


"Lalu apa dia mengganggu mu?"


"Sama sekali nggak pa."


"Baiklah papa percaya dan untuk besok kamu ikut papa ya!"


"Baik pa."


Bima berlalu begitu saja, dan Ira bergegas menyusul Bara yang kini berada di kamarnya sana.


Perlahan Ira menutup kembali pintu dengan begitu pelan, lalu melangkah mendekati meja rias, meletakkan tasnya di sana lalu bergegas ke ruang ganti, ia sama sekali tidak ingin mengusik Bara yang ia rasa sedang tertidur di atas kasur sana.


"Hasssssh!" Gumam Bara dengan penuh emosi.


Bara turun dari tempat tidur lalu melepaskan baju sekolahnya dan melemparnya begitu saja lalu berlari menuju drum yang terletak di sisi kiri kamar dan tanpa tunggu lebih lama lagi, tangan Bara langsung memainkan drumnya.


"Aaaaaahhhhhhhh!" Teriak Bara sambil melemparkan stik yang ada di tangan kirinya.


"Sial....!" Gumam Bara bersamaan dengan tangan kanan yang memukul keras drum.


"Apa ini karena kakak?" Tanya Ira yang baru saja muncul di hadapan Bara setelah menggantikan baju kerjanya dengan kaos lengan panjang serta rok prisket dan jilbab kurung yang membungkus rambut indahnya.


"Jangan katakan apapun! Aku benar-benar sedang kesal setengah mati!" Cetus Bara sinis.


"Apa kakak buat salah? Bukankah kakak sama sekali tidak melanggar perjanjian kita! Lalu apa salah kakak?" Tanya Ira yang kembali melangkah semakin mendekati Bara.


"Nggak nafsu bahas hal yang nggak penting!"


"Bar..."


"Stop kak!" Gumam Bara yang langsung bangun dari tempat duduknya.


"Kakak izin pulang!" Ucap Ira yang bahkan langsung mengambil  tasnya.


"Kak!" Tegas Bara yang langsung menarik tangan Ira, agar Ira tidak keluar dari kamar.


Genggaman Bara yang awalnya begitu kasar perlahan mulai melonggar, saat tanpa sengaja Bara melihat wajah Ira yang telah dibasahi oleh air mata.


"Kak Ira nangis?" Tanya Bara yang mulai resah dengan apa yang sedang terjadi pada Ira.


"Kakak..." Ucapan Ira tertahan begitu saja, ia sama sekali tidak lagi dapat berkata-kata.


"Apa aku yang buat kakak nangis sesenggukan seperti ini??" Tanya Bara bersamaan dengan kedua tangan yang langsung mendekap tubuh mungil Ira kedalam dekapannya.


Tubuh Bara yang tinggi menjulang serta bahu lebar di padu dengan dada bidang menbuat tubuhnya terlihat begitu atletis, hingga terlihat seakan tubuh Ira hilang, lenyap dalam pelukan Bara.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2