
"Hai!" Sapa Samudra dengan senyuman dan lambaiyan tangan.
Alea sedikit melangkah mundur dengan tangan yang spontan merapikan rambutnya yang memang sangat berantakan.
"Abang Sam..." Ujar Alea dengan menahan rasa malu dan kesal pada dirinya sendiri.
"Ayo jalan!" Ajak Samudra.
"Jalan? Kemana? Apa Bara yang memberikan alamat rumah ku?" Tanya Alea.
"Hmmm, abang yang memintanya. Gimana? Mau jalan sama abang nggak? Atau mungkin kamu lagi sibuk? Ya udah abang pamit aja kalau gitu." Jelas Samudra dan hendak melangkah pulang.
"Lima menit, bisa tunggu lima menit aja, aku harus ganti baju dulu." Pinta Alea.
"Hmmm, abang tunggu disini." Jawab Samudra.
Alea langsung berlari kembali ke dalam rumah. Samudra kembali duduk menunggu Alae, lalu keduannya langsung jalan bersama.
Setelah awalnya makan lalu jalan-jalan hingga akhirnya Samudra kembali mengantar Alea pulang, Samudra hanya bertanya tentang keluarga dan sekolah Alea, ia sama sekali tidak membahas yang lainnya. Mobil Samudra berhenti tepat di depan gerbang rumah Alea.
"Terima kasih!" Ucap Alea sambil membuka sabuk pengaman yang menempel ditubuhnya.
"Hmmmm, boleh abang minta waktu mu lima menit lagi?" Tanya Samudra yang masih saja menghadap kedepan tanpa sedikitpun mencoba menoleh kearah Alea.
"Apa tadi aku salah bicara?" Tanya Alea.
"Bukan itu, hmmmm apa kamu punya pacar?" Tanya Samudra.
(Dari tadi kenapa nggak tanya yang itu coba? Udah buat orang overthinking nggak karuan eh sampai depan rumah barunya ditanya, dari tadi kemana aja?) Gumam hati Alea tak karuan.
"Hei! Ah ya udah sampai jumpa!" Jelas Samudra karena mendapati Alea yang larut dalam lamunannya.
"Apa abang menyukai ku?" Tanya Alea spontan.
"Maaf! Abang nggak akan mengganggu kamu lagi! Abang janji!" Jelas Samudra.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?" Alea malah balik bertanya.
"Hmmm, iya. Abang suka sama kamu." Jawab Samudra.
"Ingin menjadi pacar ku?" Tanya Alea.
"Hmmm, tapi abang nggak akan maksa kok, abang tidak akan merebut kamu dari kekasihmu." Jelas Samudra.
"Merebut?" Tanya Alea.
"Tidak akan, abang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya." Jelas Samudra dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita pacaran!" Ajak Alea.
"Serius? Lalu gimana dengan pacar mu?" Tanya Samudra.
"Aku jomblo, emang Bara nggak bilang apa? Bye, sampai jumpa lagi, hati-hati dijalan!" Jelas Alea yang buru-buru turun dari mobil dan langsung melarikan diri.
"Huffffff! Akhirnya,,,!" Ucap Samudra dengan senyuman bahagia dan langsung pulang.
________
Lima Bulan Kemudian
Bara yang sedang bersiap-siap untuk ke kampus, keluar dari ruang ganti dengan menggunakan jeans hitam dengan kedua lutut yang terekspos dari balik sobekan Jeans tersebut lalu kaos hitam dan kemeja hitam bergaris abu-abu yang mana kancingnya ia biarkan terbuka begitu saja. Bara buru-buru merapikan rambutnya didepan cermin.
"Kenapa harus ganteng gini sih?" Protes Ira yang bahkan langsung memeluk lengan kanan Bara membuat Bara mau tidak mau harus menghentikan aktivitasnya.
"Sayang, aku mau kuliah loh, masak iya nggak pakek baju yang rapi." Jelas Bara dengan menyentuh rambut Ira.
"Tapi ini bukan rapi, ini terlalu keren. Ntar langsung ditaksir sama para mahasiswi." Jelas Ira.
"Ra, kan udah sering aku katakan, mau yang naksir aku tuh bidadari sekalipun aku tetap nggak akan tergoda, aku udah punya kalian berdua." Jelas Bara lau beralih menyentuh perut Ira yang sudah membesar.
"Tapi...." Protes Ira.
"Kamu percaya kan sama aku? Hmmm, sayang jagain ibu ya, ayah harus kuliah biar bisa kerja terus bisa membeli apapun yang kalian berdua minta, hmmm, love you sayangnya ayah." Ucap Bara lalu mencium perut buncit sang istri.
"Belajar yang rajin, jangan ganjen sana-sini, aku punya banyak mata-mata diluar sana." Tegas Ira.
"Iya aku tau, mata-mata mu malah pada ngeri semua." Ujar Bara lalu mengecup lama kening Ira dengan penuh kasih sayang.
Bara beranjak keluar namun Ira masih saja berdiri ditempat semula.
"Loh, kenapa masih disitu? Kamu nggak niat antarin aku sampai ke teras?" Tanya Bara.
"Nggak mau, ntar yang ada aku jadi pengen ikut!" Jelas Ira.
Jawaban Ira sontak mebuat Bara tertawa lebar, lalu kembali mendekati sang istri dan memeluknya.
"Baik-baik di rumah, kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku." Pesan Bara.
"Siap pak bos, lagian kan ada mama di rumah." Jelas Ira.
"Hmmm, bye sayang!" Ucap Bara dan langsung keluar dari kamar.
"Udah siap?" Tanya Rival saat Bara tiba di teras.
"Udah, ayo!" Ajak Bara.
__ADS_1
"Loh Ira mana? Apa dia sakit? Kenapa nggak ngantar kamu ke teras?" Tanya Resi.
"Lagi nggak mood katanya." Jawab Bara.
"Lagi nggak mood atau lagi cemburu?" Ulang Rival.
"Aku juga nggak paham dengan jalan pikirannya saat ini." Jelas Bara.
"Itu bawaan hamil, nikmati aja." Jelas Resi.
"Terus apa kak Re nggak ada rencana hamil? Jangan bilang kalau kak Re malah masih ting-ting sampai hari ini!" Goda Bara.
"Mulut, udah aku duluan, ingat jangan jelalatan kemana-mana!" Tegas Resi dan lekas pergi.
"Cieee langsung kabur, ya palingan salaman dulu kek sama paksunya, atau kecup kening lah paling kurang, nggak romantis banget sih kalian ini!" Cetus Bara yang langsung mengambil motornya.
Resi hendak masuk kedalam mobil, namun secepat kilat Rival menghentikan. Tangan Rival langsung menyentuh lengan Resi, lalu perlahan mengecup kening sang istri.
"Hati-hati di jalan, sayang!" Ucap Rival terbata-bata.
"Sayang? Coba diulang sekali lagi!" Pinta Resi dengan senyuman menggoda.
"Sa....yang, udah masuk gih ke mobil, kerja yang betul jangan main sama laki-laki lain." Jelas Rival.
"Tiiiiiiit" Suara klakson motor Bara cukup membuat pasangan kasmaran tersebut kesal.
"Buruan, kalau mau bucin-bucinan mending langsung ke kamar aja deh, mesra banget!" Cetus Bara yang sudah siap diatas motornya.
"Dasar pengganggu!" Cetus Rival Kesal.
"Hati-hati sayang, belajar yang rajin ya!" Ucap Resi lalu mengecup pipi Rival dan lansung masuk ke dalam mobil.
Mobil Resi mulai keluar dari perkarangan rumah dan Rival pun segera naik ke motor Bara.
"Dasar sahabat syaitan!" Guma Rival lalu menabok bahu Bara karena kesal.
"Makanya kalau mau sayang-sayangan jangan di tempat umum. Aku jadi penasaran sebenarnya kamu ini normal nggak sih? Serius nih belum pernah nyentuh kak Re?" Tanya Bara memastikan.
"Buruan jalan!" Gumam Rival yang kali ini justru menepuk helem yang terpasang rapi di kepala Bara.
"Jadi benaran nih? Kuat banget iman mu, aku aja langsung nyosor sama Ira." Jelas Bara.
"Jalan atau aku turun sekarang!" Ancam Rival.
"Iya, iya, aku jalan nih!" Ujar Bara nurut dan langsung menjalankan motornya.
Keduanya langsung melesat menuju universitas dimana kini keduanya belajar.
__ADS_1
...🦋🦋🦋🦋🦋...