Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Tingkah Ira.


__ADS_3

"Gimana?" Tanya Resi.


Resi yang baru saja datang ke halaman belakang rumah perlahan melangkah mendatangi Rival yang terlihat begitu serius membaca buku cetak IPA sambil tiduran diatas ayunan di bawah pohon mangga sana. Suara Resi seketika membuat fukos Rival buyar, ia bahkan reflek bangun dan menutup bukunya. Rival berdiri tegak tanpa menoleh pada Resi, sedangkan Resi terus saja mendekat kearah Rival.


"Boleh aku duduk?" Tanya Resi yang bahkan tidak menunggu persetujuan dari Rival, Ia langsung duduk bahkan sambil berayun membuat Rival mau tidak mau harus bergeser memberi akses jalan pada ayunan yang mulai berputar.


"Apa kita sedang pacaran atau musuhan?" Tanya Resi.


"Maksudnya?" Tanya Rival.


"Hubungan kita?" Ulang Resi menjelaskan.


"Kak Re mempertanyakannya? lantas apa arti dari ungkapan perasaan aku kemaren?"


"Ya, habisnya kamu seperti menghindari kakak dari tadi, ayo sini! duduklah!" Pinta Resi yang langsung menghentikan ayunannya.


"Kak Re..." Ujar Rival tertahan.


"Ayo kita bicarakan masa depan kita, kamu tau kan kalau pacar mu ini bukan lagi remaja, aku sudah dewasa, aku butuh kepastian, berjanjilah kalau kamu akan menikahi ku!" Jelas Resi dengan raut wajah yang berubah menjadi begitu serius.


"Apa kak Re meragukan aku?" Tanya Rival memastikan, ia bahkan langsung duduk disamping Resi.


"Bukan meragukan, aku hanya meminta kepastian." Tegas Resi.


"Aku akan melamar kak Re setelah pengumuman kelulusan."


"Serius?"


"Hmmmm, tapi kakak harus maklum jika aku belum punya pekerjaan yang mapan, aku masih berproses dulu, kuliah baru nantinya nyari kerjaan mapan, untuk saat ini aku bakal cari kerjaan sampingan dulu."


"Kerja? aku bisa menghasilkan banyak uang, aku juga bisa menanggung biaya hidup kita, kamu hanya harus fokus belajar dan menjadi suami yang baik, sisanya biar aku yang eksekusi." Jelas Resi lalu perlahan menyentuh jemari kanan Rival dengan penuh kelembutan.


"Aku hanya menagih cinta dan kesetiaan dari mu, sisanya biar aku yang memberikannya untuk mu." Jelas Resi kali ini dengan mengecup lembut kening Rival.


"Kak..." Ujar Rival yang sontak menjauhkan wajahnya dari jangkauan Resi.


"Sorry! khilaf." Pinta Resi dengan senyuman lalu bangun dari ayunan.


Tangan Resi mengambil buku cetak yang tadi Rival letakkan di bangku lalu membukanya dan menyerahkannya pada Rival.


"Semangat, belajar yang rajin, aku pamit pulang, assalamualaikum." Salam Resi dengan mengusap lembut kepala Rival dan lekas pergi begitu saja.


"Apa ini? apa kak Re baru saja ngegombalin aku? hufffff, jantung tolong dong kerja samanya, jangan main dak dik duk mulu napa? sesak ni nafas tau, baru juga di usap kepala sedikit udah panas dingin aja, apa cerita kalau...haissss!" Gumam Rival pada dirinya sendiri.


"Kalau......? dici....!" Goda Bara yang baru saja datang dan duduk di samping Rival.


Bara sengaja menggaantungkan ucapannya, ia datang dengan membawa serta bukunya juga.

__ADS_1


"Pergi nggak! sana gih, jangan ganggu ketenangan aku!" Tegas Rival.


"Sejak kapan aku jadi pengganggu dalam hidup mu? bukannya kita ibarat kata kuota sama ponsel nggak bisa jauhan." Jelas Bara.


"Ciiiiih! aku mau belajar, jangan ganggu aku!" Tegas Rival.


"Ooooooh jadi kalau aku mengganggu? terus kalau kak Resi memberi semangat gitu?"


"Jangan ngaco deh!" Cetus Rival.


"Ma, mama..." Teriak Bara memanggil Luna seolah ingin melaporkan Rival.


"Benar-benar deh! sana gih gangguin istri mu, jangan aku!' Tegas Rival.


"Istri itu bagian malam, kalau siang mah giliran jailin adik ipar dulu, hayyok belajar..." Ajak Bara yang bahkan langsung fokus pada bukunya.


"Terserah, suka-suka jidat mu aja lah!"  Jelas Rival lalu ikut merebahkan tubuhnya disisi Bara.


Keduanya langsung terdiam seketika dan fukos pada buku masing-masing dengan angin yang perlahan memanjakan rambut keduanya, lama terdiam membuat keduanya malah tetidur lelap dengan buku yang terjatuh begitu saja.


______


Tepat jam sebelas malam, Bara terlihat begitu terlelap dalam tidurnya, dia tertidur dengan memeluk guling dan eartphone yang terpasang rapi di kedua telinganya. Ira yang juga tertidur disebelahnya kini perlahan membuka mata, pandangan pertamanya langsung tertuju kearah Bara yang tidur menghadap kearahnya.


Tangan Ira bergerak pelan menyentuh ujung rambut Bara yang mentupi kelopak matanya.


"Bara...." Panggil Ira yang kini beralih menyentuh bahu Bara lalu menggoyangkannya kasar.


"Aku lapar!" Rengek Ira lalu menambahkan kekuatan pada tangannya yang sedang menggoyangkan bahu Bara.


"Lapar? tapi aku ngantuk setengah mati." Jelas Bara.


"Aku juga lapar setengah mati! katanya mau jadi suami dan ayah yang baik, cuma segini doang nyerah?" Jelas Ira lalu perlahan turun dari tempat tidur.


Melihat Ira yang beranjak keluar membuat Bara mau tidak mau akhirnya segera bangun dan berlari menyusul Ira yang terlihat sedang membuka pintu kamar. Bara mengambil alih, ia langsung membuka pintu lalu menggandeng tangan Ira untuk turun menuju dapur.


"Duduklah!" Pinta Bara setelah menarik kursi agar Ira bisa duduk.


Ira duduk dikursi tersebut sedangkan Bara bergegas menuju ke dapur untuk mengambil makanan untuk sang istri.


Setelah membuka pintu kulkas, untuk sejenak Bara berdiri memperhatikan seluruh isi kulkas, akhirnya Bara mengambil beberapa buah dan juga roti lalu segera membawanya ke meja makan. Bara langsung meletakkan semua bawaannya ke atas meja.


"Ayo dimakan." Pinta Bara.


Perlahan Ira memerhatikan semua bawaan Bara tangannya bahkan menyentuh satu persatu buah yang berderet dihadapannya.


"Kok cuman diliatin doang? Katanya lapar, dimakan dong!" Pinta Bara karena melihat Ira yang tidak kunjung memakannya.

__ADS_1


"Nggak nafsu, nggak selera." Jelas Ira dengan menghela nafas kasar.


"Tadi katannya lapar, pangen makan." Jelas Bara.


"Tapi bukan buah!" Tegas Ira.


"Lalu?"


"Yang lain."


"Ini ada roti."


"Aku maunya mie."


"Ra, jangan ngada-ngada deh, nggak ada mie di dapur." Jelas Bara.


"Masakin!"


"Kamu tau kan kalau aku nggak bisa masak, aku bahkan nggak pernah masuk dapur!"


"Katanya mau jadi ayah yang bertanggung jawab, suami yang baik." Ujar Ira dengan tatapan memelas kearah Bara.


"Hufffff! Ancaman penuh dengan kelembutan. Huffff!" Ujar Bara mencoba menenangkan dirinya agar tetap sabar menghadapai tingkah Ira yang belakangan kerap kali bertingkah aneh dan ngeselin.


"Bara..." Ujar Ira pelan.


"Hmmmm, tunggu lah sebentar, aku akan coba masak." Jelas Bara menyerah dan lekas menuju dapur.


Mata Ira perlahan menatap sosok Bara yang berjalan menuju dapur. Ira masih duduk ditempat semula, berharap sang suami segera kembali membawakan mie untuk dirinya namun kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, bahkan setelah beberapa menit menunggu Bara belum juga kembali. Bosan dan lapar kian menyerang membuat Ira perlahan mengambil sebuah apel lalu mengunyahnya dengan lahap, diikuti dengan semangkuk buah anggur, disusul dengan beberapa stroberi lalu beralih pada roti dan diakhiri dengan memakan beberapa jeruk. Setelah puas dengan semua yang ada di meja makan, akhirnya Ira tertidur dengan kepala yang beralaskan meja dan tangan kanan yang masih memegang jeruk sisa dari yang ia makan barusan.


Beberapa menit kemudian Bara kembali dengan sepiring mie goreng ditangan kanannya serta segelas air ditangan kirinya.


Bara meletakkan bawaannya keatas meja lalu beralih mendekati Ira.


"Ra, my sunshine, sayang...Ra...." Panggil Bara dengan menyentuh pelan bahu Ira.


"Jangan ganggu, aku ngantuk!" Protes Ira yang bahkan langsung menepis tangan Bara dari bahunya.


"Mienya udah siap loh, ayo makan!" Ajak Bara.


"Nggak selera lagi!" Tegas Ira.


"Loh, tadi katanya pengen makan mie? Aku udah capek-capek masak, ayo lah makan!" Bujuk Bara.


"Aku udah kenyang!" Tegas Ira lalu bangun dan lekas pergi dari meja makan.


"Huffff! Tenang Bar, tenang, sabar...." Ujar Bara pada dirinya sendiri dengan tangan yang perlahan mengelus dadanya yang mulai kepanasan dengan tingkah Ira.

__ADS_1


Bara segera berlari menyusul Ira lalu membawa Ira kedalam gendongannya dan segera kembali ke kamar mereka.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2