Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Assalamualaikum Hanin.


__ADS_3

Gibran dan Bara terus saja menelusuri kerumunan penonton, bahkan sesekali keduanya herus menghentikan langkah mereka saat beberapa penonton meminta foto bareng, dengan senyuman mereka bahkan melayani semua permintaan fans .


Butuh waktu hingga beberapa puluh menit lamanya hingga akhirnya Gibran dan Bara bisa menemui keluarga Gibran yang sejak tadi memang sedang menunggu mereka.


"Bara..." Seru Misna girang saat melihat kedatangan Bara dan Gibran.


Misna bahkan langsung memeluk erat tubuh Bara lalu mengelus lembut rambut Bara membuat Bara tersenyum hangat mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari Misna, tidak hanya itu, Irwan juga ikut menepuk lembut bahu Bara dan Gibran secara bergantian.


"Kalian berdua membuat papa bangga, pertunjukan kalian sangat karen، membuat kami semua terpukau. Oh ya, Rival mana?" Jelas Irwan.


"Rival lagi sama kak Ira." Jawab Gibran.


"Assalamualaikum Hanin!' Ujar Bara sambil tersenyum manis pada Hanin yang sejak tadi hanya berdiam diri memperhatikan mereka semua.


"Waalaikum salam,  abang Bara." Jawab Hanin dengan mamamerkan kedua lesung pipinya.


"Abang juga di sini loh, masak iya nggak keliatan!" Cetus Gibran yang langsung menarik Hanin ke dalam pelukannya.


"Kelihatan loh bang!" Ujar Hanin.


"Gimana, kalau sebelum pulang kita makan siang dulu?" Ajak Misna.


"Nggak sekalian kita ajak abang Rival?" Tanya Hanin.


"Ya udah biar aku hubungi Rival dulu." Ujar Gibran yang langsung mengambil ponsel di dalam saku celananya.


"Aku di sini!" Seru Rival yang baru saja bergabung dengan diikuti oleh Ira.


"Tante, om.." Sapa Ira dengan senyuman manis.


"Ira, ayo ikut kita makan siang!" Ajak Misna.


"Maaf tante, om, bukannya nggak mau cuman aku harus balik ke kantor sekarang juga, ada kerjaan yang harus aku selesaikan, sekali lagi maaf tante, om, dan juga Hanin." Jelas Ira.


"Kak Ira mau balik sekarang?" Tanya Gibran.


"Iya. Oh ya, hampir lupa, tadi itu kalian bertiga keren banget, sukses terus dan semoga jadi juara. Ini hadiah dari kakak buat kalian, semangat terus ya..." Jelas Ira sambil menyerahkan sebuah amplop putih pada Gibran.


"Makasih banyak loh kak, dan kakak tenang aja kami pasti akan jadi juara." Jelas Gibran dengan begitu bangga.


"Group abang juara juga karena ada abang Rival yang suaranya merdu dan abang Bara yang jago biki lagu!" Cetus Hanin.


"Tapi kan semua itu nggak guna kalau nggak ada visual yang seganteng abang!" Seru Gibran.

__ADS_1


"Mulai lagi deh!" Ujar Misna yang hafal betul dengan tingkah kedua anaknya yang kerap kali jail satu sama lain.


"Gantengan juga abang Bara sama abang Rival!" Seru Hanin.


"Mata Hanin emang nggak pernah salah!" Cetus Bara dengan gelak tawa.


"Ya udah, kalau gitu aku permisi duluan. Oh ya, dek nanti kalau pulang kabari kakak ya, biar kakak jemput, motor adek masih di bengkel kan?" Jelas Ira.


"Kak Ira tenang aja, ntar biar aku yang ngatar pulang nih bocah. Selamat bekerja kak Ira tercantik sedunia!' Jelas Gibran.


"Dasar buaya!" Cetus Hanin yang bahkan langsung memukul kasar bahu Gibran.


"Ya kali aja kak Ira goyah toh!" Ujar Gibran cekikikan.


"Belajar dulu yang benar, kalau Ira sama  kamu, mama nggak setuju, mama nggak mau Ira menderita." Jelas Misna.


"Maksud mama???" Tanya Gibran.


"Udah udah becandanya, ayo kita makan, dan nak Ira, hati-hati di jalan ya!" Jelas Irwan.


Ira yang hendak beranjak dari situ seketika langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggil nama Bara dengan begitu lantang, bahkan membuat semua mata tertuju pada pemilik suara tersebut.


Gadis yang mengenakan seragam SMA tersebut terus berlari ke arah Bara, ia bahkan langsung memeluk tubuh Bara membuat sang empunya tidak bisa mengelak sama sekali. Mendapati adegan pelukan tersebut membuat Rival langsung beralih mendekati sang kakak lalu menyentuh lembut tangan Ira, hingga membuat pandangan Ira yang tadinya menatap pada Bara kini beralih menatap pada Rival yang tepat berada di sampingnya.


"Terima kasih!" Ujar Bara lalu mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Ratu.


"Pelukan sama yang bukan mahram itu hukumnya haram loh kak!" Ujar Hanin dengan polosnya, membuat Gibran menatap tajam pada Hanin.


"Ops, maaf, aku minta maaf!" Pinta Ratu yang sadar bahwa di situ juga ada keluarga Gibran dan juga Ira.


Bara perlahan mencoba melirik kearah Hanin yang kini tertunduk karena  Gibran yang terus saja menatapnya. Di saat yang bersamaan Rival justru manatap arah pendangan Bara, membuat dirinya sadar kalau sejak tadi Bara terus menatap Hanin.


"Kak! Kakak nggak balik ke kantor sekarang?" Tanya Rival.


"Ah, iya, kalau gitu, aku permisi." Ujar Ira dan lekas pergi.


"Aku juga permisi sebentar!' Jelas Rival.


"Kemana?" Tanya Gibran.


"Mau ngambil gitar aku yang ketinggalan di sana tadi!" Jelas Rival.


"Biar aku aja yang ngambil, kalian duluan aja ke restoran, ntar wa kan aja alamatnya, aku nyusul!" Jelas Bara yang langsung berlari begitu saja.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu ayo kita jalan duluan!" Ajak Irwan.


"Ratu, kamu juga ikut sama kita kan? Ayo nak!" Ajak Misna.


"Iya, tante, terima kasih!' Ujar Ratu dengan senyuman lalu ikut dengan yang lainnya menuju restoran yang akan menjadi tempat mereka makan siang hari ini.


___________________


"Kak...!" Panggil Bara tepat saat Ira hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, kenapa?" Tanya Ira yang kembali menutup pintu mobilnya lalu beralih menoleh pada Bara yang berdiri tepat di belakangnya.


"Kamu nggak ikut makan siang sama yang lainnya?" Tanya Ira setelah berhadapan dengan Bara.


"Soal yang tadi..."


"Sama sekali nggak masalah!"


"Kak Ira nggak akan membatalkan pernikahan kita kan?"


"Karena kejadian barusan? Maksud mu?"


"Hmmmmm!"


"Bara, kamu tenang aja. Kakak nggak tau sebenarnya apa yang sedang kamu pertaruhkan dengan pak Bima, tapi kamu tenang aja karena kakak juga sedang mencoba melindungi sesuatu yang begitu berharga dalam hidup kakak."


"Terima kasih!"


"Bara, kita sama sama punya tujuan, meski berbeda, jadi kamu tenang aja, apapun yang terjadi kita akan tetap menikah!"


"Aku lega mendengarnya. Dan aku doakan semoga apapun yang sedang kakak lindungi akan tetap menjadi milik kakak!"


"Hmmmmmm!" Ujar Ira dengan senyuman.


(Apa itu posisi kakak di kantor? Lucu, apa menjadi dewasa membuat manusia serakah? Kenapa hanya karena sebuah jabatan kamu justru mempertaruhkan masa depan mu, konyol! Kalian bahkan menyebut ku bocah gila karena mempertahankan kebahagiaan aku lalu apa sebutan yang tepat untuk sikap kalian ini? Gila? Physcopat?) Gumam hati Bara dengan mata yang terus menatap sosok Ira yang masih berdiri tegap di hadapannya.


(Bara, kakak harap kamu tidak akan menyesal  dengan keputusan yang kamu buat saat ini. Dan kakak janji, apapun yang akan terjadi nantinya, kakak tidak akan membuat mu terluka, akan akan menepati janji kakak pada Rival untuk menjaga mu dengan baik) bisik hati Ira.


"Kalau gitu, aku permisi. Hati -hati di jalan!" Ujar Bara dan lekas pergi.


Setelah bayang Bara menghilang, Ira pun kembali masuk ke dalam mobil dan lekas kembali ke kantor.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2