
Semuanya hening yang terdengar hanya lah isak tangis Bima yang terus ia coba tahan namun pada akhirnya semua orang menyadari apa yang saat ini Bima rasakan.
"Bunda baik-baik saja, lagi pula ini kan hanya cerita lama, semua telah usai." Jelas Dewi yang mencoba untuk tersenyum.
Perlahan Bara bangkit dari tempat duduknya, wajahnya terlihat jelas begitu merah karena menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya. Kaki Bara perlahan mendekati sang bunda dan tanpa ucapan sepatah katapun kedua tangan kekar Bara langsung memeluk erat tubuh Dewi kedalam dekapannya.
"Bunda hebat! aku menyayangi bunda." Tegas Bara dengan air mata yang perlahan terjatuh.
Kedua tangan Dewi membalas hangat pelukan sang putra tercinta.
"Apa disini cuman aku yang salah? apa aku yang.....!" Penjelasan Samudra langsung ia tahan saat air matanya tak bisa ia tahan lagi.
Tubuh kekar Samudra melemah seketika, perasaannya benar-benar kacau balau, ingin rasanya ia memaki dirinya sendiri atas segala ingatannya yang seakan terus mengusik sisi warasnya, ia begitu membenci dirinya yang selama ini terus membenci sosok Dewi yang ia anggap tidak memperlakukannya dengan baik karena dirinya hanya anak yang mereka pungut dari panti asuhan. Segala perasaan bercampur menjadi rasa benci yang tak terbendung yang kerap kali ia lampiaskan pada Bara. Untuk sejenak Samudra berdiri mematung dengan mata yang terus menatap sosok Dewi dan Bara yang berada di sampingnya.
"Maafkan aku bunda, harusnya aku tidak pernah ada diantara kalian!" Tangis Samudra pecah bersamaan dengan tubuh yang bertekuk lutut dihadapan Dewi.
"Sam, kamu anak bunda, kalian berdua putra bunda." Jelas Dewi yang kini ikut merangkul tubuh Samudra dalam dekapannya.
"Papa yang salah, semua ini terjadi karena kesalahan papa. Maafkan papa!" Pinta Bima lalu ikut numbruk memeluk kedua putra dan istri tercinta.
"Pemandangan yang begitu indah, sejak dulu aku menantikan hal ini." Ungkap Siti yang terlihat begitu bahagia dengan kebahagian sang majikan.
"Kenapa bukan aku bunda, kenapa bukan aku yang bunda jodohkan dengan Ira? kenapa harus Bara? aku benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran bunda." Jelas Samudra dengan mata yang terus menatap wajah Dewi seakan sedang meminta kejelasan.
"Tentang pernikahan Ira, itu semua usulan bunda. Maaf Sam tanpa sadar bunda mengambil Ira dari mu, bunda benar-benar tidak tau kalau kamu mencintai Ira, maafkan bunda!" Pinta Dewi.
"Apa alasan bunda? kenapa menjadikan Ira sebagai istri Bara?" Tanya Samudra yang tidak puas dengan jawaban Dewi.
"Sam, alasan kenapa harus Bara karena Bara butuh seseorang yang harus menjaga dan membimbingnya di setiap waktu, sedangkan kamu, kamu tidak butuh itu, kamu sudah sempurna kamu bisa melakukan apapun seorang diri, tapi tidak dengan Bara, dia butuh pendamping yang bisa menuntunnya dengan baik." Jelas Dewi.
"Bunda, maafkan aku..." Tangis Bara kembali pecah setelah tau niat sang Bunda sejak awal memaksa dirinya untuk menikah dengan Ira.
"Harusnya bunda tidak membuat keputusan seperti ini, maafkan aku bunda..." Jelas Samudra dan beranjak pergi dari sana.
"Sam...." Panggil Dewi.
"Sudah bunda, biarkan Sam sendiri dulu, dia butuh waktu untuk menerima semua ini." Jelas Bima.
__ADS_1
"Biar nanti aku yang bicara dengan abang Sam." Jelas Bara.
"Bunda, ada hal yang ingin papa bahas berdua sama bunda, ayo..." Ajak Bima.
Dewi bangun hendak mengikuti langkah Bima yang telah lebih dulu beranjak pergi, namun langkah Dewi seketika terhenti saat tangan Bara dengan lembut kembali menyentuh tangan Dewi.
"Apapun perasaan bunda, lepaskan, jangan di pendam, jika bunda ingin marah, kesal ataupun berteriak pada papa lakukan semua itu bunda, lepaskan semua beban yang bunda tanggung bertahun lamanya, hmmmm, jangan lagi menahan diri hanya untuk membuat kami bahagia karena bunda juga punya hak untuk bahagia." Jelas Bara yang terlihat begitu dewasa dengan pemikirannya.
"Hmmmm,,,," Ujar Dewi dan perlahan menyusul Bima.
"Semua akan baik-baik saja kan bi Siti?" Tanya Ira khawatir, sejak tadi ia hanya diam tidak ingin ikut campur dengan prahara keluarga Pradipta.
"Hmmm, non Ira tenang aja, nyonya bukan wanita pemarah apalagi pendemdam, dia benar-benar wanita baik dan penuh kasih sayang. Buktinya ia sama sekali tidak membedakan Tuan muda Sam dengan Tuan muda Bara, justru yang kerap kali diomeli dan di hukum adalah tuan muda Bara, non Ira lihat sendiri kan? Itu semua karena nyonya beranggapan bahwa kedatangan Sam adalah berkah sehingga Bara pun hadir dalam keluarga ini. Ya udah, bibi mau lanjut kerja dulu ya non." Jelas Siti.
"Iya bi Siti." Jawab Ira dengan senyuman.
Selepas kepergian Siti, perlahan Bara melangkah mendekati Ira yang masih duduk diposisi semula, mata Bara terus menatap dalam sosok Ira yang memang juga sedang menatap dirinya. Tangan Ira perlahan menyentuh tangan Bara, dan dimenit berikutnya Bara kembali menitikkan air mata lalu akhirnya mendekap erat tubuh Ira kedalam pelukannya.
"Kak...apa yang harus aku lakukan? Ingin rasanya aku memaki papa, aku ingin menghajarnya habis-habisan, tapi...tatapan bunda seolah memintaku untuk berhenti! Kak, bagaimana bisa papa punya anak dengan wanita lain dan bodohnya dia pura-pura tidak tau." Gumam Bara dengan penuh rasa kesal.
"Bara, papa juga tidak salah! Dan kakak rasa papa memang benar tidak menyadarinya bukan berpura-pura. Papa tidak mungkin membohongi bunda." Jelas Ira.
"Bar, pelankan suara mu, wanita yang sedang kamu bicarakan itu adalah mamanya Sam." Jelas Ira.
"Lalu? Apa aku tidak boleh membicarakan wanita yang telah menghancurkan perasaan bunda ku? Apa aku harus diam aja?" Tanya Bara.
"Bara, ini tentang masa lalu papa dan bunda, lebih baik kamu tidak ikut campur karena mereka adalah orang tua mu, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, hmmmm?" Jelas Ira dengan tangan yang mengusap lembut pundak Bara.
"Tapi....?" Keluh Bara.
"Percayakan semuanya sama bunda, ayo...!" Ajak Ira.
"Hmmmm!" Ujar Bara nurut lalu ikut bersama Ira.
__________
Malam mulai gelap, ditambah hujan deras yang mengguyur seluruh kota. Sari yang baru keluar dari taksi terlihat berlari menembus hujan, ia terus berlari menuju pintu utama hotel dimana ia dan beberapa karyawan kantor lainnya menginap malam ini, karena saat ini kontar mereka memang sedang melakukan survey lapangan pada cabang perusahaan yang berada di luar daerah.
__ADS_1
"Huuuuf! Basah semua lagi, gimana nih?" Keluh Sari sambil terus berjalan memasuki hotel.
Tanpa sengaja Sari malah menabrak seseorang yang berjalan dari arah depannya.
"Maaf!" Pinta Sari.
"Sari? Dari mana?" Tanya Bima yang tak lain adalah sahabat sekaligus bos tempat ia bekerja saat ini.
"Habis dari kantor, ada berkas yang ketinggalan tadi. Terus bapak mau kemana?" Tanya Sari.
"Makan, kamu udah makan? Udah ayo ikut!" Ajak Bima yang bahkan langsung menyeret Sari ikut bersamannya.
Keduanya makan malam bersama lalu sedikit membahas pekerjaan mereka.
Mereka larut dalam percakapan hingga akhirnya Bima menhadari kalau mereka telah menghabiskan banyak waktu bersama lalu keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing, namun sebelum langkah Bima beranjak dari meja tiba-tiba ia mereka pusing hingga membuat tubuhnya sempoyongan.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Sari lalu mencoba membantu Bima untuk berdiri.
"Nggak tau, tiba-tiba pusing banget." Jelas Bima.
"Ya udah, ayo aku antar ke kamar." Ajak Sari lalu membantu Bima berjalan menuju kamarnya.
Sesampai di sana, Sari membantu Bima untuk berbaring lalu menyelimuti sang sahabat, merasa bahwa Bima sudah terlelap, Sari pun beranjak dari sana namun seketika tangan Bima menggenggam erat tangan kanan Sari.
"Sayang kamu mau kemana? Jangan tinggalin mas." Pinta Bima dengan tatapan penuh harap.
"Bima, ini aku Sari bukan Dewi." Jelas Sari.
"Dewi, aku kangen sama kamu. I love you..." Jelas Bima dan langsung memeluk tubuh Sari dari belakang.
Seketika ingatan tentang kejadian tersebut buyar menghilang saat tangan Dewi dengan lembut mengusap bahu Bima yang saat itu sedang berdiri di balkon kamar. Menyadari akan kedatangan Dewi membuat Bima sontak mendekap erat tubuh Dewi.
"Maafkan aku sayang, tolong maafkan kesalahan ku!" Pinta Bima.
"Mas, aku tau kamu tidak melakukannya dalam keadaan sadar, aku percaya sama kamu. Tapi, tentang Sam, kehadirannya bukan kesalahan, kedatangannya pada kita justru membawa serta Bara hadir dalam keluarga kita, mungkin jika saat itu aku tidak menggenggam tangan mungil Sam, Bara mungkin tidak akan pernah Allah berikan untuk kita. Setidaknya masih banyak efek positif dari hadirnya Sam, sekalipun aku tidak pernah menyalahkan siapapun, baik itu mas, Sari ataupun Sam." Jelas Dewi dengan suara yang begitu pelan.
Mendengar penjelasan Dewi membuat perasaan Bima hanyut dalam buaian, hingga membuat hatinya semakin mengagumi kebaikan sang istri.
__ADS_1
...🦋🦋🦋🦋🦋...