Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Amukan Bara.


__ADS_3

Bayu yang memang berdiri diantara kedua saudara tersebut langsung mengambil tindakan. Tangan Bayu mencoba  menarik tubuh Samudra dari jangkauan amukan Bara. Keadaan semakin  menegangkan saat Samudra memberontak dan menarik tubuhnya dari pegangan Bayu.


"Kamu, apa lagi ulah mu kali ini? apa memang kamu ingin beradu tinju dengan ku?" Gumam Samudra yang mulai emosi.


"Bukannya  abang yang lebih dulu mulai, ahhhhh  sekarang aku mulai paham apa yang abang inginkan sebenarnya selama  ini..." Jelas Bara lalu perlahan  melangkah mendekati Samudra, dengan senyuman  sinis Bara mendekatkan bibirnya pada telinga Samudra lalu perlahan mulai bicara.


"Kamu ingin dunia tau kalau kamu adalah korban nyatanya kamulah pelakunya, maniak pujian!" bisik Bara dengan tatapan mematikan.


Bara melangkah mundur dengan tatapan khasnya, ucapan Bara sontak membuat emosi Samudra memuncak, tangannya bahkan langsung melayang dan mendarat sempurna di wajah Bara, hal tersebut  langsung  membuat  Ira ikut campur.


"Sam, hentikan! kamu mau membuat seisi kantor semakin heboh, lihatlah banyak mata yang melihat kalian berdua." Jelas Bayu dan berusaha menyeret Samudra masuk ke dalam ruangannya.


Namun sebelum Samudra  masuk ke ruangannya, Bara telah lebih dulu beraksi, dengan cepat tanganya menarik jas yang melekat ditubuh  Samudra dan di menit selanjutnya  kaki Bara langsung menyerang kakinya Samudra.


"Sejak awal abang memang ingin menjadikan aku seperti monster di mata dunia kan? okay, akan aku  wujudkan impian  terbesar abang!" Tegas Bara lalu kembali melayangkan tinjunya.


Sebelum tinju  Bara mengenai wajah Samudra, Ira telah lebih dulu menghadangnya dan pada akhirnya wajah Ira  lah yang menjadi korbannya.


"Ira...." Seru Samudra panik dan berusaha mengecek kondisi wajah Ira.


Tangan Samudra yang hendak menyentuh wajah Ira seketika langsung disingkirkan oleh tangan Ira sendiri.


"Ayo pulang!" Ajak Ira lalu menyeret Bara untuk ikut bersamanya.


Meski  semua mata seketika langsung fokus pada Ira yang terus saja menyeret Bara ikut bersamanya, ia sama sekali tidak peduli begitu pula dengan Bara.


"Apa yang sebenarnya  terjadi? kenapa bisa Bara begitu patuh pada Ira?" Tanya salah satu karyawan kepada temanya.


"Karena kan emang Ira yang selalu menyelesaikan masalah tuan muda Bara."  Jelas salah satunya lagi.


"Iya juga sih, kan Ira sekretaris CEO  merangkap sebagai baby sister anaknya" Jelas yang lainnya lagi bahkan dengan senyuman yang terlihat jelas sedang mengejek Ira.

__ADS_1


"Ada apa dengan Ira? atau dia malah akan buat samalah tambah runyam? aku harus menghentikan Ira." Jelas Bayu dan hendak menyusul Ira.


"Tidak perlu! ayo kita pulang!" Jelas Samudra dan langsung menuju lift.


"Apa ada yang tidak aku tau tentang mereka  bertiga? apa yang sedang terjadi diantara ketiganya...." Gumam Bayu pada dirinya  sendiri dan segera mengikuti langkah Samudra.


"Jangan ada yang mempublikasikan kejadian barusan dalam bentuk apapun itu, karena jika aku tau, aku akan menuntutnya." Jelas Bayu kepada para karyawan yang menjadi penonton perkelahian tadi.


________


Meski harus menahan rasa sakit yang seakan menggorogoti kakinya, Bara tetap mengikuti langkah Ira tanpa ada protes sedikit pun. Hingga keduanya sampai di area parkiran, lalu Ira membuka pintu mobil miliknya dan meminta Bara untuk duduk disana, Bara menurut, ia duduk dengan kedua kaki yang masih berpijak pada kubin parkiran. Pelan-pelan Ira duduk jongkok di hadapan Bara, lalu tanganya sedikit membetulkan perban yang sudah agak terlepas akibat Bara yang memang terlalu banyak bergerak, setelah merasa bahwa perban telah kembali merekat pada betis Bara, kini tangan Ira mulai menyentuh kedua tangan Bara, perlakuan Ira sontak membuat mata tajam Bara seketika menoleh kearah Ira, seketika keduanya saling beradu pandang dalam waktu yang lumayan lama hingga pada akhirnya mata bening Ira beralih menatap pada kedua tangan Bara yang masih berada dalam genggamannya.


"Kenapa tidak menghubungi kakak?" Tanya Ira yang akhirnya mulai meneteskan air mata.


"Bagaimana bisa aku berfikir dengan jernih saat emosi ku memuncak seperti tadi." Jelas Bara dengan begitu lantang, ia sama sekali tidak menatap wajah Ira, karena dia sadar kalau saat ini Ira sedang menangis.


"Apa saat ini pun emosi mu masih memuncak?" Tanya Ira.


"Hassssss!" Maki Bara yang begita kesal dengan apa yang ia rasakan saat ini.


"Nggak bisa gitu dong! Aku harus selesaikan masalah ini sekarang juga. Kak Ira tau? Kaki aku terluka itu karena ulah abang Sam." Tegas Bara.


"Bara!" Gumam Ira yang mulai terbawa emosi.


"Kenapa? Apa kakak juga tidak percaya dengan ucapan ku? Hahhhh apa karena aku terlihat seperti monster lantas aku yang jahat, lalu karena dia terlihat bak malaikat jadi dia tidak mungkin berbuat jahat, apa begitu??" Jelas Bara.


"Bukan begitu..."


"Lalu apa?"


"Bara...."

__ADS_1


"Jangan membuat aku semakin marah!" Tegas Bara yang bahkan kembali keluar dari dalam mobil.


"Baiklah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, kakak capek, kakak mau pulang!" Jelas Ira yang segera masuk ke dalam mobilnya.


Bara masih saja mematung di tempat semula bahkan setelah Ira menyalakan mesin mobilnya dia masih saja tidak beranjak sama sekali, sedangkan pintu mobil milik Ira masih terbuka lebar tepat di sampingnya.


"Ira....." Panggil Samudra yang baru sampai di parkiran dan langsung mendekati kaca mobil Ira.


"Ayo pulang!" Ucap Bara yang langsung masuk kembali ke mobil lalu menutup pintu dengan kasar, hingga membuat Samudra kaget dengan suara bantingan pintu mobil tersebut.


"Ra, ini obat buat pipi mu, langsung pakaikan, jangan tunggu sampai bengkak." Jelas Samudra sambil menyodrokan plastik obat lewat kaca.


Sebelum tangan Ira menerima plastik tersebut tangan Bara sudah lebih dulu mengambilnya lalu membuangnya keluar mobil.


"Kak Ira adalah istri ku, maka aku yang akan mengurusnya!"  Tegas Bara yang bahkan langsung menutup kaca mobil, membuat Samudra semakin kesal.


"Jalan!" Perintah Bara.


Tanpa memberikan jawaban apapun Ira langsung menjalankan mobilnya, lalu keduanya segera meluncur meninggalkan area kantor milik keluarga Pradipta.


"Lalu, tadi kamu ke kantor naik apa?" Tanya Ira saat keduanya dalam perjalanan pulang.


"Mobil." Jawab Bara singkat.


"Terus?" Tanya Ira.


"Apa sekarang kakak mulai beralih profesi menjadi tukang parkir?"


"Maksudnya?"


"Udah ah, jangan bicara lagi, aku ngantuk!" Cetus Bara dan langsung memejamkan matanya.

__ADS_1


(Huuuuuuuf! Ingin rasanya aku jambak tuh rambut, ku cubit tuh mulut! benar-benar menguji kesabaran punya suami yang modelnya kayak gini! Huuuuf, slowwww, rileks Ra, tenang, come down, Ira tenang, ini bukan saat yang tepat untuk kamu tunjukan sisi iblis mu padanya, tahan, tunggu ada kalanya kamu muncul dengan sosok lebih mengerikan dari dia, untuk saat ini, kamu harus mengalah Ra, sabar.....) Jelas hati Ira pada dirinya sendiri dengan terus mencoba fokus menyetir, membiarkan Bara tertidur pulas, paling tidak emosinya bisa sedikit mereda sebelum nanti kembali mengamuk saat berhadapan lagi dengan Samudra di rumah mereka.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2