Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Cemburu.


__ADS_3

Bara terus menangis dalam dekapan Ira, setelah merasa puas dan sedikit lebih tenang, Bara mengangkat wajahnya yang sejak tadi terbenam di bahu Ira, dengan mata yang memerah dan sedikit sembab, Bara mencoba menatap sosok Ira yang berada di hadapannya.


"Apa aku terlihat begitu lemah?" Tanya Bara.


"Apa air mata adalah ukuran dari kelemahan? Menangis itu hal yang sangat wajar, terkadang tidak semua rasa sakit dan kecewa harus kita ekspresikan dengan emosi apalagi balas dendam, ada rasa yang kadang akan segera membaik setelah kita menangis secukupnya." Jelas Ira dengan tatapan mata yang begitu meneduhkan jiwa.


"Aku juga bingung dengan keadaan aku sendiri, biasanya aku tidak pernah menangis tapi kini entah kenapa air mata mengalir dengan sendirinya." Jelas Bara.


"Apa biasanya dengan marah-marah terus membanting beberapa barang baru bisa tenang?" Tanya Ira yang terlihat begitu ingin tau tentang kebiasaan yang Bara lakukan saat marah.


"Hmmmm!" Jawab Bara pelan.


"Stiknya rusak lagi? Apa boleh kali ini kakak yang perbaiki?" Tanya Ira dengan tangan yang menyentuh kedua bagian stik yang patah.


"Hmmmmmm!" Jawab Bara dengan anggukan kepala.


"Atau mau kakak belikan yang baru?"


"Itu stik keberuntungan ku, meski ada yang baru, ini tetap menjadi stik terfavorit."


"Stik keberuntungan? Apa Ratu yang memberikannya?"


"Ratu? Aaah anggap saja begitu!"


"Bar, apa kamu seperti ini, itu ada hubungannya dengan Ratu? Apa dia membuat mu kecewa?'


"Maksud kak Ira?"


"Iya mungkin karena cemburu makanya kamu mengamuk seperti ini!"


"Cemburu? Sepertinya memang aku sedang cemburu, pantas dari tadi rasanya sesak banget."


"Bara...."


"Tunggu dulu! Bukannya kakak tadi diantar sama Gibran ke kantor? Kenapa malah pulang? Bukannya kerjaan kakak banyak?"


"Iya, memang kerjaan kakak banyak, tapi mau gimana lagi kakak harus ngantar ponsel kamu kan, yang ada ntar kamu bakal marah-marah sama kakak karena membawa ponsel mu ke kantor." Jelas Ira.


"Apa sekarang kak Ira bakal balik lagi ke kantor?" Tanya Bara memastikan.


"Hmmm iya, ada kerjaan yang belum kakak selesaikan, kalau gitu kakak pergi dulu." Jelas Ira yang langsung bangun dan hendak keluar dari kamar.


Sejak Ira bangun, otak Bara mulai berputar mencari cara agar Ira tidak kembali ke kantor.

__ADS_1


"Awwwwww sakit!" Jerit Bara sambil memegang bekas jahitan lama di kakinya.


"Bara...." Ujar Ira yang kembali mendekati Bara yang sedang berusaha untuk berdiri.


(Apapun caranya, ayo kita coba Bar, setidaknya usaha dulu, soal berhasil atau tidak nanti kita pikirkan lagi.) Bisik hati Bara sambil terus mengikuti langkah Ira yang sejak tadi memapahnya menuju tempat tidur.


"Apa kakak sedang buru-buru?" Tanya Bara setelah ia duduk di sudut kasur.


"Hmmmmm, apa kamu butuh sesuatu?"


"Tubuh aku benar-benar gatal banget, dari kemaren belum mandi, tolong antarkan aku ke kamar mandi, bisa?" Tanya Bara.


"Ayo!" Ajak Ira yang kembali memapah tubuh Bara menuju kamar mandi.


"Kalau kakak buru-buru ya udah balik aja ke kantor."


"Beneran? Kamu yakin bisa jalan sendiri nanti?"


"Ya kalaupun nggak bisa jalan kan bisa ngesot!"


"Buruan gih mandi, kakak tunggu di luar." Jelas Ira setelah memasukkan Bara ke kamar mandi.


"Hmmmm!" Ujar Bara dan langsung menutup kamar mandi setelah Ira keluar dari sana.


Sepuluh menit berlalu Bara masih belum leluar dari kamar mandi, Ira terus menunggu sambil sesekali melihat jam yang terpasang di tangan kirinya. Kini dua puluh menit telah berlalu namun Bara masih juga belum selesai di kamar mandi hingga membuat Ira mengetuk pintu dari luar.


"Udah selesai kok!" Jawab Bara sambil membuka pintu kamar mandi dari dalam, ia keluar dengan hanya memakai handuk dan bertelanjang dada.


"Ayyo!" Ujar Ira yang kembali membantu Bara berjalan menuju tempat tidur.


"Mau kakak ambilkan baju apa?" Tanya Ira setelah berhasil mambawa Bara duduk di sofa.


"Yang mana aja boleh!" Jawab Bara.


"Tunggu sebentar!" Jelas Ira yang bergegas ke ruang ganti lalu kembali dengan sepotong kaos lengan pendek yang berwarna Milo serta celana pendek yang juga berwarna senada.


"Aku lagi nggak suka pakek celana pendek." Keluh Bara setelah menerima pakaian yang dibawakan oleh Ira.


"Huuuuuf, akan kakak ambil yang lain!" Jelas Ira lalu kembali ke ruang ganti.


"Kenapa jeans sih?" Protes Bara lagi saat Ira menyerahkan celana jeans panjang pada Bara.


"Huffff ini kah yang namanya terserah? Terus kamu maunya celana apa?" Tanya Ira yang mulai kesal.

__ADS_1


"Training aja deh!" Jawab Bara tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Okay!" Tegas bara lalu kembali mengambil  celana sesuai permintaan Bara.


"Udah kan?" Tanya Ira setelah menyerahkn training yang berwarna navy pada bara.


"Iya sih training tapi kalau sama kaos ini bakal nabrak banget warnanya!" Protes Bara lagi.


"Maunya apa sih? Kenapa nggak ngomong yang benar? Ini salah itu salah, atau biar satu lemari kakak bawa ke sini semua." Gumam Ira yang tidak lagi bisa menahan rasa kesal dan jengkelnya pada tingkah Bara.


"Nggak apa-apa, kakak balik gih ke kantor, aku bisa ambil sendiri." Cetus Bara dan mencoba bangun dari duduknya.


"Huuuf, auwwww!" Ujar Bara pelan dengan tangan yang menopang kakinya.


"Duduklah, kakak akan mengambil kaos yang lain." Jelas Ira lalu segera menarik tubuh Bara untuk kembali duduk.


Namun entah apa yang terjadi, saat Ira mencoba menarik tubuh Bara agar kembali ke posisi semula justru tubuh Ira yang ikut tertarik dan tanpa sengaja langsung jatuh ke tempat tidur bersaman dengan tubuh Bara yang juga ikut terseret menindih tubuh Ira karena memang tangan Ira menarik bahu Bara.


Kedua mata Bara begitu larut dalam tatapannya, ada kenyamanan saat matanya beradu dengan mata bening milik sang istri hingga perlahan tanpa aba-aba tangan Bara bergerak memindahkan ujung jilbab yang terjatuh menutupi dagu hingga hidung milik Ira.


"Bar..." Ujar Ira pelan dengan kedua tangan yang menyentuh bahu Bara mencoba untuk menyingkirkan Bara dari atas tubuhnya.


"Kak..." Ujar Bara pelan kini dengan tangan yang membelai lembut pipi Ira.


"Bara, kenakan dulu bajunya..." Ujar Ira mencoba menyadarkan Bara dari sikapnya yang tak seperti biasa.


"Cup" bibir Bara mendarat sempurna di kening Ira.


"Bara...." Ujar Ira dengan tangan yang langsung  menyentuh wajah Bara berharap akal sehat Bara kembali berfungsi dengan baik.


"Kak Ira..." Panggil Bara dengan tangan yang menyentuh tangan Ira yang sedang menyentuh wajahnya.


"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ira memastikan.


"Aku tidak sedang baik-baik saja, aku pasti sudah gila!" Gumam Bara yang segera bangun dan langsung berdiri tegap.


Ira juga buru-buru bangun lalu berdiri di samping Bara.


"Tunggulah sebentar akan kakak ambil kaos yang lain!" Jelas Ira.


"Sebentar saja, maafkan aku!" Ujar Bara dan langsung memeluk erat tubuh mungil Ira.


"Kak, sepertinya aku benar-benar gila, aku sakit parah, coba pegang!" Jelas Bara yang langsung memandu tangan Ira untuk menyentuh detak jantungnya yang kian berpacu cepat.

__ADS_1


"Apa kamu jatuh cinta sama kakak?" Pertanyaan Ira sukses membuat Bara syok dan menatap mata Ira dalam-dalam lalu di menit berikutnya kaki Bara melangkah mundur menjauh dari Ira.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2