Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Dia, Mai.


__ADS_3

Mobil Samudra terparkir rapi di depan sekolah SMA,, matanya terus saja melihat kearah gerbang yang memang sedang di penuhi dengan para siswa yang baru saja keluar dari sekolah karena memang ini adalah jam pulang sekolah. Mata Samudra tidak bisa berhenti memperhatikan setiap siswa yang muncul dari balik gerbang, berharap orang yang ia tunggu segera muncul.


Setelah menunggumu cukup lama dan mulai membuatnya bosan akhirnya Samudra memutuskan untuk keluar dari mobil, namun disaat yang bersamaan pula motor Bara keluar dari gerbang dan langsung menuju ke arah barat dengan sigap Samudra langsung mengikutinya.


Samudra terus menambah kecepatan laju mobilnya, lalu dimenit berikutnya ia langsung menghadang Bara membuat Bara mau tidak mau langsung menghentikan motornya.


"Awwwww!" Seru Rival karena kaget dengan ulah Bara yang tiba-tiba ngerem.


"Ada masalah apa lagi ini?" Gumam Bara kesal saat melihat sosok Samudra yang keluar dari mobilnya.


Melihat Samudra yang datang menghampiri membuat Bara dan Rival juga ikut turun dari motornya.


"Kali ini apa lagi masalah abang?" Tanya Bara dengan wajah yang sudah dipenuhi emosi.


"Batalkan pernikahannya!" Tegas Samudra.


"Hahhhhh! Atas dasar apa abang ikut campur dalam masalah hidup aku? Bukannya selama ini abang sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku lakukan?" Jelas Bara.


"Bukan karena kamu..." Jelas Samudra lalu sejenak menatap kearah Rival yang sejak tadi hanya mengamati cecok diantara dia dan Bara.


"Ahhhh! Apa karena kak Ira? Jangan bilang kalau abang menyesal menolak pernikahan ini karena abang sama sekali tidak tau kalau perempuan yang papa pilih adalah kak Ira?" Jelas Bara.


"Apa abang Sam menyukai kak Ira?" Tanya Rival.


"Bukan begitu, maksud aku...! Ini karena kamu tidak mencintai Ira, lalu kenapa kamu harus menikahi dia?" Jelas Samudra gelagapan.


"Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini!" Jelas Bara yang kembali naik ke motornya.


Tangan Samudra langsung menarik stik drum yang berada di sisi ransel Bara lalu mematahkan stik tersebut.


"Abang Sam..." Seru Rival yang langsung memungut stik yang telah petah di atas aspal.


Tanpa penjelasan Bara langsung melayangkan tinjunya ke wajah Samudra tidak sampai di situ, kaki Bara bahkan langsung menghantam lutut Samudra membuat sang empunya teranyun beberapa langkah ke belakang dan akhirnya terjatuh ke jalan.


"Berapa kali sudah aku ingatkan, jangan sentuh stik aku!" Gumam Bara penuh amarah.


"Bara, hentikan!" Pinta Rival yang langsung menyeret tubuh Bara agar menjauh dari Samudra.

__ADS_1


"Kamu benar-benar tidak bisa diajak bicara baik-baik!" Guman Samudra dan langsung menyerang Bara secara membabi buta.


Pertengkaran antara keduanya tidak bisa dielakkan lagi, keduanya terus berkelahi bahkan setelah keduanya terjatuh beberapa kali ke jalan, mereka tetap kembali saling menyerang.


"Bara hentikan!" Tegas Rival yang langsung melerai mereka berdua.


"Akan ku patahkan tangan abang!" Gumam Bara penuh amarah.


"Cukup? Apa kamu lupa kalau pernikahan mu cuman beberapa hari lagi, apa kamu mau memperlihatkan muka babak belur mu pada para tamu nantinya? Hentikan, kita pulang sekarang!" Jelas Rival.


"Nggak, aku harus menyelesaikan semua ini sekarang!" Tegas Bara.


"Tinggalkan Ira, atau abang akan merusak semua barang kesayangan mu!" Tegas Samudra dengan tatapan tajam.


"Sedikit saja abang sentuh milik aku, maka cerita itu akan langsung menyebar ke seluruh sosial media." Ancam Bara.


Ingatan tentang kejadian tadi siang seketika langsung menghilang saat ponselnya berdering keras. Samudra yang sejak tadi merenung sambil menatap langit malam dari balik jendela kamarnya seketika beranjak untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja sana.


"Bagaimana?" Tanya Samudra setelah menjawab panggilan dari seberang.


"Keputusan Ira sudah bulat, dia akan tetap melanjutkan perjodohan ini!" Jelas Bayu dari seberang sana.


"Sam, kamu masih waras kan? Bagaimana bisa aku menjelaskan tentang Bara pada Ira, dia nggak akan percaya, karena apa? Karena aku dan Bara sama sekali tidak dekat, Bara dan aku bahkan tidak saling kenal. Lalu kenapa  kamu tidak jujur saja pada Ira!" Jelas Bayu.


"Kamu gila?" Gumam Samudra.


"Lalu? Mau sampai kapan kamu gini terus, kemaren Vino sekarang Bara, mau sampai kapan kamu diam melihat Ira bersama pria lain, coba kamu jujur sama Ira, ungkapkan perasaan kamu yang sebenarnya." Jelas Bayu menasehati.


"Bagaimana jika dia menolak ku?" Tanya Samudra khawatir.


"Sam, kamu sadar kalau kamu itu lelaki pengecut! Lagi pula aku rasa Ira juga tertarik sama kamu, coba lihat sikap dan tingkah lakunya saat di dekat kamu, dia kerap kali melirik kearah mu, bukankah itu artinya dia tertarik pada mu?" Jelas Bayu.


"Tapi..." Keluh Samudra.


"Katakan pada Ira kalau kamu mencintainya." Tegas Bayu dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.


"Bayu, bayu, dasar...." Gumam Samudra yang bahkan langsung membanting ponselnya ke atas tempat tidur.

__ADS_1


"Apa sebaiknya aku bawa kabur aja Ira di hari pernikahannya? Hasssssh!" Maki Samudra pada dirinya sendiri yang selalu saja kaku dan salah tingkah jika sudah berkaitan dengan Ira.


________________


Sejak dari satu jam yang lalu Bara terlihat sibuk membetulkan stik yang tadi siang di patahkan oleh Samudra. Meski sudah berkali-kali gagal namun Bara tetap berusaha untuk memperbaikinya. Dia terus berusaha, mulai dari merekatkannya dengan isolatip, menggunakan lem, menggunakan stiker namun saat ia mencoba memukul drum tetap saja akan patah kembali.


"Hasssshhhh! Sial, hufffff!" Maki Bara yang semakin kesal, tanganya bahkan mulai membanting semua barang-barang yang ada dihadapannya.


"Huffff! Tenanng Bara, fokus, kamu harus bisa memperbaikinya, ini adalah stik keberuntungan mu, dan ini adalah pemberian Mai." Jelas Bara pada dirinya sendiri lalu kembali memperbaikinya.


(Apa yang sedang kamu lakukan?)


Sebuah pesan masuk lewat akun Instagram nya, Bara segera meraih ponselnya karena pesan tersebut datang dari orang yang selama ini selalu menjadi teman baiknya di media sosial.


(Sedang bertarung) balas Bara.


(Tengah malam begini?) Balasnya lagi.


(Hmmmm....


Bertarung dengan emosi) balas Bara.


(Hmmmmmmmm??) Balasnya.


(Terus kamu sendiri kenapa belom tidur? Hayyyok, lagi mikirin aku ya) Bara.


(Ciiiih, PD bener! Ya udah delamat bertarung, bey!) Balasnya dan langsung off.


"Setidaknya, aku sedikit tenang karena chat mu" Ujar Bara yang bahkan langsung tersenyum lebar penuh rasa bahagia.


"Ahhhh, kenapa nggak kepikiran dari tadi sih! Benar-benar nih otak,  diikat aja kan lebih mudah dan agak tahan, yah meski tidak bisa digunakan lagi setidaknya aku masih bisa membawanya kemana-mana. Kayaknya hanya dengan membaca chat dari Mai seketika otak ku langsung jernih, Mai benar-benar...waaaah!" Ujar Bara dengan senyuman yang terlihat jelas begitu bahagia, seolah rasa kesalnya telah sirna sudah entah kemana.


Bara segera membuka laci lalu mengambil bundalan benang woll yang berwarna merah lalu segera melilitkan benang tersebut dari ujung atas hingga kebawah, menutupi seluruh stik. Setelah berkutat selama beberapa menit akhirnya selesai juga. Bara segera berlari menuju drum yang berada di sudut timur kamar dan buru-buru mencobanya dengan pelan-pelan.


"Waaaah! Setidaknya masih bisa digunakan meski tidak seperti sediakala. Yah paling tidak stik ini terlihat lebih keren, meski hanya bisa digunakan sebagai pajangan!" Ujar Bara karena memang stik tersebut tidak lagi berfungsi dengan baik.


"Mai, aku janji kali ini aku akan menjaga pemberian mu ini  dengan lebih baik lagi, maaf karena membuatnya patah seperti ini! Maafkan aku Mai" Ucap Bara dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


Meski keduanya sama sekali belum pernah bertemu di dunia nyata dan hanya berteman di dunia maya, namun diam-diam Bara menyimpan perasaan padanya. Pertemanan yang sudah mereka bina hampir enam tahun lamanya, mebuat Bara seakan semakin tergantung pada gadis yang bernama Mai tersebut. Keduanya sering berbagi cerita lewat chat karena memang keduanya sama sekali tidak pernah telponan apalagi melakukan video call. Bara sama sekali tidak ingin Mai mengetahui siapa dia  sebenarnya dan Mai pun setuju dengan permintaan Bara, cukup di dunia maya saja, mereka tidak ingin keadaan di dunia nyata malah membuat hubungan keduanya tidak sebaik yang telah mereka jalin di dunia maya. Bara hanya tidak ingin jika nantinya Mai mengenalnya di dunia nyata dia justru akan kecewa karena pada kenyataannya Bara di dunia nyata berbanding balik dengan seorang Bara yang berada di dunia maya, Bara tidak ingin membuat Mai kecewa karena tau siapa dia sebenarnya. Biarlah Mai hanya mengenalnya dengan nama... ~L~


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2